Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 61


__ADS_3

"MasyaAllah... Udah datang ternyata?"


"Kenapa malah pada asik diluar?"


"Ayo! Masuk!"


"Ibu tunggu dari tadi lho." Seorang wanita - yang lumayan muda dan masih cantik - menghampiri Aku dan Bang Yusuf.


"Assalamu'alaikum." Aku mengikuti Bang Yusuf yang segera mencium telapak tangan wanita yang berdiri didepan ku. Mungkin beliau lah yang dipanggil Bu Asih sama Bang Yusuf.


"Wa'alaikumussalam."


"Afiifah?"


"Betul, Bu."


"Assalamu'alaikum." Sapaku lagi sembari tersenyum.


"MasyaAllah.. Cantik!"


"Ayo masuk."


"Beliau yang namanya Bu Asih," Bang Yusuf sedikit berisik, diikuti anggukan ku tanda mengerti.


"Ayo masuk!" Wanita yang ternyata betul disapa Bu Asih berhenti ketika ternyata Aku dan Bang Yusuf masih berdiri didepan pintu.


"Iya, Bu." Aku dan Bang Yusuf mengikuti Bu Asih.


"Bapak kemana, Bu?"


"Biasa, ngurusin anak-anaknya dibelakang."


"Duduk saja dulu, biar Ibu panggilkan."


"Ternyata Bu Asih masih lumayan muda ya Bang?"


"Iya, beliau orangnya juga sangat menjaga kesehatan dan makan makanan yang selalu sehat, ditambah lagi... Beliau juga cukup berpendidikan, jadi ya... Seperti inilah beliau."


"Oh... Jadi...


"Yusuf!"


"Pak! Assalamu'alaikum Pak." Aku dan Bang Yusuf segera berdiri ketika melihat sosok laki-laki yang menghampiri Aku dan Bang Yusuf, dan aku hanya melipat kedua tanganku sebagai pemberi salam.


"Duduk. Duduk."


"Aduh maaf, Bapak sedikit kotor."


"Udah lama sampai?"


"Belum Pak. Baru beberapa menit yang lalu."


"Bapak dan Ibu sehat?" Bu Asih datang dengan teh hangat beserta jajarannya didalam ples.


"Sehat alhamdulillah."


"Kamu sehat?"


"Sehat Pak, alhamdulillah."


"Diminum, Hm... Afiifah?"


"Betul Pak, ini Afiifah. Istri Satria." Bang Yusuf dengan tersenyum memperkenalkan Aku.


"Cantik!"


"Bapak ini masih Om nya Satria. Biasanya dipanggil Pak Ngah sama Satria, nama Bapak sebenarnya Arifin."


"Ini istri Bapak, Bu Asih! Biasanya Satria panggil Ibu."


"Kita sebenarnya masih keluarga Satria, yang alhamdulillah diberi amanah sama Papi Mami Satria mengurus rumah ini, kebetulan Ibu sama Bapak juga dapat tugas disini."


"Ayo diminum!"


"Jangan malu-malu. Anggap saja orang tua sendiri. Satria sudah kita anggap anak." Bu Asih membuka satu persatu isi toples tupperwer yang berisi makanan itu.


"Iya jangan malu-malu., anggap saja kita orang tua kamu juga." Pak Ngah beberapa kali meniup teh hangat yang masih mengeluarkan asap, dan menyeruputnya pelan-pelan.


"Gimana perjalanannya?"


"Alhamdulillah lancar, Bu. Walaupun agak sedikit lelah." Jawa ku sedikit malu.


"Dia gak biasa jalan jauh gini Bu, makannya kemarin kita nginep dulu di kota B."


"Oh gitu,

__ADS_1


"Ini rencananya kapan mau ziarah?"


"InsyaAllah nanti Pak,"


"Kalau nanti pak Ngah gak bisa ikut, pak Ngah mau kekantor kebetulan akan ada penyuluhan dari dinas Kabupaten,


"Hm... Mungkin Ibu bisa ikut?"


"Aduh kalau hari ini Ibu juga gak bisa ikut,


"Kalian rencana berapa hari disini?"


"Gak papa Pak Ngah, Bu. Kita bisa pergi berdua saja."


"InsyaAllah kita tiga hari disini, sebenarnya bisa meninggalkan kampus lima hari, Anak-anak sekarang juga mau pada ujian." Jawab bang Yusuf.


"Oh... Gitu, ya Udah kita sarapan dulu, Ibu udah bikin sarapan tadi."


"Ayo." Aku dan Bang Yusuf ikut menuju ruang makan.


Ternyata bertemu Pak Ngah dan Bu Asih tidak seburuk yang aku bayangkan, alhamdulillah... Mereka asik dan suka ngobrol jadi membuat rasa canggungku sedikit mencair.


"Mohon maaf kalau kemarin, Ibu dan Pak Ngah gak bisa hadir dia ada pernikahan kalian, kalian menikah mendadak, kebetulan ada urusan kantor yang gak bisa Ibu dan Bapak tinggalkan."


"Eh gak usah, biar Ibu saja yang mencuci piringnya. Kamu pasti capek kan! Kamu duduk aja disana" Menunjuk meja makan.


"Gak papa Bu, lagian Afiifah juga gak Terlalu capek," Aku ikut mengangkat peralatan makan yang kotor.


"Gak papa Bu, lagian keluarga Afiifah juga ada yang bisa hadir, Afiifah juga gak menyangka akan menikah dengan Bang Yusuf Hm bang Satria maksudnya." Aku ikut berdiri disamping Bu Asih, dan membilas peralatan yang sudah dicuci.


"Ah Satria... Yusuf, sama saja. Dia memang kalau sama orng suka memperkenalkan diri dengan nama Yusuf, biar ganteng seperti Nabi Yusuf katanya."


"Hehe... Betul Bu, karena dari awal dikanalkan dengan Nama Yusuf, jadi sedikit canggung kalau harus memanggil dengan nama Satria."


"Ibu sudah lama tinggal disini?"


"Udah, sudah hampir lima belas tahun, sebenarnya Ibu sama bapak bukan asli disini, tapi semenjak orang tua Yusuf meninggal kita memilih untuk menjadi jaga rumah ini, bagaimana pun ini adalah satu-satunya kenangan Yusuf dengan orang tuanya, alhamdulillah... Kita juga bisa ikut pada dinas kesini, dulunya bapak sama Ibu dinas dikantor pusat."


"Sudah lama kenal Yusuf?"


"Kalau Afiifah belum lama Bu, tapi kalau bang Yusuf sudah lumayan lama, karena Bang Yusuf temannya Fariz."


"Ayo, sepertinya Pak Ngah sama Yusuf dibelakang."


"Ini kamar Yusuf kecil, gak banyak yang kita ubah, hanya kita cacat ulang." Bu Asih menunjuk satu ruangan yang dipintu terdapat nama Yusuf.


"Itu sudah ada sejak Ibu dan Bapak tinggal dirumah ini, sepertinya itu dibuat oleh orang tua Satria dulu."


"Pak...! Sudah hampir jam delapan, kita siap-siap kekantor dulu." Bu Asih sedikit berteriak memanggil Pak Ngah yang nampaknya asik ngobrol dengan Bang Yusuf, sesekali tawa mereka terdengar nyaring.


"Kalian istirahat saja dirumah, nanti jam sepuluh insyaAllah Ibu usahakan pulang." Bu Asih siap dengan baju dinas lengkap tas mahal disandang, begitu pula dengan pak Ngah.


"Kita juga mau langsung ziarah saja Bu. Gak papa, kita gak capek." Bang Yusuf dan aku ikut bersiap, aku yang sudah mengganti baju dan bersih-bersih.


"Benaran gak capek? Kasian Afiifah nya Sat."


"InsyaAllah gak, Bu. Afiifah masih kuat." Aku menyakini Bu Asih dan Pak Ngah.


"Nanti mungkin setelah ziarah kita mau keliling kampung. Sekalian kerumah keluarga yang lain, jadi mungkin zuhur baru pulang, Bu." Iya Aku dan Bang Yusuf memang berencana selain untuk ziarah, kita memang berencana untuk silaturahmi kerumah keluarga Bang Yusuf disini.


"Oh... Iya iya, bagus itu.


"Ini satu kunci rumah siapa tau nanti kalian lebih dulu pulang dari kita."


"Ibu sama Bapak pamit yah, assalamualaikum."


Aku dan Bang Yusuf mengantar kepergian mereka dan selang beberapa waktu aku dan Bang Yusuf menyusul meninggalkan perkarangan rumah yang terbilang cukup luas ini.


"Jauh Bang?"


"Gak. Kenapa? Kamu capek?" Aku menggelang sebagai jawaban.


"Benar gak capek?"


"Iya."


"Kalau capek kita istirahat saja dirumah, besok pagi kita bisa pergi ziarah lagi."


"Gak papa Bang, lagian harusnya dulu sebelum menikah kita sudah harus ziarah kesini, tapi baru bisa sekarang padahal kita sudah hampir satu bulan menikah." jujur saja aku merasa kecewa kepada diri sendiri, seharusnya aku memperkenalkan diri kepada orang tua kandung Bang Yusuf dari sebelum menikah, tapi baru sekarang bisa ziarah.


"Gak papa, dulu Abang sudah minta izin dan doa restu dari Ayah sama Ibu, insyaAllah mereka juga akan ikut bahagia memiliki anak perempuan sebaik dan secantik kamu, yang penting doa sayang."


"Betul Bang, dalam buku ziarah kealam barzah yang ditulis oleh Al-Imam Jalaluddin as-Sayuti dijelaskan bahwa orang yang sudah meninggal bisa mendengar Doa-doa yang kita kirimkan untuk mereka dan mereka bisa merasakan nya, walaupun mereka sudah tidak bisa melihat kita dan berada didekat kita lagi."


"Itulah kenapa salah satu amal yang kita bawa mati adalah doa dari anak yang sholeh sholehah."

__ADS_1


"MasyaAllah... Istri Abang. Ayah sama Ibu pasti bahagia, sekarang ada satu lagi yang insyaAllah selalu mengirimkan doa untuk mereka."


"Seandainya saja... "


"Jangan beradai-andai Bang, tau tidak... Rasulullah SAW pernah bersabda" Semangatlah dalam menggapai apa yang manfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah. Jangan pula mengatakan: Andaikan aku berbuat demikian tentu tidak akan terjadi demikian namun katakanlah: Ini takdir Allah, dan apapun yang Allah kehendaki pasti Allah wujudkan karena berandai-andai membuka tipuan setan.” (HR Muslim 2664)."


"Berandai-andai memang terlihat suatu aktivitas yang sepele dan menyenangkan bagi sebgaian orang. Namun hal tersebut merupakan suatu yang dilarang, dan sebaiknya kita terus belajar dan menginggat untuk tidak berangan-angan dan harus membuang angan-angan kita."


"Jangan sampai kita tertulis sebagai orang munafik dan yang tidak ridho dengan takdir dan keputusan Allah. Na'uzubillah... "


"Astagfirullah... Abang khilaf.


"Terima kasih sudah mengingatkan Abang sayang."


"Sudah tugas kita untuk saling mengingatkan Bang, Aku juga manusia biasa pasti sering lupa dan khilaf."


" InsyaAllah... Kita akan sama-sama terus belajar memperbaiki diri, Abang akan terus belajar ilmu agama, agar Abang benar-benar bisa menjadi imam yang baik dan benar untuk kamu dan keluarga kita nanti, untuk anak-anak kita." Ya Allah... Mendengar kata anak-anak aku berharap Allah segera menitipkan amanah untukku dan Bang Yusuf beberapa orang anak.


"Semoga Allah segera menitipkan amanah anak untuk kita ya bang."


"Aamiin...!"


"Semoga saja sayang, kita sama-sama usaha dan... Terus usaha, bila perlu tiap malam kita usaha."


"Itu maunya kamu, akal-akalannya kamu aja Bang."


"Hahaha...


"Gak papa dong, bukankah salah satu tujuan menikah adalah untuk mendapatkan pasangan yang halal, bagai mana pun, Abang juga manusia biasa, itu kebutuhan bagi Abang."


"Iya iya... Aku tau sayang, tapi kalau tiap malam nanti pembuahannya gak bagus,"


"Ohh... Gitu, jadi yang bagusnya berapa hari?"


"Besok sampai Jambi kita konsultasi sama dokter obgyn langsung, biar kamu tau kalau merokok itu gak baik untuk kesehatan kamu dan aku, juga nanti untuk anak-anak aku."


"Hehehe... Baik suster,"


"Tapi, Kamu jangan terlalu memikirkan anak, insyaAllah... Tanpa ada anak Abang akan selalu disisi kamu."


"Kita jalankan saja apa yang sudah Allah tetapkan untuk kita."


"Alhamdulillah! Yok turun, kita sudah sampai." Entah kenapa ada rasa kesedihan yang tak bisa aku jelaskan. Melihat Bang Yusuf yang sepertinya kuat membuat aku berfikir bagai mana Ia melalui kehidupan ini tanpa sosok orang tua kandung.


"Ini makam Ayah dan itu makamnya Ibu." Bang Yusuf berhenti disalahkan satu makam yang sudah dikramik hijau dan dipagar, ia hampir semua makam disini kelihatan juga dipagar dan dikramik.


Aku mendekati dan duduk diantara dua Lahat, tak terasa air mataku mulai berjatuhan.


"Assalamualaikum, Ayah Ibu... Abang datang dengan wanita yang kini siap menemani Abang seumur hidup."


"Assalamualaikum, Ayah Ibu... Maaf! Afiifah baru bisa silaturahmi keempat Ayah dan Ibu sekarang." Dengan suara serak aku mencoba membuka suara dikuatkan dengan elusan dibahuku.


"Jangan menangis, tidak baik." Aku menyeka air mataku dan mengangguk.


"Ayah dan Ibu juga pasti ingin kita bahagia."


"Ayah, Ibu... Terima kasih sudah melahirkan Bang Yusuf kedunia ini, sehingga Afiifah bisa bertemu dan bersama dengannya."


"Sifat baik Bang Yusuf insyaAllah ditanamkan oleh kebaikan Ayah dan Ibu semasa dari kandungan."


"Jadi Afiifah yakin Ayah dan Ibu adalah sosok orang tua yang baik, sehingga melahirkan anak sebaik Bang Yusuf." Lagi-lagi aku tak bisa membendung air mataku.


"Afiifah insyaAllah janji, akan terus merawat dan melayani Bang Yusuf dengan baik, Afiifah akan selalu belajar menjadi pelipur lara dan selalu menemani Bang Yusuf dalam keadaan apapun."


"Tolong ridho pernikahan kita, dan Afiifah insyaAllah akan menjadi anak yang baik untuk Ayah dan Ibu, yang akan selalu mendoakan Ayah juga Ibu."


"Semoga nanti kita bisa bertemu disurganya Allah."


"Udah jangan menangis," bahu Bang Yusuf adalah tempat bersandar paling nyaman, begitu juga saat ini.


"Maafkan Yusuf Yah, Bu. Yusuf batu bisa ziarah lagi sekarang, Yusuf tidak bisa menjenguk Ayah dan ibu sering-sering."


"Sekarang Ayah sama Ibu bisa semakin tenang, Yusuf sudah tidak sendiri, selain Mami Papi dan Annisa... Sekarang Yusuf punya keluarga baru yang begitu baik,"


"Nanti insyaAllah Afiifah akan ajak kedua orang tua Afiifah untuk ziarah kesini,"


Banyak sekali yang ingin kita ceritakan, berbagi segala hal kepada mereka, selain dari doa semoga mereka bisa merasakan kehadiran dan cerita kita, cerita aku dan Bang Yusuf.


Setelah membaca surah yasin dan doa dan juga membersihkan makam, aku dan Bang Yusuf pamit, berat sekali rasanya meninggalkan tempat ini, jika saja aku tinggal disini, mungkin aku bisa ziarah kesini seseorang mungkin, tapi... Sepertinya sedikit tidak mungkin meninggalkan Ibu Kota, kecuali memang Allah berkehendak lain.


"Ayah Ibu... Yusuf dan Afiifah pamit, Ayah dan Ibu bisa tenang dan bahagia melihat Yusuf saat ini sudah memiliki teman berbagi dalam segala hal." Bang Yusuf mengusap kedua nisan orang tuanya.


"InsyaAllah kita akan balik kesini lagi nanti Yah, Bu." Aku ikut mengusap nisan orang tua bang Yusuf yang sekarang juga sudah menjadi orang tuaku. Terharu... Mendengar bang Yusuf memperkenalkan aku kepada orang tuanya dengan raut wajah yang bahagia dan penuh rasa bangga. Hu


Terbesit keinginan untuk bertemu mereka dalam mimpi, Ayah Ibu... Tolong hadir dalam mimpi Afiifah, sekali saja. Afiifah ingin bertemu, Afiifah ingin memeluk kalian.

__ADS_1


"Jika berkenan, tolong hadir dalam mimpi Afiifah, Afiifah ingin berjumpa. Ingin memeluk Ayah juga Ibu." Aku mempertegas dan mengulang permintaan yang tadi tak terucap.


__ADS_2