Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 10 Hari baru


__ADS_3

Kata Hijrah berasal dari kata hajara yang berarti berpindah ( tempat keadaan atau pun sifat).


Atau bisa di artikan MEMUTUSKAN hubungan diri nya dengan pihak lain yang mampu merusak keimanan.


Bismillah aku mulai hari baru dan kisah baru dalam hidupku.


Tepat pukul satu siang.


Aku sudah berada di terminal menunggu keberangkatan bus yang akan aku tumpangi.


Aku putuskan kembali ke rumah orang tua satu hari lebih cepat dari janji ku pada mas Haikal yang arti nya itu esok hari.


Segala urusan ku di jakarta sudah selesai, aku pun sudah pamit pada mertuaku.


Mereka tidak punya pilihan selain mengizinkan. Mereka hanya minta untuk tidak menghalangi mereka untuk bertemu Kia.


Jelas saja aku sanggupi. Tohhh bagaimana pun Kia adalah keluarga mereka.


Tapi aku gak pamit dengan mas Haikal. Lagian setelah kejadian malam itu kami tidak pernah tegur sapa lagi.


"Kak aku pamit yah, mohon maafkan segala salah dan khilaf aku kak, semoga suatu hari kita bisa bertemu lagi."


Aku memeluk mereka bergantian, kak Nada, kak Ana dan kak Valen.


Jelas saja kami menangis, bagai mana pun kami sudah banyak melewati hari-hari selama beberapa tahun ini. Mereka sudah menjadi keluarga bagiku.


"Jangan lupa undang aku saat kalian menikah oke!" aku mencoel bahu kak Ana dan kak Valen sembari tersenyum menggoda, mungkin tepatnya untuk mengubah suasana menyedihkan ini.


"Kamu harus bahagia di sana, Fah, jangan lupa selalu kasih kabar kita ya!" kak Nada kembali memelukku.


"Doakan kita dapat jodoh yah, siapa tau nanti jodoh kita ada di dekat kamu, Fah."


Sontak saja aku tertawa mendengar ucapan kak Ana, tepatnya memaksa diri untuk tertawa, aku ingin terlihat lebih tegar dihadapan mereka.


"Aamiin... Siapa tau iya kan? jodoh Allah yang atur." kak Ana gak terima dengan tawaku yang lepas.


"Iya iya aamiin, ya udah kita pamit ya kak, Kia salim dulu sama tante sama Bibi." aku menuntun tangan Kia.


Kami saling melambaikan tangan ketika bus yang aku timpangi bersama Kia mulai melaju kencang.


"Ya Allah... Aku tau ini kehendak mu, aku tau semua ini terjadi atas izin mu, aku percaya akan ada hikmah di setiap masalah. Tolong jadikan aku hamba mu yang istiqomah di jalan mu, menjadi lebih kuat. bimbing aku menjadi insan lebih beriman setelah ini, tolong jaga Kia, berikan kia kebahagiaan. Bantu aku untuk jadi ibu yang baik bagi Kia, bantu aku untuk membimbing Kia menjadi seorang anak yang beriman padamu."


Aku berjanji akan belajar memaafkan segala perbuatan mas Haikal dan Felli.


Terbesit di hatiku berharap mereka bahagia.


Terucap doa dalam hatiku agar Felli tak merasakan yang aku rasakan.


Yah... Membenci bukan solusi untuk memulai ketenangan.


Yah... Membenci hanya akan membuat aku terus merasa sakit.


Aku yakin ada Allah bersama ku.


"Ibu..Kita mau ke rumah Om Fariz ya? Kakak sangat suka naik bus ini, Bu." suara Kia membuyar kan lamunanku.


"Iya... Kita akan pindah kerumah Nenek dan Atok, jadi nanti kakak bisa ketemu Om Fariz setiap hari." aku berkata sambil tersenyum.


"Kakak happy?" senyum ku semakin merekah melihat betapa exsaited nya kia.


"Happy Ibu." dia mencium pipi kiriku lalu memeluk ku.


"Terima kasih Ibu, kakak sangat sayang Ibu." dia kembali mencium ku,dan itu lebih dari cukup membuat hati ini tenang lagi dan kuat, Kia lah sumber kekuatan terbesarku.


Aku pun kembali memeluk nya.


"Ayo kakak tidur ya, nanti kalau sudah sampai kapal Ibu bangun kan."


Aku mengelus lembut puncak kepala nya.


Aku pilih bus sebagai sarana kepulangan ku, Selain aku ingin lebih lama sampai ke kota kelahiranku. Aku memang ingin melihat dan menikmati perjalananku kali ini.


Maklum saja selama ini aku belum pernah bola balik jakarta - Jambi menggunakan jasa bus, biasa nya aku selalu pakai pesawat biar cepat sampai.


Entah kenapa kali ini pilihan ku malah menggunakan jasa bus.


Mungkin aku mau mencoba berlayar sembari menikmati pemandangan laut nan luas kelak. Satu jam lagi bus yang ku tumpangi akan sampai di pelabuhan merak.


Pelabuhan merak adalah adalah sebuah pelabuhan di pulo merak, di kota Cilegon Banten. Pelabuhan ini menjadi satu-satunya nya akses penyeberangan sebagai penghubung pulau jawa dan Pulau sumatra, melalui pelabuhan bekauhuni Lampung.


Kia pasti sangat bahagia dalam perjalanan kali ini, maklum saja ini pengalaman pertama Kia berasa tengah laut.


Aku tidak sabar rasa nya untuk segera berada di atas kapal besar itu.


Tentu saja besar, kapal itu bukan hanya mengangkut para penumpang tapi juga bus dan kendaraan lain nya yang hendak menyebrang.


"Ibu kapan kita sampai kapal? Ibu bilang kita akan naik kapal besar? " ahh ternyata kia sudah bangun dan udah gak sabar untuk sampai di kapal.


" sabar ya.. Hmmm sebentar lagi kita sampai "


" maaf mbak masih berapa lama lagi ya kita sampai di pelabuhan merak? " aku memberanikan diri bertanya dengan seorang wanita yang duduk di bangku belakang ku bersama seorang laki-laki yang mungkin saja suami nya, aku tidak melihat rupa nya karena dia tertidur menutup wajah nya dengan buku. Perkiraan ku wanita itu lebih muda dari ku, mungkin seumuran fariz.


Ahh masa bodoh,toh aku juga gak mau tau siapa laki-laki itu. Batin ku.


" sebentar lagi bu, kurang lebih 30 menit lagi " dia tersenyum menjawab pertanyaan ku.

__ADS_1


" makasih y mbak " aku anggukan kepala ku sebagai rasa terima kasih ku.


" tuh mbak yang di belakang bilang sebentar lagi kita sampai, sabar ya " aku memberi tau kia jawaban dari pertanyaan tadi.


Spontan saja kia berdiri dari tempat duduk nya.


" betulkah kita akan melewati laut y kak? " kia bertanya pada sosok wanita di belakang kami.


" betul sekali, kamu suka laut? " tanya wanita itu pada kia.


" suka... Sangat-sangat suka kak "


kia mengepalkan kedua tangan nya di depan dada nya sambil tersenyum sembari memejam kan mata, mungkin saja dia membayangkan betapa indah pemandangan yang akan di lihat nya.


Kia kembali ke posisi duduk nya.


" nanti di atas kapal jangan lari-larian ya, bahaya " aku ingatkan kia sebelum sampai ke kapal.


Tentu aku tau seberapa lasak dan aktifnya kia, dia tidak akan bisa diam di tempat nya.


" hehe... Apa di kapal ada banyak makanan nya bu? " sekarang aku tau kalau kia pasti lapar.


" hmmm mungkin saja ada, tapi ibu gak tau makanan apa yang ada, ibu kan juga sama kayak kakak belum pernah naik kapal " aku mencoel hidung nya.


" kakak... Apa di atas kapal ada banyak makanan? " kia kembali stengah berdiri dan bertanya pada wanita tadi.


" kia.. Gak boleh gitu, harus sabar, jangan ganggu kakak nya, kakak nya mau istirahat nak " aku menarik punggung kia agar kia kembali duduk di posisi nya.


" gak papa bu, saya juga lagi suntuk, alhamdulillah ada hiburan " jawab wanita itu.


" emang nya adek mau mau makan apa? " kini pandangan wanita itu tertuju pada kia.


" hmmm ayam goreng mungkin " jawab kia sambil berfikir.


" ada... Banyak malahan, adek bisa makan sepuas nya nanti " wanita itu tersenyum ramah pada kia.


Jujur saja dia sangat manis, pakai an juga syar'i gamis violet yang di padukan dengan khimar hitam menjuntai panjang menutup sempurna seluruh aurat nya.


" nama ku kia kak, bahkan aku kakak, bukan adek " protes kia sembari tersenyum.


" ohhh di panggil kakak yah? " wanita itu kembali tersenyum. Kali ini aku ikut menoleh ke belakang dan membalas senyum an nya.


" salam kenal kia, nama kakak annisa " dia kembali tersenyum. Subhanallah.. Teduh sekali melihat senyuman nya yang begitu manis.


" ini ibu nya kia, " kia menarik tangan ku.


" saya afiifah mbak nisa, ibu nya kia " aku ulurkan tangan sebagai tanda perkenalan.


" senang bertemu mbak afiifah dan kia " dia menyambut uluran tangan ku.


" nah kita udah sampai lho kia, sebentar lagi kita bisa turun "


ahh benar saja kini bus yang kami tumpangi sudah mulai masuk ke dalam kapal.


" asikkk " Sorak kia.


masya allah betapa aku bahagia melihat kia begitu bahagia.


" semoga kia selalu tersenyum dan tertawa sperti ini ya allah '


Rasa takut akan kebahagiaan kia kini datang secara tiba-tiba tanpa ku duga.


Aku takut tidak mampu membuat kia bahagia.


Aku takut tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup kia.


Ahh benar saja belum terlintas dalam fikiran ku pekerjaan apa yang akan ku lakukan kelak.


Akankah aku menjadi beban orangtua ku lagi?


Bagaimana ini?


"Astagfirullah... "


Cepat-cepat aku istighfar, apa yang aku Takut kan?


Bukan kah allah maha kaya?


Bukan kah aku juga masih sehat dan kuat untuk bekerja?


Kerja apa pun tak masalah asalkan mau usaha allah pasti akan buka kan jalan.


Astagfirullah.. Ampuni hamba yang meragukan kebaikan dan kekayaan mu ya allah.


Kini bus ini pun sudah parkir di atas kapal Feri yang amat sangat besar ini.


Aku pun menuntun kia keluar dari dalam bus di ikuti anisa yang baru saja berkenalan dengan ku tadi.


Aku berjalan tanpa menoleh ke belakang.


" wah ini sangat indah ibu " antusias kia.


" masya allah y kak, luas sekali " aku bergumam kagum sambil mengeratkan pegangan ku pada kia.


Jujur saja aku takut kia yang pecicilan lepas dari genggaman dan pandangan ku.

__ADS_1


Secara kia bisa lepas kapan saja bak ikan belut yang licin.


Tapi sungguh aku bersyukur memiliki kia dan melihat tumbuh kembang kia dengan sempurna.


Aku ikuti kemana kia menarik tangan ku.


Kadang naik ke lantai atas kapal lalu kembali turun ke bawah, entah apa yang dia cari.


Aku ikuti saja tanpa bertanya.


Dan ahir nya aku tau apa yang dia mau.


" tempat makan " batin ku.


Pantas saja dia naik turun mondar mandiri Hulu hilir berjalan seolah olah tanpa lelah.


" ibu kak mau chicken 2 y bu " dia menunjuk ayam goreng yang di balut tepung yang biasa di sebut chicken.


" dua?, banyak amat kak, satu aja dulu nanti kalau sudah habis dan masih mau lagi, ibu bisa belikan lagi, kalau langsung dua trus nanti gak habis bisa mubazir lho "


Aku menjelaskan pada kia dengan lemah lembut dan menatap mata nya.


Ini lah kebiasaan ku. Aku pernah mendengar seorang ahli psikolog anak mengatakan betapa bagus nya kalau bicara atau menasihati anak dengan menatap mata sang anak.


Alhamdulillah... Ilmu itu benar-benar memberi manfaat yang baik.


Kia lebih ngerti walau kadang juga pernah membantah. Nama nya juga anak-anak.


" kalau mubazir nanti jadi teman nya siapa? " aku masih pada posisi setengah duduk mensejajarkan pandangan ku dengan mata kia.


" teman nya setan " kia tersenyum, jika respon nya sperti ini, itu arti nya kia menerima masukan dan nasihat ku.


Aku melihat sekeliling mencari meja kosong setelah membeli pesanan kia tadi, aku pun juga pesan satu sama sperti kia. Ternyata aku juga laper.heheee


" kak anisa " kia menarik gamis ku menuju meja di mana anisa dan suami nya duduk.


" eh kak kia, sini duduk samping kakak " anisa menggeser duduk nya lebih mepet ke suami nya dan mempersilahkan aku dan kia duduk gabung dengan mereka.


Jujur saja aku sedikit canggung dan merasa tidak enak hati mengganggu anisa dan suami nya.


Tapi mau gimana lagi kia pasti gak akan mau ku ajak pindah lagian meja kosong pun hampir tidak ada lagi.


" abang geser lagi nanti kia jatuh " anisa mendorong suami nya agar sedikit bergeser.


" hmmm " suami nya lantas sedikit bergeser tanpa reaksi tertentu.


Aku semakin tidak enak hati. Seperti nya dia tidak menyukai ku dan kia.


Aku hanya diam sambil menikmati makan ku dan sesekali memberi kia minum.


" dari mana kak dan mau kemana? " anisa memecah kepentingan kami.


Kia kalau makan emang tidak biasa bicara, dia akan sangat fokus dan menikmati makan nya.


" dari jakarta mbak nis, dan mau pulang ke Jambi "


jawab ku se ada nya. Tentu saja aku masih canggung duduk di antara mereka.


" ohhh " jawaban nya semakin membuat ku canggung, seolah-olah anisa hanya basa-basi pada ku tanpa niat sungguhan untuk ngobrol.


" mbak anisa sendiri dari mana dan hendak ke mana? "


tanya ku memberanikan diri, mungkin tepat nya meng-akrabkan diri. Siapa tau bisa jadi teman yang asik selama di perjalanan biar gak terlalu bosan.


" sama mbak, saya juga dari jakarta hendak ke Jambi, orang tua saya kadang tinggal di jakarta kadang juga di Jambi, kebetulan saya mau ada acara di Jambi "


Tak ku sangka dia merespon pertanyaan ku dengan penjelasan yang panjang.


" ohh gitu " aku tersenyum.


" sekarang orang tua nya anisa ada di Jakarta?" tanya ku lagi. Kenapa aku jadi kepo dan penasaran gini sih?, batin ku sesal karena ingin tau banyak hal tentang gadis yang manis ini.


" mereka juga pulang ke Jambi mbak, tapi mereka menggunakan jasa pesawat " jawab ny lagi.


" lho kenapa mbak anisa malah pakai bus? " aku masih saja terus bertanya.


" biar lama sampai Jambi nya mbak heheh, alhamdulillah.. Bisa ketemu gadis kecil yang cantik ini dan mbak afiifah ternyata "


Masya allah kenapa kata-kata nya membuat aku bahagia.


" mbak afiifah baru kali ini ya pakai bus pulang ke Jambi? " tnya nya lagi.


Ada rasa takut di hati ku dia bertanya tentang suami ku.


" iya mbak " jawab ku singkat.


" pulang berdua saja sama kia mbak? " dia kembali bertanya.


Perasaan ku makin takut. Aku belum siap mengungkap status ku sebagai janda. Aku takut di pandang hina dan rendah oleh orang lain, tak ubah nya oleh nisa.


" iya mbak nisa, saya pulang berdua sma kia saja " aku masih melanjutkan makan ku tanpa melihat anisa di depan ku.


'tolong jangan bertanya kemana suami ku ' aku berharap dalam batin ku.


" abi kia sudah gak sayang kia kak nisa"

__ADS_1


__ADS_2