
Setelah perjalanan panjang akhirnya aku akan segera sampai dan bertemu orang-orang yang sangat aku rindukan.
Sungguh, aku tidak sabar ingin melihat reaksi mereka ketika melihat ku nanti..
" kita duluan y nis, bang yusuf " aku pamit pada mereka.
Aku terkekeh geli melihat reaksi yusuf saat ku panggil abang, entah apa yang di pikirkan nya. Mungkin juga dia berfikir kalau aku janda genit.
Ahh masa bodo, biarkan saja aku memang berniat menggoda nya, toh kita juga akan berpisah, bahkan mungkin tidak akan bertemu lagi.
" semoga nanti kita bisa bertemu lagi mbak fifah ". Anisa memeluk ku.
" suatu saat kita akan bertemu lagi, dan percaya lah aku akan mengubah panggilan ku pada mu. akan memangil mu sayang, sebagai balasan rasa sopan mu sudah memanggil ku abang ". Yusuf tersenyum sinis pada ku.
Aku mematung mendengar ucapan yusuf yang terasa menusuk jantung ku.
" aku tidak sabar untuk melihat pertemuan kalian bang ". Anisa tertawa sembari menepuk pundak yusuf.
Aku masih mematung, aku mencoba mencerna ucapan yusuf barusan.
" maaf suf, aku tidak bermaksud menggoda mu".
Entah seperti apa raut wajah ku saat ini.
Aku merasa bersalah sudah menggoda yusuf.
Mendengar penyesalan ku, yusuf kembali tersenyum tipis. Tapi kenapa senyum itu membuat tusuf terlihat sangat manis.
Astagfirullah...betapa aku tidak bisa menjaga sifat dan ucapan ku.
Bahkan aku sudah mempermalukan diri ku sendiri di hadapan orang yang baru saja aku kenal.
" hahaha... , netral kan fikiran mu fah, kita pasti bertemu lagi, jadi bersiap-siap yah, ini yang ke dua kali kau panggil aku abang ". Kini yusuf kembali menggoda ku.
Aku menunduk, menyembunyikan rasa malu ku.
" hati-hati kamu jatuh hati beneran sama mbak afiifah bang ". Nisa pun ikut menggoda ku.
Yusuf hanya terseyum sembari sembari mengeryitkan sebagian bibir nya ke atas.
" hati-hati di jalan mbak ". Nisa kembali memeluk ku saat satu taxi sudah berhenti di depan ku.
Aku hanya merespon dengan anggukan.
Aku masih malu atas perbuatan ku tadi.
" hati-hati kia, semoga nanti kita bisa ketemu lagi ya ". Anisa mengecup hangat kedua pipi kia.
Kia hanya tersenyum sembari menggoyang-goyang kan tangan ku.
" terima kasih sudah jadi teman perjalanan untuk om yusuf yah ".
Yusuf merendahkan dirinya agar sejajar dengan kia.
Kini yusuf yang mencium puncak kepala kia.
" assalamualaikum ". Aku pun menghilang di balik pintu taxi dan meninggalkan yusuf dan nisa yang masih menunggu jemputan mereka.
Aku merasa takut jika benar suatu hari nanti aku akan bertemu yusuf lagi.
Ahh mungkin lebih tepat nya aku malu.
Perbuatan ku pada yusuf adalah sebuah pelajaran untuk lebih menjaga ucapan dan tingkah laku ku.
Semoga aku tidak kehilangan rasa malu sebagai pakaian untuk ku.
Semoga dengan rasa malu aku lebih bisa menjaga sikap sebagai seorang wanita.
Aku takut, dengan hilang nya rasa malu, akan membuat ku kehilangan jati diri seorang muslimah.
Astagfirullah... Berkali-kali aku mengucap istighfar, memohon perlindungan dari allah.
" kakak capek? ". Aku melihat kia tanpa semangat.
" iya bu, kakak ingin segera sampai di rumah nenek dan atok ". Jawab kia sembari bersandar di lengan ku.
Atok adalah panggilan untuk kakek, di kota ku terutama di desa tempat ayah bunda ku di lahirkan, panggilan atok lebih banyak di gunakan dari pada kakek atau opa.
Maklum saja sebenar nya orang tua berasal dari desa kecil di kota Jambi, butuh 3-4 jam perjalanan menuju desa asal orang tua ku itu.
Aku dan keluarga pindah ke ibu kota sejak aku lulus SD, karena ayah ku harus pindah dinas ke kota.
Oh iya pekerjaan utama ayah ku adalah seorang abdi negara, yang berpangkat sebagai komisaris polisi atau yang di singkat "KOMPOL".
__ADS_1
Karena gaji ayah ku yang terbilang pas-pasan akhirnya bunda mulai membuka usaha di bidang kuliner.
Alhamdulillah sekarang usaha bunda sudah lumayan besar.
Berbeda dengan sang bunda yang hobi masak, aku sama sekali tidak tertarik dengan deretan menu di lestoran bunda.
Malah adik ku yang membuka usaha di bidang kuliner, mungkin lebih tepat di sebut Cafe.
Aku saja yang tidak tertarik dengan dunia bisnis, mungkin aku tidak punya bakat selain menjadi seorang perawat.
Aku sangat mencintai profesi ku, aku sangat suka merawat semua orang.
Melihat mereka sembuh ada rasa yang sangat membahagiakan bagi ku.
Dan membuat aku lebih sering ingat akan kematian.
Sungguh aku ingin menjadi perawat seumur hidup ku.
Tapi jalan hidup tidak pernah ada yang tau.
Mungkin suatu hari aku juga akan tertarik dengan dunia bisnis.
Oh ya.. Aku punya satu hobi yang kurasa aku sedikit ahli di bidang ini.
" Menulis ".
ketika aku mengayam pendidikan di bangku madrasah aliyah, hmmm ini setara dengan SMA.
Saat itu aku menyadari bahwa aku sangat suka menulis. Menulis apa pun. Aku punya banyak agenda dan diary tempat aku mencurahkan segala isi hati ku. Aku menulis segala macam di dalam nya, terutama aku sangat suka menulis puisi dan cerpen serta novel.
Aku pernah juara menulis cerpen untuk jenjang SMA sederat se provinsi ku.
Tentu saja itu membanggakan bagi ku.
Dan aku pernah bercerita-cita menjadi seorang penulis bersama dua orang sahabat ku.
Ahh bagai mana kabar ke dua sahabat ku itu? Sudah hampir 6 tahun kami tidak pernah bertemu, walau pun tidak pernah bertemu, tapi kami masih sering berkomunikasi lewat jejaring sosial.
Dan sekarang aku berniat untuk bertemu dan berkumpul bersama mereka.
" maaf bu kita mau kemana ya? ".
Astaga... Aku malah asik dengan fikiran sendiri sampai lupa taxi ku masih berdiam si tempat.
" maaf pak, saya lupa kasih tau, malah asik termenung ". Jawab ku merasa tidak enak.
Tanya sang sopir taxi yang mungkin usia nya hampir sama dengan usia ayah ku.
" iya pak, kita ke jalan juanda. Lorong campaka no 46 ya pak " jawab ku.
" baik bu ".
Taxi yang aku tumpangi pun melaju dengan kecepatan sedang, bahkan bisa di bilang pelan.
" macet ya pak? ". Tanya ku setelah melihat begitu banyak Antrian kendaraan di depan ku membuat taxi yang ku tumpangi terkadang berhenti.
" iya bu, apa lagi jam-jam segini, jam nya pulang kantor ". Jawab sang bapak.
" ohh gitu, hmmm kalau boleh tau siapa nama bapak? ". Tanya ku lagi.
" saya Abdurrohman bu, bisa panggil pak Man ".
Pak Man tersenyum pada ku lewat kaca yang ada di atas kepala beliau.
" hmmm baru pulang liburan atau mau pulang kampung bu? ". Beliau kembali bertanya.
" saya mau mengunjungi orang tua saya dan adik saya pak, saya baru dari jakarta dan sudah 6 tahun tinggal di jakarta pak. Mungkin ini yang di namakan pulang kampung kali y pak hehehe".
Jawab ku sedikit bercanda.
Pak Man pun ikut tertawa.
" ohh gitu, sudah lama gak pulang kerumah orang tua ya bu? ". Sambung pak Man.
" biasa nya saya pulang 1 tahun 2-3 kali pak, setidaknya setiap hari raya saya pulang ".
" hmmm... " pak Man menganggukan-anggukan kepala nya.
" sudah umur berapa anak nya bu ". Pak Man melirik kia yang kini bermain Ponsel di samping ku.
" kak, di tanya sama kakek Man, usia kakak berapa? ". Aku kembali bertanya pada kia sambil mengambil Ponsel di tangan nya sehingga dia bisa merepon pertanyaan pak Man dengan sopan.
" 5 tahun kakek, dan mau sekolah TK, iya kan bu? ". Jawab kia sembari melihat ku dan pak Man bergiliran.
__ADS_1
" iya kek, anak ibu yang cantik ini sudah mau sekolah sekarang ". Aku mencoel hidung kia dan tersenyum.
" hebat sekali, hmmm siapa nama adek? ". Tanya pak Man pada kia.
" syakia najwa, atau kak kia ". Jawab kia dengan lantang.
Kini Ponsel nya aku kembalikan pada kia. Dan Kia pun kembali melanjutkan mengotak atik Ponsel yang ada di tangan nya.
" bapak asli orang sini pak? ".
" saya asli nya dari kampung bu, di sini merantau ikut anak kerja, karena di kampung gak ada yang jaga saya ". Jawab pak Man.
" ohh gitu, sudah lama kerja gini? " tanya ku lagi.
" sudah hampir 10 tahun bu, alhamdulillah dulu di belikan anak taxi ini untuk bekerja, sehingga saya tidak merasa bosan di rumah, maklum saya hanya tinggal ber dua sama anak saya bu ". Jawab pak Man panjang.
" ohh gitu ". Aku mulai bingung mau bicara apa. Aku takut banyak bicara kembali membuat masalah, seperti kejadian ku sama yusuf tadi.
Ahhh kenapa aku malah ingat dia.
Astagfirullah...
" maaf bu saya banyak bicara, heheh.. Kalau ibu capek dan mau tidur, tidur saja bu, nanti saya bangun kan kalau sudah masuk perumahan ". Pak man kembali melihat ku, tapi kali ini pak Man menoleh ke arah ku di belakang.
" tidak apa pak, saya juga ingin menikmati suasana kota ini, rasa nya sudah lama sekali saya meninggal kota ini ". Aku membalas pandangan pak Man.
" kemungkinan kita akan lebih lama sampai bu, karena jalan menuju rumah ibu termasuk area macet terparah ". Kata pak man.
" ohh ya?, biasa nya dulu waktu saya pulang 6 bulan yang lalu tidak separah sekarang deh pak" jawab ku sedikit tidak percaya dengan ucapan pak Man.
" mungkin sekarang warga Jambi sudah pada kaya bu, sudah lebih banyak punya kendaraan sekarang ". Canda pak Man.
" hahaha... Aamiin, semoga saja ya pak, semoga saja semua orang punya ekonomi yang lebih baik ". Aku tertawa mendengar jawab pak Man.
" aamiin bu, tapi betul bu saya baca koran berita Jambi, kalau pendapatan dan ekonomi di provinsi Jambi makin meningkat ". Ohh ternyata pak Man serius. Aku kira tadi nya pak Man cuma bercanda saja hehehe.
" alhamdulillah kalau gitu pak, semoga kita semua bisa hidup dengan layak dan semoga bisa terus bersyukur ". Aku kembali tersenyum.
" betul sekali bu, kadang bapak heran ngomong nya susah, barang - barang kebutuhan rumah tangga mahal, tapi beli mobil sanggup bayar cicilan bisa, padahal tanpa mobil juga masih bisa kemana mana - mana di kasih bantuan pemerintah malah tidak di gunakan dengan baik".
Aku tertawa mendengar keluhan panjang pak Man.
" traveling pak, buka tereleping ". Aku membetul kan ucapan pak man.
" ahh iya itu, maklum bu saya sudah tua gak ngerti dengan dunia anak muda jaman sekarang ". Jawab pak Man lagi.
Aku kembali tersenyum menanggapi ucapan pak Man.
" gak papa pak, lagian kebutuhan hidup seseorang kan berbeda, mungkin sebagian dari mereka berfikir mobil menjadi kebutuhan utama mereka, dan setau saya bantuan dari pemerintahan itu bermacam - macam pak, yang lebih di utama kan memang orang yang membutuhkan, contoh nya seperti anak sekolah, itu memang ada bantuan khusus untuk anak sekolah ". Aku mengeluarkan pendapat ku.
" ohh gitu y bu, saya kira semua bantuan itu untuk orang miskin saja, karena kadang anak orang kaya pun bisa dapat bantuan dari sekolah ". Timbul pak Man lagi.
" di sekolah juga ada program anak berprestasi pak, jadi entah dia kaya atau miskin, anak-anak ini akan dapat penghargaan dari sekolah, semacam bantuan juga, tapi mungkin tujuan untuk meningkatkan semangat belajar anak-anak. " aku kembali tersenyum.
" ohh gitu, baru tau bapak bu, maklum bu saya tidak berpendidikan tinggi, sekolah cuma tamat SD, tapi alhamdulillah anak saya bisa sarjana ".
" zaman dulu mah memang jarang ada orang yang berpendidikan tinggi pak, tapi alhamdulillah tidak jarang orang tua mampu mendidik anak-anak mereka menjadi orang hebat dan berbudi luhur, termasuk bapak, bapak juga hebat bisa mengantarkan anak bapak menjadi seorang sarjana "
" sekarang kebanyakan larangan ya bu, ". Pak Man masih terus bicara.
" sekarang ilmu pembelajaran semakin maju pak, semakin banyak metode-metode pembelajaran baru dari para ilmuan - ilmuan baru ". Jelas ku.
" wah tak di sangka saya dapat penumpang yang asik di ajak bicara sore ini ". Pak Man menatap ku lagi, tapi kali ini dengan ucapan pujian.
" ah bisa saja bapak, alhamdulillah ya pak kita sudah mulai keluar dari kemacetan pak ".
Aku sudah mulai melihat kendaraan di depan kami mulai melaju dengan bebas.
" iya alhamdulillah. Sudah hampir 40 menit kita terjebak macet ya bu ".
Pak Man melirik arloji di tangan kiri nya.
" iya pak alhamdulillah, lumayan lama y pak macet nya, biasa nya dari terminal kerumah hanya memakan waktu 30 menit, sekarang lama hampir 1 jam hehe ". Aku menanggapi ucapan pak Man.
" betul bu, tapi jujur saja kemacetan ini kadang - kadang merugikan para supir taxi seperti saya bu, teman-teman bapak juga sering mengeluh " pak Man lagi-lagi mengeluarkan keluhan hati nya.
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan pak Man.
Seperti nya begitu banyak keluhan dari pak man yang tersimpan dalam hati nya.
" kita sudah hampir sampai rumah ini bu ". Pak Man membuyar kan lamunan ku.
Ahh kenapa jantung ku berdebar gak tenang sekarang, aku sudah tidak sabar untuk memeluk dan mencium bunda ayah dan fariz.
__ADS_1
Aku sudah membayang kan besok pagi sarapan dengan nasi goreng spesial buatan bunda, nasi goreng yang sudah membuat aku tumbuh besar seperti sekarang. Hahaha
" kita sudah sampai bu ". Pak Man menghentikan taxi nya di depan rumah berlantai dua yang di cat dengan warna biru fink.tentu saja Rumah orang tua ku tapi seolah - olah aku lah pemilik nya. Karena rumah ini di desain atas ke inginan ku.