Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 7


__ADS_3

"Afiifah... Afiifah, bisa mendengar mama?" Sayup- sayup aku mendengar suara memanggil namaku dan terasa tubuhku sedikit bergoyang.


Perlahan aku membuka mata.


"Afiifah!" Panggil mama Monic, aku melihat ada rasa kewatir dan takut diwajahnya.


Mama Monic, ia... Beliau lah mertuaku, yang kurasa semakin hari semakin hari membuat aku memiliki sedikit kekuatan melalui pernikahan ini.


" Alhamdulillah kamu sudah sadar nak, takut sekali mama terjadi sesuatu pada mu." Mama Monic memegang kedua tanganku.


Aku menatap mata wanita yang kupanggil mama itu, "mama yang bawa Afiifah kerumah kesini?" sesaat setelah kusadari berada didalam ruangan gawat darurat yang sangat aku kenal. Rumah sakit tempat aku bekerja.


Dijawab dengan anggukan kepala oleh mama.


"Wi periksa dulu y kak." Senyum Dokter Dewi yang bertugas saat ini.


Hampir semua dokter muda di rumah sakit ini memanggil seluruh para Perawat Bidan dengan panggilan kakak, dan tentu saja kami semua juga tetap sopan kepada para dokter muda itu dengan panggilan dokter.


"Kak, nanti Dokter Hadi datang ke sini, pesan beliau langsung USG saja kak." jelas Dokter Dewi.


"Iya Bu Wi, makasih yah." aku kembali tersenyum.


"Badrest dulu y kak, darah nya masih aktif keluar" Jelas dokter Dewi, mengelus pundakku.


Yah... Aku memang merasakan panas nya darah yang mengalir dari jalan lahirku.


Perasaanku tak menentu, yang pasti aku sedikit cemas dan takut.


"Kuat kan Ibu ya nak." aku mengelus-elus perut yang masih datar, sambil menyeka air mata yang berkali-kali tumpah.


"Apa ada yang sakit Fah?" Tampak jelas kerutan dikening mama.


Aku menggelang, "hanya perutku, rasanya agak mules ma...


"Gak papa, Ma. Afiifah baik-baik saja." aku mengelus punggung tangan Mama.


"Fah... Kamu mau mama telponin Bunda kamu?" tanya mama ragu.


"Gak usah ma, Afiifah masih bisa menjaga diri Afiifah sendiri, nanti bunda jadi cemas." secepatnya aku melarang mama, aku tidak mau membuat Bunda risau, terlebih lagi, aku tidak mau bunda tau masalah rumah tanggaku saat ini.


"Maafkan mama, Fah" aku melihat wajah sendu mama dan air mata nya menetes.


"Ma... Bukan salah mama, mama tidak salah, jangan meminta maaf padaku ma." aku menggegam tangan mama yang kurasa dingin.


"Mama adalah Ibu yang baik, Afiifah bersyukur ada mama disamping Afiifah."


"Ini salah mama Fah, mama tidak bisa mendidik Haikal dengan baik, sehingga kamu harus merasakan sakit ini lagi." mama masih menangis di hadapanku, tanpa berani menatap mataku.


"Ini bukan salah mama, ini mungkin sudah jadi jalan Allah ma, hati manusia itu mudah goyah, Allah juga berhak membolak balikan hati manusia." aku memeluk mama, berusaha meyakinkan mama.


Karena betul adanya, ini bukanlah salah mama.


** di ruangan Dokter Hadi.


Setelah selesai pemeriksaan, kini aku duduk di depan dokter Hadi, menunggu hasil yang akan dikatakan dokter Hadi, dokter spesialis obgyn yang menangani kehamilanku.


Dia memandangku intens.


"Bukannya kamu perawat di sini yah?" tanya dokter Hadi yang kening nya sedikit berkerut, mungkin mencoba mengingat wajahmu.


"Iyaa dok." aku membenarkan dan menganggukan kepalaku.


"Gimana hasilnya Dok?" aku sudah tidak sabar mengetahui hasilnya.


"Di mana keluarga mu?" dokter Hadi melihat sekelilingku dan tidak menemukan keluargaku, ahh... tepat nya keluarga suamiku.


"Dokter jelaskan saja pada saya dok, mama mertua saya sudah pulang ada urusan penting." aku menatap dokter Hadi dengan tersenyum tipis.


Mama memang sudahku suruh pulang untuk menjaga Kia, aku sedikit tidak tenang kalau kia hanya di tinggal berdua dengan papa mertuaku.


"Kamu siap mendengarnya? saya melihat kamu masih kurang sehat dan maaf seperti nya kamu ada masalah." tebak dokter Hadi.


"Saya kuat dokter, apa saya harus curatage dok?" suaraku pelan dan mengabaikan tuduhan dokter Hadi.


"Iya... Janin kamu sudah tidak ada lagi, sebenar nya sudah hampir bersih, tapi lebih baik kalau dibersih kan lagi, kita curatage." aku hanya tertunduk mendengar penjelasan dokter Hadi.


"Kapan saya harus curatage dok?" aku pasrah.


"Hmmm, dua jam lagi saya ada operasi lagi sebenarnya, gimana kalau nanti malam? Saya akan kebarkan dengan team saya. sekarang kamu berpuasa dulu." dokter hadi melirik jam yang melingkar di pergelanagn tangan kirinya.


"Gimana kalau sekarang dok? Saya hanya minum sedikit hanya satu jam yang lalu, dan saya sudah gak makan dari semalam, dok." sambungku.


"Sekarang?" Dokter Hadi tampak berfikir.


"Iya dok." anggukku.


"Oke... Saya tunggu kamu di ruangan yah." Dokter Hadi berdiri. "tolong hubungi petugas untuk curatage sekarang ya!" perintah dokter Hadi pada Alisa, bidan yang menjadi asisten dokter Hadi saat ini.


"Baik, dok." jawab Alisa yang mengekor keluar.


"Biiar saya tanda tangan sendiri berkas nya ya, Sa." aku memberi penjelasan sebelum Alisa bertanya di mana walau, sebelum Alisa menghilang dibalik pintu.


"Oh, iya iya, boleh Fah." jawab Alisa.

__ADS_1


***


Setelah selesai curatage, aku terbangun efek biusku mungkin sudah hampir habis.


Perlahan aku membuka mata, orang yang pertamaku lihat adalah Kia.


"Ibu sudah bangun?" Kia turun dari sofa dan menuju brangkar tempat tidur. Dia tampak bahagia tapi juga terlihat rasa takut di wajah kecilnya.


"Kia sayang ibu." Kia memelukku dan aku lihat matanya berkaca-kaca.


"Jngan nangis donk, ibu kan baik-baik saja, maafkan Ibu ya sayang." aku tersenyum sembari memegang kedua pipi mulus nan tembamnya.


"Ibu kenapa sakit lagi? Kia jadi sedih, Kia gak mau ibu sakit." ia mulai menangis.


Untuk urusan perasaan kia sangat peka, diusia nya yang memasuki lima tahun, kia tumbuh menjadi anak yang sangat peduli pada siapapun.


Bahkan Kia bisa menangis hanya karena anak ayam yang mati.


Tapi aku bahagia, aku bersyukur Kia memiliki rasa peduli yang tinggi.


"Mulai hari ini insyaAllah, ibu akan lebih sering sehat, akan lebih banyak bermain bersama Kia." aku menyeka air mata yang mengalir di wajah nya.


"Berjanji lah,ibu." dia mengeluarkan jari kelingking nya.


"InsyaAllah sayang, ibu." aku menyambut kelingking nya dengan kelingkingku.


Drama ibu dan anak ini pun berakhir.


Malam ini, Kia merengek untuk bisa menemaniku di rumah sakit, dengan terpaksa aku izinkan. Setiap kali melihat wajah polosnya hatiku terasa amat sakit, apa lagi setelah mengetahui mas Haikal tidak lagi mencintainya dan peduli pada Kia.


Aku terlalu sering menangis bahkan menangis seperti sudah menjadi hobiku.


Kueratkan pelukanku pada Kia.


"Kalau pun Kia sudah tidak mendapat cinta abi lagi, tapi Kia akan selalu mendapat cinta ibu nak, bahkan hidup ibu." aku kembali mencium puncak kepala nya. Kia sudah tidur di dalam pelukanku.


"Semoga Allah selalu menjaga dan melindungi kita, kita akan melewati cobaan ini bersama-sama nak." hatiku memberi kekuatan pada hatiku yang lain.


Tiga hari sudah aku di rawat di rumah sakit, ahir nya dokter membolehkan aku pulang kerumah, selama tiga hari pula mas Haikal tak pernah menemaniku bahkan tak pernah menjengukku sedetik pun.


Aku memutuskan untuk pulang kerumah yang ku tepati bersama keluarga kecilku.


Rumah yang dulu selalu aku rindukan,


Tempat yang menjadi saksi cintaku dan mas Haikal.


Di rumah ini pula lah aku benar-benar belajar menjadi seorang istri dan seorang ibu.


"Huuufff."


"Kamu yakin akan tetap tinggal di sini, Fah?" tanya kak Nada ragu, dan membuyar kan fikiranku.


"InsayAllah kak, aku akan belajar kuat." aku masih mencoba tersenyum.


"Terima kasih sudah mengantarku dan Kia pulang kak."


"Gak papa Afiifah , tadi Valen telepon dan minta maaf tidak bisa ikut mengantar kamu pulang, dia dan Ana ada pasien gawat."


Kak Nada mengekor di belakangku ikut masuk.


"Sekarang apa yang akan kau lakukan Fah?"


Tanya kak Nada yang duduk di sofa single ruangan tamuku.


"Aku masih belum punya pandangan pasti ke depan nya kak, masih banyak fikiran dan kemungkinan yang terlintas di kepalaku " jawab ku yang memberikan segelas air putih pada kak Nada.


Huhhf...


Aku kembali membuang nafas, sedikit berharap bebanku berkurang.


"Aku hanya memikirkan Kia, kak." aku memandang ke arah Kia yang asik bermain di dalam kamarnya.


"Bagaimana rasa nya hidup tanpa orang tua yang utuh? Bagaimana aku menjelaskan pada Kia jika dia bertanya tentang abi nya?"


Aku mulai prustasi, aku mencoba berbagi beban dengan sahabatku ini.


Kak Nada masih diam dan menunggu aku melanjutkan ceritaku. "Hal yang terpikir sekarang adalah pulang kerumah orang tuaku, kak dan mungkin aku harus pisah dengan mas Haikal." aku mengalih kan pandanganku pada nya.


"Mungkin itu adalah solusi terbaik Afiifah, kamu masih belum cerita sama keluarga mu?"


Aku menggelang. "aku akan cerita setelah aku sampai di rumah saja kak, biar mereka tidak terlalu risau, tapi kalau memang aku harus berpisah dengan mas Haikal selain dari mikirin Kia, aku juga mikirin orang tuaku kak, adikku." aku menunduk dan air mataku kembali tumpah.


"Mereka akan ngerti fah, dan mereka pasti akan nerima kamu dan Kia dengan bahagia, percayalah Afiifah, tidak akan ada orangtua yang akan membuang anaknya."


Kak nada memegang pundak ku, mencoba membuat ku tenang.


"Salahku kak, seandainya saja dulu aku ikuti nasihat ayahku, untuk tidak menikah dengan mas Haikal mungkin ini tidak akan terjadi."


"Afiifah, jangan mengenag dan Menyesali yang sudah terjadi, tidak baik. Tuhan punya cara nya sendiri untuk hidup kita." kak Nada memberi nasihat.


"Fah... Percaya lah, akan selalu ada hikmah di setiap masalah, bukankah kamu orang yang beriman? Jangan ragukan kasih sayang Allah, Fah." Lanjut kak Nada.


"Terima kasih, kak sudah sudi mendengar ceritaku dan menjadi teman untukku berbagi." aku menghapus air mataku dan tersenyum pada nya.

__ADS_1


"Sudah seharusnya Fah, bukan kah kita sahabat? Bukan kah kita keluarga?" kak Nada juga tersenyum padaku.


Kami berpelukan.


"Aku bersyukur ada kalian yang begitu baik sma aku kak, di sini aku hanya punya kalian, bahkan mertuaku pun tidak sepeduli kalian."


"Kamu harus kuat ya Fah, kamu harus bangkit! tinggal kan kisah pilumu dan jemputlah kebahagiaan yang lain." ia masih memelukku dan mengusap punggungku dengan lembut.


"Ais... Bibi kenapa peluk ibu sperti itu?" sontak saja kami kaget dengan suara jeritan kas dari Kia.


"Hehehe... Karena bibi ini sangat sayang ibu kak Kia." kak Nada melepaskan pelukan nya.


"Sini, bibi peluk juga." kak Nada mengukur tangannya.


"Kia mau peluk ibu saja, karena Kia juga sayang ibu." Kia melompat dalam pelukanku.


Kami pun tertawa bersama.


"Ibu... Kak kia lapar." dia menatap ku iba dan memegang perut kecilnya.


"Mau bibi belikan makanan?" tawar kak Nada pada Kia.


"Tapi Kia gak mau makan di rumah bibi, Kia mau makan di tempat makan, yang ada kursi-kursinya dan rame orang." jelas Kia tanpa henti.


"Tapi, ibu kan baru sembuh, ibu belum kuat untuk pergi-pergi nak." kak Nada mencoba memberi penjelasan secara lembut sembari mengusap kepala Kia.


"Tidak papa kak, aku sudah jauh lebih baik, aku kuat kak, tunggu ibu ambil tas dulu yah." aku menyentil hidup mungil Kia.


"Yeeeeeeee.... " kia berputar-putar sangat gembira, aku pun ikut bahagia melihat dia bahagia.


Semoga ibu selalu bisa memberi mu kebahagian nak. batinku.


Kami pun mulai menuju salah satu restoran kesukaanku dan Kia, tentu di antar kak Nada yang setia jadi sopirku dan Kia hari ini.


"Kak, gak papa ni kalau kakak gak pulang? Nanti farel nangis nyariin kakak." aku merasa tidak enak sudah merepotkan nya seharian ini.


"Gak papa Fah, ada papa nya di rumah, papa nya lagi gak ngantor." jawab kak Nada sembari tersenyum dan melirik padaku.


"Alhamdulillah, ya kak, semoga keluarga kakak selalu bahagia." doaku sangat tulus.


"Aamiin." kak Nada meng-amin dengan tulus pula.


"Youk turun, kita sudah sampaiii..." kak Nada membantu Kia untuk turun dari mobilnya.


"Ya... kita sudah sampai, Kia mau makan banyak, bolehkah,bu?" dia sangat antusias


"Boleh donk... Kia boleh makan sampai kenyang, bibi yang akan bayarin." kak Nada pun tak kalah antusias.


Kami saling tersenyum


Kami berjalan menyusuri meja yang hampir penuh dengan orang-orang yang juga menikmati makan lezat di lestoran ini.


Lestoran ini memang terkenal enak, selain itu pasilitas nya lengkap, ada mushola juga dan yang paling aku suka, lestoran ini sangat bersih dan pelayanannya juga lumayan cepat.


"LESTORAN MIEBIE "


itu nama yang tertera di atas pintu di depan yang tulisan sangat jelas.


Lestoran ini emang selalu ramai. maklum, memang sangat pintar pemilik nya mencari lokasi yang pas untuk membangun lestoran ini.


Selain letak nya yang strategis dan dekat dengan area perkantoran lestoran ini juga memiliki area parkir yang sangat luas, jadi pasti sangat nyaman.


Kami pun duduk sedikit memojok, karena ini memang kursi kosong pertama yang di lihat kak Nada.


Setelah sekian lama menunggu, makanan yang di pesan pun datang.


"Baca doa dulu sebelum makan kak."


Aku ingat kan Kia sambil memberikan makanan yang sudah dipesan nya.


"Oke." kia menggabungkan telunjuk dan jempol nya membentuk huruf O.


Aku pun tersenyum..


"Selamat makan bibi, selamat makan ibu." ucapnya lagi.


"Aduh manis nya anak bibi, selamat makan juga sayang bibi." kak Nada membalas sambil mencabut lembut pipi chubby Kia. Kia pun ikut tersenyum manis.


"Selamat makan kak." aku juga mengucapkan hal yang sama sperti Kia, tentu nya dengan senyuman juga.


"iya... Ayok cepat makan, makan yang banyak kamu itu harus cepat sembuh dan lebih bertenaga, biar makin kuat ngadapin pelik rumah tangga kamu." kak Nada mencibir.


Aku hanya tersenyum, sejujur nya aku masih tidak selera untuk makan, pikiranku sangat kacau.


Kami pun menyantap makanan penuh nikmat dan penuh syukur, sayang nya aku hanya makan beberapa sendok spageti yang aku pesan, perut ku sudah tidak bisa menerima lagi.


Hebat nya melahap habis japchae yang di pilih nya. Japchae adalah makan khas korea yang terbuat dari bihun, sebenar nya bukan karena Kia sudah biasa makanan ini, dia menunjuk japchae karena dari menu terlihat cantik. Jadi dia memilih nya. Tapi ternyata Kia sangat suka.


"Aduh, pintar sekali makan nya nak." pujiku sambil membersihkan mulut nya dengan tissu.


Setelah makan dan membayar tagihan, kami berjalan menuju parkiran.


Kia berlari..

__ADS_1


"Kia... " jeritku kaget saat Kia melepaskan tangan nya dari genggamanku.


__ADS_2