
"Afiifah..." Suara yang asing bagiku. Aku mendongak melihat si pemilik suara.
"Dokter Sila!" Aku menghambur dalam pelukan Sila, aku tergugu.
"Tenang Afiifah, tenang! " Dokter Sila mengusap punggungku.
"Dia putriku satu-satunya Sil." Air mataku mulai membasahi pundak Sila, "Yusuf pernah bercerita padaku kalau Kau punya seorang putri."
Aku merenggangkan pelukanku." Bagaimana kondisi Yusuf?" Aku mantap Sila penuh harap.
"Aku akan segera melakukan operasi selepas magrib, hanya ada sedikit pendarahan disekitar otaknya, doakan Yusuf baik-baik saja Fah." Sila menyeka air mata dipipiku.
"Ayo, aku temani Kau masuk." Sila menarik tanganku.
"Tidak Sil, dokter Aiman memintaku dan yang lain tetap disini." Aku menahan tubuhku dari tarikan Sila.
"Apa yang terjadi dengan Kia?" Mata Sila membelalak.
"Dia kejang Sil!" Seberapa pun Sila menghapus air mataku, ia akan terus mengalir silih berganti.
"Tak apa, jika Kau ingin mendampingi Kia aku akan membawa mu masuk, dokter Aiman juga sahabatku." Sila memegang kedua pundakku.
Aku mengangguk. Entahlah... Aku pikir harapanku mulai pupus untuk Kia. Aku ingin menemani detik-detik ahir nafas Kia.
Mereka tampak sibuk, bukan hanya dokter Aiman, disampingnya ada seorang Dokter lagi lengkap dengan scrub suits hijaunya, tampak sedikit noda darah dibaju bagian bawahnya. yang tidak memperkenalkan dirinya padaku.
"Sil..." Dokter Aiman tampak terkejut dengan kehadiran Dokter Sila dan Aku.
"Sori..." Dokter Sila menaupkan kedua tangan di depan dadanya, "Dia temanku." Dokter Sila mematahkan kepalanya kearahku, sembari mendekati Dokter Aiman dan berisik ditelinganya, entah apa yang mereka bicarakan. Dibalas dengan ekspresi terkejut dokter Aiman.
"Innalillahi... Nanti aku akan jenguk Dia Sil." itu yang aku dengar setelah dokter Sila dan dokter Aiman merenggang.
"Spo2 nya mulai turun Ai." Dokter yang tidak ku ketahui namanya itu menoleh dokter Aiman. yang sedari tadi menatap monitor tanpa jemu.
"Siapakan Dobutamin!" Perintah dokter Aiman pada perawatan yang bertugas.
"Tidak perlu Dokter. Lepaskan saja Ett nya. Saya sudah Ikhlas melepas Kia." Aku yang sedari tadi tenggelam dalam pelukan Sila, tanpa sadar memegang tangan Dokter Aiman. Aku tau kondisi Kia sangat buruk.
Bukan menyerah atau ingin mempersingkat kehidupan Kia. Hanya saja aku tau 30% yang dokter Aiman katakan kini sudah berubah, bahkan tidak ada kemungkinan kecil untuk Kia bertahan. Aku tidak ingin Kia lebih menderita dengan selang ETT dirongga mulutnya.
"Anda yakin?" Dokter Aiman menatap ku, seolah ragu. Aku mengaangguk. "silahkan panggil keluarga Anda yang lain." Dokter Aiman mengubah yang semula berdiri keposisi duduk.
"Apa saya perlu tanda tangan DNR dulu? Jika perlu, saya akan tanda tangan terlebih dahulu, baru kemudian saya panggil keluarga saya." Aku menyeka air mata yang menjadi penghalang pandangku.
"Siapkan berkas DNR-nya." Perintah dokter Aiman lagi.
**-
Kadar oksigen dalam tubuh Kia semakin menurun, bisa dikatakan kami hanya menunggu detik-detik ahir napas Kia. Iya... Tidak ada tindakan yang dilakukan, tapi aku memutuskan untuk membatalkan pelepasan selang ETT dari mulut Kia.
Kuusap wajah cantik Kia, ini akan menjadi terahir aku menatap Kia. Berkali-kali ku ciumi sebagian tubuh Kia.
"Maafkan Ibu sayang, maafkan Ibu yang belum bisa menjadi Ibu yang baik untuk Kia. Maafkan Ibu membuat Kia menderita." Ku belai lembut rambut hitam tebal Kia.
Ini sungguh berat. Sungguh sakit. Setengah jiwaku hilang.
"Tunggu Ibu di surga sayang. Ibu yakin Kia akan bahagia bersama Allah. Ibu sudah ridho nak, pergilah dengan tenang sayang. Tak apa, Ibu akan selalu mendoakan Kia. Ibu janji... Ibu akan selalu mengingat dan mencintai Kia sepanjang hidup Ibu." Sesekali aku menyeka air mata dari pipiku. Mataku sudah terasa sangat panas. Tapi air mata ini masih enggan untuk berhenti.
"Sayang... Maaf nenek dan atok, tidak bisa menjaga Kia dengan baik, kita juga janji akan selalu membuat Kia hidup dalam hati kita sayang. Pergilah dengan tenang." Ayah dan Bunda mengecup seluruh pipi mulus Kia bergantian, perlahan menjauh memberi celah pada Fariz dan Nisa untuk mendekat. Mereka terlihat sangat rapuh. Aku tau, cinta Ayah dan Bunda untuk Kia tak terbatas. Seluas hamparan dunia ini.
"Om Fariz dan Kak Nisa juga sangat sayang Kia nak, Kia tau... Didalam perut kak Nisa akan ada adik." Fariz mengelus perut Nisa yang masih rata. "Bukankah Kia ingin adik laki-laki? Jika kelak ia lahir... Om Fariz dan Kak Nisa janji, akan mengenal kan ia tentang Kia, membuat dia tau, kalau dulu dia pernah memiliki kakak perempuan yang sangat amat cantik dan pintar. Kita akan buat adik bayi mengenal Kia walau tak pernah melihat Kia, nak." Fariz dan Nisa saling menguatkan. Aku pun tau, mereka juga sangat mencintai Kia. Aku tak pernah meragukan itu.
"Maafkan om Fariz sayang. Om Fariz tidak bisa melindungi Kia." Fariz mengecup puncak kepala Kia di ikuti Nisa yang melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Selamat jalan Sayangnya kak Nisa, anak hebat, anak cerdas, anak sholihah." Nisa mengelus pipi Kia.
Suara dinding monitor mulai melemah. Spo2 Kia mulai menurun, diikuti dengan nafas yang semakin melambat.
Hancur hatiku. Sanggup kah aku benar-benar melepas kepergian Kia?
Ingin aku meminta Tuhan untuk memperpanjang umur Kia, setidaknya sampai dia bisa mendapatkan kasih sayang mas Haikal, atau jika itu mustahil sampai Kia bisa memanggil Yusuf Ayah.
Ingin rasanya aku menyerah. Ingin aku menemani Kia menghadap Sang pencipta. Ingin aku egois untuk mempertahankan Kia disisiku. Tapi aku tau, Kia adalah titipan. Allah-lah pemilik Kia sebenarnya.
"Beristirahat lah dengan damai dan tenang sayang. Sesekali datang lah dalam mimpi Ibu, biar bisa mengobati sedikit rindu dihati Ibu, nak." Aku terus menatap Kia. Ia semakin memucat. Seolah tanpa darah yang mengaliri seluruh tubuhnya.
Inilah takdir Tuhan untukku dan untuk Kia.
Layar monitor datar. Plet. Detak jantung Kia terhenti. Alat bantupun tak sanggup lagi menolong paru Kia untuk mengembang.
Suara tangis kami pecah. Bahkan dunia ini rasanya hancur, antah berantah. Satu tujuan hidupku musnah,menjadi Ibu terbaik untuk Kia. Tubuhku ambruk dilantai.
Kemana aku harus bersandar?
Sila mendekapku erat. "Sila... Akhirnya Kia kembali pada pemiliknya Sil. Allah ambil titipan nya dsriku tanpa memberi aku waktu lebih lama lagi. Haruskah aku egois untuk marah pada Allah?" tumpah sudah air mataku. Bahkan deras, sederas-derasnya.
"Berdiri Fah, lantainya dingin, kau harus sehat untuk mengantar Kia keperistirahatan terakhirnya. Kuatkan hatimu." Sila memanduku untuk berdiri dan kembali mendekapku erat.
"Pasien atas nama Syakia Aisyah, telah meninggal dunia. Jumat, 14 Juli 2021 pukul 16.06 Wib. Dihadapkan keluarga, dokter dan perawat." Kepergian Kia telah diperjelas.
"Aku benar-benar sudah kehilangannya Sil." Pundak Sila masih menjadi sandaranku.
"Turut berduka cita ya Fah, percayalah Kia anak yang baik, semua orang mencintainya. Kia akan menunggumu kelak di surga firdaus." Sila masih memelukku.
Satu persatu selang yang menempel ditubuh Kia mulai dicabut. Tubuh mungil Kia mulai dirapikan, perlahan-lahan tertutup.
"Sebegitu cintanya Allah padaku hingga merebut Kia dari ku." Entah kepada siapa ucapan itu aku tuju. "Inikah cara Allah menghukumku atas semua perbuatan dosa yang pernah aku lakukan? Ataukah benar ada, inikah cara Allah membuatku untuk lebih dekat pada-Nya?" Mungkin lebih tepatnya aku bertanya pada diriku sendiri.
"Hanya wanita hebat yang Allah pilih untuk menerima ujian-Nya ini, maka bersyukurlah... Allah memilihmu. Itu artinya Allah yakin kau mampu." Dokter Aiman mendekat kearahku. "Saya turut berduka cita Bu, semoga anak Ibu menjadi tabungan di ahirat kelak, yang membawa Ibu kedalaman surga Allah."
Aku pun berlalu meninggalkan ruangan yang menjadi saksi kepergian Kia itu. Mengikuti jenazah Kia yang sudah dipulangkan dengan ambulance.
"Sil, jangan katakan pada Yusuf kepergian Kia, biar dia fokus pada pemulihan nya dulu, bagaimana pun Yusuf dan Kia sangat dekat, apalagi Kia mengalami kecelakaan saat bersamanya, aku tidak ingin Yusuf merasa bersalah, hingga mengganggu pemulihannya." Aku menatap Sila lekat. Ada harapan dimataku agar Sila menyelamatkan Yusuf, tentu atas izin Allah.
"Doakan bisa membantu Yusuf, Fah! Tentu saja atas izin Allah." Sila kembali memelukku , "Kau pasti bisa kuat Fah, Aiman benar kau sungguh wanita luar biasa yang Allah pilih. Mungkin Allah ingin agar kau semakin dekat pada-NYA. Teruslah berprasangka baik Fah."
"Makasih Sil, walaupun baru bertemu dua kali, kau sudah bersikap seperti sahabat lama. Bersyukur nya aku mengenal mu." Aku mulai merenggang kan pelukan kami. "baiklah, aku pulang. Semoga operasi Yusuf lancar Sil."
***
"Sore ini saja Yah." Ketika Ayah bertanya apakah Kia akan dikebumikan malam ini, atau besok menunggu mas Haikal dan keluarga nya dari jakarta.
Aku tidak ingin menunggu. Mungkin saja mereka tidak akan hadir, sebab berulang kali kukirim pesan lewat whatshapp, messenger, Instagram tapi tak ada jawaban dari mereka, dari dari mas Haikal maupun keluarga nya, termasuk kedua mantan merawat tuaku.
Semakin pedih lukaku, betapa Malang hidup Kia, di ahir napasnya pun ia tak mendapatkan cinta dari ayah kandungnya, bahkan kakek neneknya yang dulu tampak mencintainya pun sudah tidak peduli.
Setengah tahun sudah kami berpisah, barang kali hanya beberapa kali mantan meetuaku menghungiku untuk menanyakan kabar Kia.
Jangankan nafkah, cinta yang tak bermodal pun tak sudi mas Haikal berikan untuk Kia, terbukti semenjak kepergianku dan kia sekalipun mas Haikal tak pernah menghubungi Kia.
Mungkin Allah tidak ingin Kia menderita terlalu lama, hingga Allah harus mengambil Kia dan mengubur rasa sedih Kia bersama dirinya.
Segala macam persiapan sudah selesai.
Hampir tengah malam Kia dikebumikan. Perlahan tapi pasti, butiran tanah mulai menutup tubuh Kia. Lenyap. Lantunan doa begitu khidmat.
Satu-persatu pergi meninggalkan tempat peristirahatan Kia. Kia ku sayang.
__ADS_1
Gelapnya malam tak membuat ku getar untuk terus berdiam lebih lama dipusaran Kia. Aku ingin menemani Kia disini. Kenyataannya ridho bukanlah perkara mudah. Kehilangan Kia membuat aku rapuh.
Mungkin kah ini teguran Allah untukku?
Mungkin kah Allah menunjukan padaku, bahwa yang aku butuhkan hanyalah DIA zat pemilik alam semesta ini?
Ini tanda kecintaan Allah atau malah teguran atas segala dosa dan kufurku?
"Kita pulang nak, Kia sudah tenang." Bunda menepuk pundakku. Menyadarkan aku dari kekosongan ini.
"Sayang...!" Ayah mengangkat kedua pundakku, menjadi sandaran kekuatanku untuk berdiri dan melangkah.
"Betapa Malang hidup Kia bun, di ahir hidupnya pun tak lagi bersua dengan mas Haikal." Aku menengok sekeliling. " coba Ayah lihat, bun... Lihatlah, bahkan disini pun Kia terpisah dari makam yang lain." Iya... Di sekeliling makam Kia masih kosong. Hanya ada makan Kia saja yang berjarak hampir 50 meter dari makan kiri-kanan.
"Ada Allah nak, ada Allah bersama Kia. Percayalah Kia pasti lebih bahagia bersama Allah. Bukankah Afiifah ingin Kia selalu bahagia?"
"Ayo kita pulang nak, istighfar... Mohon ampun dan kekuatan pada Allah." Aku hanya bis memandang bongkahan kayu pipih yang menancap dari gundukan tanah yang bertulisan nama Kia.
Nyelongsor. Lagi-lagi tubuhku ambruk.
Sekarang tulisan ini saja yang bisa kupeluk. Ku kecup pelan.Bukan lagi tubuh kecil mungil nan menggemaskan Kia. "Ibu pulang sayang, maafkan ibu nak, maafkan ibumu ini."
Tumpuan tanganku pada insan Kia mulia merenggang. Ku seka air mataku berkali-kali. Berangsur, pelan, lunglai... Kakiku mulia melangkah menjauh. Sesekali kutolehkan kepala kebelakang. Sungguh berat ujian Tuhan saat ini.
***
"Riz! Bagaimana keadaan Yusuf?" Ayah menghampiri Fariz yang sedang mengelus lembut pucuk kerudung Nisa dipangkuannya.
Aku mendongak, menunggu jawaban dari Fariz. Aku lupa jika tadi Yusuf sudah menjalankan operasi, "Alhamdulillah lancar Yah, tapi masih menunggu Bang Satria sadar dulu baru bisa lega." Yusuf menoleh sejenak lalu kembali fokus pada istrinya.
"Bagaimana Nisa Riz?" Bunda tampak khawatir.
"Semoga saja dia kuat Bun, Fariz sangat khawatir dengan kehamilannya. Berubi-tubi ujian menimpanya."
Huhf. Bunda membuang napas, "Apa kalian perlu balik kejakarta? Mungkin Nisa ingin bertemu kakek sebelum dimakamkan!" Bunda menatap wajah Nisa sendu.
"Innalillahi... Apa kakek Man juga sudah dipanggil Allah Bun?" Aku terkejut! Sungguh aku baru mengetahui yang terjadi pada keluarga Nisa. Ku pandangi wajah Nisa, mata tertutup tapi aku masih melihat dengan jelas, air mata menggenang dikedua sudut matanya.
"Iya Fah, pukul sepuluh malam tadi dirumah sakit, tapi akan di kebumikan esok pagi." Bunda membalas tatapan ku.
"Pulang saja dek! Nisa mungkin ingin bertemu kakek Man!" Aku pernah bertemu satu kali dengan kakek Man, Ayah dan papi Nisa. Sungguh beliau sosok yang humoris, masih tampak gagal diusianya yang tak lagi muda.
"Tidak boleh Papi dan Mami kak, kondisi Nisa juga belum memungkinkan, Papi Mami juga khawatir dengan Bang Satria disini, kalau kita juga pulang kejakarta, Bang Satria gimana?" tangan Fariz masih terus mengelus lembut puncak kerudung Nisa, sesekali tangan kelar Fariz menghapus air mata yang mengalir dipipi Nisa. Setidaknya ada seseorang disisi Nisa! Tapi... Aku! Aku butuh sandaran hati.
"Kita bisa menjaga Yusuf dek!"
"Nisa juga ingin disini saja kak, dia tau kondisinya sangat lemah saat ini, takut membahayakan janinnya." Tangan Fariz beralih diatas perut Nisa. Mengelus keatas kebawah dengan penuh kelembutan dan cinta.
"Istirahat lah dikamar. Besok pagi biar Bunda dan Ayah saja yang jaga Yusuf, jika sudah siuman nanti dikabari.
"Baiklah Bun."
"Afiifah juga kekamar bun."
"Bunda temani nak!"
"Tidak usah Bun," Cegahku. Saat Bunda ikut berdiri. "Afiifah ingin sendiri, bunda jangan risau, Afiifah hanya ingin berdua sama Allah saja."
Aku melangkah, tanpa menunggu persetujuan Bunda. "Bun... Jika besok Yusuf sudah sadar, tolong jangan kasih tau Yusuf apa yang terjadi dengan Kia." Aku memutar badan sesaat. "bagaimana pun, ia sangat menyayangi Kia. Biar Yusuf fokus pada pemulihannya dulu."
" Baiklah. Ayah dan Bunda ngerti. Istirahatlah! Kau juga jangan sampai sakit." Bunda mengiri langkahku sampai diambang pintu kamarku.
Ucapan selamat malam dan kecupan dikeningku dari Bunda sebagai pengantar tidurku malam ini. Bukan lagi kecupan ataupun ceritaku pada Kia.
__ADS_1
Baru beberapa jam saja, aku sudah sangat merindukan momen sebelum tidur bersama Kia. Semoga Kia bahagia Nak, iya... Kia memang pasti lebih bahagia saat ini.
.