Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 42


__ADS_3

"Stttt..." Aku memberi isyarat agar Fariz diam.


Yusuf berdoa dengan khusus, perlahan aku mendekat dan berjongkok di samping Yusuf, sedikit jauh.


Ia menoleh, "Makasih sudah jenguk Kia Om Yusuf."


"Kia sudah bahagia... Sekarang om Yusuf yang harus bahagia."


Ia hanya diam, menyeka sisa air matanya.


"Aku balik ke mobil ya Kak, Bang Satria... Aku tunggu di mobil ya." aku dan Yusuf hanya melihat sekilas, aku mengamgguk.


"Maafkan Om Yusuf sayang..." Yusuf mengusap nisan Kia. "om Yusuf gak bisa jaga Kia dengan baik, gara-gara om Yusuf Kia seperti ini."


"Maafkan aku Afiifah..." Yusuf menatapku lekat.


"Maafkan aku... Aku sudah membuat kamu kehilangan Kia."


Aku menggeleng. "cukup menyalahkan diri kamu Suf, lihat aku... Aku ibunya, tidak ada yang mencintai Kia melebihi cinta aku untuk Kia, tapi aku tau... Kia hanya titipan, cuma sampai disini Allah memberi kepercayaan pada kita untuk menjaga Kia."


"Kamu pun harus belajar ridho dengan segala keputusan Allah, kehadiran kamu dalam hidup Kia sudah membuat Kia sangat bahagia. Percayalah... Kia juga tidak akan menyalahkan kamu dalam hal ini, ini murni kecelakaan, bahkan aku tau... Kau sudah berusaha menyelamatkan Kia saat itu."


Pandangan Yusuf lurus kebawah. Tidak ada yang ingin ia bicarakan.


"Mereka yang menabrak kamu dan Kia juga sudah berkali-kali datang kerumah minta maaf sama Bunda, Ayah... Mami Papi, tapi aku memang belum pernah bertemu mereka, tapi aku sudah memaafkan mereka."


"Aku melihat tubuh Kia berselimbah darah, kenapa harus Kia yang menjadi korban keteledoran mereka? Kenapa bukan aku saja yang jadi sasaran mobil mereka? Kia masih berhak hidup lebih lama, Kia yang lebih bisa membuat kamu bahagia!" Air mata Yusuf kembali berderai.


"Kamu juga tidak berhak atas hidup Kia, bisa apa kamu kalau Allah ingin mengambil Kia kembali?"


"Kamu tidak ingin berusaha lagi membuat aku bahagia?" tak sengaja beradu tatap.


Yusuf hanya mengeleng. "Ntahlah, aku merasa tidak pantas."


"Kenapa? Kamu sudah lelah menunggu aku selama bertahun-tahun?" Sontak Yusuf menatapku dengan kerutan didahinya.


"Aku tau Suf, aku lah wanita yang selama enam tahun ini kamu tunggu, aku wanita yang sering kau minta dalam doamu, aku wanita yang pernah kau doakan untuk berpisah dari suaminya. Egois kamu..." Aku tersenyum sinis.


"Apa maksud mu?"


"Maksud ku? Kamu tau apa yang aku maksud."


"iya... Tapi kenapa kau bilang aku egois? Aku tidak pernah memaksa kamu untuk meninggalkan suami kamu! Aku tidak pernah mengganggu rumah tangga kalian, dia saja yang tidak pantas untuk kamu, jodoh kalian sudah berakhir, iya... Aku sering berkhayal dan berdoa bersama denganmu." Yusuf membuang muka.


"Iya... Kamu memang tidak pernah mengganggu pernikahan kami, tapi sadar atau tidak, mungkin secara tidak langsung doa kamu yang Allah kabulkan, kamu pernah cerita sama Fariz, kalau kamu sering berharap dan berdoa agar aku pisah dari mas Haikal." Aku kembali tersenyum sinis.


Ia kembali membisu.


"Tapi apa ini! Setelah aku benar-benar berpisah dan belajar menerima lamaran kamu, dengan tanpa alasan jelas kamu membatalkan lamaran kamu! Mencampakkan aku setelah kamu junjung setinggi-tingginya. Sakit."


"Mungkin dulu kamu ingin bersama ku karena ada Kia, dapat bonus Kia, huhf... Kau tau, betapa Kia ingin kamu bahagia? Betapa besar rasa sayang Kia ke kamu?"


"Kia pernah bilang... Tak masalah jika mas Haikal sudah tidak menyayangi Kia lagi, Kia sudah tak pernah meminta mas Haikal lagi dalam doa sebelum tidurnya, tapi kamu... Mendapat kasih sayang darimu yang ia harapkan."


"Kia tidak akan menyalahkan kamu Suf, jadi berhenti lah menyalahkan diri sendiri, Kia sudah cukup bahagia dalam hidupnya yang sebentar ini bisa bersama kamu, lepaskan beban dan rasa bersalah kamu, percayalah... Takdir kita sudah Allah tulis."


"Bagaimana aku bisa melupakannya begitu saja! Bagaimana aku tidak merasa bersalah? Kia seperti ini saat bersamaku, aku tidak mengetahui kalau waktu itu Kia mengikutiku dari belakang, sampai aku mendengar suara dentuman keras, aku melihat mobil itu membanting setir kearah Kia, maafkan aku Afiifah, maafkan aku tidak bisa menjaga amanahmu untuk menjaga Kia dengan baik, aku memang tidak pantas bersama kalian."


Melihat Yusuf menangis sungguh aku tidak tega. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Memeluknya tidak mungkin.


Andai saja waktu itu aku segera menerima lamaran Yusuf, saat ini kami bisa saling menguatkan dan Kia bisa bersama Yusuf setiap saat sebelum kepergiannya.


"Maafkan Ibu nak." Air mataku ikut mengalir.


"Makasih juga sudah menjadi bagian terindah beberapa tahun ini, sungguh Ibu sangat bersyukur diberi waktu walaupun sebentar menjaga Kia."


"Tau tidak...? Kia itu punya kelebihan yang tidak dimiliki semua orang." aku melirik Yusuf. Ia masih diam.


"Kia itu pemberani. Ia bisa melihat yang tak bisa kita lihat, sering kali ia bercerita punya teman yang tidak bisa aku lihat. Pernah suatu ketika ia merasa takut, katanya melihat raksasa besar hitam didalam rumah kami dulu. Ia sampai gemetar dan menangis kencang."


"Aku tau..." Sela Yusuf. "Kia juga pernah tanpa sadar mengatakan kalau ia melihat orang-orang berjalan banyak didepannya, beberapa kali aku mendengar Kia seolah menyapa balik orang orang yang menyapanya. Aku tau Kia anak hebat, kuat dan ia... Kia berbeda, Allah berikan ia kelebihan." Yusuf mengambil nafas dalam.


"Tapi sayang... Aku tak bisa menjaganya lagi, salah satu nikmat terbesar dalam hidupku, adalah bisa bertemu Kia dan menyayangi Kia sepenuh hati. Aku hanya belum bisa menerima kenyataan untuk kehilangan Kia secepat ini, kia bukan hanya putrimu... Dia juga anakku." Pandangan Yusuf mengahapar, kosong.

__ADS_1


"Aku tidak menyesal dulu pernah melepaskan kamu untuk mantan suami kamu, tapi jujur saja... Aku sangat bahagia dan bersyukur atas perpisahan kalian."


"Hmm" Yusuf tersenyum sini. "Aku tidak menyesali kejatahan aku yang bersyukur dan bahagia diatas penderitaan kamu dan Kia." Dahiku berkerut mendengar ucapannya.


"Kamu bersyukur aku dan Kia sedih?" Aku menatap Yusuf lewat.


Smga mengaanguk. "Tapi itu dulu, sekarang aku malah merasa bersalah, seandainya saja kalian tidak pergi dari jakarta, kalian pasti tidak akan ada disini, dan tidak akan bertemu aku, tidak akan membuat Kia kecelakaan, dan Kia tidak akan seperti ini, sekarang aku sangat menyesal. Kau benar... Aku egois."


Ahh menyesal rasanya tadi mengatakan Ia egois, niat hati ingin ia bangkit, tapi ternyata malah membuat Yusuf semakin merasa bersalah.


"Seandainya aku dan mas Haikal belum berpisah, takdir hidup Kia pun akan tetap sama, hanya mungkin berbeda cara Allah mengambil Kia. Tolong... Jangan buat Kia merasa bersalah sudah membuat kamu bersedih, aku ibunya... Terimakasih sudah menyayangi Kia dengan tulus, tolong selalu doakan Kia, percayalah... Kia sangat bersyukur bisa bertemu kamu dan mendapatkan perhatian serta cinta darimu."


"Ayo pulang... "


"Sudah masuk asar."


"Mulailah belajar untuk menerima kepergian Kia."


" Aku tak pernah menyalahkan kamu atas kepergian Kia, ujian ini sangatlah berat bagiku, tapi aku tau Allah sedang ingin aku lebih banyak mengingat-NYA dan Allah sedang mencintaiku saat ini."


Aku berdiri dan sekilas melirik Yusuf. Melihat Yusuf yang sekarang tampak lemah membuat hatiku sakit, ternyata benar, aku sudah jatuh hati pada Yusuf.


"Aku balik duluan, Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." Yusuf masih berdiam ditempat.


Perlahan aku mulai melangkah menuju meninggalkan Yusuf.


"Kia... " Langkahku terhenti, nada panggilan ini pernah kedengaran ketika dulu ia memintaku menjadi teman hidupnya.


Aku menoleh,tanpa membalikkan badan."hmmm?"


"Ada apa?" Yusuf tertunduk. Sungguh aku melihat kesedihan didalam mata Yusuf. Ia bak seorang ayah yang sangat kehilangan putri tercintanya.


"Sekali lagi maafkan aku Afiifah, maaf atas keteledoran aku menjaga Kia. Dan... Maafkan aku yang membatalkan lamaranku jika itu membuatmu sedih."


"Tak apa Suf, masalah Kia... Aku katakan lagi, itu bukan salah kamu, aku percaya segala ujian ini akan jadi anugerah, aku hanya belajar untuk selalu ridho dengan qada dan qadar Allah."


"Dan untuk masalah kita... Perasaan itu datang dari Allah, Allah mudah sekali membolak balikan hati kita, aku pernah membaca sebuah kalimat dari Ali bin Abi Thalib "cinta itu tak bisa dinanti, ambil ia dengan penuh keberanian atau lepaskan ia dengan penuh keridhoan" , kini kamu sudah melakukan hal yang benar, mungkin Allah memang tidak menciptakan kita untuk bersama."


"Semoga kamu bisa mendapatkan pendamping hidup didunia dan disurga, yang sholihah, yang menjadi pengobat disemua rasa sakitmu."


"kamu laki-laki yang baik, sholih inyaAllah... Kamu akan segera bertemu."


"Makasih Afiifah..."


"Hmmm..." Aku kembali tersenyum, ada sedikit rasa takut kehilangan Yusuf, tapi tidak... Ini tidak benar, ini salah.


"Sekali lagi terima kasih sudah ada untukku dan Kia dalam beberapa bulan ini, semoga kamu selalu bahagia Suf, segera lah menikah jika sudah menemukan perempuan terbaik, keburu berumur hehehe."


"Aku duluan yah, assalamualaikum."


Dengan perasaan tak menentu aku meninggalkan Yusuf, sesekali aku menoleh kebelakang, Yusuf masih betah berlama-lama dimakam Kia, sesekali pula aku melihat ia seperti sedang berbicara. Ntah apa yang ia ceritakan pada Kia.


"Ya Allah... Kemana Fariz?" aku tersadar, mobil Fariz tidak lagi disana.


"Apa Fariz pulang duluan? Ck... Tu anak." Aku menghentikan laju mobil.


Aku mencroll mencari nama kontak Fariz.


"Assalamualaikum... Hehehe."


"Wa'alaikumussalam, ehh malah ketawa, dimana kamu?" Aku bisa membayangkan ekspresi muka Fariz sembari menampakkan penuh giginya.


"Kamu ninggalin Yusuf sendirian disini? Memang adek gak ada akhlak kamu."


"Maaf kak, habisnya kalian lama! Aku udah kangen Nisa soalnya, hehehe... Kak tolong donk antarin bang Satria pulang! Please... "


" Ck... Kakak udah pulang, kakak baru sadar kalau tadi mobil kamu udah gak ada." Aku sedikit berbohong.


"Ya Allah kak, tolong jemput lagi."


"Gak mau lah kakak, kan tadi kamu yang bawa dia! Lagian kenapa juga harus ditinggal." Aku kesal.

__ADS_1


"Kak... Kalau bang Satria pulang sendiri kasian, dari TPU keluar cari ojek, golek taxi atau apalah itu, jauh... Nanti kalau kepalanya sakit lagi gimana? Please kak... Tolong."


"Sukurin kamu, lain kali bertanggung jawab bawa anak orang."


"Ya elah kakak... Bang Satria mah laki, kuat dia mah, tapi masalah sekarang bang Satria baru saja bangkit dari kematian, nanti kalau bekas operasi nya bermasalah gimana?"


"Ihhh... Kamu tu yah, suka kamu liat kakak berdoa berdua-dua sama Yusuf, buka muhrim." Sumpah aku kesal dengan sikap Fariz, aku tau dia pasti sengaja.


"Ya udah atuh kak, nikah aja... Biar jadi muhrim. Heheh assalamualaikum, tolong jemput abang ipar ku kak, Please."


"Ck... Ini anak, Wa'alaikumussalam."


"Huff.. "Aku membuang nafas berat.


"Sudahlah... Kasian juga kalo dia harus pulang keluar cari taxi." menolongku.


Dari jauh aku bisa melihat Yusuf kebingungan, tak sadar bibirku tersenyum. Ia tampak sedang berbicara dari telpon, sesekali ia mengusap tengkuknya. pasti lagi berbicara dengan Fariz.


"kikkk..." Ia menoleh mendengar klaksonku.


"Afiifah! Kok balik lagi?" Ia menghampiriku.


"Hmm. Tadi Fariz telpon, katanya dia pulang duluan, kamunya lama, dia udah rindu berat sama Nisa." Aku tersenyum.


"Ayo aku antar kamu pulang!" perintahku, dengan patahan leherku.


"Ck... Fariz apa-apa aja. Gak usah, gak papa, aku bisa jalan kedepan cari taxi atau gojek." Ia menolak dengan merentangkan kedua tangan didepan dadanya.


"Udah sore, gak gampang cari taxi, lagian dari sini kedepan lumayan jauh, kamu baru juga sembuh. Aku antar aja. Ayo... "


"Hmm..." Ia tampak ragu.


"Ayo... Gak papa, aku antarin kamu selamat sampai rumah." Aku nyegir kuda.


"Oke. Maksih sebelumnya, ayo." Ia masih bengong depan pintu mobil sampingku.


"Iya ayo! Kamu ngapain masih diluar?" bingung. Ngajak ayo tapi ia masih bengong diluar mobil.


"Lho! Kamu nya mbokyo pindah, gimana aku mau naik kalau kamu masih dibangku kemudi!" balas Yusuf.


"Yang suruh kamu bawa mobil siapa? Duduk disamping. Hari ini aku akan jadi sopir pribadi kamu." Sedikit tersenyum.


"Ck... Gak lah, aku laki. Masak kamu yang nyopirin aku? Ayo pindah!" Ia membuka pintu mobil.


Aku masih duduk cantik. "Ayo... Aku pegang ni tangan kamu kalau gak mau pindah." Tangannya mendekati tanganku yang memegang setir.


"Eh... Bukan muhrim." Segera aku pindah tempat.


"Dari tadi kek." rutuknya. Sembari ngambil posisi dikemudi.


"Benaran kamu udah kuat bawa mobil?" Tentu saja aku takut dan cemas, bukan hanya takut ia Kenapa-kenapa, tapi aku juga takut kalau ia nanti terjadi sesuatu.


"Iya gak papa, jangan takut! Aku pasti hati-hati. Belum nikah akunya, belum mau mati!" Pandangannya fokus pada jalan.


Aku hnya tersenyum mendengar curhatannya.


"Prnah beriman itu harus selalu siap mati." aku ikut menghamparkan pandangan keluar jendela.


Ya Allah... Setelah sekian lama tidak merasakan gugur saat bersama laki-laki, ini kali pertama setelah beberapa tahun lalu mas Haikal membuat kejutan ulang tahunku, yang membuat aku bahagia sehingga jatungku berdetak tak beraturan.


Setelah mas Haikal berpindah hati, aku lupa bagaimana rasanya berdebar-debar karena jatuh cinta.


"Astagfirullah... "Aku mengucap istighfar sembari mengusap pelan dadaku. Ampuni aku yang penuh dosa ini ya Allah. Aku belum mampu mwngontrol nafsuku secara penuh, aku masih merasakan jatuh cinta pada pria disampingku ini.


"Kenapa?" Yusuf melirikku.


"Apanya?" pandanganku masih keluar jendela.


"Itu tadi kok istighfar? Takut berdua sama aku?"


"Ck... Udah, yang fokus nyetirnya, nanti malah gak bisa merasakan menikah."


"Hahaha... "

__ADS_1


Setelah beberapa saat diperjalan, sampaikan didepan sebuah rumah yang cukup megah dengan dua lantai. Rumah Yusuf.


Aku segera pamit dan pergi meninggalkan kediaman Yusuf, aku ingin segera sampai rumah, gerah... Pengen cepat ketemu air.


__ADS_2