Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 25


__ADS_3

Tok tok...


"assalamualaikum ". Aku melihat ke arah pintu, siapa yang datang meng-etok pintu.


" waalaikumussalam.. Silahkan masuk ".


" maaf bu afiifah, saya di minta pak yusuf untuk menemani ibu berkeliling Cafe dan memperkenalkan ibu dengan para staff ". Morin menjelaskan tujuan kedatangan nya.


" ohh gitu, ayo.. ".


Aku tersenyum ramah pada Morin, dan segera keluar dari ruangan itu.


" jangan terlalu segan pada ku, aku sama seperti kalian disini, anggap saja aku sebagai teman ".


Aku mencoba membuat Morin nyaman dengan ku, mungkin juga aku mencoba meng-akrabkan diri pada Morin.


" baik bu ". Jawab Morin dengan di ikuti dengan anggukan kepala nya.


Aku dan Morin berjalan menyusuri satu-persatu ruangan di dalam dalam Cafe itu, mulai dari ruangan lantai dua. Lalu lanjut ke lantai satu.


Sesekali Morin memperkenalkan aku dengan orang - orang yang aku temui.


Aku baru mengetahui secara detail usaha yang selama ini di sebut Cafe oalah fariz dan yusuf. Tapi aneh nya, aku bingung ini Cafe atau lestoran?


Setau ku Cafe itu tempat lebih identik dengan tempat nongkrong anak muda dan bermacam minuman dan makanan ringan.


Tapi tidak di tempat yang mereka sebut dengan Cafe ini.


Di lantai satu terdapat para pelayanan yang selalu hulu-hilir menyapa para pelanggan, menuntun para pelanggan ke meja yang masih kosong, lalu memberikan buku menu atau istilah keren nya presenting the menu book lalu mencatat pesanan mereka dan menyajikan makanan tersebut.


Bukan kah ini standar pada pengelolaan lestoran?


Aku agak bingung dengan tempat yang mereka sebut Cafe ini.


Atau Cafe yang mereka maksud itu yang ada di lantai dua?.


Iya di lantai dua itu lah yang layak di sebut Cafe.


Tata ruangan yang santai dengan warna yang lebih cerah,terdapat makanan ala korea dan Jepang yang menjadi makanan favorit di sini,di lengkapi dengan cofee sebagai minuman favorit juga.kalau malam biasa nya ada live musik di sini.


Itu lah yang aku dengar dari morin yang saat ini menjadi pemandu ku.


" ternyata ramai sekali pengunjung nya ya mor ".


Aku sedikit tercengang melihat semua kursi di lantai satu hampir terisi oleh pelanggan.


" iya bu, setiap hari seperti ini, tapi kalau di atas biasa nya sore menjelang malam lebih ramai, kalau waktu siang seperti ini ramai nya saat weekend saja, karena lebih banyak anak-anak muda bu ".


Kami lanjut berkeliling.


" ini ruang penyimpa bahan mentah bu ".


Morin membuka satu ruangan yang cukup besar. Lengkap dengan berbagai macam freezer di dalam nya.


" ini ruang memasak nya bu ".


Aku melihat lumayan banyak orang-orang yang sedang menyiapkan makanan di dalam nya.


Lengkap dengan asisoris dan perlengkapan mereka.


Para koki itu sudah terlihat sangat mahir dalam memasak.


Sebelum aku memutuskan untuk bekerja di tempat yang mereka sebut Cafe ini, jelas saja aku lebih duku belajar tentang pengelolaan sebuah Cafe atau pun restoran.


Dan jujur saja aku baru mengetahui kenapa para koki harus memakai topi dan kenapa topi lebih identik berwarna putih?.


Ternyata untuk menjaga kebersihan dan putih melambangkan kebersihan.


Pelajaran baru bagi ku.


Kalau untuk apron sedikit banyak aku sudah mengetahui nya, sebab dulu di rumah sakit aku sering menggunakan nya, tentu saja fungsi nya sama sebagai pelindung.


" itu ana dan rendi bu, mereka cheff di sini ".


Morin memperkenalkan seorang perempuan dan laki-laki yang sedang mengawasi pekerjaan para koki, sesekali aku melihat mereka berbicara pada koki.


" ana, rendi " Morin memanggil mereka.


Kedua orang yang berprofesi sebagi chef tersebut berjalan ke arah aku dan Morin.


" iya mbak, ada yang bisa kita bantu? ". Tanya ana ketika sudah di hadapan ku dan morin.


" saya ingin memperkenalkan kalian dengan bu afiifah, ini ibu afiifah, beliau manager baru di sini, menggantikan bu maya. "


" senang berkenalan dengan kalian, saya afiifah panggil saja saya kakak, umur saya masih 28 tahun hehehe ".


Aku meng-ulurkan tangan pada ana, dan melipat kedua tangan ku pada rendi.


Mereka sedikit membungkuk memberi penghormatan pada ku.


" jangan terlalu segan pada ku, dan jangan panggil saya ibu ". Aku kembali memperingati mereka.


" gak papa bu, ibu kan atasan kita ". Jawab morin.


" gak papa, kenapa saya bisa jadi manager di sini?, yusuf bilang saya hanya sekretaris nya saja, saya cuma di minta yusuf dan fariz membantu mereka ".


Aku bingung kenapa morin mengenal kan aku pada ana dan rendi sebagi manager di sini. Pasal nya yusuf atau pun fariz tidak mengatakan hal tersebut.


" tapi pak yusuf bilang ibu pengganti bu maya, otomatis ibu yang menjadi manager menggantikan ibu maya ". Morin menjelaskan pada ku.


" jadi ibu maya itu duku nya seorang manager? ".


Pertanyaan bodoh ku itu membuat morin, ana dan rendi tampak bingung.


Mereka terdiam menatap ku.

__ADS_1


" heheh.. Jangan salah faham, aku di sini memang tidak di rekrut secara resmi, karena memang mereka yang meminta ku bekerja di sini, untuk bantu-bantu ".


" ooooo ". Jawab mereka sambil tersenyum.


" jadi sudah kenal pak fariz dan pak yusuf y bu? ". Tanya ana.


" saya kakak kandung nya fariz, dan bisa di kata teman nya yusuf, walau pun baru dekat dengan nya "


Aku lebih mengenal kan diri pada mereka sambil tersenyum pada mereka.


" ohhh ternyata pak fariz punya saudara perempuan ". Sahut rendi.


Aku masih tersenyum pada mereka.


" kalian chef di bagian lestoran ini? ". Tanya ku pada ana dan rendi.


Ahh sudah lah mulai saat ini, aku akan menyebut di lantai satu ini sebagai lestoran bukan di satukan dengan sebutan Cafe.


Aku juga berniat mengganti nama Cafe ini di depan menjadi" Cafe dan restoran ".


" iya bu, tapi juga di lantai atas ". Jawab ana.


Mereka mengikuti kemana aku melangkah.


" apa yang menjadi makan khas di lestoran ini? ". Tanya ku lagi.


" untuk khas korea nya kita memilih kimchi, bibimbap dan bulgogi bu, untuk khas Jepang kita pilih sushi dan udon bu, lalu makanan penutup mochi ". Rendi menjabar kan satu-peratu.


Aku meng-angguk, tanda mengerti.


" lalu kita tidak menyajikan makan khas dari negara kita? ". Aku sedikit kecewa karena makanan favorit ku tidak di sebutkan Rendi.


" ada bu, nasi goreng yang pasti, dan masih banyak lagi bu ". Jawab Rendi.


Ahir nya aku bisa lega, bisa tiap aku pesan nasi goreng di sini.


" untuk menu di sini bagai mana? ". Kini aku Morin, Ana dan Rendi sudah berada di lantai dua. Tempat nya lebih mirip dengan Cafe.


" kami memilih tteokbokki sebagai menu andalan bu, ada juga kebab dan hamburger, beserta makanan khas Indonesia seperti cireng, seblak Bandung, batagor dan banyak lagi bu, untuk minuman es taro latte, milo on top, blue oncea soda, Coffee latte, citrus squash dan lain-lain bu, nanti saya bisa kasih daftar menu nya sama ibu ". Kini ana yangenjawab pertanyaan saya.


" apa itu citrus squash, saya baru mendengar ". Aku menoleh ke ana.


" itu salah satu minuman kesukaan para remaja wanita bu, terbuat dari lemon peras dan sirup jeruk bu ". Jelas ana lagi.


" hanya dari perasan lemon? ". Aku hampir tidak percaya dengan apa yang aku dengar.


" iya bu, bahan utama nya hanya lemon, sirup jeruk dan soda tawar ". Ana menjelaskan lebih rinci.


" astaga, nama nya begitu aneh, tapi ternyata hanya dari lemon dan saudara nya si jeruk ".


Morin, ana dan rendi tertawa mendengar ucapan ku.


" dimana mushola nya? ".


Aku bertanya pada Morin.


Aku kembali meng-anggukan kepala ku.


" Ana dan rendi boleh kembali bekerja , biar morin saja yang menemani saya ".


" baik bu ".


Ana dan rendi pun pergi meninggalkan aku dan morin.


" morin sudah menikah? ". Aku pura-pura bertanya. Tentu saja aku tau dia belum menikah, karena anisa bilang dia suka menggoda yusuf.


" belum bu ". Jawab morin tersenyum pada ku.


Mendengar mereka memanggil ku dengan sebutan ibu membuat aku merasa sangat tua. Padahal dulu aku biasa saja saat bekerja di rumah sakit di panggil ibu, bahkan nenek-nenek dan kakek-kakek pun juga ikut memanggil ibu.


Tapi sekarang aku merasa geli dengan panggilan itu.


Apa ini yang di namakan menolak tua? Bahasa anak-anak jaman sekarang.


Aku dan morin kembali berkeliling dan sesekali aku mensurvei bertanya pada pelanggan, bagai mana rasa makanan di sini? Dan bagaimana pelayanan di sini?.


Jawaban mereka hampir sama. Sangat enak dan pelayanan juga cukup cepat, masukan mereka pun hampir sama, untuk menambah tempat duduk, karena sering kehabisan tempat.


" Morin, apa yang menjadi masalah besar kalian di sini? ". Tanya ku pada morin.


" masalah besar seperti apa bu? ".


" masalah apa pun, misal nya yang membuat kalian tidak nyaman bekerja di sini, atau mungkin merasa upah kalian tidak sesuai pekerjaan kalian?, apa pun. " aku lebih merinci pertanyaan ku.


" sejauh ini saya rasa semua nya baik-baik saja bu, alhamdulillah.kita juga tidak merasa terlalu di tekan dalam bekerja, lagian pak yusuf dan pak fariz sangat humble dan friendly sekali bu ". Jawab morin.


Jika apa yang di katakan morin benar, Aku rasa tidak ada yang perlu aku perbaiki, semua nya sudah terlihat baik. Jadi aku pikir seperti nya pekerjaan ku tidak lah sesulit yang aku bayangkan.


" jika nanti ada masalah, kamu bisa beri tahu aku mor, jangan sungkan ". Aku menepuk bahu morin.


" baik bu ".


" silahkan kamu lanjutkan kerja kamu, aku balik ke ruangan dulu ". Aku pun melangkah menuju sebuah ruangan yang sedikit kecil di sebelah kanan yang menjadi ruangan kerja ku. Se


Tak terasa sudah beberapa jam aku di sini, sungguh awal yang baik dan menyenangkan.


Semoga saja aku mampu membantu fariz dan yusuf dalam mengurus Cafe dan lestoran mereka ini.


Azan zuhur berkumandang, sangat jelas terdengar, seperti nya Cafe ini sangat dekat dengan masjid satu pun mushola.


Aku bergegas berwhudu' dan melaksanakan sholat zuhur.


Selesai sholat aku kembali ke meja kerja ku, sambil membaca laporan-laporan yang sudah berada di sana.


Perlahan-lahan aku mencoba mengerti maksud dan makna dari angka-angka dan huruf-huruf di dalam nya.

__ADS_1


Dreett Dreett...


Suara getaran handphone di dalam mini bag ku.


" assalamualaikum ". Aku mengawali panggilan dengan seseorang di seberang sana, entah siapa yang menelepon ku, pasal nya tidak ada nama yang tertera di layar Ponsel ku, alias nomor baru.


" waalaikumsalam, kamu sudah pulang? ". Tanya nya yang ternyata seorang pria.


" belum, ini dengan siapa? ". Tanya ku


" aku ". Jawab nya singkat.


' seperti suara yusuf '. Batin ku.


" aku siapa?. " aku tidak ingin menyimpulkan bahwa itu benar-benar yusuf.


" iya aku ". Jawab nya lagi.


" ya allah.. Iya aku tau itu kamu, maksud aku nama kamu ". Aku menahan emosi.


" jangan pulang dulu, nanti aku jemput setelah aku pulang dari kampus ". Dia tidak menjawab pertanyaan ku, malah mengalihkan pembicaraan kami.


Tapi aku sudah bisa memastikan 99%, bahwa dia adalah yusuf.


" tidak perlu suf, fariz sudah kirim pesan nanti jam 5 sore dia akan mampir kesini sekalian jemput aku ". Aku menolak halus tawaran yusuf. Aku terpaksa berbohong pada yusuf, karena aku memang tidak ingin pulang bersama nya.


Tut.


Yusuf memutuskan panggilan kami.


Selang beberapa waktu handphone ku kembali bergetar, nomor yang tadi menelepon, sudah pasti yusuf.


" kenapa? " tanya ku setelah menjawab panggilan yusuf.


" astagfirullah.. Salam dulu ". Protes yusuf.


" kamu saja matikan telpon nya tanpa salam dan tanpa ba bi bu, kenapa telpon lagi ". Aku protes balik.


" aku sudah tanya fariz, dia bilang tidak ada rencana untuk menjemput kamu, sudah belajar berbohong kamu hah? ".


Aku terdiam mendengar ocehan yusuf. Aku hanya diam karena sudah ketahuan bohong.


" nanti aku jemput, sebentar lagi aku pulang, jangan lupa makan siang, assalamualaikum ".


Aku membuang napas setelah panggilan di tutup.


" waalaikumussalam ". Aku menjawab salam yusuf tadi.


***


Pukul 17.10 wib.


" ayo pulang ". Yusuf berdiri di hadapan ku.


" Yusuf.. Kamu bisa gak sih sopan sedikit masuk ruangan ku? ". Aku meluap kan rasa tidak suka ku.


" ini juga ruangan ku ". Balas Yusuf.


Ahh aku lupa kalau ini juga ruangan nya, tapi meski begitu setidaknya dia harus menghormati ku sebagian pemilik ruangan ini juga.


" iya, aku tau ini juga ruangan kamu, tapi tolong hargai pemilik lain ruangan ini, gimana kalau aku lagi gak pakai jilbab? Atau aku lagi buka baju? ". Aku masih duduk di kursi ku dengan perasaan kesal.


" kamu masih waraskan?, ngapain kamu mau buka jilbab di sini? Apalagi sampai buka baju,". Yusuf menatap ku. Lalu dia menyambar mini bag ku yang terletak di atas meja, lalu berjalan menuju pintu. Aku masih terdiam melihat tingkah nya.


" iya siapa tau aku lagi mau sholat habis whudu' ". Jawab ku lagi.


" benar-benar kamu yah, kamu kan bisa buka jilbab nya di ruangan sholat di sana, ngapain harus buka jilbab di sini, kamu gak liat ruangan ini terbuka, orang-orang bisa dengan jelas melihat kamu dari luar, atau kamu sengaja mau mempertonton aurat kamu? Mau pamer kalau kamu cantik? Rambut kamu hitam, indah panjang? ". Yusuf mengoceh tanpa jeda.


'astagfirullah, kesambet dimana dia barusan, ngoceh nya panjang amat, tanpa koma '. Batin ku.


" jangan memaki ku dalam hati ". Sambung Yusuf, seolah-olah dia tau yang aku fikirkan.


Lagi-lagi aku hanya diam.


" ayo pulang ". Yusuf berhenti di depan pintu setelah menyadari aku masih berdiam di tempat duduk ku.


Dengan rasa kesal aku pun mengikuti Yusuf keluar.


" ini ". Yusuf memberikan satu box berukuran sedang pada ku, setelah kami sampai di dalam mobil.


" apa? ". Aku menengok ke arah box di depan ku.


" ambil saja dulu, lalu buka ". Perintah Yusuf.


" untuk ku? ". Tanya ku pada Yusuf.


Tapi tanpa jawaban dari nya.


Aku pun segera membuka box berwarna hitam itu.


" woker?, untuk ku? ". Aku melihat ke arah yusuf setelah tau apa isi box tersebut.


" jelas saja untuk mu ". Jawab nya.


" untuk apa? ". Aku masih tidak mengerti dengan tindakan yusuf ini.


" untuk mengganti woker jelek kamu yang sudah rusak itu ". Jawa yusuf sambil menyalakan mesin mobil.


" tapi aku benar-benar tidak butuh woker ini suf, aku bisa mengganti baterai nya saja ". Aku menyodorkan woker tersebut pada yusuf.


" aku tidak minta kamu mengganti baterai nya fah, tapi aku minta kamu untuk ganti woker nya, lagian ini jelas lebih bagus dari pada punya mu itu ". Jawab yusuf asal.


" dari mana kau tau kalau woker ku itu tidak bagus? ".


" sudah lah ganti saja, woker itu sudah pantas di buang, aku gak mau besok kami telat kerja lagi ".

__ADS_1


Ahir nya aku menyerah, aku mengambil woker pemberian yusuf tersebut.


Setelah beberapa saat tiba di rumah, aku pun benar-benar mengganti woker pemberian mas haikal itu, dengan woker dari yusuf.


__ADS_2