
Satu minggu sudah berlalu, sejak pertemuan aku, bang Yusuf dan Mbak Sarah.
Sejak perpisahan di Cafe dengan Mbak Sarah, sejak itu pula nama Mbak Sarah tidak pernah jadi bahan pembicaraan kita. Seolah tidak pernah ada yang terjadi diantara kami.
Dan... Bang Yusuf juga menutupi kisah masa lalu nya bersama Mbak Sarah rapat-rapat, pastinya aku pun tidak pernah bertanya tentang kisah mereka.
Hanya seja, aku tau setiap hari ada saja telpon masuk dari Mbak Sarah dan ntah berapa notifikasi pesan masuk dari Mbak Sarah.
Terkadang hati nurani ku memberontak untuk tau apa pesan masuk dari Mbak Sarah. Pernah satu kali aku khilaf, tanpa sengaja membuka pesan yang baru masuk dari Mbak Sarah,
SubhanaAllah... Ternyata isi pesannya tidak jauh dari ungkapan perasaannya. Aku yakin Bang Yusuf tau kalau aku sudah lancang membuka handphone nya dan lancang membuka pesan dari Mbak Sarah, tapi Bang Yusuf tidak pernah bertanya akan hal itu padaku, Seolah-olah juga tidak terjadi sesuatu, atau bagi Bang Yusuf itu bukanlah hal penting. WaAllahua'lam... Hanya Bang Yusuf yang tau.
"Sudah siap?" Tanya Bang Yusuf saat aku mengangkat satu mini koper keruang tamu. Eits... Bukan Bang Yusuf suami yang kurang peduli yang tega membiarkan aku mengangkat koper ya! Hahaha. Hanya saja ini hanya aku tidak ingin selalu bergantung pada Bang Yusuf.
Iya... Akhirnya setelah tertunda dua hari dari jadwal yang sudah kita rencanakan, aku dan Bang Yusuf bisa berangkat kedesa untuk ziarah kemakam Ayah dan Ibu.
Bahagia... Akhirnya walau tidak bersua langsung, aku bisa berbicara dengan Ayah Ibu dari tempat peristirahatan terahir mereka.
"Sudah." Jawabku dengan tersenyum.
"Udah gak ad ayang ketinggalan? Handphone? Charger? Udah?"
"Udah, oh ya! Obat Abang udah?"
"Udah. Semalam sudah Abang simpan di bag mini,"
"Yok! Nanti keburu siang."
"Perlu mampir kerumah Papi atau Ayah dulu gak?" Mobil sudah siap meninggalkan apartemen.
"Gak perlu Bang, tadi malam kan kita udah pamit sama mereka." Aku memperbaiki posisi duduk, sedikit menghadap Bang Yusuf.
"Oke, Bismillah... Ini lumayan lama, hampir delapan jam perjalanan, kalau nanti sayang capek kasih tau Abang. Kita bisa istirahat."
"Iya. Baru kali ini lho aku pergi naik mobil sampai delapan jam perjalanan."
"Masak sih?"
"He'eh... Benaran."
"Coba diingat lagi, mungkin ada kelupaan kamunya."
"Hm... Kayaknya benaran deh." dengan ekspresi mengingat.
"Dulu waktu balik dari Jakarta ke Jambi bukannya pakai bis? Lebih lagi, dari delapan jam." Yusuf melirikku sekilas.
"Astagfirullah... Iya. Lupa. Hehehe!"
"Selama enam tahun di Jakarta baru kali pertama itu aku naik Bis. Ya Allah... remuk rasanya tubuh aku."
"Tapi gara-gara naik bis kita bisa ketemu kan? Beberapa hari setelah itu pula Abang langsung urus surat resign dari universitas."
"Iya sih, alhamdulillah. Jodoh gak ada yang tau ya Bang!" Aku mengingat kembali ketika awal bertemu bang Yusuf dan Nisa, aku yang awalnya ngikira mereka sepasang suami istri.
"Padahal dulu, tak kirain kalian suami istri. Abang mah cuek banget."
"Hahah... Masak sih?"
"Benaran!"
"Si Nisa lagi! Bisa-bisanya tersenyum gitu saat aku ngeyangkanya kalian suami istri, malah sengaja peluk-peluk tangan kamu segala lagi."
kesal saat Nisa hanya tersenyum seolah mengejek saat aku bilang mereka suami istri.
"Eh, tapi kenapa Abang langsung risegn sih?"
"Hm... Karena Abang sudah niat untuk ngejar cinta kamu. Hahaha."
"Alah. Lebay." Aku mencubit lengan Bang Yusuf.
"Aduh aduh... Sakit sayang." Tawa Bang Yusuf seketika berubah menjadi ringisan.
"Abang serius! Waktu tau kamu kakaknya Fariz dan sudah berpisah dari dia, iya Abang mah optimis aja bisa menaklukin hati kamu, walaupun masih ada rasa inscure."
__ADS_1
"Dari mana Abang tau kalau aku kakaknya Fariz?"
"Hm... Waktu kamu video call sama Fariz! Di handphone kamu kan ada fotonya Fariz, fhoto kontaknya gitu, kalau memanggilkan fotonya keliatan."
"Oh! Gitu. Terus?"
"Apanya yang terus?"
"Iya lanjutin ceritanya!"
"Iya udah, segitu aja ceritanya."
"Ya Allah... Gak seru banget sih, Bang! Cerita gimana reaksi Fariz saat tau kalau Abang suka sama aku, atau reaksi Ayah ketika Abang datang ngekhitbah aku, cerita apa aja lah." Kalau dirumah dulu meja makan adalah tempat terbaik untuk berbagi cerita, tapi bagi aku dan Yusuf mobil adalah tempat yang paling tepat untuk saling berbagi kisah.
Ah! Aku masih berharap Yusuf membagi kisah masa lalu nya bersama Mbak Sarah.
"Fariz sempat ngasih kabar kalau kamu udah pulang, dan... Kalau kau sudah berpisah dari dia."
"Dia mas Haikal, Bang. Punya nama." Aku sengaja ingin menggoda Yusuf.
"What everlah, Abang mah gak peduli sama namanya." Bang Yusuf mengangkat kedua bahunya.
"Idih... Gak boleh gitu, atuh. Gimana pun Abang mah mesti bersyukur dia udah jahatin Afiifah, coba kalau dia masih baik, gak mungkin donk sekarang kita bisa duduk cantik dan ngobrol manis disini."
"Pasti ada hikmah disetiap perjalanan hidup."
"Ya... Iya iya! Kisah kamu dan semua kisah Abang selama bertahun-tahun menanti, menjadi perjalanan istimewa untuk Abang. Sampai bisa memupuk rasa Abang bertahun-tahun yang tubuh semakin subur saat ini."
"Jadi penasaran kapan pertama Abang jatuh hati padaku. Padahal dulu kayaknya kita bisa dibilang gak pernah ketemu." Aku menatap Bang Yusuf, seolah mengingat beberapa tahun yang lalu.
"Ya mana mungkinlah kamu ingat Abang! Abang mah hanya butiran debu diantara mutiara para pria cakep sekeliling kamu." Bang Yusuf melirikku dengan sinis bercanda.
"Hahaha. Ada-ada saja, tapi aku benaran. Rasanya gak pernah ngobrol yang gimana-gimana sama Abang. Ketemu aja kayaknya... Cuma beberapa kali."
"Hm... Waktu ulang tahun Yusuf, kalau gak salah Yusuf kelas dua Sma, kita berarti udah kuliah semester satu atau dua waktu itu."
"Abang liat ada cewek cakep banget, yang notabennya anak-anak remaja masa itu sibuk dengan pakaian **** tapi kamu sudah rapih dengan pakaian muslimah, kalau dulu mah gak kayak sekarang sudah 89% masyarakat Jambi hampir berhijab."
"Waktu uang tahun Yusuf?" Aku kembali mencoba membuka memori masa lalu.
"Hm... Lupa-lupa sih."
"Ck. Udah lah! Ngapain juga Abang cerita kalau kamu nya gak ingat. Kan udah Abang bilang memori kamu tuh gak ada tentang Abang."
"Ih... Afiifah mah gak bilang tentang pertemuan Afiifah ke Abang, tapi tentang bagaimana dulu abang bisa jatuh cinta sama Afiifah, ceritain aja apa susahnya sih."
"Iya, iya. Oke!"
"Dengarin yah. Abang ceritain semuanya."
"Dengerin."
"Ck. Iya." Aku balik melototin Bang Yusuf.
"Gak boleh gitu sama suami, yang lembut ngomongnya."
"Heheh... Iya sayang. Maaf." Satu ciuman dipipi kiri.
"Waktu tangan abang luka, gara-gara liatin kamu, jiah... Kayak ceritanya nabi Yusuf yah,"
"Hahaha... Iya, tapi kebalik. Kalau dikisahkan Nabi Yusuf tangan para wanita yang terluka saat memandang ketampanan Nabi Yusuf, ini mah kamu yang gak sadar tangannya keiris." MasyaAllah... Bersama Bang Yusuf benar-benar membawa banyak tawa dalam hidup aku.
"Bukan gak sadar, Abang kaget waktu kamu tiba-tiba datang disamping Abang, dan tiba-tiba ngegandeng tangan Abang, beh... Jantung abang langsung berdegup tak karuan."
"Kamu itu dulunya agak semeraut kayaknya. Kebukti dengan santai ngegandeng tangan Abang, padahal gak kenal."
"Oh... Iya iya, sekarang aku ingat..."
"Idih... Bukan itu maksudnya aku mah, aku kira kamu itu mas Arif, sepupunya aku, tau mas Arifkan? Waktu acara kita juga datang. Yang dulu pernah Ayah bilang kalau kamu itu dari samping dan dari belakang lumayan mirip mas Arif. Ingat gak?"
"Hm." Bang Yusuf mengangguk.
"Nah... Aku kira duku kamunya itu Mas Arif, lan udah aku klasifikasi dulu, waktu ngobatin tangan kamu itu."
__ADS_1
"Hehe. Iya tapi tetap aja kamu ceroboh, dan kamu sudah membuat kesalahan terbesar bikin hati Bang berdebar-debar."
"Iya gak bisa gitu dong... Tapi kan..."
"Eh! Mau lanjut gak nih ceritanya."
"Hehe oke. Oke. Lanjutin."
"Iya waktu tau tangan Abang luka kamu dengan panik panggil Bunda, dengan gaya kamu yang centil, bunda... Bunda. Aduh bunda tolongin donk, Bun. Ini temannya adek tangannya terluka. Kamu sih gak hati-hati. Aduh maaf maaf, aku yang salah."
"Hahaha. Kalau ingat kamu panik sampai jerit-jerit gitu aku gak percaya bisa langsung jatuh hati sama kamu. Padahal perempuan gitu gak selera aku banget."
"Iya yah, kenapa dulu aku kayak cacing kepanasan gitu, panikan lagi, terus? Lanjutkan."
"Iya terus Bunda ngomel sama kamu, udah tau rame orang kamunya jerit-jerit gak jelas, kata Bunda kamu kenapa sih kak kayak kebakaran jenggot aja, kayak tangan kamu yang mau putus, si Abang nya juga santai aja. Calon perawat kok panikan."
"Nah dari sana juga Abang tau kalau kamu calon perawat, hehe makin bikin hati Abang gimana gitu, kan enak kalau sakit dirawat sama istri sendiri."
"Tapi setelah itu, kayaknya kita gak pernah ketemu lagi, karena kamu udah balik ke Jakarta. Tapi Abang sering nanyain kapan kamu pulang ke Fariz, awalnya Fariz gak nyadar kalau Abang udah ngincar kakaknya."
"Beberapa kali kalau kamu balik ke Jambi, Abang sengaja datang kerumah, tapi tetap saja Abang gak terlihat sama kamu. Kasian ya Abang, bertepuk sebelah tangan."
"Idih... Memangnya Abang ada bilang kalau punya hati sama aku? Gak kan? Ya mana aku tau kalau Abang suka. Itu namanya gak gentle Man."
"Hahaha... Iya juga sih. Tapi waktu udah beberapa kali ketemu, kalau gak salah hampir tiga tahun setelah itu, Abang sempat bilang ke Fariz kalau Abang pingin ngungkapin perasaan Abang, tapi Fariz bilang kalau kamu udah punya seseorang. Iya itu... Si Mantan suami kamu itu."
"Begitu aja selama bertahun-tahun, sampai kita udah selesai pendidikan, satu hari setelah kamu di lamar Dia, Abang datang kerumah kamu dengan niat yang sama, tapi Ayah bilang Ayah gak bisa terima karena kamu sudah di khitbah laki-laki lain, Tapi entah kenapa setelah itu pula Abang lebih sering memikirkan kamu, bahkan Abang sering mimpi kamu, cinta Abang malah semakin dalam, sampai-sampai Abang terus berdoa, dengan doa yang sama, minta kamu dikembalikan ke Abang." Yusuf menatapku dengan pandangan yang tak mampu aku artikan.
"Bahkan Abang juga sering cerita ke Fariz, sangking Abang sudah tidak bisa menahan perasaan Abang."
"Bahkan tak jarang Abang menangis di hadapan Allah, Abang tau Abang salah ketika berkali-kali meminta agar kamu kembali ke Abang."
"Hehe kadang ketika Abang putus asa atau Abang sedikit isa mengontrol emosi, Abang meminta agar perasaan ini Allah buang saja."
"Kamu tau gak, kenapa sampai Abang pindah ke Jakarta untuk lanjut kuliah juga? Karena Abang pingin ketemu sama kamu, tapi Allah tunjukkan jalan yang lain, Abang sempat ikut tes ke fakultas keperawatan dulu, di kampus kamu."
"Gila nya Abang, padahal dulu Abang sempat kuliah dikedokteran loh, makanya kenal dokter Sila,"
"Masak sih?"
"Benaran, terus Abang takut kalau suatu saat bekerja diinstansi yang sama ama kamu, jadi Abang fikir lebih baik pindah jurusan, ke management bisnis. karena Abang gak yakin kalau kita bisa sama-sama, tapi Abang malah terus berdoa agar kamu pisah sama Dia dan Allah jodohkan kita, karena itu pula Abang nyoba tes keperawatan. Tapi lagi-lagi ada rasa takut juga di hati Abang, takut kalau nanti satu tempat kerja dan makin gak bisa miliki kamu, takut makin cinta dan makin kecewa."
MasyaAllah... Begitu besar rahasia Allah.
Begitu sempurna ketentuan Allah.
Selama ini ternyata Allah simpan laki-laki yang membuat agamaku semakin sempurna, membuat ibadah dalam pernikahanku semakin sempurna.
Begitu indah rencana Allah.
Dengan segala masalah dimasa laluku,
Mungkin Allah satukan aku dengan mas Haikal terlebih dulu, Allah kasih ujian agar Aku lebih memperbaiki diri, agar lebih pantas untuk berjodoh dengan Yusuf, laki-laki yang memang baik akhlaknya.
"Dan... Terima kasih sayang, sudah berada disamping Abang saat ini, sudah sudi menerima Abang yang penuh kekurangan ini dan menjadikan ibadah Abang lebih sempurna, Abang sangat bahagia dan bersyukur." Tak terasa air mataku menetes begitu saja.
"Mungkin ini bukan cobaan untuk Abang, tapi lebih untuk Aku. Lewat pernikahanku dengan mas Haikal dulu, Allah kasih hidayah untuk aku lebih memperbaiki diri, agar pantas bersanding dengan laki-laki yang beriman dan berahlak mulia dan sholeh seperti Abang." Aku memeluk erat lengan Bang Yusuf dan dibalas dengan kecupan dikepalaku.
"Sekarang... Tugas kita adalah lebih mensyukuri yang sudah Allah berikan ini, lebih harus menjaganya dan merawatnya. Sama-sama kita bangun keluarga kita dengan pondasi keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, agar lebih bertambah kebahagiaan kita."
"He'eh... Aku yakin, Abang adalah nahkoda terbaik dalam rumah tangga kita, Abang akan membawa aku berlayar dengan selamat sampai ke syurganya Allah. Aku akan membantu Abang dalam mempermudah amanah yang Abang pikul untuk kelak Abang pertanggung jawabkan dihadapan Allah, jadi... Silahkan ingatkan aku ketika salah dalam segala hal, agar aku bukan menjadi beban dosa untuk Abang."
"Abang yakin, kamu adalah ladang pahala untuk Abang, bukan menjadi beban, sayang."
MasyaAllah... Betapa indah dipertemukan dengan orang yang tepat.
Betapa indah menikah dengan laki-laki yang selalu mengingat Allah setiap saat.
Betapa berkah menikah atas tujuan ibadah.
Aku semakin Yakin, Allah akan memberikan hal tak terduga ketika kita bersabar dan ridho dengan segala ujian dan keputusan Allah.
Allah lebih tau, apa yang kita butuhkan dalam kehidupan kita, dan Allah akan memberikan semuanya itu diwaktu yang tepat.
__ADS_1
Perjalanan ini semoga dipenuhi keberkahan dan menjadi istimewa.