
Usai menitipkan Kia ke rumah nenek kakek nya ( orang tua dari suamiku) aku segera melaju ke tempat kerjaku. Memang selama ini di saat aku bekerja Kia selalu aku titipkan di rumah mama dan papa, aku masih bersyukur Kia di asuh ke dua mertuaku, setidaknya nya aku tidak perlu kewatir saat bekerja, karena aku pun tau ke dua mertua ku sangat mencintai Kia, maklum saja selama ini mereka tidak memiliki anak perempuan, arti nya ke tiga saudara suamiku semua nya laki-laki, cucu-cucu nya pun semua laki-laki, Kia benar-benar di perlakukan bak seorang putri, terkadang dia bertingkah sungguh manja dan egois.
Sesampai nya di rumah sakit aku langsung menuju salah satu ruangan yang bertulisan ICU, di ruangan ini lah aku di Tugas kan, awal nya aku sedikit berat untuk menerima SK-ku di ruangan ini, karena aku tau pekerjaan nya pasti sangat berat, tapi pada ahir nya aku bersyukur.
sangat banyak pelajaran dan ilmu yang ku dapat di ruangan ini, mulai dari alat-alat yang dulu sangat asing, hitung-hitungan dosis obat yang selalu membuat aku pusing dan lain semacam nya, benar kata pepatah "kita akan bisa ketika kita terbiasa" itu lah yang terjadi sekarang. Seolah-olah otakku sudah lancar bak jalan tol ditengah malam.
Yah... maklum saja ini baru pertama kali aku bertugas di rumah sakit, karena awal dulu aku hanya perawat di sebuah puskesmas di desaku, desa kelahiranku. Setelah lulus kuliah dan dapat "surat tanda registrasi" aku memutuskan untuk hidup didesa, sekalian tinggal bersama nenek dan atok.
Di ruangan ini, selain dari ilmu, yang kudapat, tidak sedikit aku mengurus jenazah, aku yang sangat penakut kalau sudah perawatan jenazah sudah pasti aku akan merepotkan siapa saja teman ku bertugas malam itu, cewek cowok aku gak peduli, hehehe...
"Assalamualaikum kak." Sapa ku. Tampak seorang perawat yang fokus dengan lembaran laporan yang sangat besar didepannya.
Ia teman satu ruangan kerja dengan ku, salah satu teman terdekat. Sahabat, iya kami sudah mengganti gelar pertemanan kami ke tingkat sahabat.
"Wa'alaikumussalam! kok tumben gak telat fah?" Sekilas ia melirik jam di tangan nya yang kemudian melihat ke arahku seakan-akan dia tidak percaya malam ini aku datang lumayan cepat, 15 menit sebelum jam absen habis.
"Hehehe... Lagi rajin aku mah kak." Jawab ku santai.
"Kamu datang sendiri fah, gak sama ana?" Tanya wanita cantik itu lagi yang biasa kupanggil kak Nada.
"Lho gak tau. Emangnya kak Ana dinas malam kak? biasa nya dia telpon aku. ajak barengan, jadi aku betul-betul gak tau." Menuju loker nomor 04, dan aku segera mengganti pakaian untuk dinas. Dan menghampiri kak Nada. Ruangan ini semi steril. Jadi harus ada pakaian khusus untuk berjaga.
Tok tok...
"Assalamualaikum!" Krekkk... Suara pintu didorong. Serentak aku dan kak Nada menoleh.
"Nah ini yang di omongin datang, panjang umur kamu kak." Sambung ku
"Jawab dulu salam nya." protes kak Ana, "Kebiasaan kamu." Dia juga berlalu meninggalkan Aku, segera menuju ruang ganti.
"Hehe... Waalaikumussalam kak." Aku memeluk nya. "Kakak bawa makanan apa? Kenapa gak ngabarin kalau kakak juga dinas malam ini?, perasaan di jadwal bukan kakak deh?" Aku mencoba menginggat tadi malam jadwal dinas yang kulihat.
"Apa aku yang salah ya?" Aku mengarahkan tunjuk pada hidungku.
"Ah sudahlah." Aku menggeleng. Memutar kekiri kekanan kepalaku sembari mata tertutup.
aku duduk di samping kak Ana, sambil mencomot salad buah yang baru di bawa nya, yang ada di depan kami. Kami sudah terbiasa makan satu sendok untuk beramai-ramai. Tak pernah ada jijik atau sungkan lagi.
Maklum saja, kami bukan hanya sekedar berteman di rumah sakit tapi kami sering berkumpul bersama. Kami bahkan sudah bak keluarga, karena kami memang sudah cukup lama bersama, hampir lima tahun dan alhamdulillah kami tidak pernah bertengkar. yahh... walaupun pernah berselisih paham, menurutku itu biasa.
Aku sangat bersyukur memiliki mereka di sini karena memang aku tidak memiliki saudara lain selain keluarga suamiku.
"Iya... tadi harus nya si Fahran yang dinas, tapi dia mendadak ada urusan jadi minta aku yang gantikan jadwal dia!" Samsung kak Ana, sambil mengamati layar monitor dari sisiku.
Kami memang sudah terbiasa saling tukar jam dinas, apa lagi... kalau ada keperluan mendadak. karena kalau mau izin sudah pasti tidak bisa, harus ada pengganti yang lain, jadi alternatif lain nya... Ya, seperti kak Ana dan bang Brfan gini, kalau di dunia kerja kami nama nya HUTANG DINAS hahahaha....
Ini lah yang membuat sedikit penat ku hilang, sebenarnya aku tipe orang yang tertutup masalah rumah tanggaku. Bukan karena tak percaya pada mereka yang sudah ku anggap bak saudara, hanya saja aku takut terlalu terlena bercerita sampai lupa membuka aib keluarga, aku sangat menjaga nama baik suamiku. Dimata para sahabat ku, keluarga kami sangat sempurna, suami yang begitu baik, sabar, mapan dan humoris!
"Oke...ada yang mau di tanyakan?" kak Nada mengakhiri overship. Itu arti nya, jam dinas dan tanggung jawab pasien sudah berada ditangankuku dan kak Ana.
"Jadi nanti kalau obat yang di shiring pump dopamin ini habis langsung aku stop ya?" Kak Ana menunjuk satu alat yang melekat ditiang infus. "gak perlu lapor dokter jaga lagi?" Kak Ana memperjelas dan mengulangi penjelasan kak Nada.
"Iya, tapi kalau mau lapor untuk mengkonfirmasi ulang juga gak papa sih eonni, setidaknya nanti tidak terjadi kesalahan, karena memang tensi nya gak naik-naik, kata Dokter Dara coba di stop dulu satu, kita coba pakai dosis dobutamin tunggal saja, soal nya kan udah seminggu tapi belum juga stabil eonni." Kami mantap wajah pasien didepan kami yang tampak tertidur. Masih sadar penuh.
Kak Nada memperjelas lagi sambil memandang wajah pasien kami.
"Oke lah, udah ngerti aku. Siapa dokter jaga malam ini?" Entah pada siapa pertanyaan itu kak Ana lontarkan.
"Gak tau kak, hmmm tadi kayak nya dokter nadia deh." Jawabanku dengan ragu.
Aku dan kak Ana mulai bekerja, ya... pasien kami hanya satu tapi, bisa di pastikan kami tidak akan tidur malam ini, selain kondisi nya yang masih belum stabil, juga suasana ruangan yang sangat dingin, maklum saja di sini AC 24 jam wajib stanbay. Karena harus mendinginkan alat-alat yang selalu menyala, dan sial nya lagi, aku dan kak Ana sama-sama alergi pada dingin, ini adalah masalah terbesar kami berdua, sudah bisa di pastikan kami akan filek sepanjang malam.
__ADS_1
Untuk mengatasi masalah filek yang tak pernah sembuh ini, alternatif kami memakai masker, bahkan kadang sepanjang malam. Jika sudah tidak tahan, obatlah pelarian kami.
"Aki pulang dulu ya nun, Fah." pamit kak Nada.
"Hati-hati yah kak, titip ciuman untuk anak ganteng y kak."
"Oke..." Kak Nada membentuk tangannya huruf O, "Aku balik yah, fighting, semangat Fah, semangat eonni, semoga Aman-aman yah."
Ia berjalan meninggalkan kami berdua sambil mengangkat ke dua lengan tangan nya memberi semangat pada kami.
Eonni... Hampir menjadi panggilan sayang kami, (teman-teman in the gankku) kami berteman lumayan banyak, dan tentu saja kami semua pecinta drakor, hahaha...
Tak ubah nya dengan ku, beda nya aku gak suka drama yang pelakor-pelakor sperti mereka, aku lebih suka drama komersial alias kerajaan.
Eonni... yang artian saudara perempuan, kadang mereka pun tanpa belajar khusus bisa hapal kosa kata dalam bahasa korea.
Dret... Dret... Dret.....
Suara getaran ponselku,
Aku pun tersenyum melihat siapa yang menelpon ku.
" Assalamualaikum anak ibu." aku melihat wajah ceria dari balik ponsel.
"Wa'alaikumussalam Ibu, Ibu lagi sibuk ya?"
"Iya lah, kan ibu lagi kerja, kenapa sayang?" Aku menaruh Ponselku di depan, agar sambungan video call kami lebih jelas dan aku bisa sambil melanjutkan pekerjaan ku.
"Tidak papa, kak Kia pun cuma mau call Ibu, ya sudah ya... selamat bekerja Ibuu, mmmuaach! assalamualaikum." Sungguh penyemangat ku dan pengobat segala lelah ku.
" Wa'alaikumussalam sayang." Ia pun mengakhiri panggilannya.
Aku gukir kontak di Ponselku mencari nama yang tertulis" suami" disana, kemudian aku tekan memanggil.
Tutt..
Langgilan ku terputus, dan aku mencoba memanggil lagi, sampai berkali-kali tapi tetap dengan hasil yang sama. Ahir nya aku menyerah, aku mulai sedikit gelisah, hati ku mulai menduga-duga dan bertanya-tanya tentang suami ku.
Aku kembali melanjutkan pekerjaan ku dengan penuh tanggung jawab.
sudah hampir tengah malam, pekerjaan kami pun mulai santai, tapi mata ku mulai tidak bersahabat terkadang aku tertidur di kursi ku dengan meja sebagai penopang kepala ku, aku masih menunggu suami ku menelpon tapi sia-sia saja, ahir nya aku putuskan kembali menghubungi nya.
Kali ini panggilan ku di rijec.
Dreett... Ponselku bergetar, aku buka aplikasi whatshap, dari nya.
"Gk usah telpon, aku lagi jalan." βοΈ isi pesan nya.
Jleb.... Spontan berdesir hati ku, sesak sekali dada ini, ini sudah tengah malam tapi dia baru pulang
"Dari mana kamu mas?" Aku membalas pesan nya.
"Rumah teman, ini sudah pulang." Balasan pesan lagi.
Aku tutup Ponselku, aku abaikan pesan nya, aku masih mencoba memberi ketenangan pada hati dan pikiran ku
Mungkin dia lelah mencari pekerjaan seharian ini, batinku.
Sudah lah... Aku memutuskan untuk menonton drama korea saja, aku mencoba mencari drama yang lucu di situs drakor. Id.
***
__ADS_1
Usai sudah pekerjaan ku, sampai di rumah yang terpikir hal pertama yang ingin aku lakukan adalah tidur, setelah berjaga sepanjang malam.
memang selama ini biasa nya pulang dinas malam kalau tidak bisa tidur di rumah sakit, aku mengabaikan semua tugas dan tanggung jawab ku di rumah, aku akan memilih untuk istirahat terlebih dulu, bukan karena aku benar-benar mengabaikan atau bermalas-malasan, aku hanya memberi sedikit tenaga untuk tubuh ku, aku juga harus sehat.
"Kamu mau tidur?" Tiba-tiba aku ke bangun mendengar laki-laki yang ku panggil suami itu mengaget kan ku.
"Iya mas, sebentar saja dua jam pun tak papa, semalam aku gak tidur sama sekali." Amu mengubah posisi menghadap nya.
"Jangan lama-lama tidur nya, tadi mama telpon suruh jemput Kia, mama sama papa mau pergi ke acara nikahan anak teman nya papa." ia berbicara pada ku tapi pandangan nya pokus pada handphone nya.
"Gak bisa kamu dulu yang jaga kia mas? aku benar-benar capek mas, kamu kan juga belum kerja."
Braaakkkk....
Dia memukul meja di depan nya,
"Terus kenapa kalau aku gak kerja? Aku gak kerja juga bukan ke mauan ku kan? kalau kamu capek kerja gak usah kerja, baru juga kerja sebentar udah sok capek, memang dasar kamu itu dari dulu terlalu sering bermalas-malasan."
"Mas aku gak bohong! aku benar-benar capek mas, aku kan cuma minta tolong sebentar mas, aku cuma butuh dua jam saja untuk tidur." Nada bicara ku mulai memelas.
"Ahh! gak nafsu aku melihat wajah mu." ia bangkit dari duduk nya dan pergi meninggalkan rumah.
'Aku harus sabar, harus sabar... ' batin ku sembari mengusap dadaku.
Lenyap sudah rasa ngantukku, sudah hilang ke inginkanku untuk tidur, aku mulai benar-benar lelah, hampir setiap hari selalu pertengkaran seperti ini yang terjadi.
Ahir nya aku bangun, aku putuskan untuk memasak dan mencuci, rasa mengantuk ku benar - benar sudah pergi, seolah-olah takut untuk kembali karena bentakan suami ku tadi.
"Assalamualaikum ibu... " Kia datang bersama mama dan papa ku.
"Wa'alaikumussalam... Ulu Ulu... Anak baik ibu sudah pulang?" Aku merenggangkan ke dua tangan ku untuk menyambut peluk kan nya, aku ciumi seluruh wajah nya dengan sepenuh rasa cinta dan rindu, berpisah semalaman dengan kia membuat aku benar-benar rindu.
"Mama mau pergi dulu ya, nanti kalau bawa Kia dia pasti rewel minta pulang cepat." Mama muncul di belakang Kia.
"Iya mas, gak papa, Kia di tinggal saja." Jawab ku, tak lupa tersenyum.
"Kemana Haiikal?"
"Hmmm tadi gak bilang ma kalau mau pergi." Jawab ku lagi.
Haikal adalah putra nya yang otomatis dia lah suami ku, Haikal Efendi. Dia anak ke 2 dari 4 bersaudara, yang selama ini aku panggil dengan gelar suami.
"Ohh ya udah , mama pergi dulu yah."
"Iyaa ma."
Aku mengantar wanita yang sudah tidak lagi muda itu sampai ke depan rumah, kedua mertua bukan tidak tau kalau suamiku tidak bekerja dan suka main dilarang. tapi mereka hanya diam saja, sekedar menasihati pun tidak pernah, entah mereka tidak mau ikut campur, atau tidak peduli atau juga mereka tidak mau anak mereka lelah dalam bekerja.
Karena selama ini memang kedua mertua ku sedikit memanjakan suamiku, karena hanya mas Haik anak nya yang ada didekat mereka, ke tiga putra mereka memilih untuk tinggal di kota lain.
Mas Haikal memang tidak pernah merasa resah ketika di rumah tidak ada makanan, atau perlengkapan dapur untuk dimasak. karena beliau lebih sering di rumah orang tua nya.
"Eh kakak udah minum susu?" Aku memandang wajah putriku dengan rasa gelisah dan sedih, banyak sekali yang aku fikirkan tentang masa depan dia, aku terlalu takut untuk tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk nya.
"Belum Bu, tadi habis mandi kata nenek nanti minum susu nya di rumah saja, nenek dan kakek buru-buru." Kia menjawab dengan senyuman, betapa bahagianya menjadi anak kecil, tidak perlu memikirkan banyak hal dan tidak perlu takut untuk hal-hal lain, selama ada kedua orang tua nya di sisi nya.
"Ibu bikinin susu yah, tunggu sebentar ya!" Aku mengusap kepala nya.
"Iya bu." ia mulai mengeluarkan semua mainan nya dari keranjang, kalau sudah seperti ini sudah bisa di pastikan, hampir tidak ada celah tanpa mainan di kamar nya, semua nya berserakan ke mana- mana. Kalau sudah begini aku hanya bisa menghela nafas ku dalam dalam.
"Tkdak papa nak, nanti bereskan lagi ya kalau sudah main." Selalu itu Jawabanku, di saat si kecil meminta izin untuk membongkar semua mainan nya.
__ADS_1
Setelah mengurus rumah dan Kia aku putuskan untuk istirahat sebentar, rasa kantukku sudah tak mampu kutahan.