Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 19.


__ADS_3

" maaf nak fariz, di ruang tamu depan ada nona filen dan nak satria".


Kami semua terdiam mendengar ucapan bu siti..


" ohh antar mereka ke sini bu, biar sekalian sarapan bareng kita ". Bunda memberi perintah pada bu siti.


Tampak sekali senyum bahagia di wajah fariz, begitu juga ayah beserta bunda.


Bu siti pun berlalu.


" assalamualaikum ayah, bunda ". Aku mendengar langkah dan salam dari tamu istimewa keluarga ini.


" waalaikumussalam ". Jawab ayah dan bunda berbarengan, tak lupa aku pun juga menjawab dengan suara lirih.


" kak anisa..." aku terkejut mendengar kia memekik memanggil nama anisa, sontak aku menoleh ke belakang..


Ya allah... Aku setengah tidak sadar menatap wajah yang sangat aku kenal, wajah yang menjadi teman ku dan kia beberapa minggu lalu.


Masya allah, yang lebih tidak ku percaya lagi, pria yang datang bersama calon adik ipar ku ini.


Kenapa bisa dia ada di sini juga?


Ah aku lupa dia kan abang nya anisa.


Aku masih menatap nya tanpa berkedip, pandangan ku mengikuti arah langkah nya.


Masya allah.. Dia sangat tampan dengan kaos yang ngepress di tubuh nya.


Aku seperti bermimpi bertemu merekaagi.


" kak afiifah, kia.. " anisa pun tak kalah histeris kala melihat aku dan kia di depan nya.


Sontak saja dia berlari ke arah ku dan memeluk ku sembari mencium pipi ku berkali-kali.


" masya allah.. Ini benar anisa? ". Aku membalas pelukan anisa.


Anisa melepas pelukan nya, dia lupa menjadi pusat perhatian ayah bunda dan fariz.


Anisa mencium tangan ayah dan bunda setelah sadar,anisa juga tersenyum bahagia melihat fariz.


Dan tentu saja kia tidak lupa dari perhatian anisa.


" ahh bahagia nya ketemu anak cantik ini lagi ". Anisa menghampiri kia dan memeluk kia.


Yusuf pun juga ikut memberi salam untuk ayah bunda dan fariz.


Ohh tunggu, kenapa fariz dan Yusuf begitu dekat?.


Meraka seolah-olah sudah menjadi saudara sebenarnya.


Aku melihat Yusuf melirik ku sambil tersenyum.


Seketika aku teringat dengan ucapan Yusuf tempo hari.


Tubuh ku jadi merinding mengingat bagaimana dia menggoda ku dengan panggilan sayang nya itu.


" anisa satria, ayo duduk makan ".


OMG.. siapa yang ayah panggil satria?.


Aku mencari-cari nama yang ayah maksud, aku melihat kiri-kanan, apa ada tamu lain yang sedang berkumpul bersama kami di ruang an ini.


" kamu kenapa afiifah? ". Ayah menangkap gelagat tingkah ku yang aneh.


" siapa yang ayah panggil satria? ". Aku bertanya dengan bingung.


Aku melihat Yusuf dan fariz tersenyum mendengar pertanyaan ku.


Sungguh aku tidak suka melihat mereka tersenyum begitu.


Aku melirik ke arah anisa, dia juga tertawa seolah-olah sedang mempermain aku.


Ohh ya tuhan, apa sebenarnya yang terjadi?. Aku mulai gila rasa nya melihat senyuman mereka yang entah apa maksud yang terkandung di dalam nya...


" itu satria, abang nya filen " bunda menunjuk ke arah Yusuf.


" haa satria? Bukan nya dia Yusuf? ".untuk kesekian kali nya membuat ku sangat terkejut. Sontak mereka tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan ku.


Tunggu dulu...


Kalau dia adalah satria, itu arti nya dia juga fatner kerja fariz, kalau itu benar.. Huuuuh, sudah lah aku membatalkan saja niat ku untuk bekerja di Cafe nya fariz.


Bisa gila aku. Astagfirullah.


Aku masih bingung dengan apa yang terjadi ini.


" sudah-sudah.. Nnti kita lanjutkan ngobrol nya, kenapa satria bisa berubah jadi Yusuf , ayo makan dulu ". Ayah menghentikan tawa mereka.


Suasana jadi hening, kami pun makan dengan tenang, sesekali aku menatap Yusuf yang senyum-senyum sendiri, aku masih belum yakin kalau ini benar-benar Yusuf yang kini berubah menjadi satria.


Fikiran ku kacau, ahh mungkin lebih tepat nya aku merasa sangat malu.


Aku tidak mengharapkan peristiwa ini terjadi, sungguh, aku benar-benar tidak pernah berfikir ingin bertemu yusuf lagi.


Selesai makan kami menuju kehalaman belakang, ini adalah tempat favorit untuk berkumpul.

__ADS_1


Suasana yang tenang nan sejuk membuat hati lebih damai.


Aku melihat mereka asik dengan obrolan mereka.aku melihat kia yang selalu tersenyum bahagia dan sesekali dia tertawa lepas. Benar-benar tidak ada beban hati nya.


Apa lagi belakang an ini kia tidak pernah bertanya tentang mas haikal, mungkin kia mulai lupa dengan sosok bapak nya itu.


" mbak afiifah, sini " anisa melambai kan tangan nya pada ku. Aku hanya tersenyum.


" kenapa?. Kamu kaget bisa bertemu aku lagi sayang? ". Yusuf muncul di belakang ku sembari berbisik di samping telinga ku.


Spontan aku membalikan badan melihat ke arah asal suara.


" astagfirullah "ucapkan ku terkejut.


wajah ku hampir menabrak dada nya, sontak aku mundur untuk menghindari tubuh nya. Jelas saja aku terkejut dengan kedatangan nya tapi aku lebih terkejut mendengar dia memanggil ku dengan kata sayang.


Aku jadi salah tingkah melihat dia tersenyum dan mata nya mengedip nakal pada ku.


Aku geleng-geleng melihat tingkah yusuf.


" dasar gila ". Aku mengumpat nya pelan.


Dia pun berlalu dengan gila nya itu dan meninggal kan aku yang mematung di tempat.


Ya allah..


Mungkin wajah ku memerah menahan rasa malu.


" ibu sini ". Kia berlari ke arah ku lalu menarik tangan ku menuju sofa panjang tempat semua orang berkumpul.


Dengan langkah berat, aku mengikuti langkah kia.


" ternyata ini yang bang satria maksud tadi malam? ". Fariz menyenggol bahu yusuf dengan bahu nya.


Satria hanya tersenyum.


" gak nyangka mbak afiifah kakak nya fariz ternyata ". Anisa masih tersenyum, dan senyum anisa sedetik pun tidak pernah hilang dari nya.


" alhamdulillah nisa, " aku menipali ucapan nisa dengan senyum yang sedikit terpaksa.


" mbak kenapa?, sakit? " anisa memegang kening ku dengan punggung tangan nya.


" gak, mbak cuma masih gak percaya aja kalau yang jadi teman mbak di dalam bus itu ternyata calon adik ipar mbak ". Aku masih berusaha membuang rasa malu ku.


" tapi kenapa di sini kamu berubah jadi filen nis, kamu sih memperkenalkan diri dengan nama nisa, kalau saja kamu memperkenalkan diri dengan nama filen mungkin mbak bisa sedikit curiga ". Aku menatap anisa.


" hahaha... Itu salah nya fariz sendiri mbak, semua orang juga panggil aku anisa, dia saja yang sok ke cakepan manggil filen ". Anis amembela diri.


" nama nya itu annisa filendri kak, calon istri sholihah nya fariz dia calon ibu dari anak-anak nya fariz nanti ".


Aku tersenyum geli melihat tingkah fariz yang menggoda anis dengan mata genit nya.


" terus kenapa anisa memperkenalkan satria dengan nama yusuf? ". Aku masih penasaran tentang nama satria itu.


" karena dari dulu memang nama nya satria kak, hahahaha ". Fariz kembali tertawa.


" sama seperti nisa mbak, kita semua panggil bang yusuf itu dengan nama yusuf, fariz aja yang panggil dengan nama satria ". Anisa kembali menjawab pertanyaan ku.


" iya.. Nama nya MUHAMMAD YUSUF SATRIA, biasa nya dulu di sekolah anak-anak manggil bang satria itu satria, buka yusuf, kata teman-teman nya dulu, terlalu ganteng dia kalau di panggil yusuf, seolah-olah seperti nabi yusuf ".


Fariz kembali tertawa.


Fariz menjelaskan kenapa yusuf bisa di panggil satria oleh nya. ternyata itu alasan nya.


Tapi.. Apa salah nya kalau yusuf merasa ganteng? Toh dia memang ganteng.


Astagfirullah... Apa yang sedang aku fikirkan.


" jadi sebelum ini kalian sudah pernah bertemu ". Bunda yang sedari tadi hanya tertawa mendengar obrolan kami ahir nya ikut bicara.


" sudah bunda, kita ketemu pas di bus waktu mau pulang ke sini, mbak afiifah dan kia duduk di depan kita, iya kan bang? ". Anisa menjawab pertanyaan bunda sambil meminta persetujuan yusuf akammw2


" masya allah.. Sungguh rencana allah itu di luar dugaan kita y nak ". Ucap bunda.


" iya bun, bahagia sekali rasa nya bisa lebih dulu mengenal anisa sebagai orang lain sebelum menjadi adik ku". Sambung ku.


" jadi abang sebenar nya sudah tau kalau kak afiifah yang kalian kenal di bus itu adalah kakak aku? " fariz bertanya pada yusuf.


" tau nya pas kamu nelpon dan ngomong sama kia itu, secara tidak sengaja aku melihat nama dan fhoto kamu di layar panggilan afiifah, aku jadi ingat kalau dulu kamu pernah cerita afiifah pindah ke jakarta ikut suami nya ".


Jelas yusuf.


" ohh jadi waktu itu kalian lagi sama-sama? " kini nada bicara fariz seperti menggoda aku dan yusuf.


" iya. Bahkan waktu itu aku lagi gendong kia, iya kan kia? ". Yusuf melirik ku lalu mencoel hidung kia yang sedang duduk di pangkuan nisa.


Kia hanya diam sambil tersenyum, mungkin kia pusing dengan omongan kami.


" terus kenapa abang gak kasih tau anisa atau mbak afiifah? ". Anisa menatap yusuf


" biar kalian bisa lebih santai kenalan nya ". Jawab yusuf santai.


" gimana nyesel gak udah curhat sama calon kakak ipar? Hahaha ".


Yusuf mengedip kan mata ke arah nisa.

__ADS_1


Membuat mata anisa terbelalak besar.


Aku pun ikut tersenyum mendengar ucapan yusuf, aku ingat bagaimana saat itu anisa merasa ragu untuk segera menikah.


Anisa melihat ke arah ku dengan nyengir kuda lalu menggabungkan kedua tangan di depan dada, pasti memohon untuk tidak cerita ke siapa pun isi curhatan nya.


Hahaha jelas saja aku ngerti maksud anisa itu.


Aku pun membalas membentuk huruf ok dengan tangan ku sambil menutup mulut ku.


" memang nya dia curhat apa bang? " tanya fariz pada yusuf.


" hahaha... Kata nya.. " sebelum mulut kotor yusuf keceplosan cerita, anisa menutup mulut yusuf.


" bang.. Tolong jangan buat masalah, kalau gara-gara abang rencana pernikahan aku dan fariz batal, aku doakan abang gak nikah-bikah seumur hidup ". Anisa berbisik di telinga yusuf tapi jelas saja aku yang berada di samping anisa mendengar nya.


Lagi-lagi respon ku hanya tersenyum.


" jadi ini yang abang maksud kalau abang dan mbak afiifah pasti bertemu lagi? ". Kini giliran anisa yang menggoda yusuf, sial nya itu sama saja anisa menggoda ku.


" gimana?, udah panggil sayang? ".


Astagfirullah... Mulut ini anak gak bisa di rem kalau ngomong, mendengar ucapan nisa membuat aku tertunduk malu, ahh entah apa yang terjadi dengan wajah ku, rasa nya begitu panas.


Ayah bunda fariz hanya saling tatap mencerna maksud dari ucapan nisa.


Kemudian nisa tersenyum.


" mau kemana kalian hari ini? ". Kini bunda yang bicara memecah kehening yang sejenak terjadi.


" kita mau cari barang - barang hantaran bun, bunda bisa ikut gak? ". Jawab fariz.


" aduh bunda ada arisan di rumah tante ami, hmmm minta temenin kak afiifah saja juga bisa kan? ".


Bunda melihat ke arah ku.


" bisa kan fah? Sekalian ajak kia jalan-jalan, dia pasti bosan hampir 1 bulan di rumah aja. " sambung bunda.


" lho kemaren kan dia udah jalan-jalan sama bunda bun, " jawab ku.


" kia yang jalan-jalan, kamu mah asik bertelor di rumah ". Sambung ayah lagi.


" hmmm.. Oke oke ". Aku malas berdebat dengan mereka.


" ohh iya, tadi malam kakak mau ngomong apa sama aku? Kayak nya penting banget sampai mau nyampirin aku ke kantor segala? " tanya fariz saat ingat yang terjadi tadi malam.


" hmmm gak papa sih, gak penting juga, udah lupa kakak ". Jawab ku ragu.


Udah gak niat aku mau kerja di Cafe fariz setelah tau teman fatner nya adalah yusuf. Bisa gila aku kerja sama dengan manusia cuek tapi kadang sangat menyebalkan ini.


" kamu beneran sudah pindah ke Jambi lagi suf? " tanya ayah pada yusuf.


" insya allah iya yah? ". Jawab yusuf sembari tersenyum.


" kenapa? Udah gak betah lagi di jakarta?, atau sudah putus asa gak bisa menemukan istri di jakarta? " goda ayah.


" hahaha... Iya kali yah, yusuf mulai prustasi hidup menjombo di jakarta, yusuf ingin Hijrah lagi kejambi yah, menjemput calon istri, hehehe doakan saja yah yusuf bisa ketemu jodoh yang sholihah yah ". Yusuf menanggapi ucapan ayah dengan candaan juga.


" aamiin ". Semua orang mengamin harapan yusuf.


Yusuf tampak sangat dekat dengan ayah bahkan tidak ada rasa segan untuk bersenda gurau, mungkin karena yusuf sudah sangat lama mengenal keluarga ku terutama fariz.


Tapi tidak dengan ku.


" jadi kamu hanya ingin fokus sama Cafe saja?" Tanya ayah lagi.


" hmmm rencana nya masih mau ngajar juga yah, kemaren sudah masukan berkas lamaran ke UNJA yah, semoga mereka bisa menerima yusuf yah ".


Mendengar cerita yusuf dan ayah, aku baru tau kalau yusuf juga seorang pengajar, seperti nya juga seorang dosen, karena berkas lamaran nya ke universitas bukan ke sekolah.


Tapi dosen apa dia?


Selama ini fariz tidak pernah bercerita kalau fatner kerja nya ini juga seorang dosen.


Ahh lagian apa peduli tentang kehidupan pribadi nya.


" jam berapa kalian mau pergi? ". Aku bertanya pada nisa.


" jam berapa kita pergi riz ? " anisa kembali bertanya pada fariz.


" sekarang juga boleh mumpung belum terlalu siang ". Jawab fariz sembari melihat arloji di pergelangan tangan nya.


" kakak sama kia siap-siap sebentar ya, kia.. Ayo ganti dulu baju nya ".


Aku berdiri dan menuju kamar bersama kia.


" sebentar itu cuma 30 menit paling lama kak, jangan berjam-jam, keburu magrib nanti ".


Aku mengacuhkan teriakan fariz.


Fariz tau kalau aku memang ribet kalau mau pergi-pergi, bisa berkali-kali mencoba baju untuk ku pakai.


Aku lama bukan karena memakai riasan makeup tapi karena lama pilih-pilih baju, sebenar nya aku tipe orang yang tidak percaya diri. Aku tidak pandai menghias diri dengan makeup.


Karena Aku tidak pandai dalam berhias Jadi aku berfikir Kalau aku harus rapi dan maching dalam berpakaian.

__ADS_1


kalau untuk diri sendiri saja aku ribet apa lagi untuk kia. Jelas saja kia harus berpenampilan sempurna untuk ku.


__ADS_2