
Maret, 2021.
Ternyata tak semudah itu melupakan kisah kita, aku masih sering jatuh cinta pada mu dalam angan ku.
Aku tau semua yang kita lalui tak berarti untuk mu.
Aku tau aku tak lebih dari mimpi di masa lalu mu.
Aku tau, aku telah hilang dari dalam rangkaian cerita cinta mu.
Hujan sore ini menambah rasa sendu di sudut hati ku.
Seperti nya langit tau akan kesyahduan ku.
Mungkin dunia pun merasakan Pilu rintihan hati ini.
Aku adalah ranting yang rela patah demi memberi tempat pada dahan lain yang akan tumbuh.
Aku adalah hati yang rela remuk demi, melihat tawa senyum di bibir mu.
Aku bukan tidak menerima takdir, aku hanya butuh waktu untuk mengerti dan menerima alur cerita yang tuhan ciptakan untuk ku.
Satu yang pasti.
Aku akan tetap baik-baik saja meski pernah kau perlakukan tak wajar.
Aku akan baik-baik saja meski pernah kau tinggalkan untuk alasan dia yang terbaik.
Semoga kau tidak lupa tentang rasa yang pernah aku berikan sepenuhnya, meski balasan mu membuat ku harus pergi.
Maaf kan aku masih memenuhi ruang hati ini dengan nama mu.
Maaf kan aku masih sering merindukan mu dalam doa ku.
Beri aku waktu sedikit lagi untuk benar-benar bisa melepas mu dengan ikhlas.
aku akan mulai melangkah meski jatuh dan tertatih, aku akan terus berjuang.
Aku pastikan suatu hari nanti,
nama mu tidak akan membuat hati ku bergetar lagi, kenangan kita juga tidak akan membuat ku menangis lagi.
Terima kasih untuk kisah yang pernah ada.
Percaya lah aku akan baik-baik saja dan menutup kisah itu, hanya saja aku katakan sekali lagi, aku hanya minta sedikit waktu untuk pulih dari rasa sakit ini.
***
Tok tok..
Aku menutup diary di pangkuan lalu aku letakan dengan hati-hati di atas tempat tidur ku.
" sebentar.. " aku berjalan menuju pintu kamar ku untuk melihat siapa gerangan yang mengetok.
" maaf nona, di minta nyonya untuk memanggil nona, nona kia menangis di taman belakang ".
Ternyata bu siti yang datang dan untuk memberi tahu perihal kia.
" ohh, ayo bu kita turun, kenapa dia menangis? ". Tanya ku pada bu siti.
" kata nya mau pergi bermain ke tempat kemaren non " jawab bu siti.
" tempat kemaren? "aku berfikir mengingat tempat yang kia maksud.
" astagfirullah... ". Aku menepuk jidat ku.
" kenapa non? ". Bu siti kaget di samping ku.
" tidak papa bu, di mana mereka? ". Aku mencari tau keberadaan bunda dan kia.
" di sana non ". Bu siti memberi tau tempat yang di maksud.
" assalamualaikum bunda, kia kenapa? ". Aku duduk di hadapan bunda dan kia yang merengek manja dalam pelukan bunda.
" kata nya dia mau main fah, ke tempat bermain kemarin, memang nya di mana? ". Tanya bunda.
" kia.. Hmmm maaf kan bunda ya, oke sekarang kita siap-siap, kita pergi bermain ". Aku mencoba membujuk kia.
Tapi kia menepis tangan ku.
" kemana memang nya fah? ". Bunda kembali bertanya.
" sebenarnya waktu pergi belanja persiapan hantaran untuk fariz dan nisa kemarin kita lewat wahana bermain di mall bun, kia mau main, tapi aku gak kasih izin, dan janji mau ajak dia lain kali, afiifah lupa bun karena sibuk dengan persiapan untuk hantaran fariz ". Aku menjelaskan pada bunda.
Iya, sudah 3 hari semenjak janji itu, aku belum menepati janji ku pada kia, karena terlalu sibuk aku lupa sudah janji mau ajak kia bermain.
Kita semua sibuk karena hari pertunangan fariz dan nisa di majukan 1 minggu dari waktu sebelum nya.
" berdua saja? ". Tanya kia yang menatap ku.
" hmmm iya, om fariz lagi sibuk besok kalau udah gak sibuk lagi kita ajak, oke? ". Jawab ku.
" hmmm atau mau pergi sama nenek? ". Bunda menawarkan diri.
" tapi kemarin om yusuf sudah janji mau ajak kia bermain seepuas nya ". Tampak nya kia kecewa karena yusuf tidak menepati janji nya, mungkin yusuf pun lupa karena juga sibuk dengan urusan di Cafe.
" tapi mungkin om yusuf lagi sibuk sayang, sama ibu dan nenek aja yah, nanti juga pasti seru ". Aku mencoba memberi pengertian pada kia.
" ibu kan bisa telpon om yusuf duku? Bisa tanya dulu, kia mau main sama om yusuf bu ". Kia masih merengek sambil menarik ujung kerudung ku.
__ADS_1
" coba aja kamu telpon dulu ". Kata bunda yang juga meminta ku menghubungi yusuf.
Jelas saja aku ragu, pasal nya setelah pertemuan kami kemarin aku memang tidak pernah bertemu yusuf lagi apa lagi berbicara dengan nya.
Tidak sopan rasa nya menghubungi dia di saat ada mau ku saja, walau pun ini permintaan kia.
" afiifah.. Ayo, telpon saja yusuf nya, kasian kia ". Bunda menepuk pundak ku.
" tapi bun, afiifah gak enak harus ganggu yusuf, mungkin dia masih sibuk, lagian afiifah gak ada kontak nya yusuf ". Jelas ku pada bunda.
" bu siti.. Bu, bu siti.. " bunda memanggil bu siti.
" iya nyonya ". Bu siti datang dengan setengah berlari.
" tolong ambil kan handphone saya di atas nakas di ruang tv bawah ya ". Perintah bunda pada bu siti.
" baik nyonya ".
" ini nyonya ". Bu siti memberikan handphone bunda yang tadi di minta bunda.
" kamu cari kontak yusuf di handphone bunda, trus kamu telpon dia ". Bunda memberikan handphone nya pada ku.
" tapi bun.. ". Aku masih ragu.
" gak papa, dia gak akan marah, bunda sering kok telpon dia ".
" iya bunda telpon dia paling nyari in fariz bun, bukan mau ganggu dia, afiifah gak enak bun". Aku masih menolak untuk menelepon yusuf.
" ibu.. Telpon om yusuf, kia pun rindu om yusuf, please ibu ". Meleleh pertahanan ku kalau kia sudah memohon begini.
" huh, baik lah, ibu akan telpon ". Ahir nya aku menyerah.
Seketika aku melihat kia tersenyum ke arah ku.
'Semoga yusuf sibuk dan gak bisa pergi ' aku berdoa dalam hati, aku benar-benar merasa tidak nyaman kalau harus pergi bersama yusuf.
Tak menunggu berapa lama panggilan ku tersambung.
" assalamualaikum bunda ". Terdengar suara yusuf dari seberang sana, masya allah suara nya begitu lembut, penuh dengan kesopanan.
" assalamualaikum bunda ". Yuusf kembali mengulang salam nya setelah menunggu tanpa jawaban dari ku.
" hmmm waalaikumussalam, Yusuf, maaf ini aku afiifah ". Aku terbata-bata.
" ohh afiifah, ada apa? ". Kini suara yusuf tidak lagi selembut tadi.
" maaf kalau aku ganggu, hmmm kamu sekarang sibuk gak? ". Rasa nya aku tegang sekali bicara dengan nya.
" kenapa?, kamu bilang saja ".
" gak papa sih, hmmm nanti saja kalau kamu gak sibuk, sekali maaf ya sudah ganggu ". Aku segera menekan tombol off, tanpa menunggu jawaban dari yusuf.
Sontak saja senyum kia menghilang.
' maaf nak '. Aku merasa bersalah sama kia, pasal nya aku saja tidak tau apa yusuf benar-benar sibuk atau gak, aku hanya tidak nyaman dengan respon yusuf pada ku.
" yahh... , ya sudah bu, Besok-besok saja kia main nya ".
Dretttt Dretttt...
Handphone bunda bergetar.
Aku melihat nama yusuf memanggil.
" bun, ini yusuf memanggil ". Aku memberi kan handphone nya ke bunda.
" jawab saja ". Perintah bunda, tapi aku menolak dan memberikan handphone nya pada bunda.
" assalamualaikum... Nak ". Bunda menjawab panggilan yusuf.
" ohh, iya tadi afiifah yang telpon ".
" itu sebenarnya kia mau ajak yusuf pergi bermain, tapi gak papa kia ngerti kalau yusuf lagi sibuk ". Aku melihat bunda menikmati obrolan nya dengan yusuf.
" lho afiifah bilang kamu nya sibuk ". Ahh entah apa yang mereka bicarakan. Aku hanya terdiam melihat bunda bicara di telpon.
" ok oke, ibu kasih tau kia ya, maksih ya nak, iya.. Waalaikumussalam ". Mereka mengakhiri percakapan mereka.
" kamu itu benar-benar ya ". Bunda mencubit lembut bahu ku.
Aku nyengir, aku sudah bisa menebak kenapa bunda mencubit ku.
" afiifah gak enak bun harus ngerepotin yusuf ". Aku membela diri.
" dia udah jalan ke sini, bawa kia siap-siap kata nya ". Bunda meninggalkan aku dan kia.
" bunda ikut juga kan? ". Aku sedikit berteriak.
" gak ". Jawab bunda singkat.
" bun,ayo lah.. Gak baik berjalan cuma berdua saja sama yusuf, kita bukan mahrom bun ". Aku mengejar bunda sambil menggendong kia.
" kan ad kia ".
" Tapi kia kan masih kecil bun. " rengek ku.
" jadi kamu ngekor mereka aja dari belakang gak usah Dekat-dekat sama yusuf kalau takut " jawab bunda.
" kia siap-siap sama ibu ya, nanti om yusuf jemput kia mau ajak kia bermain ". Bunda mengusap pipi kia.
__ADS_1
" yee asik ". Kia bener-bener tampak bahagia.
Ahir nya aku mengalah, aku menuju kamar untuk mengganti pakaian begitu juga dengan kia.
Kia mulai gelisah menunggu yusuf yang tak kunjung datang.
" ibu, kenapa om yusuf lama sekali ". Kia berpangku dagu di ruang tamu.
" sabar sayang.. Sebentar lagi om yusuf datang, nah itu mungkin om yusuf ".
Aku mendengar suara mobil di depan pagar.
Kia pun segera berhambur melihat siapa yang datang.
" benar bu, itu om yusuf ". Kia berteriak pada ku.
Aku hanya tersenyum, betapa tidak pengertian nya kia dengan perasaan ku, seandainya kia tau yang aku rasakan saat ini.
" assalamualaikum, wah cantik sekali putri nya om yusuf, maaf kan om yusuf ya karena baru nepatin janji untuk ajak kia jalan-jalan, ini boneka sebagai tanda permintaan maaf oom ". Yusuf mengsejajar tubuh nya dengan kia.
" makasih om ". Betapa resah hati ku melihat kebahagiaan kia. Terlintas rasa takut di fikiran ku jika suatu saat Yusuf juga pergi meninggal kan kia.
" bun kita pergi dulu ". Aku pamit pada bunda dan di susul oleh Yusuf.
" hati-hati ya ". Pesan bunda.
" kamu ngapain duduk di sana?, kamu fikir saya sopir taxi, pindah ke depan ".
Ya allah.. Belum apa-apa dia sudah membuat aku sangat tidak nyaman.
Tanpa berkata-kata aku pun pindah ke depan.
Berkali-kali aku hempas kan napas ku.
" Yusuf, aku benar-benar minta maaf sudah mengganggu waktu kamu, aku sungguh minta maaf ". Aku membenarkan posisi duduk ku dengan tatapan ke depan.
" aku yang minta maaf aku benar-benar belum ada waktu untuk bawa kia bermain ".
" kalau memang tadi kamu gak bisa, sebenar nya kia sudah mau ngerti kok, dia akan ngerti kalau kamu sibuk ". Aku melirik Yusuf sekilas. Yusuf tampak fokus menyetir.
" gak papa lah ". Dia melirik ke arah ku, aku segera membuang pandang an ku.
Melihat Yusuf tersenyum pada aku membuat rasa gugup ku sedikit berkurang.
Apa yang sebenarnya aku fikirkan tentang dia?
" boleh aku tanya sesuatu? ". Dia kembali melihat ke arah ku, tak sengaja kami pun beradu pandang.
" silahkan, aku akan menjawab selagi bisa atau selagi aku nyaman dengan pertanyaan mu ". Aku membuang pandangan ku dari nya.
" mungkin ini bersifat pribadi, tapi aku fikir aku harus tau, jadi kamu harus menjawab pertanyaan ku ". Dia menatap ku dengan tatapan tajam.
" kapan kau bercerai dengan mantan suami mu itu? ". Lanjut nya.
" mas haikal maksud kamu? ".
" bukan mas haikal tapi mantan suami mu ".
" iya.. Mantan suami ku itu mas haikal ".
" aku tidak peduli dengan nama nya, aku hanya ingin tau alasan kalian bercerai ". Dia kembali menatap ku dengan tatapan tajam.
" kenapa kau berfikir, kalau kau harus tau tentang masalah pribadi ku? ". Aku sedikit bingung, ahh bukan sedikit. Aku bahkan sangat bingung dengan sifat yusuf.
" itu masalah pribadi ku, kamu tidak perlu tau kenapa aku harus tau. "
'Ya tuhan.. Betapa aneh manusia ciptaan MU satu ini. ' ucap ku dalam hati.
" kalau begitu aku pun tidak ingin memberi tau mu masalah pribadi ku, atau menjawab pertanyaan mu ". Aku mulai kesal dengan sikap yusuf.
" kenapa? Kau masih belum mampu melupakan dia? Hati kamu masih sakit menyebut nama nya? Atau hati mu masih bergetar mendengar nama nya? ".
Aku terdiam mendengar ucapan Yusuf.
Yusuf benar, apa yang sebenarnya ada di hati ini?
Apa aku benar-benar sudah lupa dengan nya atau aku hanya berpura-pura lupa?.
" bagai mana dengan kia? ". Yusuf kembali bertanya.
Yusuf menoleh ke arah kia yang duduk di bangku belakang.
Aku pun hanya bisa melihat kia tanpa tau apa yang ada dalam fikiran kia tentang ayah nya.
Aku menghempas kan kepala ku pada headrest dengan perasaan bercampur aduk.
" jangan takut untuk bercerita, kau tau afiifah apa sumber rasa sakit itu? " Yusuf melihat ku sekilas.
" yaitu harapan, berharap dan ternyata tidak terpenuhi, jadi jika kau masih berharap dia kembali, belajar untuk menerima kepergian nya". Kali ini Yusuf sedikit tersenyum menatap ku.
Jujur saja, masih ada secuil harapan agar mas haikal kembali pada aku, tidak apa dia tidak mencintai ku lagi, sudah cukup bagi ku mas haikal selalu ada untuk kia.
" jangan pernah kamu meminta dia kembali dalam doa mu, jangan takut.. Kia pasti akan bahagia, aku akan menjaga kia lebih baik dari mantan ayah nya ".
Ucapan Yusuf seolah-olah mengetahui isi hati ku.
Entah kenapa aku merasa ucapan Yusuf malah menjadi cambuk bagi ku, mana mungkin mas haikal bisa di gantikan oleh Yusuf di hati kia.
Aku tau Yusuf pasti sangat iba dengan kia.
__ADS_1