
"Wih... Keren lu ya! Udah jadi wanita pembisnis sekarang, udah gak galau-galau lagi mikirin komplenan keluarga pasien kaya." Celoteh kak Valen setelah sampai diparkir Cafe & Resto.
"Perawat masih dihatiku. Cuma saat ini masih belum pengen kak, mungkin beberapa tahun kedepan, pengen nyobain hal baru akunya."
"Ayo masuk."
"Ini sebenarnya milik adikku, Fariz tadi. Ia merintis usaha ini bersama temannya, karena sekarang Fariz sibuk sama usaha barunya, dan temannya juga kadang sibuk ngajar, jadi aku hanya sekedar bantu-bantu aja."
"Di lantai bawah itu lebih ke lestoran, diatas baru Cafe...
"Disini juga kerjaan aku santai kak, gak tiap hari juga ke kantor, paling sibuk ya waktu ahir bulan, ngerekap laporan."
Sesekali aku tersenyum dan menggangguk menjawab sapaan dari karyawan yang menyapa.
"Tunggu... " Tepat didepan pintu ruangan.
"Kalau nanti didalam ada Ouwner, kalian jangan macam-macam, jangan berisik. Nanti malah ganggu pekerjaannya." mereka meng-angguk.
"Assalamualaikum...
"Masuk kak..."
"Sebentar, kalian duduk disofa sana dulu." aku menunjuk sofa panjang dipojok ruangan.
"Dia yang punya Cafe ini? Yang temannya adik kamu?" balik aku yang menggangguk.
Yusuf melihatku dengan kerutan didahinya.
"Maaf yah, aku ngajakin mereka kesini, mereka teman-temanku dari Jakarta, tadi pagi tiba-tiba datang tanpa ngasih kabar." Aku mendekati Yusuf, merasa tidak enak hati membawa teman ke kantor.
"Gak papa." Yusuf tersenyum tipis.
Untuk beberapa saat suasana dalam ruangan terasa sunyi. Syukurlah... Kak Ana dan kak Valen bisa diam sampai saat ini.
Mereka asik membaca buku diatas meja. Mulai dari baku bertema bisnis sampai novel romance ada disana.
"Afiifah... " Perasaanku mulia gak tenang mendengar lengkingan suara kak Valen.
"Kita bosan... Mau pesan makan juga masih pagi, masih kenyang. Kita fitting baju pengantin kamu aja youk."
Aku segera berlari mendekati kak Valen.
"Stt... Jangan jerit-jerit kak, nanti aja fittingnya, aku masih ada kerjaan." Aku melepaskan tanganku dari dekapan mulut kak Valen dan kembali ke kursiku.
"Aku bosan... " Kak Valen memukul-mukul sofa.
"Ya Allah... Kuatkan gilanya." Aku mulai risau, kalau tadi mulutnya yang mulia ngoceh, sekarang badannya pun mulia gak bisa diam, hilir mudik gak jelas.
"Vidioin kak, biar dilihat sama anak-anak dirumah sakit, kalau ini orang gak patut ditakuti. Kelakuan dia kalo udah gila, parah." Aku menarik kak Valen duduk kesofa.
"Aku juga mulia bosan." Kak Ana menyenderkan tubuhnya ke dinding sofa.
"Ck... Dari tadi aku lihat, tu orang," kak Valen nunjuk Yusuf dengan bibirnya, "ngelirik kamu dari tadi." Aku spontan melirik Yusuf yang juga sedang menatap kearah kami.
"Gak bosan apa dia dari tadi ngeliatin layar laptop?...
"Gak baik lirik-lirik calon bini orang." Celotus kak Valen.
"Kak... Please," Aku menggabungkan kedua tanganku didepan dada.
"Kamu juga dari tadi aku suka liat, kamu sesekali ngelirik dia. Curiga aku. Apa dia calon suami kamu?" astaga... Mulut ini anak, kalau kumat gak bisa difilter.
Sekilas aku melihat senyum tipis dibikin Yusuf.
"Atau simasnya udah punya istri?"
Yusuf yang jadi bulan-bulanan canda mereka tak bergeming, masih fokus pada keyboard nya.
"Fah.. Udah punya istri dia?" Kini kak Ana ikut-ikutan menggila.
Aku meng-gigal, "masih jomblo dia, kakak mau?" Aku mencoel pipi kak Ana.
"Gak lah... Dia kayak gunung es, nanti aku beku dicuekin mulu." Ketuk kak Ana.
"Hahaha... "
Kantor mendadak rame, mana bisa aku fokus. Tapi hebatnya Yusuf, ia seolah tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran kami.
"Sudah punya calon istri mas? Jangan mau kalah sama Afiifah, yang udah mau nikah dua kali!" celoteh kak Ana yang pandangnya udah balik ke koran didepannya.
"Saya juga udah punya calon istri mbak, saya juga akan menyusul Afiifah menikah setelah dia, ni calon mertua saya sudah suruh siap-siap fitting." Yusuf meletakkan Ponselnya.
Kenapa ada rasa sedih dan kecewa mendengar ucapan Yusuf barusan?
Kenapa aku sedih mendengar Yusuf juga akan segera menikah?
Ya Allah... Apa ini?
Ampunilah aku.
"Kapan mas? Tiga hari lagi juga? Kayak Afiifah!"
Yusuf mendelik, "Tiga hari lagi? Kamu akan menikah tiga hari lagi Fah?" Yusuf menatap ku, segera aku membuang pandanganku darinya.
"Iya... Jangan barengan mas, nanti kita susah kondangannya, hehehe."
Muka Yusuf seketika berubah.
Ia segera meraih Ponselnya, ntah apa yang ia lakukan.
"Astaga... " Yusuf mengusap pelan mukanya.
"Kenapa mas? Patah hati? Aku rasa kamu ada rasa sama sahabatku ini," mata kak Ana berkesip sebelah.
"ihh... Apa sih,
"sori Yusuf, mereka memang kadang gila memang." aku merasa sungkan melihat ekspresi Yusuf.
__ADS_1
"Makasih sudah memberi tau saya," Yusuf segera berdiri dan meninggalkan ruangan kami.
"Lah... Kenapa dia? Patah hati beneran ya sama Afiifah?"
Melihat Yusuf berjalan tergesa-gesa, aku segera menyusul Yusuf keluar.
Apa ini?
Kenapa aku takut Yusuf kecewa dengan rencana pernikahanmu ini?
"Yusuf... " Aku menghampiri Yusuf yang hendak meninggalkan area parkir.
"Aku mau bicara sebentar boleh?"
"Masuk." Yusuf mematahkan lehernya ke arah 3 bgt samping.
"Diluar aja, gak enak dilihat orang kalau berdua didalam mobil." Aku menolak, sembari melirik kiri-kanan.
"Gak papa, disini juga rame orang hilir mudik, diluar panas, nanti jadi hitam. Gak cantik lagi waktu acara nikahan." akupun masuk kedalaman mon dengan ragu.
"Katakan... Apa yang ingin kau bicarakan!" Aku masih tertunduk. Sungguh aku tidak berani melihat reaksi Yusuf.
Aku takut kecewa, jika dimata Yusuf sudah tidak aku temukan cinta lagi,
Aku juga takut jika ternyata Yusuf kecewa dengan keputusanku untuk menikah ini.
Perasanku tak menentu.
Hingga... "Hei, apa ini?" suara menggelegar Yusuf menyadarkan lamunanku.
"Astagfirullah... Yusuf. Ihh ngagetin deh." aku mendengus kesal.
"Gak jadi aja..."
"Eit... " Yusuf menarik ujung jilbabku, " katanya mau ngomong, ngomong aja. Kenapa gak jadi?"
"Tiga hari lagi aku mau nikah." Aku masih membelakangi Yusuf. Aku menahan air mataku untuk tidak jatuh.
"Terus?"
Apa ini?
Iya... Kenapa dengan ku? Terus kenapa kalau aku mau nikah? Berharap Yusuf menahanku?
Astagfirullah...
"Gak papa, aku cuma mau kasih tau kamu aja, dan selamat juga atas rencana pernikahan kamu." Aku mencoba melepaskan tangan Yusuf dari ujung jilbabku.
Sayangnya Yusuf kembali menarik ujung bajuku.
"Siapa dia?" suara Yusuf datar. Apakah sekarang Yusuf merasa sedih juga atas pernikahanku? Sperti apa yang aku rasa!
"Aku pun tak tau, orang tua ku yang menerima khitbahan itu untukku." aku masih menatap keluar.
"Dan kamu menerima lamaran itu dengan terpaksa? Karena orang tuamu?"
"Kamu mencintaiku?"
DEG.
Pertanyaan Yusuf mengalir begitu cepat, melesat bagaikan peluru yang menusuk relung hatiku.
"Kamu cinta sama aku?" ulang Yusuf.
Aku menyeka air mata yang mulai berjatuhan.
"Tidak. Aku hanya ingin memberi tahumu, dan aku ingin berterima kasih sudah mencintai aku sejauh ini dan selama bertahun-tahun. Meskipun... " Aku menarik nafas dalam, mencoba mengisi ruang udara yang terasa kosong didadaku.
" Meskipun apa?" Tanya Yusuf.
"Meskipun akhirnya kita masih tidak bisa bersama. Mulai saat ini, aku akan belajar mencintai suamiku, terlepas siapa dia dan bagaimana rupanya." Suaraku bergetar.
"Afiifah... " Yusuf berusaha memutar badanku," lihat aku!"
"Tidak Yusuf," Aku menepis tangan Yusuf yang kini sudah dipundakku, "aku tidak boleh menatapmu, dan kamu tidak boleh menyentuhku, meskipun secara tidak langsung...
" Kita akan menjalani hidup masing-masing,
"Kita tidak boleh saling berharap lagi, bukan kita... Mungkin hanya aku.
"Mungkin sampai disini saja kau boleh menungguku, jangan lagi setelah ini, meskipun aku tau, sebenarnya... Pilihanmu untuk membatalkan lamaran kamu adalah yang terbaik." Aku kembali menyeka air mataku.
"Dan mungkin... Setelah menikah aku akan keluar dari sini, silahkan kamu mulai mencari penggantiku di kantor."
Terdiam sesaat, kami hanya bermain dengan fikiran masing-masing.
"Baiklah Afiifah, aku turut berbahagia atas cintamu yang tulis terhadap calon suamimu, kamu memang hebat... Luar biasa, kamu bisa menerima dia meskipun tidak mengetahui orangnya, dan terima kasih sudah memberi tauku secara tidak langsung perasaanmu, setidaknya aku semakin yakin untuk segera menikah...
"Aku akan menerima surat pengunduran dirimu, memang lebih bagus dan lebih baik seorang istri berdiam dirumah setelah menikah, suami kamu pasti mampu memberikan nafkah lahir untukmu, dia harus bekerja keras, agar kamu tidak menderita dalam pernikahanmu"
Sekarang aku tau, Yusuf benar-benar sudah melepaskan aku dan yakin untuk menikah juga.
Tapi kenapa aku rasanya sakit mengetahui kenyataan ini?
"Yakinlah... Laki-laki itu akan mencintai kamu segenap jiwa dan raganya, aku yakin dia akan membahagiakan kamu dan bertanggung jawab atas segala hidupmu."
"Semoga kamu juga selalu bahagia, Suf. Aku akan hadir dihari bahagia mu."
"Terima kasih untuk doa tulusmu,
"iya... Dia pasti akan membuat aku bahagia, aku sangat bersyukur diberi kesempatan untuk bisa mempersunting dalam hidupku, Allah benar-benar maha baik, sudah mengabulkan satu permintaan ku, untuk mendapat istri yang insyaAllah sholehah dan cantik luar dalam."
Mendengar ucapan Yusuf, yang memuji calon istrinya perasaanku semakin sakit. Ada rasa penyesalan kenapa dulu aku ragu menerima lamaran Yusuf!
"Aku kedalaman dulu, assalamualaikum."
Aku segera meninggalkan Yusuf. Dengan deraian air mata yang tak mampu aku tahan.
__ADS_1
"Afiifah... Lu kenapa nangis?" kak Valen segera mengahmpiriku.
Aku memeluk kak Valen yang menatapku heran.
"Cerita donk... Tadi baik-baik aja kenapa tetiba nangis gini!" Kak Ana yang baru sadar tangisanku, segera mendekat.
"Kenapa?" tanya kak Ana lirih.
"Ntahlah... "samar aku dengar jawaban kak Valen.
" Fah... Jangan buat kita sedih donk, cerita... Kita kan udah ada disini, kamu udah gak sendiri." Kak Valen melepaskan pelukanku dan menyeka air mataku yang mulai jatuh semakin deras.
Krek...
Aku lekas menghapus sisa air mataku.
Tampak jelas Yusuf berjalan balik kemeja kerjanya.
"Gak papa kak, aku cuma kangen Kia." kilahku.
"Aku sholat dulu ya kak, kakak pesan aja makan dulu, pesankan aku jus mangga satu."
Aku segera berlalu melewati Yusuf yang pandangannya mengekorku.
"Kenapa dia?" terdengar sayu tanya Yusuf ntah pada kak Ana atau kak Valen.
"Gak tau kita, masuk-masuk udah nangis aja itu anak." lak Valen yang jawab, "lagi gak berantem ama lu kan?"
"Gak..."
"Awas aja lu kalo berani macam-macam ama dia, apalagi ampe bikin dia nangis, gua plintir muka cakep lu itu, biar jadi kusut."
Sayup-sayup aku mendengar obrolan mereka.
Aku menumpahkan tangisku, aku hidupkan kan air dengan kencang, agar tak terdengar suara tangisanku. Ya Allah... Kenapa ini sakit sekali rasanya?
"Ck... Tu kan jadi bengkak, ngapain juga sih gua pake sedih? Toh kita ang gak jodoh! Sadar Afiifah, sadar... Kamu sudah mau menikah." Aku menepuk-nepuk kedua pipiku.
"Fah... Lu baik-baik aja kan? Lama amat whudu'nya!" terdengar ketokan dan suara kak Ana, sepertinya ia sedang berada didepan pintu kamar mandi.
"Huh...
"Iya kak, gak papa, ni juga udah mau selesai." Aku membalas jeritan kak Ana dari dalam.
Aku keluar dari kamar mandi dengan menyembunyikan wajahku sembab ini, menuju ruang sholat.
"Ya Allah ampuni hamba-Mu yang hina ini,
"ampuni aku yang sudah lencang mengharapkan cinta Yusuf...
"Maafkan aku, yang tidak bisa menjaga dan mengontrol emosi dan perasaanku.
"Tolong hapuskan rasa cinta yang salah ini, sesungguhnya Engkau-lah yang maha membolak balikan hati ini...
"biarkan aku mengabdikan diri untuk suamiku saja nanti, terlepas dari siapa dia dan bagaimana rupanya... Aku ridho menerima dia yang engkau kirim sebagai jodohku."
Berkali-kali aku meraup udara untuk mengisi ruang dadaku yang terasa kosong.
"Fah... Ini jus lu." Kak Valen menunjuk jus yang ada dihadapkan mereka.
"Hmm... Kalian udah pesan makanya? Habis makan kita ke butik ya."
"Astaga... Lu kenapa matanya gitu? Habis nangis lu? Ada masalah sama calon laki lu?" Kak Valen meng-obrak-abrik wajahku.
"Gak papa kak, aku cuma bahagia aja," aku melirik Yusuf dari sudut mataku, "dan rasanya belum percaya kalau aku harus menikah untuk yang kedua kalinya, aku masih ada rasa takut untuk memulai lagi." aku menumpahkan sedikit rasa dihatiku, tak peduli dengan keberadaan Yusuf.
"Hmmm...
"Lu beneran udah yakin buat menerima menikah dengan orang gak lu tau?
"Ya... Setidaknya tau namanya gitu!"
"Benar, Fah." Kak Ana menipali.
"Duh, jangan gini donk, tolong bantu untuk lebih yakin lagi!"
"Hehe... Oke oke, aku mah cuma mikirin tampangnya calon suami kamu, ngebayain rupanya." mata kak Valen men-gawan, sembari sedikit tersenyum.
"Memangnya seperti apa wajahnya dalam bayangan lu? Aku juga ngebayangin soalnya." pandangan lak Ana ikut meng-awan.
"Kayak Le Min Hoo, ya kak?" aku menyerupai jus didepanku.
"Gak." jawab mereka serempak.
"Terus? Kayak Cha Eun Woo?" aku ikut-ikutan membayangkan wajah calon suamiku.
"Cak bang Jefri, hahaha" Jawab kak Valen.
"Ih... Kok sama sih!" sambung kak Ana.
"Hahaha." tawa mereka.
"Ck... Kalian ih, masak dia sih yang kalian bayangin, Tua, kurus, kumisan lag." Aku cemberut.
"Khuk Khuk... " serentak kita melihat kearah Yusuf yang seperti tampak tampak tersedak, dan meneguk air putih didepannya.
"Lu nguping omongan kita yah?" kak Valen mendelik kearah Yusuf.
"Kalian aja yang ngomong nya kencang-kecang...
"Aku sampai gak fokus kerja." Yusuf keluar membawa gelas yang sudah kosong.
"Perempuan kalau udah ngumpul pasti kerjaannya ngegosip." Masih terdengar jelas ocehan Yusuf didepan pintu.
"Ck... Udah youk ah, udah gak sabar aku mau liat lu kawin." Kak Valen menarik tanganku.
Yah... Dalam hatiku pun sudah gak sabar mau liat suamiku. Mungkin aku terlalu penasaran.
__ADS_1
"