Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 38


__ADS_3

"Assalamualaikum..." Aku tersenyum menyapa Yusuf.


"Wa'alaikumussalam." Tanpa menoleh, ia hanya memeluk bantal dan setengah duduk.


"Kamu beneran sudah sehat? Udah sholat zuhur?" Tanpa jawaban.


Aku mencoba mendekat, sedikit risau. Mungkin ada yang sakit!


Yusuf balik menatapku. Tapi kali ini aku merasa ada yang berbeda. Tatapan Yusuf begitu tajam. Bak pedang yang siap menghujam dengan sejuta tanya.


Aku masih berusaha bersikap santai, mungkin Yusuf kembali menjadi Yusuf yang dingin dan cuek. Tapi Tatapan ini, bukan Tatapan dingin, lebih seperti menahan amarah.


Apa aku ada salah?


Atau Yusuf yang punya masalah?


Aku jadi bingung harus berbuat apa.


"Kamu baik-baik saja Suf?" Melihat tempat tidur Yusuf yang berantakan.


"Kenapa liatin aku gitu?" Aku meletakkan minibag disofa.


Ia masih diam, tanpa jawaban, pandangannya masih mengekor kemana aku bergerak.


"Ini... " Aku memberikan potongan apel sisa tadi.


"Kenapa kau tega berbohong padaku, Fah?" Langkah ku terhenti ketika hendak berbalik arah. Apa maksud Yusuf? Berbohong apa yang ia tuduhan padaku?


Aku mencoba mengabaikan pertanyaan Yusuf, "Kenapa kalian tega berbohong padaku?" Aku masih membelakangi tubuh Yusuf.


"Aku gak ngerti." Jawa ku tanpa menoleh kearahku Yusuf.


"Jangan pura-pura bodoh, Fah. Coba lihat aku, dan katakan sekali lagi kalau kau memang tidak mengerti maksudku?"


Aku berbalik menghadap Yusuf. "Katakan dengan jelas, kesalahan apa yang aku perbuat?" Aku menatap mata Yusuf penuh keberanian, ntah kapan terahir aku menatap Yusuf seperti ini.


Biasanya aku melihat kehangatan dan cinta dimata Yusuf, tapi kali ini penuh amarah, mata Yusuf mulai memerah dan sepertinya, ia habis menangis.


Ada apa ini?


Apa jangan-jangan Yusuf sudah mengetahui kabar Kia?


Aku mulai ciut, ku buang pandangan dari Yusuf. Aku tidak ingin mengungkit Kia saat ini, aku tidak ingin merindukan Kia saat ini.


Berbalik badan, mungkin lebih baik aku pergi.


"AGRRRRTT."


BRAAKKK...


Suara lemparan. Perasaan ku mulai tak menentu.


"Kenapa kalian membuat aku seperti orang bodoh? Kenapa kalian menyembunyikan kebenaran dariku?"


Aku masih mematung. Masih membelakangi Yusuf.


"Aku yang membunuh Kia. Aku! Aku... " Suara tangis Yusuf sudah tak mampu ia tahan.


Ia memukul dadanya berkali-kali," Yusuf... Istighfar! Kendalikan emosi kamu! Aku akan jelaskan apa yang terjadi dengan Kia."


"Kenapa kalian harus berbohong padaku?"


"Karena kita ingin kamu fokus dulu pada pemulihan kamu."


"Sekarang aku sudah pulih, sudah jiah lebih baik, kenapa kalian masih tidak mengatakan kenyataan yang terjadi pada Kia? Sampai kapan kalian akan menyembunyikan ini dariku?"


"Suf, istighfar!" Aku memberanikan diri menatap mata Yusuf. Tampak jelas ia sangat terpukul, air mataku pun mulai memenuhi ruang dimataku.


Ia tergugu. Sama sperti awal aku harus menerima kenyataan harus kehilangan Kia. Pun dengan Yusuf. Dia pasti butuh waktu menerima kenyataan ini.


"Kia hanya titipan Suf, Allah yang lebih berhak atas Kia, cuma sampai disini Allah memberi kepercayaan pada ku, pada kita untuk merawat Kia. Inilah yang terbaik untuk Kia, untuk kebahagiaan Kia."


"Apa kau fikir aku tidak bisa membuat Kia bahagia? Kau fikir aku sama seperti bapaknya? Bahkan aku lebih mencintai Kia dari pada kau, Fah. Kau faham?" Yusuf menatap ku penuh amarah. Menggepal kedua tangannya, dan memukul berkali-kali dadanya lagi.


Sebegitu sayang Yusuf pada Kia. Bahkan ia mengatakan lebih mencintai Kia daripada aku. Aku yakin Kia adalah anak paling beruntung bisa mendapatkan cinta yang begitu besar dari Yusuf, yang bukan siapa-siapa nya.


"Pada siapa amarah mu saat ini Suf?" Yusuf hanya diam, masih tergugu. Mengusap kasar wajahnya, "apa kau ingin protes sama Allah? Kau ingin marah sama Allah?" aku semakin memojokkan Yusuf, semafa-mata agar ia sadar bahwa Allah lebih berkuasa atas segala kehidupan didunia ini.


"Cobalah belajar untuk menerima kenyataan ini, harusnya kau yang memberi aku kekuatan, Suf! Bukan malah bersikap sebaliknya, siapa yang lebih mencintai Kia didunia ini selain dari pada aku, ibunya! Wanita yang sudah melahirkan nya, aku Suf! Aku mencintai Kia lebih dari apa pun."


"Maafkan aku tidak bisa menjaga Kia dengan baik, Maafkan aku sudah membuatmu kehilangan Kia." Yusuf berucap lirih diantara deraian airmatanya, "aku memang tidak pantas untuk kalian, menjaga Kia saja aku tidak bisa."

__ADS_1


"Istighfar..., semua ini bukan salahmu. Ini kehendak Allah, bahkan sebelum Kia lahiran jalan hidup Kia sudah Allah tetapkan."


"Tetap saja aku yang salah."


"Mereka yang menabrak kalian juga sudah datang dan meminta maaf, mereka sudah bertemu orangtua kita. Mereka sudah bertanggung jawab atas semua kerugian finansial atas pengobatan kamu dan Kia."


"Aku tidak ingin uang mereka Fah, aku ingin mereka dihukum dipengadilan, apapun alasan mereka, mereka tetap saja mengemudi dengan tidak berhati-hati, maaf mereka tidak bisa membuat Kia hidup kembali." Yusuf masih beeapi-api.


"Assalamualaikum..., astagfirullah! Ada apa ini bang?" Fariz datang dan kaget melihat seisi kamar berantakan. Bantal yang di lempar Yusuf kesembaramgan arah.


"Kak... " Fariz menatapku, seakan minta penjelasan.


"Adek bicara saja sama bang Yusuf. Kakak keluar sebentar." Aku menepuk pundak Yusuf. Dan berlalu meninggalkan mereka.


"Bu...!" Seorang perawat, yang tampak masih sangat muda menghampiriku. Pryli Ayudia. Itu nama yang tertera di dada kirinya.


"Iya..." Aku menyeka air mataku, "Ada yang bisa saya bantu?"


Ia berjalan mendekat. Perlahan, "maafkan saya Bu, tadi pak Yusuf memaksa saya minta diantar keruangan picu, mencari anak yang bernama Kia, saya tidak tau kalau anak yang pak Yusuf cari sudah meninggal dan masih dirahasiakan keluarga, saya benar-benar tidak tau dan tidak bermaksud lancang, Bu! Tolong maafkan saya."


"Tidak masalah, cepat atau lambat ia juga akan mengetahui kebenarannya. Mungkin ia terpukul karena merasa di bohongi." Aku menepuk pundak perawat itu.


"Sekali lagi maafkan saya, Bu! Saya juga baru tau kalau anak pak Yusuf yang beliau cari sudah gak ada."


"Itu bukan anaknya Yusuf, tapi anak saya, mereka hanya sudah dekat, bak anak dan ayah," aku mencoba menenangkan nya. "sudahlah... Yusuf hanya butuh waktu, kamu boleh kembali bekerja, jika nanti para senior kamu marah, bilang saja kamu sudah minta maaf." Aku mencoba tersenyum. Aku tau selain merasa tidak enak dan merasa bersalah, ia juga pasti takut pada rekan kerjanya, apa lagi senior-senior nya.


Lagi-lagi aku hanya bisa menyeka air mata ini. Hanya andai-andai saja yang tersisa.


Andai saja masih ada Kia...


Andai saja aku lebih cepat menjawab lamaran Yusuf...


Andai saja...


Andai saja...


Ahh entahlah. Takdir Allah emang rahasia. Kejutan untuk setiap Hamba-Nya.


***


Malam mulai merangkak, bulan kembali menduduki singasana tertinggi, menggantikan mentari.


Berjalan menuju balkon, menengadah menatap langit, sejenak menikmati sinar bulan yang menenangkan.


Lagi-lagi bayangan Kia kembali hadir, pun air mata ini kembali merambat menyusuri pipiku, "Maafkan ibu, nak yang belum bisa melepaskan Kia." ntah Kia mendengar? "Ibu rindu." Pada siapa aku titipkan kata itu agar Kia bisa membalas.


Tiga dini hari. Mataku masih on, bahkan tak merasa kantuk sedikitpun.


Biasanya aku akan melakukan sholat malam atau ibadah lainnya, disaat kalut seperti ini malah datang bulan, aku tidak bisa membentang sajadah untuk bercerita pada Allah.


Kembali kuraih ponsel ku. Kembali kebaca pesan Yusuf yang masuk setelah magrib.


"Aku membebaskan kamu, Khoiratul Afiifah, dari khitbah ku, kamu boleh menerima khitbah dari laki-laki lain setelah ini."


Pesan masuk Yusuf itu sudah berpuluh kali kubaca, teganya Yusuf. Harusnya ia memperjuangkan aku saat ini, harusnya kami berjuang bersama melewati ujian ini, bukan membiarkan aku melewati kerikil tajam ini seorang diri.


Aku hanya mampu memeluk kedua kakiku. Mungkin beginilah waktu yang ku habiskan malam ini.


Berkali-kali aku mencoba membalas pesan Yusuf, berkali-kali pulak jempol kananku menghapus kata demi kata yang sudah ku rangkai.


Aku tak sabar menunggu esok hari, aku ingin bertanya pada Yusuf, kenapa membebaskan aku dari khitbahnya!


Apa benar Yusuf lebih mencintai Kia dari pada aku? Sehingga memutuskan pergi setelah Kia tiada.


"Apa salahku? Jelaskan!" Ahirnya. Kesabaranku berakhir, terlalu lama menunggu esok hari. Aku ingin segera tau alasan Yusuf. Ku kirim balasan pesan yang dikirim Yusuf tadi padaku.


15 menit 50 menit... Sampai jam 5 subuh, aku tak mendapat jawaban dari Yusuf, hanya di read tanpa dibalas.


***


"Sudah bangun kak?"


"Sudah Bun," Aku berlalu. Menikmati secangkir susu pagi, "Bun, Afiifah pergi sebentar ya?"


"Mau kemana?" Bunda menatapku, "Bukan seperti mau ke kantor, mau kemana pagi-pagi begini? Baru jam 7 pagi kak." Bunda masih berdiri didepanku.


Ntahlah. Aku pun tak tau harus kemana? Pikiran ku kalut. Tak tau arah.


Ya Allah... Beri aku ketenangan.


"Bun..." Aku memeluk bunda, tempat sandaran ternyaman saat ini, "Begitu besar ujian ini Afiifah rasa."

__ADS_1


Aku menegadah, menahan air mata yang lagi-lagi mulai bermuara dipelupuk mataku.


"Istighfar nak, menerima ketetapan Allah dengan ridho itu memang tak mudah, tapi percayalah... Ini cara Allah mencintaimu." Bunda mengelus kepalaku.


"Bun... Yusuf membatalkan lamarannya untuk Afiifah, disaat Afiifah mulai mengharapkannya."


Bunda melepaskan pelukan ku, "apa maksud kamu?"


Aku tau bunda akan bingung, bunda pasti tidak percaya dengan apa yang akan aku ceritakan ini.


"Hei! Katakan pada bunda, jelaskan! Apa maksud kamu membatalkan lamaran?"


"Ada apa bun, pagi-pagi udah ribut." Ayah datang lengkap dengan seragam kantor kebanggaannya.


"Ntahlah Yah, bunda juga ingin penjelasan Afiifah," Bunda meninggalkan aku yang masih mematung, "Sarapan dulu, Fah. Ayah mau makan apa?"


"Nasi goreng saja."


"Sebulan yang lalu Yusuf pernah meminta Afiifah untuk menjadi istrinya," Aku membalik badan, "tapi tadi malam Yusuf membatalkan lamaran itu untuk Afiifah, disaat Afiifah mulai mencintainya." Aku melihat ekspresi tak percaya dari mereka.


Ayah yang menghentikan aktifitas memgunyahnya, bunda yang hanya mematung mendengar ucapanku.


"Afiifah pergi dulu yah, bun. Assalamualaikum." Aku meninggalkan mereka.


Mungkin tujuan utamaku rumah sakit. Aku hanya ingin Yusuf menjelaskan apa yang terjadi.


Perlahan mulai yang kukendarai meninggalkan lingkungan rumah, berkali-kali aku mengucap istighfar.


Lima belas menit.


Bergegas meninggalkan area parkir. Sedikit cepat kaki ini melangkah. Berkali-kali pula air mata ini aku seka sebelum benar-benar jatuh. Aku tidak ingin menangis saat ini. Aku harus kuat. Jika memang Yusuf ingin membebaskan aku dari khitbahnya setidaknya beri aku alasan yang tepat.


Aku siap dengan kemungkinan terburuk yang terjadi.


"Aku pulang dulu bang, nanti aku minta kak Afiifah menemani abang disini."


Keurung kan tangan ku yang siap mengetok dan mengucap salam, aku tunggu saja Fariz meninggalkan Yusuf, biar aku lebih bisa berbicara dengan leluasa. Lagian belum tentu Fariz mengetahui masalah antara kami.


"Tidak usah Riz, aku sedang tidak ingin bertemu Afiifah."


Dadaku tiba-tiba terasa sakit, bak dihimpit beban berat. Aku putuskan untuk mendengar obrolan mereka. Maaf ya Allah, aku harus menguping pembicaraan mereka.


"Ada apa bang? Ada masalah sama dia?"


"Aku membatalkan lamaranku untuk Afiifah, aku sudah membebaskan ia dari kthitbahku Riz."


"Kenapa bang?"


"Abang takut tidak bisa membuat Afiifah bahagia, abang takut tidak bisa menjaga dia dengan baik."


"Abang merasa bersalah atas kepergian Kia?"


"Ntahlah... Tapi abang mereka, semua ini juga karena abang, abang sudah memisahkan Afiifah dengan Kia, menjaga Kia saja abang tidak mampu, bagaimana abang bisa menjaga Afiifah?"


"Bang... Abang hanya sedang tidak percaya diri saat ini."


"Kau benar Riz, abang memang sudah tidak percaya diri untuk bisa membuat Afiifah bahagia. Sudah cukup ia menderita dengan pernikahan pertama nya, abang ingin ia mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari abang."


"Abang ingin melepaskan kak Afiifah untuk kedua kalinya?"


"Apa? Kedua kalinya?" aku berucap pelan, "apa maksud mereka?" aku masih berdiri diluar.


Sejenak hening. Tak ada lagi percakapan antara keduanya.


"Abang akan menyesal bang, abang yang paling bisa membuat kak Afiifah bahagia, tujuh tahun sudah abang menunggu, tidak bisakah abang sedikit lebih berjuang untuk cinta abang? Bukankah selam ini abang sering meminta pada Tuhan dan berharap kak Afiifah bisa kembali kesini? Bisa bersama abang?"


"Betapa egois diri ini Riz, kenapa dulu aku berharap Afiifah berpisah dari laki-laki itu? Aku benar-benar tidak pantas untuknya,Riz."


"Terserah abang saja lah, tapi abang sudah membuat kak Afiifah jatuh cinta, kenapa abang menghancurkan hatinya lagi? Tidak bisakah abang menjadi penghibur kak Afiifah saat ini? Ia terlalu lemah untuk menanggung segala beban berat ini bang!"


"Ia tidak mencintaiku, Riz. Ia hanya ingin Kia memiliki Ayah, sekarang Kia sudah tidak ada, aku pasti sudah tidak diharapkannya lagi."


"Jadi dulu abang melamar kak Afiifah juga karena Kia?"


"Ia. Karena aku sangat menyayangi Kia, dan aku sangat mencinta Ibu Kia, aku ingin memiliki mereka berdua dalam hidup ini. Aku akan membuat mereka bahagia, dan bersyukur atas kehidupan ini."


"Kalau begitu, yakini kak Afiifah lagi bang, yakini kalau abang benar-benar mencintainya, kalian bisa memiliki keluarga kecil lagi, kalian masih muda, pasti bisa segera memiliki anak."


"Ntahlah. Kau pulang saja dulu. Aku ingin sendiri."


"Baiklah bang, pikirkan baik-baik, jangan sampai kembali menyesal dan kehilangan kak Afiifah lagi, mungkin kali ini ia akan menemukan laki-laki yang baik, dan mereka tidak akan pernah bercerai lagi, selama nya kau hanya bisa mencintainya dalam doa dan angan saja bang, aku balik dulu. Assalamualaikum."

__ADS_1


Aku segera menjauh, sebelum ketauan Fariz sudah mendengar semua percakapan mereka.


"Jadi selama ini aku lah orang yang ia tunggu selama enam tahun ini? Diam-diam pun ia suka mendoakan aku berpisah dari mas Haikal! Sungguh egois dia." Aku bermonolog, dan memutuskan untuk pergi, aku sudah tidak butuh penjelasan Yusuf, yang tadi ku dengar sudah dari jawaban yang ingin aku tanyakan.


__ADS_2