
Aku berusaha menetral kan perasaan ku sesaat setelah mata ku terbuka.
Aku merasakan bus kami berhenti.
Sayup-sayup aku dengar suara azan subuh dari masjid tepat di depan kami berhenti.
" ibu.. Kakak mau pipis "
Kia menarik ujung kerudung ku.
" baik lah.. Ayo kita turun " aku pun menuntun kia turun dari bus.
Suara azan subuh itu terdengar lebih jelas saat aku keluar dari dalam bus.
Masya allah...
Allahuakbar...
Siapa kah pemilik suara tersebut?
Sangat enak di dengar dan sangat menyentuh hati.
Aku dan kia pun pergi ke toilet masjid tersebut dan ternyata begitu ramai orang-orang yang hendak melaksanakan sholat subuh di sini.
Selesai kia buat air kecil aku membersihkan diri.
Dingin nya air yang menguyur tubuh ku membuat aku sedikit menggigil.
Setelah membersihkan diri aku dan kia kembali ke bus, melihat orang-orang yang khusuk dalam sholat mereka di iringi dengan bacaan alfatihah dan surat pendek yang begitu merdu, sontak membuat hati ku lebih nyaman.
Ada rasa rindu untuk sang pecipta di hati ku.
Aku ingin masa nifas ku segera berahir hingga aku segera mungkin bisa kembali beribadah mendekat kan diri kepada Allah, sang pecipta alam semesta ini.
Usai sholat aku melihat para penumpang kembali ke dalam bus, tanpa terkecuali anisa dan yusuf.
Masya allah..
Aku kembali terpukau dengan ketampan yusuf yang memakai songkok hitam di kepala nya.
" astagfirullah... Ampuni hamba ya allah " setelah sadar aku segera membuang pandangan ku, sebelum yusuf sadar kalau sedang jadi pusat perhatian ku.
" kia sudah bangun? " nisa mengusap kepala kia saat melewati kursi aku dan kia.
" sudah kak nisa, tapi kia lapar " jawab kia.
" ini om yusuf punya coklat untuk kia " jawab nisa.
" dek.. Permisi dulu kalau mau minta itu, main rebut-rebut aja " sewot yusuf.
" ya allah abang... Bukan nya tadi abang bilang ini abang beli khusus untuk kia, jadi apa masalah nya sih? " aku kembali mendengar pertengkaran yusuf dan nisa.
Tapi tanpa bantahan yusuf lagi.
" ini kia.. Kia suka coklat? " tanya nisa sembari memberikan roti oreo rasa coklat itu pada kia.
" suka kak nisa " kia mengambil roti nya.
" makasih kak nisa, makasih om yusuf ".
Ucapku sambil tersenyum, aku yang mewakili kia untuk berterima kasih pada nisa dan yusuf.
Aku terkejut ketika melihat mereka berubah posisi, sekarang yusuf duduk tepat di belakang kursi ku yang awal nya kursi itu di tempati oleh nisa.
Aku bersyukur dengan posisi seperti ini akan lebih sulit bagi ku dan yusuf bertemu pandang,
Setelah menghabiskan oreo pemberian nisa, ah mungkin tepat nya pemberian yusuf, kia kembali tertidur.
" kia pasti capek y nak " aku berkata pada diri ku sendiri sembari memandangi wajah kecil kia.
Kini aku memindahkan kia yang duduk di kursi samping ku ke atas panggkuan ku, biar dia bisa lebih nyaman dan aku ingin terus memeluk nya.
' maaf kan ibu nak, kia harus berpisah dengan abi ' batin ku merintih. Sungguh perih rasa nya mengenang semua perbuatan mas haikal.
***
Kini perjalanan kami tinggal 1 jam lagi kurang lebih.
Aku merasa tidak tenang, aku takut harus mulai bercerita dari mana tentang masalah yang ku hadapi.
Aku tau, cepat atau lambat keluarga ku akan bertanya.
Berkali-kali aku tarik nafas ku dalam-dalam lalu aku buang dengan berat.
Aku berusaha bernafas dengan lega.
Semoga allah beri kemudahan di setiap kesulitan ku. Aamiin.
Tapi di satu sisi aku sudah tidak sabar untuk bertemu orang tua dan adik ku yang kini sudah hampir menjadi seorang suami, semoga segera menjadi seorang ayah setelah nanti resmi menikah.
Ada rasa takut kehilangan fariz di hati ku.
Bagaimana kalau dia berubah setelah menikah?
Apa keluarga istri nya kelak bisa menerima fariz sepenuh hati?
Secara tidak langsung aku pun takut fariz mengalami nasib yang sama dengan ku.
__ADS_1
Astagfirullah...
Aku segera menepis semua prasangka buruk ku.
Dret Dret...
Suara handphone ku bergetar.
" assalamualaikum " sapa ku pada Wanita-wanita di seberang sana.
Ia.. Mereka adalah sekumpulan perempuan yang kemaren menemani hari suram ku. Para sahabat ku yang sudah menjadi bagian dari keluarga ku.
" waalaikumussalam.. " jawab mereka, kecuali kak Valent yang memang non muslim.
Kmi melakukan panggilan vidio call dari handphone masing-masing.
" kenapa gak kasih kabar non? " tanya kak valen.
" hehe maaf kak aku sedikit tidak nyaman bermain handphone di dalam bus, aku jadi sedikit pusing " jawab ku.
" kamu sudah sampai rumah fah? " tanya kak ana lagi.
" belum kak, insya allah 1 jam lagi sampai rumah, kalian lagi pada di rumah masing masing yah? " tanya ku balik.
" iya lah.. Mau ke rumah nada gak enak hati aku melihat ke mesraan mereka " jawab kak ana.
Iya.. Kak nada dan suami nya memang pasangan tersweet menurut persi kita, karena mereka selalu lengket bak prangko dan jadi orang tua paling sempurna bagi ferel, anak semata wayang mereka yang baru berusia 2 tahun.
" aku ajak ke rumah sakit kamu gak mau na " sambung kak valen.
" ya elah nun, mentang-mentang jomblo mainan ku cuma rumah ke rumah sakit doank, bosan juga kali nun " celetuk kak ana.
Kami pun tertawa.
" kia tidur ya?, rindu juga sama kalian fah " kak nada nongol di layar handphone kami.
" astaga... Nada, bisa kondisi kan gak sih baju kamu? "
protes kak ana setelah melihat kak nada menggunakan celana pendek yang hanya 3/4 paha nya di padukan dengan tangtop.
" apa sih nuna, biasa aja kali. Kalau di rumah pahala beginian " jawab kak nada di iringi dengan tawa nya.
" iya boleh tapi jangan lagi vidio call sama kita juga kali nad " sambung kak valen bernada protes juga.
" astaga... Siapa laki-laki ganteng di belakang mu itu fah ".
Kak nada segera menyambar bantal di samping nya untuk menutupi dada nya yang terbuka.
Dia kaget saat melihat yusuf yang berdiri di kursi belakang, seperti nya yusuf mau berpindah posisi lagi dengan nisa.
" tapi dia benar-benar ganteng kan? Jujur kalian." kak nada tidak mau kalah.
" itu suami orang, noh istri nya ada di samping " jawab ku asal, sambil memperlihatkan wajah anisa di layar handphone ku.
" assalamualaikum kak " tanpa ku minta nisa melambai kan tangan pada mereka.
Tapi beda lagi dengan reaksi yusuf. Dia melirik sekilas ke arah ku. Jelas saja itu tatapan tidak suka.
" jangan naksir suami saya y kak " sambung nisa lagi.
Hahaha... Kami tertawa serentak.
Pletok.
Yusuf lagi-lagi memukul jidat nisa, kali ini lebih keras dari sebelum nya.
" udah yah.. Aku mau tidur lagi, nanti kalau sudah sampai aku kabarin kalian, oke.. " aku menarik handphone ku dari hadapan nisa.
" afiifah... " kak valen memanggil ku dengan suara pelan.
Jelas saja aku tau perasaan mereka.
" gak papa kak, aku udah jauh lebih tenang, jangan terlalu kasian pada ku kak, aku gak suka, cukup doakan aku dan kia ". Ucap ku meyakinkan mereka.
" kamu harus kuat afiifah, aku yakin kamu akan dapat pengganti yang lebih baik suatu hari nanti " sambung kak ana.
" jangan doakan aku dapat suami lagi kak, biar aku saja yang doakan kakak dan kak valen untuk segera di pertemukan dengan jodoh kalian, tentu nya jodoh untuk dunia ahirat " aku tersenyum pada mereka.
" gak papa donk doakan kamu dapat suami lagi, dapat yang lebih baik dan sholeh tentu nya "
" iya iya.. Aamiin. Makasih doa nya cantik nan sholihah, Semoga kakak dan kak valen juga segera di pertemukan dengan jodoh yang tepat, jangan trauma dengan masalah rumah tangga ku, jangan jadi kan rumah tangga sebagai contoh, kalau mau mencari contoh, contoh kak nada dan mas bram " jawab ku sekalian nasihat untuk kak valen dan kak ana.
" ya udah.. Nanti lagi yah, selamat bekerja wanita karier, jangan galak-galak sama pasien " aku tersenyum sebagai penutup obrolan kami.
Sangat bahagia rasa nya di kelilingi orang-orang baik.
Tentu saja itu membuat ku terus bersyukur.
Aku yakin allah menciptakan semua di dunia ini dengan dua sisi.
Salah satu nya pertemuan dan perpisahan.
Setelah memutuskan untuk berpisah dari mas haikal, aku sudah siap dengan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Aku sudah menyiapkan kedua tangan ku untuk menutup telinga dari komentar pedas orang-orang.
Hidup ku tidak akan berhenti hanya karena harus berpisah dari mas haikal.
__ADS_1
Aku akan terus melangkah walau nanti dengan tertatih, ketika jatuh aku akan terus berusaha untuk bangkit.
Aku yakin ini rencan allah untuk membuat ku lebih dekat pada-NYA.
" mbak.. Aku duduk di sini yah? " tiba-tiba nisa pindah duduk di samping ku.
" lho kenapa? "tanya ku bingung.
" gak papa, aku mulai bosan dekat bang yusuf " aku tersenyum mendengar jawaban nisa.
" kalau bukan karena kamu yang ngotot minta pakai bus, abang udah sampai rumah sekarang dek, kamu aja yang banyak mau ".
Sambung yusuf dari belakang.
" oke oke oke.. Anisa yang salah,, tapi abang suka kan gara-gara keinginan nisa abang jadi ketemu mbak fifah " godaan anisa.
Aku hanya mengeleng melihat tingkah mereka.
" hahh.... Senang dengkul mu, badan abang remuk rasa nya " jawab yusuf lagi.
" makanya cepat nikah biar bisa ada yang mijit abang "
" udah udah.. Gak capek kalian berantem mulu" aku memisahkan pertengkaran mereka.
" tau ni orang tua " nisa melirik ke belakang.
Kini yusuf kembali pindah ke bangku samping nya, tepat nya di belakang ku.
" mbak... Hmmm anisa boleh curhat sedikit? Mungkin juga berkonsultasi sama mbak, tapi ini masalah rumah tangga " anisa nyengir kuda.
" tapi kalau mbak afiifah gak nyaman gak papa, anisa gak maksa "
Sambung nya.
" memang nya kamu mau tanya apa? " aku tersenyum pada nya. Aku tau dia pasti merasa gak enak hati.
" hmmm " dia tampak berfikir.
" kenapa?, ngomong aja gak papa " aku mengeser sedikit posisi ku untuk mensejajarkan posisi kami.
" mbak.. 1 bulan lagi aku berencana untuk lamaran, itu arti gak lama lagi aku akan segera menikah " nisa mulai bicara.
" trus? " aku menunggu lanjutan cerita nya.
" tapi aku merasa masih terlalu muda untuk segera menikah mbak " dia kembali memotong pembicaraan nya.
" memang nya usia kamu berapa? " tanya ku.
" 25 tahun " jawab nya.
" menurut kamu usia berapa ideal nya seseorang menikah? "
" 28 mungkin, nisa gak tau mbak, tapi kenapa nisa masih sedikit ragu y mbak? "
Di wajah nya terlihat jelas rasa takut.
" sebenarnya untuk seorang wanita umur 25 itu sudah cukup matang untuk menikah, kalau di lihat dari sisi umur, tapi menikah itu bukan masalah umur, tapi masalah kesiapan secara mental dan fisik ".
Aku mulai serius dengan arah pembicaraan kami.
" bagai mana kalau setelah menikah anisa juga harus mengalami yang nama perceraian mbak?". Aku tersenyum mendengar ucapan nya.
"kenapa? Kamu takut jadi kayak mbak? " tanya ku lagi.
" maaf mbak kalau nisa bikin mbak gak nyaman". dia menggenggam kedua tangan ku.
" tak apa anisa, mbak gak ngerasa kesinggung atau pun sakit hati, wajar kalau kamu merasa takut, bukan hanya kamu, mungkin juga banyak di luar sana yang ngerasa takut untuk menikah karena takut untuk bercerai, bahkan bukan cuma kaum wanita, kaum pria pun juga banyak yang berpikiran sama, maka nya sekarang banyak laki-laki menikah yang umur nya sudah cukup matang ".
" betul mbak, mungkin bang yusuf salah satu contoh laki-laki nya hehehehe ". Nisa menoleh ke arah laki-laki yang dia panggil abang itu.
" jangan Bawa-bawa nama abang " sergak yusuf.
Aku dan nisa pun kembali tertawa.
" tapi nisa serius mbak, nisa masih ragu ". Dia kembali melanjutkan cerita nya.
" anisa.. Mungkin Mbak gak bisa kasih kamu nasihat dalam berumah tangga, karena mbak sendiri saja gagal menjaga rumah tangga mbak, tapi.. Kalau kamu masih ragu, yakin kan diri kamu dulu, luruskan niat kamu dalam menikah semata-mata karena allah, tapi tentu saja harus ada cinta di antara nisa dan suami "
jelas ku lagi.
" cinta mbak, aku sayang sama dia, bahkan aku merasa dia laki-laki yang baik dari keluarga yang juga baik, dia mandiri, mapan secara ekonomi. Aku yakin dia dan keluarga nya bisa menerima anisa sepenuh hati ". Lanjut nya.
" nah itu juga yang paling penting dalam pernikahan nis, hubungan baik antara kedua keluarga, karena menikah itu bukan cuma antara nisa dan suami, tapi juga keluarga nisa dan keluarga suami nisa "
" satu lagi, jadikan pelajaran dari semua hal yang tidak baik, ambil hikmah nya, jadikan motivasi untuk menjadi baik. Jangan samakan takdir kita dengan takdir orang lain, jangan sama kan takdir nisa dan takdir mbak. Berhusnu'zon pada allah. Berprasangka baik dengan takdir allah, bukan kah allah menurut prasangka hamba nya?, jangan pernah bosan untuk belajar menjadi baik agar bisa jadi lebih baik lagi nis "
Nisa tampak serius mendengar nasihat dari ku.
" makasi mbak, senang bisa bertemu dan bercerita sama mbak fifah "
" hmmm mbak pun bersyukur bisa bertemu dengan kamu nis, semoga rencana pernikahan mu lancar ya ". Aku mengusap punggung tangan nya yang sedari tadi menggenggam tangan ku.
" kia sudah sekolah mbak? ". Kami mengalihkan pembicaraan kami.
" insya allah ajaran baru ini baru mau TK nis, doakan kia jadi anak pintar baik dan sholihah ya "
" aamiin mbak " jawab nisa.
__ADS_1