Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Bab 4


__ADS_3

"Iya sayang, aku juga masih di rumah sakit, aku gak bisa nemenin kamu hari ini, aku gak enak sama mama kalau harus ninggalin dia sendirian."


Sangat jelas aku mendengar percakapan mas Haikal yang aku tidak tau siapa yang dia panggil sayang, aku masih memejamkan mata ku,


rasanya aku tidak ingin bangun dan aku berharap yang baru ku dengar hanya halusianasi ku atau hanya sekedar mimpi.


"Oke oke... Aku tutup dulu ya telpon nya, nanti aku kabarin lagi, see you sayang." Kemudian ia mengahiri panggilan nya.


Sekarang aku sudah tidak perlu penjelasan nya lagi, aku sudah cukup dewasa untuk membedakan teman atau lebih dari sekedar teman.


Tok tok...


"Permisi.. Sudah bangun nyonya? Enak benar kayak nya tidur di sini? Sayang bangat ya sama rumah sakit? Sampai-sampai harus tidur di sini?"


Tiba-tiba Sherly masuk ke ruangan, dengan terpaksa aku membuka mata. Ia tersenyum menggoda ku.


"Ah kamu sher, mau gantikan kakak di sini? Kakak mah udah kebelet pengen pulang, udah gak minat tidur di sini walau pun serasa di kamar hotel." Kataku kembali menggoda nya.


Sherly adalah salah satu rekan sejawat ku, dia juga berprofesi sebagai perawat, beda nya ia di ruangan vip Internai (husus untuk penyakit dalam).


Walaupun aku di rawat di ruangan yang super nyaman tentu nya dengan perawatan yang istimewa juga dari teman-teman sejawat ku, tetap saja kamar ku tempat terbaik dan ternyaman untuk istirahat, hanya saja ahir-ahir ini rumah yang dulu serasa bak surga sekarang sudah berubah, tidak ada lagi kehangatan di dalam nya.


"Jangan pulang dulu kak, kamu harus sembuh dulu," nasihat nya sambil mengecek tensi darah ku dan merapikan tempat tidur ku.


"90/50, kakak kurang istirahat yah? Pasti juga kurang makan kan?" dia menatap ku sambil memburu ku dengar pertanyaan-pertanyaan nya.


"Sudah seminggu ini aku sering merasa pusing sher, bahkan kadang gak ada nafsu makan, mungkin karena aku kelelahan," Jawab ku, "Makasih yah."


" kak dokter rita sudah datang kayak nya." Ia segera merapaikan alat yang sudah di pakai. dia pergi meninggalkan aku sudah pasti untuk menemani dokter rita visite.


Dokter rita adalah dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit ini, dia dokter senior dan kami semua sering di marahi kalau kerja lama atau pun terjadi kesalahan, dia yang super killer kalau berbicara suara nya sangat halus dan itu lah penyebab paling sering kami di bentuk karena tidak mendengar apa yang di ucapkan nya.


"Kamu itu kalau saya ngomong di dengarin, telinga nya di pasang, udah berapa lama kamu kerja di sini? Kalau saya visite jangan banyak ngobrol." ucapan itu dulu pernah tertuju pada ku, hehehe... Itu dulu sewaktu aku masih awal bekerja. Aku belum terlalu mengerti sifat masing-masing dokter di sini.


Kami sebagai patner kerja dokter benar-benar harus mengerti sifat karakter dan cara kerja masing-masing dokter di sini.


Tok tok...


"Ehh kamu ternyata! kenapa sampai pingsan? Terlalu capek ya?" Tiba-tiba dokter rita masuk. Dengan bibir sedikit tersenyum.


"Kalau kerja itu harus tau diri juga, kalau udah mulai gak fit, iya harus istirahat yang cukup."


Dia mulai mengoceh sambil membuka kedua kelopak mata, tentu saja beliau sedang memeriksa kesehatan ku.


Aku hanya tersenyum.


"Apa yang kamu rasakan sekarang?" Ia kembali bertanya, tapi kali ini dia menatap ku dan tersenyum.


"Sedikit pusing Dok, kadang-kadang suka mual, gak ada nafsu makan sama sekali, dan susah tidur." Jawabku.


"Kapan terahir datang bulan? HPHT mu." Ia bertanya di luar dugaanku dengan satu tangan masuk kepala saku Jaz dokternya.


Deg... Tentu saja kau kaget.


HPHT adalah singkatan dari HARI PERTAMA HAID TERAHIR. Ini salah satu metode untuk menghitung kehamilan.


"Kayak nya udah telat 1 minggu dok," aku memaksa diri untuk tersenyum.


"Saya cek urine nya ya." Dokter rita memukul pundak ku dan pergi meninggal kan ruangan ku.


"Langsung telpon laboratorium sekarang dan cek urine yah."


Aku mendengar beliau memberi perintah pada asisten nya, sherly dan fita perawat yang mendampingi beliau visite.


Mendengar ucapan dokter rita tadi sperti beliau curiga kalau aku sedang hamil, aku sampai lupa kalau bulan ini aku sudah telat datang bukan.


"Hamil? Kalau kecurigaan nya benar, apa yang harus aku lakukan?"


Aku bertanya pada diriku sendiri. Aku belum siap. apa lagi dengan ke aadakan pernikahan ku yang semakin memburuk.


Tidak lama kemudian uswatun datang dan membawa tabung tempat urine ku, Uswatun adalah petugas laboratorium rumah sakit tempat ku bekerja. Setelah selesai dia kembali ke ruangan nya.


Menunggu hasil nya keluar aku sangat gelisah, aku takut mas Haikal tidak mau menerima ke Hamilan ku.

__ADS_1


"Semoga hasil nya negatif ya allah" Monolog ku lirih, lebih tepatnya, aku sedang berdoa.


***


"Assalamualaikum... "


Tok tok... suara pintu kamar ku di kotok.


"Masuk." Aku mempersilahkan nya masuk.


"Ahh kak rara, kenapa kak? " Ternyata kak rara, beliau juga salah satu perawat di sini, tapi beliau adalah perawat senior, bagi kami menghargai dan menghormati senior adalah hal yang sangat penting.


"Kamu sendirian fah?" Ia melempar pandangan kesemua arah.


"Iya kak... Mas Haikal lagi pulang." aku tersenyum


"Kakak kasih obat dulu yah." Hanya anggukan sebagai jawaban. Dia pun memberikan injeksi di selang infusku.


"Oh ya... Selamat yah, hasil nya positif, nanti kamu di konsulkan ke Dokter Hadi, mungkin habis magrib beliau ke sini." Kak Rada memberi tau hasil urine ku yang tadi di periksa. Positif.


Mendengar ucapan nya badan ku semakin lemah. Aku berusaha menahan gejolak dihatiku.


"Makasih y kak informasi nya." aku membalas dengan senyuman.


Air mata ku mulai mengalir deras, aku belum siap menerima kejutan Allah ini.


Seandainya saja hubungan ku dengan suami ku baik-baik saja, aku pasti sangat bahagia.


"Mudah-mudahan mendengar kabar ini abi mu akan senang dan berubah nak." aku berbicara dengan calon janinku sambil ke usap perutku yang masih rata.


Aku mencoba menenangkan hati dan fikiranku. Aku terus berdoa dalam hati ini agar dia kembali ke pada aku, Kia dan calon anak kami. Tapi di mana dia. aku mengambil ponsel dan mencoba menghubungi nya..


"Ada apa?" Panggilan ku tersambung, dan segera ia jawab.


"Sayang kamu di mana? Aku punya kabar gembira untuk kamu, kamu bisa ke rumah sakit gak?" Aku mencoba berbicara selembut mungkin, aku berharap dia meng-iya kan permintaan ku.


"Aku masih ada kerjaan, nanti saja habis magrib aku ke sana." Mas Haikal langsung memutuskan sambungan telpon kami.


Apa lagi yang bisa ku perbuat, aku hanya berharap allah memberi ku kekuatan dan kesabaran.


Aku memejam kan mata, aku mencoba untuk tidur, dan berharap keajaiban allah setelah bangun nanti.


Tiba tiba...


" Assalamualaikum, Ibu." kulihat Kia membuka pintu dan menghambur kepelukanku.


"Wa'alaikumussalam, duh anak Ibu." aku menyambut pelukannya.


"Ibu kapan sembuh? Biar cepat pulang, jangan sakit-sakit lagi." dia menatap wajah ku.


"Doakan ibu ya, cepat sembuh dan selalu sehat biar bisa main sama kakak lagi." aku mencubit hidung nya yang sedikit mancung.


"Ya Allah semoga ibu cepat sembuh, aamiin." dia mengangkat kedua tangan nya.


"Aamiin." Akuu dan Mama menjawab secara bersamaan.


"Kamu sudah makan fah?" tanya mama.


"Sudah ma." Jawab singkat, entah kenapa aku malas sekali untuk berbicara.


"Ma... Tadi aku di periksa urine, hasil nya aku positif hamil ma." Dan entah kenapa aku tiba-tiba berharap mama bisa membantu rumah tangga ku dengan mas haikal.


"Alhamdulillah Fah, selamat ya." Mama sedikit tersenyum. aku tau mama menyembunyikan perasaan yang entah apa yang dia rasakan, yang pasti itu bukan rasa bahagia, mungkin mama juga takut sama seperti ku, takut mas haikal tidak bisa menerima kehamilan ku.


Walaupun aku tidak pernah bercerita masalah rumah tangga ku ke mama, aku yakin mama pasti tau kalau kami tidak baik-baik saja.


"Kamu kenapa?" Tanya mama, seolah-oalh dia mengerti kegundahan hati ku.


"Ma, Afiifah mau minta tolong mama, ahir-ahir ini Mas Haikal semakin berubah ma, bahkan dia mulai kasar pada ku, Afiifah minta tolong mama dan papa bicara dengan nya." Aku menatap mama penuh harap.


Aku merasa sudah putus asa, sekarang mama dan papa lah harapanku. Mataku mulai berkaca-kaca lagi, suara ku mulai gemetar menahan tangis ku yang mulai mengalir.


"Mama sudah lama curiga kalau kalian ada masalah, coba kamu ceritakan sama mama, yang sebenar nya, masalah apa yang terjadi antara kalian." Mama menatap ku serius.

__ADS_1


Aku pun memenuhi permintaan mama untuk menceritakan masalah rumah tanggaku. Dari kapan dia mulai berubah, apa penyebab nya sampai masalah kalau kemungkinan dia berselingkuh di belakangku.


"Kamu yang sabar Fah, nanti mama coba ngomong sama dia ya, kamu jangan terlalu stres kasian bayi kamu." Mama mencoba membuat ku tenang dan mengusap perutku lembut.


Aku sedikit lega setelah menceritakan masalah ku pada mama, tanpa sadar aku pun tertidur bersama kia di samping ku.


" Tok tok..."


"Silahkan masuk." Aku menyeka air mataku dan mencoba bangun dari tidur ku.


"Maaf Fah, dokter Hadi katanya gak jadi masuk sore ini, kata beliau akan visite besok jam sepuluh dan kamu langsung ke poli untuk USG." kak rara datang membawa informasi yang menurut aku emang penting, karena dari tadi aku memang menunggu dokter hadi datang, walaupun aku takut dengan kehamilan ku tapi tetap saja aku ingin tau tentang perkembangan janin ku, tetap saja ada sedikit rasa memiliki di hati ku.


"Ohh gitu, hmmm ya udah gak papa kak, mau gimana lagi, makasih y kak info nya." aku tersenyum walaupun sebenarnya aku sedikit kecewa.


Kak rara oun meninggalkan ruangan.


"Mama belum mau pulang ma? Udah malam gak baik nanti bawa Kia pulang terlalu malam ma." tanya ku.


"Tunggu Kia bangun saja Fah, sebentar lagi dia juga bangun biasa nya." Sambung mama sambil melihat jam yang melanggar di tangan nya.


" biar afiifah bangun kan saja ma, nanti malah kemalaman " sambung ku.


" sayang... Kia, ayo bangun sudah di ajak nenek pulang nak, nanti sambung bobok di rumah saja sayang " aku mencoba membangun kan kia.


Dengan berat Dia membuka mata nya.


"Kia mau temenin ibu di sini saja boleh gak? Kakak mau jaga ibu saja." Kia memelukku dan menatapku penuh harap.


"Boleh saja, tapi Kia gak takut? di sini banyak penyakit, nanti kalau kakak ikut sakit gimana? Nanti ibu pasti makin sedih." Aku mencoba memberi pengertian pada Kia.


"Please ibu, kakak kangen sama ibu." Kia mulai mengeluarkan muka comel nya dengan bibir sedikit di manyun ke depan.


"Gak boleh sayang, nanti Kia mau kalau sakit juga kayak ibu?" Aku masih pada pendirian ku.


"Ibu benar sayang, besok kita jenguk ibu ke sini lagi, sekarang kita pulang dulu." Mama pun ikut mencoba membuat dia mengerti.


"Oke lah..." Kia melepaskan pelukan nya dia turun dari tempat tidurku dengan wajah kesal, mungkin lebih tepat memasang wajah sedih.


"Tapi ibu janji ya cepat sembuh." dia membaik badan nya menatapku.


"Hmmm ibu janji." aku mengenggam 4 jemari ku dan membiarkan jari kelingkingku berdiri, sambil tersenyum pada nya. Dia pun ikut menaut kan jari kelingking nya pada kelingkingku.


***


23.20 Wib...


Aku mendengar pintu kamarku di dorong, sekilas aku melihat mas Haikal masuk tanpa salam, dengan mata yang tetap fokus pada handphonenya.


"Dari mana mas?" Pandangan ku mengekor gerak mas Haikal.


"Bukan urusan kamu! kamu kenapa sih suka banget ikut campur urusan ku?" Ia menatapku dengan penuh kebencian.


"Aku cuma tanya mas, seharian kamu pergi bukan nya jagain aku, atau setidaknya nya kamu jaga Kia, bukan malah asik senang-senag gak jelas, aku masih istri kamu, aku berhak tau kemana kamu dan dengan siapa kamu pergi." aku mulai kesal.


"Siapa yang suruh kamu sakit, ha? lagian Kja juga ada mama yang jagain, mama lebih becus jaga Kia dari pada kamu." dia meninggikan nada bicara nya.


"Aku juga gak mau sakit kok mas, aku hamil." aku memberi tau kehamilanku, tanpa melihat mas Haikal. Jujur saja, aku belum siap melihat ekspresi dia yang semakin membenciku.


"Hamil?" dia menatapku seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. "anak siapa yang kamu kandung?" ia mendekat pada ku, tangan kekar nya mencengkram daguku dengan sangat kasar.


"Lepaskan mas!sakit." aku mencoba melepaskan tangan nya.


"Jawab...! Laki-laki mana yang sudah kau tiduri?" ia membanting wajahku dengan kasar sambil melepaskan cengkraman nya.


"Apa maksud kamu mas? apa kamu fikir aku sama seperti mu? Suka berselingkuh, ini anak mu." aku benar-benar tidak bisa menahan emosiku, tapi aku masih bisa mengontrol nada bicara ku, karena aku sadar, aku masih di rumah sakit.


"Anak ku?" ia tersenyum tipis, seakan penuh ejekan.


"Aku merasa itu bukan anakku, aku saja sudah tidak pernah menyentuh mu lagi, jangan kau fikir aku bodoh." Ia mendekatkan suara nya ke telinga ku.


"Kau besar kan saja sendiri anakmu itu, aku tidak peduli, silahkan kau minta bapaknya untuk bertanggung jawab." Ia membanting pintu dan keluar meninggalkan aku lagi.


Aku sudah tidak mampu menahan rasa sakit ini, harapanku benar-benar sudah pupus, bukan saja dia tidak menerima kehamilanku, dia dengan kejam menuduh aku berselingkuh bahkan berzina dengan orang lain.

__ADS_1


Tidak bisa aku ungkapkan betapa sakit nya perasaan ku saat ini, hati ku hancur berkeping-keping. Dada ku sungguh terasa sakit, bak terhimpit benda berat.


Aku menangis sampai seluruh duniaku terasa hilang, aku butuh bunda di sisiku, aku sudah tidak kuat untuk menahan semua rasa sakit ini. Kenangan masa laluku kembali menjadi nyata dalam hidupku.


__ADS_2