
Hari-hari ku mulai berlalu.
Tapi tidak dengan kenangan masa lalu ku. Tetap saja bayangan mas Haikal masih setia menjadi teman dalam lamunanku, apa lagi ketiak Kia yang selalu bertanya tentang Ayahnya.
Rasa tersayat-sayat hatiku kala mendengar Kia merindukan mas Haikal. Bagaimana jika kelak Kia tau bahwa sosok yang dirindukan nya bahkan tidak pernah menginginkannya lagi?
Jika sudah sperti ini aku hanya mampu menangis dalam diam dan memohon maaf pada Kia dalam hati, semoga Kia menemukan kebahagiaan yang lain.
Maafkan ibu yang tidak bisa menjaga keluarga kita nak.
Maaf kan ibu yang sudah tidak bisa sabar dengan segala masalah dalam keluarga kita, sehingga Kia harus hidup terpisah dengan Abi Kia, yang kata orang Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya.
Satu minggu sudah aku berkumpul bersama keluargaku, satu minggu ini juga aku selalu menghindar setiap Ayah dan Bunda mulai mencari tahu apa yang sedang terjadi denganku.
Aku masih bungkam, aku masih belum bercerita pada mereka.
Mungkin aku belum siap untuk melihat mereka kecewa dan terluka.
Sejujur nya, ini menjadi beban yang begitu berat bagiku.
***
Di pagi jumat.
"Yah, kok masih asik duduk di sini? Ayah gak ngantor?"
Aku menghampiri Ayah yang duduk santai di teras belakang sembari membaca selembar koran di tangan kirinya, sambil meyeruput segelas teh hangat yang di tangan kanannya.
"Gak, kebetulan Ayah dapat izin hari ini, Ayah kurang sehat sepertinya." Ayah melirikku sekilas kemudian melanjutkan membaca koran nyalagi.
"Lho ayah sakit?" Aku mendekat ke ayah dengan rasa khawatir.
"Cuma kurang sehat saja, mungkin ayah butuh istirahat lebih." Jawab ayah.
"Perlu kedokter yah?"
"Gak perlu, Nanti juga baikan."
"Ayah baca berita apa sih?" Aku mengambil posisiuntuk duduk di kursi sebelah ayah, biar bisa lebih santai nemenin ayah ngobrol.
"Ahh biasa lah, berita seputar Jambi." Jawab ayah.
"Gimana kerjaan ayah di kantor?" Aku meyodorkan satu keping sari roti pandan yang sudah ku oles slai coklat.
"Alhamdulillah semua lancar nak, sekarang kerjaan ayah pun sudah mulai santai, karena sudah ada yang bantu tugas-tugas ayah." Jawab ayah sambil mengambil roti dari tanganku lalu memakan nya.
"Alhamdulillah... Ayah juga jangan lupa untuk istirahat yang cukup, mumpung sekarang gak banyak kerjaan dan sudah ada yang bantu kerjaan Ayah." Aku pun ikut meyantap roti yang sama dengan ayah.
"Ahh kamu ini, baru juga pulang beberapa hari sudah mulai ngomelin ayah, iya... Ayah akan selalu jaga kesehatan, kamu gak usah khawatir dengan ayah."
"Wajar dong yang Afiifah khawatir, nama nya juga anak."
"Hahaha... Iya iya, Ayah ngerti, makasih ya udah selaku perhatian sama Ayah, dimana Kia?"
Ayah celingak-celinguk mencari keberadaan kia di belakangku.
"Ada didalam sama Bunda, lagi nyoba mainan baru kemaren." Jawabku sambil menunjuk ke arah dalam rumah.
"Nah ini dia, udah selesai main nya?"
Tiba-tiba Kia datang bersama Bunda dari dalam.
"Udah Bu," jawab Kia yang kini sudah berada di atas kedua pahaku.
"Asik kali kayaknya, gak ajak-ajak". Fariz nongol di belakangku sambil memegang pundakku.
"lho kamu gak ngantor dek?" tanya Bunda.
"Kantor mana dulu ni, Bun?" Fariz menoleh ke arah Bunda.
"Kantor Fariz kan ada dua, secara... Horang kayah." Fariz mengubah posisi, kini dia ikut duduk di kursi.
"Ya Allah, turunan siapa kamu dek, kok jadi sombong gitu?" Aku mengeryit kan alisku menatap nya heran.
"Hehehe... bukan turunan kak tapi mau memperbaiki keturunan, biar ada yang sombong di rumah ini."
"Sombong bangga, kalau udah jatuh miskin baru nyesel!" Ayah meletakkan koran nya dimeja lalu mengambil teh nya untuk di minum.
"Astagfirullah... Ayah, kok doa nya jelek banget sih." Fariz menatap ayah tidak suka.
"Haahaha... Ayah cuma becanda, maka nya kamu jangan suka sombong." Lanjut ayah.
"Betul kata Ayah, jangan suka pamer dengan kehebatan kamu dek" Kini bunda ikut bicara.
"Astagfirullah... Iya iya, Fariz khilaf, terima kasih para tetua sudah ingatkan anak mu yang ganteng ini."
Fariz menekap satu tangan nya di dada lalu menunduk, ala-ala memberi penghormatan pada raja.
__ADS_1
"Nanti aku ke Cafe bun, kalau sekarang aku free gak ngantor, aku izin karena ayah sakit." Fariz mengangkat jari nya membentuk huruf V.
"Alasan kamu." Ayah memukul paha Fariz dengan koran.
"Lho tadi pagi kan Ayah yang bilang kalau ayah lagi gak enak badan." Fariz membela diri.
"Iya trus apa hubungannya sama kamu yang nggak ngantor?" Ayah rada sedikit emosi.
"Iya ada donk, aku mau jagain ayah lah, mau jadi anak sholeh yang berbakti pada orang tua hehehe."
"Bisa aja kamu dek." aku tersenyum mendengar ucapan Fariz.
"Nanti sore aku mau ke Cafe, kakak mau ikut?" Fariz melirikku.
"Hmmm gak lah, kakak di rumah saja, kamu ajak kia aja kalau cuma sekedar mampir."
"Kia mau ikut Om Fariz gak nanti ke Cafe?" fariz mengusap kepala Kia.
"Boleh kakak ikut, Bu?" Kia bertanya pada ku sebelum memberi jawaban pada Fariz.
"Boleh, tapi Kia harus jadi anak baik, jangan ganggu om Fariz kerja, oke?"
"Oke Bu, Kia main sama kak Dina lagi ya Bu."
Kia meluncur turun dari pangkuanku dan berlari menuju ruang belakang mungkin mencari ke beradaan Dina.
Dina adalah anak Bu Siti yang berusia delapan tahun.
"Kia jangan lari-lari, pelan-pelan saja jalan nya." Aku setengah berteriak melihat Kia berlari dengan begitu cepat.
"Gimana sama rencana lamaran kamu dek?" Aku baru ingat kalau acara lamaran Fariz tinggal satu bulan lagi.
"Besok aku sama Filen mau cari cincin kak."
"Kakak jadi penasaran, kapan kamu ajak kakak ketemu calon istri kamu itu?"
Tentu saja aku penasaran sama calon adik iparku, karena aku memang belum pernah bertemu atau pun melihat fhoto nya.
Setiap kali aku ingin melihat fhoto nya Fariz selalu bilang nanti saja, kalau sudah pulang ke Jambi, biar ketemu langsung.
Selalu itu jawaban nya.
Memang sih mereka baru dekat dalam beberapa bulan ini dan langsung memutuskan kan untuk menikah.
Semoga saja acara pernikahan mereka lancar dan Fariz selalu bahagia bersama istri nya dan anak-anak nya kelak.
"Besok kapan-kapan Fariz ajak dia ke sini, biar langsung ketemu kakak, kakak pasti suka sama dia, seperti Bunda yang langsung jatuh hati, heheh iya kan Bun?"
"Apa sih dek, udah gedek juga masih mau manja-manja." Bunda memukul pelan tangan Fariz.
"Nanti Bunda bakalan kangen sma Fariz kalau Fariz udah nikah dan gak tinggal di sini lagi." Fariz melepaskan pelukan nya.
"Lho memang nya kamu mau pindah kemana setelah menikah?" Aku sedikit terkejut mendengar ucapan Fariz, karena setau ku Fariz paling gak bisa jauh dari bunda.
"Ke apartemenku lah, kakak gak tau kan kalau aku udah punya apartemen yang baru?" Fariz tersenyum pada. ku.
"Masak sih? Bukan apartemen kamu yang dulu itu juga lumayan bagus dek?" Aku menatap Fariz.
"Udah aku ganti, aku kurang suka sama lingkungan nya kak, lagian apartemen yang sekarang gak jauh dari rumah cuma sepuluh menit, hehehe biar bisa jenguk bunda sama ayah tiap hari."
"Allaaah bilang saja kamu gak bisa jauh-jauh dari Bunda." Bunda kembali memukul paha Fariz.
"Au... Sakit, Bun." Fariz meringis menahan rasa sakit akibat pukulan bunda.
"Lebay..." sergak bunda sambil berlalu meninggalkan aku ayah dan Fariz.
"Sok gaul." Fariz menengok ke arah bunda dengan gaya mengejek.
"Terus gimana ke adaan Cafe kamu, Riz?" Kini ayah ikut bicara yang sedari tadi hanya tersenyum melihat tingkah laku anak-anak dan istri nya.
"Semua nya alhamdulillah lancar yah, sekarang aku semakin tenang karena Bang Satria mungkin akan lebih banyak menghabiskan waktu di sini." jawab Fariz.
"Gak balik kejakarta lagi dia?" tanya ayah lagi.
"Aku juga belum tau pasti Yah, kemaren tiba-tiba bang Satria bilang kemungkinan dia mau pindah ke Jambi lagi." Fariz pun ikut memilih membaca koran yang menumpuk di depan ayah.
"Bukan nya dia juga mengajar di jakarta ya? seingat ayah dia juga dosen, betul gak?" Ayah melirik kearah Fariz kemudian kembali membaca.
"He'em... betul Yah, Fariz juga belum tau pasti kenapa dia memutuskan untuk balik ke sini, setau Fariz dia juga sangat suka tinggal di jakarta."
"Dia sudah menikah?"
"Belum Yah, masih sibuk pilih-pilih, belum ada yang bisa menggantikan kak Afiifah kata nya hahahaha." Fariz tertawa di iringi dengan senyuman Ayah.
Aku yang sedari tadi asik menyimak pembicaraan mereka tiba-tiba terbelalak terkejut mendengar ucapan Fariz. Jelas saja aku tidak mengerti apa maksud ucapan Fariz.
Satria. Aku memang pernah bertemu satu kali dengan nya ketika dulu Ayah di rumah sakit dan dia datang menjenguk Ayah, tapi setelah itu aku tidak pernah bertemu lagi, sebenar nya dia sering datang kerumah untuk bertemu dan bermain bersama Fariz, tapi aku tidak pernah mengobrol atau ikut bermain bersama mereka, aku hanya suka melihat mereka dari kejauhan.
__ADS_1
Maklum saja ketika itu mereka masih SMA. Tapi aku sering mendengar nama Satria di rumah ini, kalau mendengar dari cerita orang tuaku, aku gak menyangka adikku bisa berteman dengan Satria, laki-laki yang kata nya pintar cerdas, wakil osis mau berteman dengan Fariz yang jauh dari kategori cerdas. Apa lagi mereka beda usia.
Tapi entah lah aku tidak terlalu mengenal sosok laki-laki yang menjadi yang katanya kini menjadi fatner kerja adikku itu.
Pletok.
Aku memukul jidat Fariz dengan telunjukku. Ahh kenapa aku jadi ikut-ikutan yusuf yah? Astagfirullah...
"Au, sakit kak. ya Allah dari mana kakak belajar cara baru menindas ku barusan itu." Fariz mengelus-elus jidat nya.
"Kepo..." sahut ku.
"Tapi aku serius lho kak, kakak ingatkan kakak kelas ku dulu itu? yang beberapa kali datang kerumah ini, yang pernah jenguk ayah sakit di rumah sakit, yang tinggi ganteng itu, baik lagi." Fariz menjabar kan panjang lebar siapa ketampanan Satria.
"La terus kenapa?" Tanya ku menatap nya.
"Ahh sudah lah, lagian kakak juga sudah menikah, dia sudah tidak punya harapan sama kakak." Fariz kembali membaca koran yang ada di tangan nya.
Aku terdiam Mendengar ucapan fariz.
Mungkin sudah saat nya aku berbagi rasa pada mereka.
Mungkin sudah saat nya aku cerita.
aku tidak ingin mereka tertekan karena ulah ku.
Bismillah..
Iyah, aku tidak bisa menutupi masalah ku lebih lama lagi dari mereka.
Aku akan jujur dengan semua kisah kehidupan ku, aku akan jujur masalah perceraian ku ini.
"Hei kok malah bengong!" Bunda menepuk pundak ku dari belakang, ternyata bunda dari dapur karena di tangan nya ada setoples makanan ringan.
Mendengar teguran mama, ayah dan fariz pun menatap ku.
Melihat tatapan mereka tak terasa mata ku mulai berkaca-kaca.
"Fah, kamu kenapa?" Kini bunda menggeser kursi nya mendekat ke samping ku.
"Bunda..." Aku memeluk bunda erat.
"Maaf kan Afiifah Bunda, untuk yang kesekian kali Afiifah membuat bunda dan ayah kecewa, maaf kan Afiifah, Bunda." Tangis ku semakin terdengar.
Bunda mengusap punggung ku penuh kelembutan.
"Coba katakan, apa masalah nya?" Bunda mendorong tubuhku agar aku bisa melepas kan pelukan kami.
Aku tertunduk, aku menyembunyikan segala rasa sakit ku dalam-dalam.
"Kak, ada apa?" Fariz berucap lirih. Aku bisa merasakan betapa Fariz mengkhawatirkan ku.
"Katakan nak, katakan ada apa? Ayah, Bunda dan Fariz tidak akan meninggalkan kamu sendirian." Aku menatap ayah.
"Maaf kan Afiifah, Ayah. Afiifah tau Ayah, Bunda dan Fariz akan selalu ada untuk Afiifah, Afiifah tau kalian tidak akan meninggalkan Afiifah, maafkan Afiifah yang belum bisa muat kalian tenang, MAAF Ayah."
Aku berusaha menahan tangis ku, tapi sial nya tangis ku malah semakin kencang.
"Udah donk kak, jangan nangis, kasian hidung kakak makin kedalaman nanti karena ingusan." Fariz menggodaku.
"Fariz..." Lagi-lagi Bunda memukul Fariz.
"Apa sih dek, aku mendorong tubuh Fariz yang berada di sampingku, sembari menyeka dengan kasar air mataku.
"Udah donk kak, jangan nangis lagi, cerita dulu masalah nya apa, biar kita bisa bantu." Kini Fariz serius sembari menepuk pundak ku.
"Afiifah sudah pisah sama mas Haikal Bunda, amAyah ". Aku memberanikam diri melihat wajah mereka bergantian.
Tapi respon mereka berbeda dengan dugaanku, aku fikir mereka akan terkejut, tapi mereka malah menatap ku seperti biasa, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Hhhuuh." Ayah membuang napas.
"Maaf Ayah, kalau Ayah kembali kecewa pada Afiifah, sekarang Afiifah akan membuat ayah bunda dan mungkin juga fariz malu dengan status afiifah saat ini."
"Fidak apa sayang, tapi apa yang kamu rasakan saat ini?" Bunda menggengam tanganku, seakan-akan memberi aku kekuatan.
"Ntah lah Bunda, Afiifah takut, yang jelas Afiifah masih merasa sakit, Bun." Jawab ku.
"Afiifah , dengar kan ayah dan bunda, ayah, bunda atau pun Fariz tidak apa-apa, kita tidak merasa di permalukan, Afiifah jangan merasa menjadi beban untuk kita y nak." Ayah bicara serius pada ku.
"Betul kak, kita akan selalu ada untuk kakak." Fariz juga mencoba membuat ku tenang, tapi tetap saja hati ku masih merasa bersalah pada mereka.
"Kita siap-siap jumatan dulu ya, nanti kita cerita lagi." Ayah mencium keningku lalu ayah dan Fariz meninggalkan aku dan bunda.
"Afiifah pasti bisa sayang." Bunda kembali mendekap ku dengan penuh cinta.
Ya allah..
__ADS_1
Aku tau kehilangan yang berharga itu pasti sakit, tapi aku yakin semua ini pasti ada hikmah nya.
Aku mencoba tersenyum pada bunda.