
Aku menatap Fariz dan mengangkat sedikit bibir atasku, "Katakan kalau kau sedang bercanda dek!" Aku membuang pandangan dari Fariz. Aku tidak ingin mempercayai kabar dari Fariz yang baru saja aku dengar.
"Kak... Aku juga tidak ingin percaya. Karena itulah... Ayo kita kerumah sakit." Yusuf berjalan mendekatiku. Aku tidak bergeming dengan ucapan Fariz. Tapi entah kenapa dadaku mulai menyesak.
"Afiifah... Sayang, kita belum tau pasti keadaan mereka, jadi tenangkan dirimu nak." Bunda mengusap punggungku. Menengadah. Aku mencoba memblokir air mata yang sudah hendak mengucur menyelususuri pipiku.
Aku masih diam. Tatapanku kosong. Aku masih berfikir mereka pasti bercanda. Tapi ini candaan yang salah.
"Nak," Ayah pun ikut memberi pengertian.
"Tidak... Aku tidak percaya! Kalian pasti sedang berbohong, coba telpon Yusuf. Aku ingin berbicara langsung padanya. Ini tidak lucu. Aku tidak sedang berulang tahun untuk memberi kejutan seperti ini." Aku menatap mereka. Air mataku mulai berjatuhan.
"Baru beberapa jam yang lalu mereka berpamitan hanya untuk bersepeda Yah, kenapa kalian memberi kabar mereka kecelakaan?" Pelukan Bunda tidak mampu membuat air mataku berhenti.
"Kalian pergi saja! Aku akan jaga Nisa disini." aku menyeka air mata dengan telunjukku yang melengkung.
Mereka masih mematung. Sunyi.
Aku menatap mereka bergilir.
Untuk beberapa saat kemudian, Ayah memecah keheningan. "Kau benar tidak ingin ikut?" Ayah menepuk pundakku, dan aku hanya mengangguk.
Trauma masa lalu. Hampir 11 tahun yang lalu. Saat Roy, Anak dari bibiku, adik sepupuku yang amat sangat aku cintai kecelakaan dan menghembuskan nafas terahir dalam pelukanku, membuat aku tidak bisa membayangkan kejadian yang sama pada Yusuf dan Kia.
Aku takut kehilangan dua insan yang begitu berharga dalam hidupku.
Iya... Yusuf sudah mengisi ruang dihatiku. Yusuf mulai merajai hatiku. Suka hilir mudik dalam otakku.
Baru tadi pagi aku katakan pada Yusuf untuk memberi jawaban dari khitbahnya. Tapi kenapa sekarang aku harus mendapat kabar yang begitu pelik.
"Kita pergi kak, bantu doa untuk Bang Satria dan Kia kak." Tanpa diminta Yusuf memeluku.
"Anisa ikut Bang!" Nisa menyambar tangan Fariz.
"Tapi, Kau sedang tidak sehat sayang!" Fariz mencoba menahan Nisa.
"Aku akan gila memikirkan Bang Yusuf dan Kia disini yank, bagaimana pun mereka juga bagian dari hidupku. Please... " Nisa menggabungkan kedua tangannya. Memelas.
"Baiklah... Bunda akan jaga Nisa Riz, kasian juga dia, pasti gak tenang dirumah."
"Baiklah!"
Mereka mulai meninggalkan aku yang masih duduk mematuhi dipinggir ranjang. "Aku ikut!" Aku berdiri mengikuti mereka yang kini berhenti didepan pintu.
Tanpa tanya. Tanpa ucapan apapun. Kami meninggalkan rumah. Sungguh aku takut memikirkan hal buruk pada Yusuf dan Kia. Aku belum sanggup kehilangan mereka, seperti aku kehilangan Roy.
11 tahun saja masih masih membuat aku selalu merindukan Roy. Bagaimana jika nanti... Aku..., ah entahlah.
Sesekali aku melirik Nisa yang menahan muntah disampingku. Tapi tanganku tidak berniat membantu atau hanya sekedar mengelus Nisa untuk memberinya rasa nyaman.
Seluruh tubuhku kaku. Aku ingin segera sampai dirumah sakit. Tapi... Aku juga ingin segera bangun dari keadaan yang ku harap ini mimpi.
Sesekali aku meremas kedua jemariku. Memejamkan mata, berusaha membuang rasa risauku.
Mobil yang kami kendarai mulai memasuki area Rumah Sakit Hasanuddin. Rumah sakit terbesar dikotaku dan rumah sakit yang menjadi saksi, ketika aku dikhitbah secara tak terduga.
Seketika, wajah Yusuf melintas dibenakku. Semoga ia baik-baik saja. Dan semoga Kia Allah lindungi.
Aku berjalan lunglai, tubuhku harus dipegang. Kakiku lemah. Seakan aku berpijak diudara.
Langkah Ayah berhenti didepan UGD, dan diikuti kami semua. "Duduklah! Ayah yang akan periksa kedalam." Ayah yang berprofesi sebagai Abdi Negara itu, memang selalu pasang badan pada keluarganya walaupun umurnya sudah tidak lagi muda, tapi Ayah adalah sosok yang masih terlihat gagah perkasa.
"Fariz ikut Yah," Fariz memposisikan Nisa dibangku tunggu.
"Tidak usah, mereka butuh kamu disini!"
Air mataku tak henti-henti mengalir deras. Kegelisahan tak bisa kusembunyikan. Takut. Sungguh... Aku takut kehilangan siapa saja diantara Kia dan Yusuf. Apa lagi sampai kehilangan keduanya.
"Tanglah sayang." Bunda mengusap punggung naik-turun, "kita berdoa saja. Semoga mereka baik-baik saja."
"Papi Mami kamu sudah dikabari Suf?"
"Sudah Bun, mungkin mereka akan tiba besok pagi."
"Bagaimana kabar kakekmu?" Bunda menatap Yusuf yang tak pernah melepaskan tangan Nisa. Kasian sekali Nisa. Disisi lain sang kakek juga sedang terbaring, melawan masa kritis salah satu rumah sakit dijakarta, karena serangan Stroke tiba-tiba.
"Masih dalam kritis Bun," Jawab Fariz.
__ADS_1
"Sayang... Percayalah, hidup dan mati itu urusan Allah, yang penting kita sama-sama berdoa untuk kesembuhan semuanya." Bunda kini duduk dihadapan Nisa.
Nisa begitu terguncang. Semoga bayi Nisa kuat menanggung beban ini bersama Nisa, sungguh aku mengkhawatirkan kondisi Nisa, walaupun sebenarnya aku juga sedang tidak baik.
"Ayah...!" Kami semua bangkit mendekati Ayah, ingin segera tau kondisi Yusuf dan Kia.
"Tenang lah! Dokter sedang menangani mereka." Ayah mempersilahkan kami kembali duduk, melihat tingkah ayah, aku menangkap sesuatu yang buruk.
"Bagaimana jika kejadian Roy dulu juga terjadi pada Yusuf dan Kia?" Aku berucap lirih. Entah kepada siapa pertanyaan itu aku lontarkan. Sungguh... Aku tidak berani berandai-andai hal buruk terjadi.
Mendengar ucapanku, semua diam. Membisu. Seakan mereka tidak berani membuatku berharap lebih.
"Keluarga pak Yusuf dan Syakia!" Serentak. Satu arah, mata kami tertuju keasal suara. Seorang perawat memberi isyarat untuk mengikutinya masuk, " dua orang saja pak." jelas perawat tersebut saat kami sudah diambang pintu UGD.
"Bukankah pasiennga dua orang? Jadi kami biarkan kami masuk." Aku menatap tajam perawat tersebut.
"Tapi Bu... "
"Gak apa kak, biarkan mereka masuk." Seorang Dokter muda, tegas. Mempersialhakn kami masuk.
"Baik Dok."
Aku tak peduli dengan tanggapan perawat tersebut. "Makasih Dok." ucap Fariz dibelakangku.
"Kak... Ayo! Kenapa berhenti?"
"Dokter... Katakan saja, bagaimana kondisi kedua pasien!" Aku membalik badan. Kemudian berjalan mendekati Dokter yang beberapa langkah dibelakang ku. Aku belum siap melihat kondisi Kia.
"Masuklah, jika kalian ingin melihat Yusuf dan Kia." Ucapanku lirih. Tanpa intonasi, tanpa ekspresi, "aku tidak ingin melihat mereka."
"Kak...!"
"Tidak apa Riz, kakak hanya ingin tau kondisi mereka."
"Baiklah, silahkan duduk!" Dokter tersebut mempersilahkan aku dengan tangannya.
Diikuti dengan semua orang dibelakangku, dan Nisa duduk disampingku.
"Ibu silahkan duduk!" Perintah Dokter tersebut pada Bunda. Perasaan makin gelisah dengan tingkah dokter tersebut pada kami.
"Begini... Sebelumnya saya perkenalkan diri. Saya dokter Daniel. Saya akan jelaskan kondisi kedua pasien." Dokter Aiman menatap kami satu persatu.
"Lakukan saja yang terbaik Dokter." Hanya itu yang mampu Aya ucapkan.
"Baik Pak, kita akan melakukan yang terbaik untuk kedua pasien."
Baiklah. Aku akan menguatkan hati. Aku akan menguatkan pijakan kakiku. Aku tidak boleh lemah. Kia butuh aku.
Dengan perasaan yang entahlah, aku mencoba mendekati Kia, suara nyaring nyanyian monitor menusuk relung hatiku. Sungguh sakit untuk didengar.
Ku pandangi tubuh nan kecil dihadapanku, beberapa kabel menempel bak penuh cinta hampir memenuhi ruang dada Kia. Layar monitor yang seolah menjawab keadaan Kia.
Dada Kia naik turun tak beraturan. Satu selang menancap dirongga mulut Kia, yang menjadi penghubung udara kedalaman dadanya.
Ada goresan dikedua sisi tangan Kia.
Kia kecilku... Sungguh berat ujian ini. Entah untuk Kia atau lebih tepatnya Allah tunjukan padaku ujian ini.
Aku genggam tangan kecil Kia, "Ya Allah... Sertakan kekuatan, ketabahan hati dan keridhoan atas ujian ini untukku."
"Kuat sayang... Bagaimana Ibu harus hidup tanpa Kia?" jika kalian tanya bagaimana aku saat ini, Air mataku saja mungkin sudah cukup menjawabnya. Hancur. Melebur.
"Bunda... Dokter, tolong yakin aku bahwa ia baik-baik saja!" Tanpa sadar tangan bertaut dijemari kelar dokter Daniel. Diam. Tanpa respon.
"Bun... " Panggilku lirih." Apa Kia akan seperti Roy?"
"Huss... Husnuzon, untuk saat ini yakini hatimu Kia akan baik-baik saja." Bunda menarik tubuhku dalam peulakannya.
"Kita pindahkan ke PICU ya Bu! Tapi... Keluarga tidak bisa menunggu didalam." Aku hanya mengangguk tanpa mengerti.
"Dokter... Bisakah saya minta kedua keluarga saya dirawat oleh dokter Sila?" Aku ingat seorang dokter spesialis bedah yang dulu pernah merawat Yusuf, dokter Sila. Bagaimana pun aku ingin Yusuf baik-baik saja.
"Maaf Bu, untuk pak Yusuf bisa, tapi... untuk siadek, kita sudah menghubungi dokter bedah anak Bu."
"Baiklah." Sebenarnya aku bukan tak tau kalau Kia harus ditangani dokter bedah anak, hanya saja jika itu dokter Sila, mungkin aku lebih bisa berkonsultasi tanpa canggung, aku bisa menumpahkan segala rasaku.
"Silahkan Bu," Perawat yang siapbawa brangkar Kia mempersilahkan aku mengekor, "suami Ibu sudah dibawa ke-ICU terlebih dahulu Bu." Dokter Aiman seolah menjawab apa yang hendak aku tanyakan. Aku terus berjalan mengikuti Dokter dan Perawat yang membawa Kia.
__ADS_1
"Bunda, Afiifah kemushola dulu, Afiifah sholat sebentar." Aku memutuskan mengadu lagi pada Allah, setelah melirik jam hitam yang melingkar ditangan kiriku.
"Baik lah... Habis sholat segera susl, tapi benar Afiifah bisa sendiri? Atau mau Bunda temani?"
"Tidak masalah Bun, Bunda tolong jaga Nisa, saat ini Nisa butuh Bunda selain Fariz." Iya! Kondisi Anisa lebih mengkhawatirkan dibandingkan diriku.
Dengan entah apa rasa yang bergejolak dihati, aku mulai melangkah pelan. Pikiranku kacau, sedih, takut bercampur.
Air mataku tak henti mengalir, bak bendungan yang jebol. Deras.
Segera berwudu' lalu sholat sunnah. Tidak banyak yang mampu terucap dari bibirku, hanya meminta Kia sehat, meminta diberi waktu lebih lama menemani Kia, diberi kesempatan belajar menjadi Ibu terbaik untuk Kia.
Begitu pula dengan Yusuf. Aku ingin menjadi pelembur segala rasa sedih dalam hidup Yusuf.
Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama Yusuf.
Selesai sholat, aku segera kembali. Kali ini aku ingin melihat kondisi Yusuf. Meski hanya dibalik kaca pembatas.
Wajah Yusuf tampak begitu pucat. Namun itu tidak menghilangkan ketampanan Yusuf. Ia pun masih tetap tampak dengan sikap dinginnya. Sikap yang berbeda saat bersama Kia. Iya... Sikap yang sudah mampu meluluhkan pertahanan hatiku. Melebur masa hitamku bersama mas Haikal. Untuk pertama kalinya aku menatap Yusuf dengan lekat, sendu. Hatiku sakit melihat Yusuf dililit bermacam kabel penguhung ke alat medis ditubuhnya.
"Bisa saya masuk sebentar Sus?" Aku bertanya pada perawat yang baru saja keluar dari ruangan ICU.
"Sebentar saja ya Bu, setelah ini keluarga harus mengikuti aturan." Perawat tersebut tersenyum lembut, seolah ingin menghibur hatiku yang lara.
"Baiklah, terimakasih Sus." Aku memakai baju khusus untuk masuk kedalam ICU.
"Assalamualaikum... Yusuf, aku tau kau bisa bisa mendengar ucapanku. Aku minta pertanggung jawaban darimu. Bukankah kau pernah bilang akan menjaga aku dan Kia? Tidak bisakah kau menunggu sebentar lagi? Sampai nanti sore, waktu yang kita janjikan?" Aku teduduk lemah disisi Yusuf.
Andai saja aku sudah menerima khitbah Yusuf lebih awal, saat ini aku bisa memeluk Yusuf tanpa ragu. Tanpa takut akan Allah.
"bertahan lah! Aku mohon... Tolong temani aku melewati ujian ini." Apa yang bisa kuperbuat selain dari pada ini?
Sungguh... Rencana tuhan tak ada yang tau.
Baru saja aku ingin menciptakan hari yang baru. Menjemput kebahagiaan yang kuabaikan, sudah Tuhan patahkan.
"Maafkan aku Yusuf. Aku terlambat membuatmu bahagia."
Hanya mampu menatap, tanpa bisa ku sentuh. Air mataku tak henti mengalir. Sangat deras. Duniaku seakan terhenti.
Sungguh sakit direlung hati ini. Bak tercabik.
Aku meninggalkan Yusuf diruangan yang sangat mengerikan ini.
"Bagaimana Yusuf Fah?" Aku hanya menggeleng menjawab pertanyaan Bunda.
"Keluarga Syakia?" Seorang perawat menghampiriku.
"Iya Suster."
"Silahkan. Dokter Aiman sudah datang, keluarga diminta menemui beliau." perawatan tersebut mempersilahkan aku dan yang lain menemui dokter Aiman. Entahlah siapa dia! Mungkin dia dokter yang akan merawat Kia.
"Silahkan duduk." Singkat. Padat. Itu mungkin khas seorang dokter yang terbilang sibuk.
Dengan membenahi kacamatanya, Dokter tersebut menatap Aku. "Ibu orang tuanya Syakia?"
"Benar Dok."
"Baiklah... Saya dokter Aiman, spesialis bedah anak. Saya sudah melihat kondisi dan hasil CT-scan anak Ibu, sepertinya kondisi nya cukup berat." ia menghentikan sejenak penjelasannya. "saya juga sudah konsultasi kedokteran Anastesi, ya... Sama. Kondisinya cukup berat."
"Lalu tindakan apa yang terbaik untuk cucu saya Dok?"
"Hmmm. Mohon maaf Pak, tidak ada Untuk saat ini. Dilakukan operasipun hanya 30% keberhasilan."
"Bukankah 30% itu juga peluang dok? Tidak bisakah kita mencoba keberuntungan itu? Mohon maaf. Dokter juga cuma manusia, Allah yang menentukan hidup mati kita."
"Saya tau Pak, saya paham. Tapi menurut ilmu yang sudah saya pelajari dan pengalaman saya bertahun-tahun, ini lah kesimpulan saya Pak, kecelakaan itu membuat seluruh jaringan otak Syakia rusak."
"Saya ingin mencoba yang 30% itu dok, lakukan lah... Saya mohon."
"Yah...!" Aku menatap Ayah sendu, "bukankah dokter sudah jelaskan kondisi Kia, Afiifah tau ini berat yah, tapi... Kondisi Kia memang berat. Mungkin saat ini, selang dirongga mulut Kia lah yang membantu Kia bernafas." Aku menata Ayah dengan rasa yang tak bisa ku katakan. "Maaf kan Ayah saya Dok."
Pandangan ku beralih pada sosok berkaca mata didepanku. Dengan masker yang menutup sebagian wajahnya.
Trettt....
"Dokter. Dari Bad 04." Seseorang perawat menghampiri kami tergesa-gesa setelah suara bel terdengar.
__ADS_1
Walaupun aku sudah tidak lagi bekerja dirumah sakit, tapi aku belum lupa dengan pertanda ini.
"Ayo... "Dokter Aiman segera berdiri." Silahkan ikut saya." ia menjulurkan tangannya. Mempersilahkan kami.