
Yusuf POV
Semenjak memutuskan untuk kembali melamar Afiifah, aku sudah benar-benar memantapkan hati untuk selalu menjaganya. Ketika Afiifah memutuskan untuk tinggal bersama orang tua ku, aku sedikit keberatan, karena aku tidak ingin membuat dia lelah dan aku takut ia tidak bisa menjadi menantu yang seperti orang tua ku harapkan, walaupun selama kenal Afiifah orang tuaku selalu menyukainya.
Bersyukurnya... Afiifah bisa mengerti dan manut ketika aku sampaikan keinginanku untuk hidup mandiri berdua, apartemen ini benar-benar aku siapkan untuk Afiifah, untuk masa depan kita berdua bersama anak-anak kita nanti.
Beberapa hari pernikahanku dan Afiifah, aku merasa sangat bahagia, bagai mana pun Afiifah adalah wanita yang aku tunggu selama ini.
Aku ingat, saat meminta Afiifah yang kedua kalinya kepada orang tua nya, betapa takut orang tua Afiifah melepas Afiifah padaku, masih terngiang-ngiang pesan yang mampu menusuk hatiku saat itu. "Afiifah adalah putri Ayah dan Bunda satu-satunya, dia lah dunia Ayah, dunia Bunda. Ketika kamu memutuskan untuk mengambil alih menjaga Afiifah, maka jangan rusak kepercayaan kita sebagai orang tuanya. Tolong jaga dan cintai Afiifah dengan segenap jiwa raga Yusuf, Afiifah adalah anak yang baik, insyaAllah kamu adalah laki-laki yang juga baik, yang Allah siapkan untuknya, jadi... Selalulah menjadilah sebaik-baiknya imam, bimbing Afiifah agar menjadi sebaik-baiknya makmum."
Mungkin ketika nanti aku memiliki anak perempuan, rasa takutku lebih besar dari rasa takut orang tua Afiifah.
Aku juga ingat ketika dulu Papi Mami melepas tanggung jawab Nisa kepada Fariz, dengan berlinang air mata dan penuh harap agar Fariz maupun selalu membahagiakan Nisa, bahkan aku yang bukan saudara kandung begitu takut jika Nisa tidak bisa bahagia.
Masih tidak percaya kalau ternyata pada akhirnya Afiifah lah wanita pilihan Allah untukku.
Enam tahun lalu, ketika pertama Aku mengkhitbah Afiifah, Aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada wanita yang tak pernah melihatku sama sekali saat itu, bahkan tidak pernah menyadari keberadaanku disekitarnya. Ada rasa takut dan tidak percaya diri, saat mengkhitbahnya kembali didahapkan orang tua nya kali ini.
Selamat enam tahun berusaha membuang bayangannya, Tapi selama enam tahun ini pula bayangan Afiifah semakin menghantuiku.
Sampai saat kembali pertama bertemu Afiifah diKapal, jantungku kembali berdetak, keinginan untuk kembali memilikinya begitu besar, ketika tau bahwa ia sudah bercerai, aku sangat bahagia dan bersyukur, aku bertekad untuk mendapatkan Afiifah lagi, dan tidak akan pernah melepaskannya.
Aku sering menyebut Afiifah dalam doaku, meminta Allah gantikan pendamping Hidupku yang seperti Afiifah.
Ternyata skenario Allah tak ada yang tau, Allah benar-benar mengirim orang yang sama yang selalu aku rindukan enam tahun ini.
Setelah sekian lama aku kembali merasakan takut akan kehilangan, melihat Afiifah yang tadi malam merintih menahan sakit, membuat hatiku ikut sakit, bagai mana bisa Afiifah menghadapi dan melalui rasa sakit itu setiap bulan? Jika datang bulan saja sampai membuat seorang wanita sesakit itu, bagai mana mereka para wanita mampu menahan rasa sakit saat mengeluarkan satu nyawa keduanya ini? Bagai mana pula ada laki-laki yang tega menyakiti para perempuan yang sudah rela bertaruh nyawa demi nyawa yang lain?
Aku beriktikad dan ingin lebih belajar menjadi imam yang baik untuk Afiifah, seperti pesan Ayah, aku ingin benar-benar menjadi pelindung Afiifah semasa hidupnya.
Ketika mengetahui Kia meninggal, membuat aku benar-benar merasa buruk, saat pertama melihat Kia, aku langsung jatuh cinta pada gadis mungil itu, bagai mana bisa Ayah kandungnya tidak menginginkan Anak secantik dan secerdas Kia.
hanya saja Allah tidak mengizinkan aku menjaganya.
"Kia Ibu rindu." kata itu yang berkali-kali aku dengar. Sebegitu rindukah Afiifah dengan Kia? sampai dalam tidurnya dengan kondisi yang tak sehat, hanya nama Kia yang Ia ingat.
Ya Allah... Betapa besar ujian untuk wanita ku ini.
Setelah sholat subuh, aku memutuskan untuk mengajak Bunda, Mami dan Nisa ziarah kemakam Kia, tapi tanpa sepengetahuan Afiifah.
Aku takut membuat Ia terus merindukan Kia, aku tau Afiifah sangat merindukan Kia, hanya saja mungkin ia tidak ingin terlihat lemah dihadapkan dan membuat aku merasa bersalah atas kepergian Kia dan ia selalu berusaha menyembunyikan rasa sedihnya.
***
Afiifah POV
"Siapa yang pagi-pagi udah datang?" Aku merasa heran, pasalnya baru kemarin kita pindah, aku belum mengenal tetangga, lagian tinggal dilingkungan diapartemen jarang saling peduli.
"Sebentar aku bukaain, kamu disini saja, habiskan sarapannya." Yusuf segera bangkit.
"MasyaAllah... Bunda! Mami! Nisa!"
Aku segera mencium punggung tangan Mami dan Bunda berakhir dipelukan Nisa.
"Ada apa pagi-pagi udah bertamu?"
"Udah sarapan?"
"Duduk dulu, biar Afiifah siapkan piring untuk sarapan kalian." Aku sangat bahagia melihat perempuan-perempuanku ini.
"Duduk saja, biar Abang yang siapkan."
"Gak papa, Afiifah juga sudah langsung sehat melihat mereka." Aku memaksa Yusuf duduk dikursi.
"Ahh! So sweet kali sih." kejahilan Nisa membuat Aku tersipu.
"Masih sakit?" Mami merasakan dahiku dengan punggung tangannya.
"Afiifah gak demam, Mi! Cuma lagi datang bulan saja, jadi perutnya agak sakit." Aku menjangkau tangan Mami dari dahiku.
"Yusuf bilang tadi malam kamu panas?" Mami Tan melirik Yusuf.
"Masak sih?" Aku berhenti sejenak saat satu sendok soto hampir memenuhi mangkok Nisa.
"Memangnya tadi malam Aku demam ya Bang?" Menatap Yusuf tak percaya.
"Sedikit panas." Jawabnya, dengan meyendok soto kedalam mulutnya.
"Tadi malam, Yusuf sempat Video call Mami, nanya cara mengatasi demam dan nyeri haid." Mami mulai menyantap soto yang ku hidangkan, diikuti Bunda dan Nisa.
"Afiifah kalau datang bulan memang sakit, tapi gak sampai demam biasanya,"
__ADS_1
"Sekarang kalau datang bulan, kamu jadi demam juga?" Tanya Bunda.
"Gak tau Bun, Biasanya sih gak! Tapi tadi malam Afiifah memang merasa agak demam, pantas kayak ngerasa mimpi dikompresin, tadi pagi-pagi bangun bantal Afiifah sedikit basah."
"Mungkin karena Afiifah juga sedikit capek sudah setelah pindah kemarin."
"Ditambah capek tadi malam? Hehe." Lagi-lagi Nisa mencari celah menggodaku.
"Jadi Abang gak tidur semalaman karena jagain dan ngompresin Aku?" Aku mengubah topik. Nisa bisa gila kalau lagi jahilnya kumat.
Pasalnya, saat aku bangun jam dua dini hari, aku melihat Yusuf duduk disisi ranjang, tapi mata ku sangat berat untuk ikut bangun, hanya sesekali aku tersadar saat tangan Yusuf menyentuh dahiku.
Astagfirullah... Bagai mana bisa aku sampai tidak tau kalau ternyata aku mengalami demam?
"Tidur! Tapi sebentar." Aku bisa melihat mata Yusuf yang terlihat sayu, mungkin karena Yusuf mengantuk, saat jam lima aku sudah melihat Yusuf sholat subuh sampai waktu fajar Yusuf lanjut muroja'ah.
"Udah gak papa." Ia mengusap kepalaku, saat aku menatap nya entah dengan perasaan apa, terharu! Bahagia! Juga ada rasa sedih danerasa menyesal, belum juga lama aku menjadi seorang istri, tapi aku sudah membuatnya susah.
"Gak papa kak, Fariz juga selalu jagain Nisa kok kalau lagi sakit, gitu pun dengan Nisa." Nisa seolah meyakinkan aku, bahwa aku tidaklah bersalah.
"Iya. Bunda juga gitu, bahkan Ayah lebih sering jagian Bunda, suka mijit Bunda lagi kalau capek." timpal Bunda.
"Mami juga gitu kok, suami istri mah memang kudu gitu, harus saling ngejaga. Jangan mau pasti lagi sehat-sehatnya saja." Mami pun ikut menipali.
Aku mengangguk, dengan memaksa untuk tersenyum. Tetap saja aku merasa tidak enak hati. Lagian selama ini aku biasanya tidak pernah sesakit ini saat menstruasi.
"Maaf yah kalau sudah ngerepotin." Aku balik mengelus punggung tangan Yusuf, hanya dibalas senyuman tipis oleh Yusuf.
"Terus Mami, Bunda sama Nisa kenapa pagi-pagi udah kesini?"
Melihat mereka saling tatap, dahiku ikut berkerut, apa yang sebenarnya ingin mereka lakukan.
"Abang yang telpon, Abang mau ajak mereka ziarah ke makam Kia." Jawab Yusuf, setelah mereka yang aku tanya hanya diam saja.
"Kenapa cepat kali Bang? Bukannya kita sudah sepakat ziarahnya minggu depan? Sebelum pulang kampung, sebelum ziarah ke makam Ayah dan Ibu." Aku meletakkan sendok dipiringku.
"Gak papa sayang, Abang hanya rindu." Yusuf mengelus punggung tanganku dengan pandangan tertuju pada ketiga perempuan dihadapannya secara bergantian.
"Kamu kuat kan?"
"InsyaAllah, Bang! Nanti sekalian mampir keapotek beli anti nyeri. Kayaknya obat-obatan ku ketinggalan dirumah Bunda."
"Tadi malam dicari gak ketemu."
"Biar Nisa bantu kak."
"Kuat kan?"
"Hmm, si Baby kudu diajarin rajin sejak dini, eh salah... Sejak jabang bayik." Nisa ikut memunguti peralatan makan yang kotor.
"Kamu apa-apa saja."
"Mami sama Bunda tunggu didepan saja."
"Gimana kerjaan kamu? Katanya mau resign dari rumah sakit?" Sesekali aku melirik Nisa disamlingku, takut saja ia merasa tidak nyaman berdiri didepan washtapel Terllau lalu.
"Ia kak, alhamdulillah tidak dipersulit pihak rumah sakit, bulan depan Nisa sudah bisa keluar." Jawabnya tanpa melirikku. Tampak sekali kekakuan saat jari jemari lentik itu baru belajar melakukan pekerjaan rumah ini.
"Nisa jadi pengen tinggal dirumah sendiri kayak kalian, kayaknya lebih menyenangkan. Bisa belajar banyak hal."
"Tatanan rumah kakak cantik, tidak Terlalu besar tapi rapi dan nyaman." Nisa melihat sekelilingnya.
"Ini kakak yang beli semua ya? Kapan? Kayaknya kemarin pindahan gak bawa ini deh." "
"Bukan. Itu sudah disediakan Bang Yusuf, waktu datang ternyata sudah ada. Alhamdulillah... Bang Yusuf paling bisa ngebahagiain istri." Sengaja tersenyum biar Nisa protes, ia paling suka debat soal kebaikan suami. Sejak hamil ia paling suka muji Fariz sebagai suami terbaik, walau kadang suka ngusir Fariz dari kamar efek parfum yang katanya bikin mual.
"Bang Fariz juga paling bisa bikin Nisa bahagia, paling sabar lagi." Seperti harapanku.
"Nanti kalau Nisa punya rumah sendiri, Nisa pingin kitcen setnya abu, biar tampak elegan."
"Pink gini juga cantik, bikin semangat dan betah didapur." Aku gak mau kalah, menurutku yang sudah Yusuf siapkan ini benar-benar sempurna.
"Terlalu feminim, gak suka."
"Hehe... Ya sudah nanti kalau sudah keluar ajak Mami pindah rumah ya Nak." Aku mengusap perut Nisa.
"Buruan hamil kak, biar rame dirumah kalau lagi ngumpul."
"InsyaAllah! Doakan saja, kakak juga pingin segera, tapi semua tergantung kehendak yang diatas."
"Kak!"
__ADS_1
"Hm."
"Boleh tanya sesuatu?" Kini wajah nisa berubah serius.
"Ada apa? Kok wajahnya serius gitu?"
"Tapi jangan marah ya, janji!"
"Hm. Katakan! Ada apa?" Aku menuntun Nisa duduk dikursi meja makan.
"Kakak benaran sayang kan sama Bang Yusuf? Bukan menikah dengan Bang Yusuf karena keinginan Ayah sama Bunda kan?"
"Hm..."Dahiku kembali berkerut.
"Jawab jujur!" Nisa seolah mengintrogasi penjahat.
Aku menggelang, "Itu apaan kak? Nisa gak ngerti. Nisa butuh jawaban, bukan isyarat gitu."
"Menurut Nisa, gimana? Nisa kan psikolog, harusnya bisa nebak dong."
"Ck. Nisa psikolog anak, lagian saat ini Nisa gak bisa nebak dan gak mau nebak, Nisa mau dengar langsung dari kakak."
Aku kembali menggelang. "kayaknya kakak sedikit terpaksa."
"Kenapa?" Tampak raut ketidak sukaan diwajanya.
"Harusnya dulu kakak gak mesti terima Bang Yusuf kalau kakak gak sayang." Nisa mendelik menatapku.
"Memangnya kenapa?" Akupun ikut menatapnya.
"Nisa takut Bang Yusuf sedih lagi, Nisa juga takut kalau kakak juga sedih lagi." Wajah menyedihkan Nisa membuat aku ingin tertawa.
"Memangnya Yusuf pernah sedih karena perempuan sebelum ini?" Oke! Kesempatan mencari tau masa lalu Yusuf.
Nisa mengangguk.
"Siapa wanita itu?" Ini saat nya mencari informasi Sarah dari Nisa.
"Entah. Tapi dulu Bang Yusuf pernah bilang masih cinta seseorang tiap kali mau Nisa kenalkan sama teman Nisa."
"Seseorang? Siapa?"
"Gak tau, Dia gak pernah cerita, Bang Yusuf cuma pernah bilang gitu." Jawab nisa, dengan mengangkat kedua bahunya.
"Sarah?" Aku gak sabar pengen tau cerita tentang Sarah.
"Sarah?" Nisa seolah kembali bertanya dengan kerutan yang tampak nyata didahinya.
"Iya, Sarah. Kakak pernah ketemu dia waktu nonton, katanya mantan Yusuf." Aku mengubah posisi dan menarik napas dalam, ingat bagai mana tatapan rasa kecewa dan penuh harap Sarah waktu itu.
"Bukannya itu teman satu SMA-nya Bang Yusuf dulu?"
"Teman satu SMA? Bukan mantan pacar?" Aku masih tidak puas dengan Jawaban Nisa.
"Iya. Tapi setau Nisa bukan pacaran, hanya teman."
"Oh gitu, kalau satu SMA... Berarti Fariz kenal Sarah. Nanti kakak tanya Fariz saja."
"Memangnya kenapa kak?" Dia gangguin Bang Yusuf?" Tanya Nisa penuh selidik.
"Kakak pengen tau saja."
"Jawab pertanyaan Nisa tadi kak, kakak benaran gak sayang Bang Yusuf? Soal Sarah nanti kita tanya suami Nisa."
"Lama benar beres-beresnya!"
"Kok malah nongkrong disini?"
"Astagfirullah... Bang! Gak ngode-ngode. Kaget tau, kalau bayinya kaget juga gimna?" Delik Nisa kaget.
"Lagian, kalian ngapain malah ngobrol disini?"
"Ngomongin Abang ya?"
"Ke GR-an." Masih seperti dulu, gak pernah akur mereka.
Pletok.
"Sakit Bang." Bibir Nisa maju lima centi.
"Yank! Jangan gitu lah, sakit dia." Aku menahan lengan kelar Yusuf.
__ADS_1
"Dia mah kebal, gak akan ngerasa sakit lagi. Buruan mandi, biar cepat sampai ke tempat Kia." Yusuf menuntunku meninggalkan Nisa sendirian.
"Dasar... Gak pernah saya G-sayangnya sama aku." Pekik Nisa yang ternyata juga ikut mengekor, meninggalkan dapur.