Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 37


__ADS_3

Tak ada yang tau takdir seseorang harus berakhir seperti apa. Tak bisa protes ketika Allah sudah memutuskan kehendaknya. Tak ada pula yang mustahil bagi Allah. Kun fayakun. jika Allah sudah berkata jadi, Ya Jadilah...


Begitu juga dengan alur cerita hidupku. Rasa yang mulai ku rajut berubah menjadi asa yang pupus. Harapan bahagia nyatanya Allah patahkan bahkan belum sempat kumulai.


Tiga hari sudah Yusuf dirumah sakit. Selama itu pula aku bolak balik menjenguknya.


Tak sabar melihat Yusuf kembali pulih. Tapi setidaknya saat ini menunjukan kemajuan. Sesekali Yusuf mulai membuka mata, lalu tertidur lagi. Ia belum mengenal orang sekitarnya. Meski begitu aku sangat bersyukur.


Hamparan pandangan ku luas, tak bertepi saat ini. Pikiranku ntah berantah, tak berarah.


Tetesan demi tetesan hujan yang deras, Bak peluru yang melesat, menghantam bumi begitu dahsyat. dingin merambah tapi tak mampu menyejukkan relung hatiku.


Langkahku sedikit pelan menyusuri koridor rumah sakit, seperti biasa, tidak terlalu ramai, ntah memang sekarang Indonesia mulai sehat atau hanya perasaanku saja, atau mungkin karena ini satu-satunya jalur menuju ruangan Icu, yang pasien nya memang tak terlalu banyak.


Aku putuskan untuk pulang. Kurasa tubuhku mulai tak kuat menanggung rasa letih ini.


Tapi, Tak ada tempat yang membuat pikiranku benar-benar istirahat. Dirumah aku kesepian, aku selalu merindukan Kia. Aku merindukan tubuh mungil yang selama ini menjadi obat disemua sakitku.


Aku menyeka butiran bening yang mengalir tanpa permisi dipipiku. Hujan ini benar-benar mendukung untuk membuat hatiku kalut.


Drett... Drett...


"Assala..."


"Kak, Bang Satria sudah pulih, kata dokter sudah sadar sepenuhnya, bang Satria bisa mengingat kita, ia nyariin kakak, kata Dokter bang Satria sudah bisa kita pindahkan ruangan perawatan biasa. Kakak cepatlah kesini!"


"Alhamdulillah... Oke, kakak balik lagi kedalam." Aku memutuskan panggilan Fariz.


Tubuhku seketika melemah, aku memeluk kedua lutut. "Alhamdulillah..." Berulang kali bibirku berucap rasa syukur. Aku tak peduli dengan orang-orang menatap ku aneh.


Kini air mata dan hujan seolah berlomba saling turun semakin deras.


Berdiri, lalu aku segera menghampiri Yusuf. Kali ini aku sedikit berlari, tak peduli dengan kondisi koridor yang lembab oleh terpaan hujan. Begitu juga dengan hambatan angin yang menyiapkan hujan diwajahku. Tak ada lagi rasa takut akan licinnya jalan yang bisa saja membuat terpeleset.


Aku hanya ingin segera melihat Yusuf.


"Tidak apa Mami, sungguh abang sudah merasa lebih baik, jangan terlalu khawatir. Coba lihat! Abang sudah bisa duduk sendiri Mam."


Sejenak aku berdiam didepan pintu kamar Yusuf. Aku lagi-lagi menyeka air mataku berulang kali, kutarik napas yang sangat dalam, kuhembuskan perlahan, memberi sedikit celah untuk udara hilir mudik dengan bebas melewati pernapasanku. "Assalamualaikum..." Aku memaksa diri tersenyum tanpa beban, bibirku terasa sangat kaku.


Semua mata tertuju padaku, "Wa'alaikumussalam." Jawaban yang hampir bersamaan dari mereka.


"Afiifah... "


"Jangan bergerak Yusuf," Aku menghentikan segera saat Yusuf memaksa diri untuk mengubah posisi duduknya, "Terimakasih sudah membuat penantian kami tidak sia-sia." Aku semakin mendekati Yusuf.


"Aku ingin melihat Kia, Fah. Mami bilang Kia juga sudah mulai membaik." Bibirku semakin kaku, bergetar! Menahan tangis yang sudah mengenang dan berada diujung kelopak mataku. "bawa aku keempat Kia, Fah!" Aku tidak bisa membalas tatapan Yusuf yang penuh harap.


Mami mengelus kedua lenganku. Aku tau Mami memberi ku kekuatan. "Iya, tapi Kia masih dalam perawatan intensif, kondisimu masih belum memungkinkan menjenguk Kia, Suf. Bersabarlah... Sebentar lagi." Ku gigit bibir bawahku, menahan tangis yang berontak ingin dibebaskan.


Maafkan aku yang harus berbohong. Maafkan aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.


"Aku sudah jauh lebih baik, Fah... Dokter saja sudah membolehkan aku pindak ruangan. Itu artinya kondisiku benar-benar sudah baik."


"Iya nanti kita lihat. Kita siap-siap untuk pindah dulu, perawatnya sudah siap ini!" Aku mencoba mengundur waktu, perawat yang sedari tadi melepas satu persatu elektroda dibagikan dada Yusuf tampak tak peduli dengan obrolan kami.


Suara roda brangkar bed yang ditempati Yusuf semasa perawatan di icu terdengar menyapu sunyi jalanan sepanjang koridor rumah sakit, yang menghubungkan ruangan icu dengan ruangan VVIP rumah sakit ini.


Kamar Yusuf sekarang ternyata sama dengan kamar yang dulu pernah Yusuf tempati saat kecelakaan itu.


Perawat yang bertugas mengantar Yusuf dari icu disambut perawat yang bertugas diruangan VVIP ini. Dan kembali menjelaskan tata tertib, lokasi nurse station dan letak tombol darurat jika terjadi sesuatu.


"Ada yang ingin ditanyakan Bu?" Tanya perawat didepan kami setelah selesai menjelaskan.


"Tidak Sus, terima kasih." Jawab Fariz.


"Hmm, sepertinya saya pernah melihat Bapak dan Ibu sebelumnya, apa pernah dirawat disini juga sebelumnya?" Perawat tersebut menunuj Aku dan Yusuf bergantian dengan jempolnya.


"Iya Sus, baru beberapa minggu yang lalu Dia," Tunjukku pada Yusuf, "Juga pernah dirawat disini, pasiennya dokter Sila."

__ADS_1


"Ohhh! Pantas saja, saya merasa familiar dengan wajah pasien ini," Perawat itu memalingkan wajahnya kearahku Yusuf. "baiklah! Saya permisi dulu, silahkan beritahu perawat yang bertugas jika butuh sesuatu atau terjadi sesuatu."


"Sekali lagi, terima kasih Sus." Aku kembali berterima kasih.


Dibalas dengan senyuman dan anggukkan kecil dari si perawat, kemudian berlalu meninggalkan kita. Semua orang yang ada didalam ruangan ini.


"Riz, bagaimana kondisi Kia? Benarkah dia baik-baik saja?"


"Benar Bang... Abang fokus saja untuk sembuh, setidaknya untuk beberapa hari kedepan abang harus lebih banyak istirahat dan jangan banyak pikiran. Kia ada kita yang jaga bang!"


Lagi-lagi Fariz harus berbohong, ini semua semata-mata demi kesembuhan Yusuf.


"HALLO..." Fariz menjauh saat ponsel nya berdering memberi tau panggilan masuk. Ahh Fariz pasti lega setidaknya kali ini bisa menghindari pertanyaan Yusuf. Aku melihat wajah orangtua Yusuf tampak cemas dan tegang.


Pasalnya, orangtua Yusuf juga belum memberi kabar akan kepergian Kakek Man pada Yusuf. Ditambah lagi harus mencari cara bagaimana memberi tau Yusuf masalah Kia.


"Mami tampak tidak sehat, mami pulang saja, Yusuf sudah tidak papa, mi... Temani saja Nisa dirumah. Fariz bilang Nisa juga kurang sehat." Yusuf mengambil tangan mami Tan yang dari tadi berada dipucuk kepala Yusuf.


"Tidak masalah, adikmu itu sudah sangat aman ditangan mertuanya. Mami tidak perlu cemas padanya." Mami Tan kembali mengusap helaian rambut Yusuf yang sebagian tertutup perban.


"Mi...! Yusuf sungguh tidak apa, mami gak perlu memperlakukan Yusuf seperti anak kecil." Yusuf melirikku sekilas, diikuti pandangan mami yang menyipit kearahku.


"Kenapa? Kau malu sama Afiifah? Biasanya juga kalau demam masih suka minta dimanja sama mami, gak mau ditinggal, kali ini kau benar-benar muat mami hampir mati jantungan." Mami Tan mencubit pelan lengan Yusuf.


"Ckk, Mami... Apa-apa an sih?" Yusuf berdecak antara kesal dan malu.


"Lho... Mamikan betul, gak ngada-ngada lho, Fah... Kemaren kebetulan saja mami dan papi lagi gak disini makanya kamu gak rewel minta dimanja sama mami, iya kan Pi"? Mami betul-betul membuka kartu mati Yusuf. Aku hanya tersenyum mendengar penjelasan mami.


"Sama kamu kemaren juga manja-manja dia Fah?" Mami menarik tangannya dari kepala Yusuf sebelum Yusuf mengusir tangan mulus sang mami.


"Tidak mi," Aku yang sedari tadi hanya mengamati pertengkaran Ibu dan Anak itu merasa terkejut mendengar pertanyaan mami Tan padaku. "Dia bahkan juga minta Afiifah untuk pulang mi, menolak untuk dijagain."


Teringat lagi saat malam itu, bagaimana Yusuf menggigil memanggil Ayah dan Ibunya, bagaimana aku merawat Yusuf dan menyentuh leluasa tubuh Yusuf yang tak berdaya!


Bagaimana Yusuf harus menerima kenyataan kehilangan Kia? Sungguh aku ingin merahasiakan ini selamanya. Tapi tidak mungkin! Semoga Allah memberi Yusuf kekuatan menerima kenyataan ini.


"Bang, aku pulang dulu sebentar, Nisa sepertinya makin lemas." Fariz menyambar tas ransel hitam miliknya dari sofa. "Pi, Mi, Fariz pulang sebentar." Uluran tangan Fariz disambut Kedua mertuanya, begitu pula dengan Yusuf.


"Ahh kau bisa saja Bang. Bagaimana pun kau sekarang sudah jadi Abangku." Ia berjalan menuju kearahku, memberi salam padaku juga.


"Aku pulang dulu kak, kalau papi sama mami juga pulang, tolong jaga bang Yusuf kak, dia suka bandel kalau sakit."


"Kau ini! Abangmu ini masih pingin hidup lebih lama." Protes Yusuf saat merasa terpojok.


"Hahaha.... Assalamualaikum." Fariz meninggalkan ruangan. Perlahan menghilang dibalik pintu.


"Sakit apa Nisa, mi?" Yusuf yang mengubah posisi tidurnya dibantu mami Tan.


"Sakit biasa." Tangan mami Tan terlalu sibuk menjangga kepala Yusuf agar tidak bergerak terlalu banyak. "Udah nyaman?" Mami masih fokus dengan kepala Yusuf.


"Sudah. Si adek sakit apa Mi?" Yusuf masih menunggu jawaban.


"Dia lagi hamil, kasian Fariz. Nisa pasti sangat rewel, gak sakit aja rewel, apa lagi kalau udah sakit! Bisa-bisa serumah direpotin dengan ulahnya yang banyak mau dan cengeng itu."


"Namanya juga hamil mi." Yusuf seolah tidak terima adiknya seolah disalahkan maminya.


"Ahh kamu, kayak pernah merasakan hamil saja! Ngurus orang hamil saja belum pernah."


Aku melipat bibirku kedalaman menahan tawa.


"Ck... " Lagi-lagi Yusuf berdecak kesal ulah maminya.


"Gak papa mi, kita semua juga gak pernah merasa direpotin Nisa, kita semua menyambut kehamilan Nisa dengan sangat bahagia dan rasa syukur." Aku menyodorkan apel yang sudah ku kupas pada Yusuf.


"Dia pasti rewel kan?"


"Gak papa, kita senang Nisa banyak maunya, dulu Afiifah juga gitu pas hamil, moodnya suka berubah-rubah." Aku memberikan potongan apel pada mami juga.


"Gak Fah, papi sudah kenyang." Tolak papi saat potongan apel selanjutnya untuk papi.

__ADS_1


"Dulu kamu muntah parah gak saat hamil Kia?" Yusuf mentapku penasaran.


Aku hanya tersenyum.


"Aku rasa tidak. Melihat tingkah Kia yang menggegemaskan, sepertinya kamu duku gak bisa diam. Masih kayak kuliah dulu. Pecicilan." Yusuf mengubah arah pandangannya.


"Emangnya dulu kamu kenal dekat sama Afiifah? Kok gak ngenalin kemami?"


"Iya mi, dia suka teriak kalo masuk rumah, lari sana sini nyariin bundanya, dulu Afiifah gak kenal Yusuf mi, gak selevel sama Yusuf, mainannya pengusaha, anggota Polri/Tni, kita gak temenan, gimana mau ngenalin kemami? Cuma bisa ngeliat dia dari jauh."


"Betul Fah? Kok kayaknya beda banget sama kamu yang sekarang? Kalau dilihat sekarang, kamu itu lebih cute, pendiam, gak Pecicilan seperti yang Yusuf katakan!"


"Hehe mungkin karena Afiifah sudah dewasa mi, sudah lebih bisa menjaga martabat sebagai seorang wanita, sudah lebih bisa mengontrol emosi." Aku hanya tertunduk.


"Lagi Fah." Yusuf meminta apel lagi tak lupa dengan senyumannya.


Yusuf lebih banyak bicara hari ini, lebih terlihat hangat juga.


"Kalian udah kayak pasangan saja, dari tadi mami lihat senyam-senyum gak jelas, suka saling curi pandang lagi." Ucapan mami telak, benar-benar membuat napasku terasa sesak. Bersusah payah aku mengontrol emosi hatiku.


"Sudah punya calon suami lagi kamu fah?" Aku terperanga mendengar pertanyaan mami yang to the point.


Aku semakin menekuk pandanganku, sudut mataku masih bisa melihat Yusuf menatapku.


"Afiifah... "Mami mencengkaram pundak kiriku. "kenapa diam?" Mami memiringkan kepala nya, mengintip pandanganku pada ujung kakiku.


"Kalau ditanya orang tua itu dijawab Fah, gak sopan." Yusuf seolah membantu bunda mengintiminasiku.


"Ya udah gak usah dijawab kalau gak mau, mami juga cuma iseng-iseng saja nanyanya, iyakan pi?"


"Hmmm." Papi yang sedari tadi fokus pada koran ditangannya tak tertarik sama sekali dengan obrolan kami.


"Ck, papi... "


"Apa sih yank?" Papi memusatkan perhatiannya pada mami.


"Iya... Kalau nanti Afiifah sudah siap menjawab, ia pasti akan jawab. Iya kan Fah?" Papi melempar pandangan padaku.


"I.. Iya Pi." Aku menjawab di iringi anggukan kepala yang kaku dan papi kembali melanjutkan membolak balik koran yang sedari tadi menjadi kesenangannya, dan harus terusik oleh mami.


"Ck, gak asik papi." Mami bangkit dari duduk menuju arah papi. "ayo kita kerumah besan dulu. Mami mau ketemu mbak Rahmi, sekian mau jenguk Nisa." Mami menutup paksa koran ditangan papi dan membuang kesembarangan arah.


"Yusuf gimana? Masak harus ditinggal? Ngapain jenguk Nisa? Tadi mami bilang gak khawatir sama Nisa, ada mertuanya yang jaga." Papi masih enggan berdiri.


"Ck... Mami mau ngobrol-ngobrol cantik sama mbak Rahmi, siapa tau bisa menjodohkan Yusuf dan Afiifah." Coloteh mami tanpa jeda. "habisnya bosan mami nunggu Yusuf gak nikah-nikah, bisa keburu tua mami, Bisa-bisa mati duluan."


"Astagfirullah... Kalau ngomong tu disaring duku mi, suka gak mikir kalau udah ngomong." Papi berdiri.


"Kita pulang dulu ya, Jangan nyusahin Afiifah kamu Suf, assalamualaikum."


Bayangan orangtua Yusuf mulai menghilang.


Kenapa harus berdua dengan Yusuf lagi?


Seandainya masih ada Kia, mungkin rasa canggungku berkurang, Yusuf juga pasti lebih polusi ke Kia.


Betapa rindu Ibumu ini nak.


"Aku keluar sebentar ya." Aku cangking minibag disofa.


"Afiifah... Maafkan aku."


"Jangan banyak pikiran Suf, kamu harus segera sembuh." Sejenak aku menoleh Yusuf yang seketika senyumnya tak lagi tampak mengembang.


"Aku keluar sebentar."


"Mau kemushola lagi?"


"Nggak, aku mau ketemu Sila, ada urusan dikit." Aku segera meninggalkan Yusuf.

__ADS_1


Tak lama, "Suf... Nanti telpon aku kalau butuh sesuatu, Assalamualaikum." Aku menjulurkan kepala balik kedalaman kamar, sebagian badanku sudah berada diluar kamar.


"Wa'alaikumussalam." Masih terdengar jawaban salam Yusuf.


__ADS_2