Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 41


__ADS_3

"Assalamualaikum..."


Melihat arah suara, pintu terbuka. "wa'alaikumussalam." hanya jawaban ku yang terdengar. Yusuf tak bergeming. Bahkan tak menoleh.


"Ada apa kak? Kok suasananya terasa mencengkram." Fariz mendekati ku. Aku hanya mengakat satu bahu, isyarat ntahlah...


"Bang... "Fariz berpindah pada meja Yusuf.


"Apa? Masih banyak kerjaan, duduk dan diam saja disana!" menunjuk arah pojok yang terdapat satu sofa panjang dengan wajahnya.


Sunyi lagi. Fariz mengikuti perintah. Mungkin Fariz merasakan nada ketidak nyamanan dari Yusuf.


Fariz menatapku dengan kerutan dikenjngnya, meng-isyaratkan apa yang terjadi. Begitu lah kira-kira. Lagi-lagi aku hanya mengakat kedua bahuku sebagai jawaban. Aku mendengus pelan. Apa yang harus aku katakan pada Yusuf? Mungkin ia masih butuh sedikit lagi untuk menerima kenyataan ini. Kenyataannya kehilangan Kia. Mungkin juga ia merasa tak mampu melindungi Kia, karena itu ia butuh waktu lebih lama dariku untuk menerima kehilangan Kia.


"Kenapa kesini?" aku mendekati Fariz dan bertanya pelan. Takut mengganggu Yusuf.


"Ntahlah, bang Satria yang meminta aku untuk datang." Fariz sedikit mencondongkan tubuhku ketelingaku.


"Ada apa?" Fariz hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Kalian bertengkar?" Fariz melirikku balik bertanya dengan kerutan kening yang berlipat-lipat.


"Sedikit." senyum terpaksa, dengan gerakan tangan jempol dan telunjuk hampir bertaup. Fariz hanya mampu menghela napas lalu membuang dengan hentakan, "ia jadi sensitif dek." Aku menunjuk Yusuf dengan gerakan mata.


"Ia butuh penyejuk hati kak, hehehe... Biar gak panas mulu." Fariz tersenyum menggodaku. "Tapi mungkin ia akan membujang sampai tua. Mati rasa dia." sambung Fariz. "Kakak sih... Terlalu lama membuat ia jatuh cinta dan menunggu, jadi gak move on dari kakak."


"Idih... Kok jadi kakak yang salah? Kamu tu harusnya menghibur kakak, kakak yang dicampakan bukan dia." Muka ku mulia kesal.


"Iya dialah. Enam tahun kak... Enam tahun," Fariz mengakat jarinya menjadi enam, "enam tahun nungguin kakak, sekali ada kesempatan dan keberanian untuk ngelamar malah kakak gantung sampai sebulan, sampai hal yang tak pernah terduga terjadi, bang Satria secara tidak langsung pasti merasa bersalah kak."


Mendengar ucapan Fariz aku jadi berpikir, mungkin benar, aku terlalu lama menjawab lamaran Yusuf," tapi kakak memang harus berfikir matang dek, bagaimana pun kakak orang yang pernah gagal dalam pernikahan. Lagian mana kakak tau kalau dia selama ini pernah suka sama kakak." Aku mencoba membela diri,


"Soal Kia... Kakak tau perasaan dia, kakak juga tidak perhatian meragukan kasih sayangnya untuk Kia, tapi dia harus berusaha untuk melepaskan Kia, Kia itu milik Allah."


"kenapa dia gak bisa lebih sabar sedikit lagi?" Aku menundukan pandangnku. Ada rasa bersalah dihatiku.


"Wajarlah kalo dia merasa kakak gak suka sama dia, kakak gak pernah melihat dia dengan perasaan cinta." Fariz masih berbisik ditelingaku, takut Yusuf mendengar obrolan kami.


"Sok tau kamu." Aku mencubit Fariz dan kembali kekursi kerjaku.


"Masih lama gak bang? Kalau sekiranya masih lama aku mau cari makan dulu kedepan."


"Lapar aku mah, efek Nisa hamil kayaknya, aku jadi berasa lapar mulu."


"Maksudnya, Nisa yang hamil kamu yang ngidam? Hahaha... Basi."


"Ayo berangkat." Yusuf berdiri.


"Kemana bang?" Fariz ngekor dibelakang Yusuf. Berjalan tanpa menjawab pertanyaan Fariz.


Fariz Yusuf POV.


"Kemana kita bang?"


"Kesuatu tempat," Yusuf berjalan sedikit lebih cepat, "pake mobil kamu saja!"


"Mobil abang gimana?"


"Gak bawa mobil akunya, belum boleh nyetir sama Mami."


"Disana bang," Fariz menunjuk pada sebuah mobil yang terparkir depan pintu keluar setelah melihat Yusuf celingak kiri kanan mencari mobil Fariz.


"Ayo... Kamu yang nyetir." Yusuf menepuk bahu kanan Fariz.


"Mau kemana bang?"


"Ck... Gimana aku mau nyetir kalau gak tau tujuan nya, nanti diajak masuk jurang, gak mau aku. Istriku lagi hamil, enak aja dia jadi janda muda." Fariz masih berdiri ditempat.


"Buruan... Nanti aku kasih tau." Yusuf menghentikan langkahnya setelah sadar Fariz masih diam ditempat.


Setengah berlari Fariz mengejar Yusuf yang sudah hampir sampai didepan mobil.


"Kemana bang?" Fariz ikut masuk menyusul Yusuf kedalaman mobil.


Tanpa menunggu jawaban Yusuf, Fariz mulaj menyetir, meninggalkan Wink Cafe & Resto.


"Aku mau ziarah." Pandangan Yusuf kosong kedepan, berkali-kali Yusuf membuang nafas berat.


"Makam Kia?" Tanya Fariz.

__ADS_1


"Hmmm." Fariz melirik Yusuf sekilas, ketara rasa kehilangan diwajah Yusuf.


Fariz segera melihat lurus kedepan, fokus mengemudi. Berkali-kali Fariz mendengar tarikan nafas Yusuf terdengar berat. Fariz hanya bisa menebak kesedihan dihati Yusuf, tanpa ingin bertanya lebih lanjut.


Dengan kecepatan sedang Fariz menuju tempat peristirahatan terahir Kia yang berada di TPU perumahan mereka.


"Disini bang." Setelah sampai di area pemakaman Fariz segera memarkirkan mobilnya.


"Ayo turun bang, gak papa, lagian Kia juga sudah tenang disisi Allah"


"Jangan merasa bersalah bang, ini sudah tertulis dilauhul mahfuz jauh sebelum Kia dilahirkan." Fariz menepuk pundak Yusuf, berharap Yusuf bisa menerima takdir Allah ini.


"Ayo bang... Turun." Fariz tersenyum melihat Yusuf memaksa tersenyum pada Fariz.


"Ayo bang, gak papa. Kita semua juga sedih, tapi gak boleh berlarut-larut, Kia juga pasti gak mau liat kita sedih terus, ayo turun. Nanti aku tunjukkan makamnya Kia." Fariz kembali menepuk pundak Yusuf berkali-kali


"Ayolah... Katanya mau ziarah? Malah berdiri kayak patung disini."


"Bang... Aku tau abang menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi sama Kia. Tapi... Ini betul-betul bukan salah abang, semua ini sudah diatur Allah."


"Sedih? Boleh... Tapi jangan berlarut-larut, gak baik. Kia itu milik Allah, Allah berhak mau ngambil Kia kapan saja, bukan hanya Kia, kita semua milik Allah, Abang Aku, Nisa bahkan mungkin kak Afiifah yang lebih dulu Allah ambil, sah-sah saja. Gak akan bisa kita protes." Fariz mengutip setengah ucapan Afiifah tadi di Cafe.


Mendengar nama Afiifah yang bisa saja menyusul Kia, Yusuf menatap Fariz tidak suka. Terselip rasa takut kehilangan Afiifah lagi dihatinya. "Ck... Kamu kalo ngomong difilter sikit." Yusuf menepis tangan Fariz dari pundaknya.


"Ayo... " Fariz mulai melangkah menuju makam Kia, akhirnya Yusuf mengikuti Fariz.


"Itu bang..." Fariz menunjuk tumpukan tanah yang lebih tinggi, lebih kecil dari makam sekelilingnya sedikit berjarak dari makam sekelilingnya, bisa untuk satu dua makam lagi disamping makam Kia.


Dengan langkah semakin berat, Yusuf mulai berjalan mendekati makam itu, tampak sebuah nama "Syakia Najwa"


"Nama yang sangat cantik sama seperti pemiliknya," fikir Yusuf.


Yusuf mulai berjongkok, mengusap pelan nisan Kia.


"Maafkan om Yusuf sayang, on Yusuf tidak bisa menjaga Kia." Air mata Yusuf mulia tumpah. Hari paling menyakitkan bagi Yusuf setelah berpuluh-puluh tahun yang lalu setelah kehilangan kedua orang tuanya.


"Om Yusuf baru sempat jenguk Kia, om Yusuf tidak bisa mendampingi saat terahir kehidupan Kia, maafkan Om Yusuf yang tidak berguna ini sayang."


Berkali-kali Yusuf mengusap kasar wajahnya, menghapus air mata yang tak henti mengalir. Pun Fariz... Melihat Yusuf yang begitu kehilangan Kia tak tahun menahan air mata, berkali-kali pula menyebabkan air mata yang selalu tumpah.


"Terima kasih sudah pernah hadir dalam hidup Om Yusuf nak, om Yusuf sangat sayang kia."


"Kita berdoa saja bang, semoga kelak bisa bersama Kia dalam firdausnya Allah."


Author POV


Azan Zuhur berkumandang.


"Alhamdulillah... Sudah zuhur." Aku segera bangkit dan melaksanakan sholat zuhur.


Selesai sholat, aku merapikan dokumen diatas meja. Tiba-tiba kepikiran untuk ziarah ke makam Kia.


Tanpa berfikir panjang, aku sabar minibag dari meja.


"Rin... Saya keluar dulu ya, mungkin agak lama, kalau nanti pak Yusuf cari dokumen minta beliau menghubungi saya." Pesan ku pada Rini, yang menjaga Kasir.


"Oh ya... Kalau saya dan pak Yusuf gak balik lagi, tolong kunci ruangan saya yah, kuncinya kamu bawa saja."


"Baik bu." Rini mengangguk.


"Saya pergi dulu, assalamualaikum." Aku menuju area parkir.


Ingin segera sampai di makam Kia, aku mengemudi sedikit lebih kencang, rasanya rinduku pada Kia tak bisa kutahan.


Dalam perjalanan, memori bersama Kia muncul, senyuman Kia seolah tampak jelas didepanku saat ini.


Sekarang jam pulang anak sekolah, aku tertegun saat melintas Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu yang sudah tampak kosong. Ini lah tempat dulu Kia pernah merasakan yang nama bangku sekolah, air mataku mengalir begitu saja.


"Kikkkkk.... " Sampai ku dengaran suara klakson yang cukup keras meyadarkan aku dari lamunanku.


" Astagfirullah... " Aku menarik napas panjang, ku hapus air mata yang masih tersisa disudut mataku, dan seger meninggalkan tempat sekolah Kia itu dulu.


Aku menghentikan mobil dibahu jalan, tidak jauh dari sekolah Kia dulu, tepat didepan sebuah Sekolah Dasar. SDIT SIDQIYAH.


konsentrasiku terganggu, air mataku masih terus mengalir. Betapa aku merindukan Kia. Aku masih suka merindukan Kia.


"Tok tok..." pandanganku tertuju pada sosok anak perempuan diluar mobil disampingku.


Aku menyeka kembali air mata ku, "Ada yang bisa Ibu bantu nak?" tanyaku setelah menurunkan kaca mobil. Aku bingung melihat anak tersebut terdiam, aku memperhatikan penampilan anak itu. Bukan seperti anak jalanan, ia rapi dengan jilbab putihnya bahkan dia memakai seragam sekolah.

__ADS_1


Melihat ia tampak bingung, aku turun dari mobil dan mencari orang sekeliling kami yang mungkin sedang mencari keberadaan anak ini.


"Kamu sedang menunggu jemputan?" Aku berjongkok membuat tubuhku sama tinggi dengan anak itu.


Ia menggangguk. "Maaf tante... Boleh saya pinjam ponsel, ponsel saja kehabisan baterai, saya mau telpon papa."


"Sebentar." Aku menarik anak ini kedepan pos satpam.


"Assalamualaikum.. Bapak penjaga pos?" aku menghampiri bapak didalam pos, sedikit berumur, mungkin sekitar 60 tahunan.


"Wa'alaikumussalam, ahh iya bu." scurity itu berdiri. Jakaria. Itu nama yang tertera didadanya. "Lho neng febi kok diluar?" scurity itu tampak kaget melihat anak yang dipanggilnya Febi ada bersamaku.


"Belum pulang? Aduh belum dijemput ya neng?" Scurity itu mendekati kami.


Anak yang di tanya hanya menggeleng.


"Nama kamu Febi?" Tanyaku. Ia menjawab dengan anggukan.


"Iya bu... Ini siswi disini, biasanya dijemput pulang sama mamanya, kebetulan hari ini mereka pulang cepat, jadi mungkin orang tuanya gak tau, biasanya kita FullDay Bu, sekolahnya." Scurity itu menjelaskan padaku.


"Katakan ada apa nak!" Aku menangkup pipinya dengan kedua tanganku.


"Ada apa neng Febi? Bukankah biasanya wali kelas memberi tahu orangtua jika ada apa-apa, atau perubahan jam belajar?" Si scurity ikut berjongkok menatap Febi.


"Mama suruh telpon Papa, mama bilang gak bisa jemput, ada kerjaan dikantor." Aku melihat air matanya mulai keluar.


"Aku mau telpon papa tante." Febi menggoyang kan lenganku.


"Duh... Maaf sekali Bu, anak-anak disini tau kalau saya gak punya hp, mungkin karena itu neng Febi mau pinjam hp ibu, karena para guru juga sudah pada pulang."


"Febi tau nomor hp papa?" Febi mengangguk sambil mengeluarkan buku kecil dari tasnya.


"Ini... " aku hanya tersenyum, lalu menekan nomor hp yang diberikan Febi padaku.


"Assalamualaikum..." terdengar suara seorang laki-laki, cukup dewasa.


"Ini sayang... " Aku memberikan ponselku pada Febi.


"Assalamualaikum papa."


"Iya, Ponselnya tante."


"Gak tau,"


"Jemput Febi papa, mama gak bisa lagi jemput." Si anak mulai menangis.


"Iya..." Ntah apa yang mereka bicarakan.


"Iya papa, tante... Papaku ingin bicara." Febi memberikan Ponselnya padaku.


Aku mengambil ponsel dari tangan Febi, sembari tersenyum... Aku menghapus air mata Febi yang tumpah. "Assalamualaikum... "


"Wa'alaikumussalam, aduh maaf sudah merepotkan ibu, saya orang tua nya Febi, terima kasih sudah membantu anak saya." Terdengar suara dari balik ponselku.


"Tidak apa-apa pak, saya hanya sedikit membantu."


"Sekali lagi mohon maaf Bu, saya gak tau kalau Febi sudah pulang, biasanya juga jam lima sore pulangnya dan itu pun dijemput mamanya, ck... Ntah kapan dia akan berubah." Aku mendengar nada kesal dari papanya Febi.


"Ah... Saya akan menjemput Febi sekarang, titipkan saja di scurity disana bu, setengah jam lagi saya akan sampai, sekali lagi terima kasih bu."


"Pak... Orng tua anak ini akan datang setengah jam lagi, beliau berpesan untuk menitipkan anak ini pada bapak, saya harus pergi. Ada urusan. Assalamualaikum."


"Baik bu, wa'alaikhmussalam."


"Terimakasih tante." Si anak membungkukkan sedikit badannya.


"Sama-sama..." ku usap kepala Febi sebelum benar-benar pergi.


Aku melanjutkan pejalanan, rinduku pada Kia sedikit teralihkan. Mungkin anak tadi umurnya dua tahun diatas Kia. Cukup berani untuk berintraksi dengan orang yang belum pernah dijumpainya.


Ada rasa kasihan, ia harus menunggu orang tuanya sendiri disaat teman-temannya sudah pada pulang. Tapi aku tidak mau menge-jaz orangtua anak itu sebagai orang tua yang buruk, aku tidak tau bagaimana kondisi keluarga seseorang. Semoga saja ia bukan anak yang ditelantarkan, semoga saja semua orang tua bisa bertanggung jawab pada anak-anak mereka. Mereka masih bersyukur dipercayai Allah untuk mengurus dan menyayangi anak-anak mereka, lihatlah aku... Sudah selesai tugas ku sebagai orang tua, tapi itu tidak membuat aku bahagia sedikitpun.


Aku merindukan Kia.


Aku tertegun saat memasuki kawasan TPU, tampak mobil Fariz terparkir.


"Ternyata mereka kesini." Monologku. Aku tarik nafas dalam. Aku parkir mobil dibelakang mobil Fariz.


Dari jauh aku melihat Yusuf sesekali menyeka air matanya. Mereka tidak menyadari keberadaan ku.

__ADS_1


Perlahan aku mendekat, aku melihat Yusuf menegadah kedua tangannya. Seperti sedang berdoa.


"Stttt..."


__ADS_2