Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 27


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat.


Tapi perasaan rindu ku pada Mas Haikal masih sering mengusik ketenangan ku.


Dan Aku lagi-lagi masih dalam tahap belajar untuk melupakan nya, sampai saat Yusuf menyadarkan Aku,"Bahwa masa lalu bukan untuk di lupakan, tidak apa terus mengingat hanya saja jangan sampai membuat hati memupuk rasa cinta pada seorang yang salah." Yusuf benar, Aku tidak mungkin melupakan seseorang yang pernah menjadi spesial di hati ini, tapi itu hanya sebuah ingatan.


Sungguh, saat ini tidak ada rasa cinta yang tersisa, jika kemarin Aku belajar membuang rasa cinta ku pada Mas Haikal, saat ini Aku sedang belajar memaafkan nya sepenuh hati.


Sekarang Aku memiliki definisi sendiri akan lupa. Lupaku adalah saat Aku meng-ingat semua rasa sakitku, Aku bisa tersenyum tanpa ada rasa kebencian di dalam nya, bahkan dengan ikhlas mendoakan kebahagiaan nya.


Biarlah waktu mengobati segala lukaku, semoga Aku lapang hati menerima semua yang terjadi!


***


Hari liburku sudah usai, acara pernikahan Adik semata wayangku pun sudah berakhir, semoga saja kebahagiaan kami yang tak pernah berakhir.


Satu minggu sudah berlalu, banyak pekerjaan yang sudah menungguku di Wink Cafe & Resto yang sekarang lebih suka aku sebut sebagai kantorku.


Hari ini juga menjadi ahir bulan di bulan juni.


Tak terasa hampir 8 bulan aku berpisah dengan mas Maikal, satu hal yang aku sesali setelah berpisah, aku menuruti egoku meninggalkan rumah di saat aku masih dalam masa iddah ku, yang seharusnya kewajiban ku tetap tinggal di rumah suami ku.


Tapi aku sudah tidak mampu menahan perbuatan mas Haikal.


Semoga Allah mengampuni Aku.


Pagi ini di kantor.


Biasa nya Aku datang ke kantor pukul 07.30 pagi, tapi pagi ini Aku sedikit telat, Aku datang ke kantor jam 07.50 Wib.


Tapi masih belum bisa di katakan telat, karena batas datang paling lama ku adalah jam 8 pagi. jelas saja Aku sudah tidak pernah telat lagi setelah hari pertama kerja ku dulu.


Bahkan Aku lebih sering menjadi orang pertama datang ke kantor.


Aku melihat sebuah motor moge terparkir di depan Cafe, Aku penasaran siapa pemilik motor yang harga nya hampir selangit itu.


Apa mungkin ada pelanggan yang kaya raya datang sepagi ini?


Karena hampir mustahil rasa nya kalau ini milik salah satu karyawan di Cafe ini.


Aku pun segera membuang rasa penasaran ku dan segera masuk ke dalam Cafe.


Sesekali Aku tersenyum dan menyapa orang-orang yang Aku temui.


Aku segera masuk ke dalam ruangan kerja ku, dan seperti biasa pula, Aku segera masuk ke dalam ruangan kecil yang biasa Aku jadikan tempat sholat.


Aku segera membuka jilbab ku dan segera masuk ke kamar mandi untuk berwudu'. Sekarang sudah menjadi hal yang wajib bagi ku untuk sholat dhuha, begitu juga dengan sholat malam.


Aku menjadikan dua sholat ini bagian dari sholat wajib bagi ku.


Yang arti nya Aku mulai tidak nyaman untuk meninggalkan dhuha dan tahajjud ku.


" astagfirullah!" Aku segera menutup pintu kamar mandi cukup kencang, hingga terdengar seperti di banting.


Aku sangat terkejut saat melihat Yusuf berdiri di depan pintu kamar mandi sembari menatap ku.


Ahh, kebiasaan kenapa Aku sering lupa menutup kamar mandi kalau hanya untuk berwudu'.


"Maaf Afiifah, Aku sungguh tidak berniat untuk melihat aurat mu." Aku tidak merespon ucapan Yusuf.


Di dalam kamar mandi Aku segera mencari jilbab ku, tapi tidak ketemu, sungguh perbuatan yang ceroboh. Jilbab ku pasti ketinggalan di dalam ruangan sholat.


"Afiifah...Afiifah kamu baik-baik saja kan?" Yusuf mengetok pintu kamar mandi setelah tidak mendengar jawaban dari ku.


"Iya, aku baik-baik saja, kamu bisa keluar dulu gak Suf? maaf Suf, seperti nya Aku meninggalkan jilbab ku di ruangan sholat." Aku membuka sedikit pintu kamar mandi.


"Ohh, baik lah, Aku akan keluar."


"Yusuf..." panggil ku lagi sebelum Yusuf benar-benar pergi.


"Iya, ada yang bisa Saya bantu Fah?"


"Hmmm, Yusuf bisa tolong ambil kan jilbab ku di ruangan sholat gak? Aku jadi gak enak kalau harus meminta kamu keluar, Kamu juga pasti lagi banyak kerjaan kan?"


"Tunggu sebentar." Jawab Yusuf.


Tak berselang lama, Yusuf mengetok pintu kamar mandi. Se


Tok tok...


Aku membuka sedikit pintu kamar mandi, dan segera mengambil jilbab yang di sodorkan yusuf.


"Makasih ya." Aku merasa tidak enak hati pada Yusuf.


Aku segera memakai jilbab ku dan keluar dari kamar mandi, dan menuju ruangan sholat dengan sedikit melirik Yusuf yang duduk di kursi nya.


Selesai sholat, Aku kembali ke meja kerja ku tanpa berniat untuk berbicara pada Yusuf. Aku merasa malu pada Yusuf setelah Yusuf tidak sengaja melihat aurat bagian atas ku. Jelas saja Yusuf melihat bagian dada ku yang tampak sedikit menonjol.

__ADS_1


"Afiifah, nanti laporan keuangan dan pengeluaran bulan lalu letakan saja di atas meja ku ya! atau bisa antar kan kerumah ku!"


Ahir nya Yusuf berbicara pada ku, setelah beberapa saat kami saling diam tanpa tegur sapa.


"Oke, Suf." Jawab ku.


"Ohh ya, satu lagi, kamu gak perlu lembur di kantor setiap ahir bulan,seperti bulan lalu. Kau bisa lanjutkan pekerjaan besok hari kan? kasian Kia harus nunggu mu pulang sampai larut malam, lagian juga gak aman pulang tengah malam sendirian."


"Gak apa-apa Suf, Aku akan kerjakan sebisa ku." Kini aku menatap Yusuf.


"Hmmm, baik lah Aku mau ke kampus dulu, ada jadwal ngajar 1 jam lagi, nanti kalau Aku masih ada waktu Aku balik ke sini, dan Kamu bisa pulang bersama ku!" Yusuf berkata sambil berjalan, belum sempat Aku menolak Yusuf pun sudah menghilang di balik pintu.


Beberapa detik setelah kepergian Yusuf.


"Tokk tok."


"Assalamualaikum Bu. "


"Waalaikumussalam eh, Morin silahkan masuk!"


"Ada perlu apa Mor? " Aku melihat ke arah Morin.


"Ini laporan pengeluaran bukan Mei Bu." Morin menyerahkan beberapa lembar kertas di dalam map warna hijau.


"Ohhh iya, makasi ya." Aku segera mengambil dan membaca laporan yang baru di serah kan Morin tersebut.


"Masih ada perlu lagi Mor?" Aku melihat Morin yang masih berdiri di depan meja Ku.


"Hmmmm, Saya boleh tanya sesuatu gak Bu?" Jawab Morin ragu-ragu.


"Ada apa Mor?" Aku tersenyum pada nya.


"Hmmm," Morin masih ragu.


"Duduk dulu, seperti nya sangat penting." Aku meletakkan pena yang Aku pegang ke atas meja, lalu menatap Morin seksama.


"Tapi janji jangan marah y Bu, saya sangat ingin tahu." Morin menetap Aku serius.


"Coba Kau katakan dulu, baru Aku putuskan harus marah atau tidak." Aku berkata pada Morin dengan tangan yang memangku dagu.


"Bu Afiifah punya hubungan apa sama pak Yusuf?"


"Hahahah..." Sontak Aku tertawa mendengar pertanyaan Morin.


"Saya serius Bu." Aku menghentikan tawa Ku setelah melihat kening Morin berkerut.


"Semua orang juga tau Bu kalau Saya sangat mengagumkan pak Yusuf, Saya pun pernah menyatakan perasaan saya pada nya baru-baru ini, tapi pak Yusuf menolak Saya dengan alasan Dia sudah memiliki wanita pilihan." Kini pandangan Morin tertunduk, seolah-olah menahan rasa kecewa.


"Apa Kau berfikir wanita itu Saya Mor?"


"Iya, Saya melihat pak Yusuf memandang Ibu sangat berbeda, pak Yusuf juga memperlakukan Ibu istimewa."


"Hahaha... Dari mana Kau tau Mor kalau Yusuf memperlakukan Aku istimewa? asal Kau tau Mor, Aku juga bahkan sering tak di anggap oleh Nya, "Aku menatap Morin sambil tersenyum, "Jadi ini yang mau Kau tanya pada Ku?" Tanya Ku pada Morin.


"Iya Bu, Saya fikir itu Ibu, jika memang benar Ibu, saya berniat untuk berhenti berharap dan mengejar pak Yusuf Bu."


"Morin, percaya lah, jika jodoh tak perlu Kau kejar pun dia akan mendekat, tidak ada salah nya Kamu berusaha untuk dekat dengan Yusuf, asal Kamu tau batasan bagi Laki-Laki dan Perempuan, jangan sampai Kamu merendahkan harga dirimu hanya untuk cinta yang belum tau kebenaran nya."


Aku kembali tersenyum pada Morin yang juga sedang menatap Ku.


"Tapi, Saya dan Yusuf tidak punya hubungan apa-apa, sungguh kita hanya sebatas teman gek lebih." Aku meyakinkan Morin.


"Tapi, apa Ibu punya perasaan pada pak Yusuf?" Tanya morin.


"Hmmm, untuk saat ini mungkin tidak, Saya masih nyaman sendiri, saya ingin fokus pada Kia," Aku melihat Morin sedikit tersenyum, "tapi tidak tau selanjutnya." Aku menahan senyum saat melihat ekspresi Morin saat ini.


"Hahaha." Sungguh aku tidak bisa menahan tawa Ku.


Tapi entah kenapa Aku sendiri saja ragu dengan jawaban ku. Tanpa ku sadari perlahan ada rasa nyaman saat bersama Yusuf. Dan entah sejak kapan Aku tidak suka melihat Yusuf bersama wanita lain, sama hal nya seperti saat ini.


"Baik lah Bu, Saya sudah memg-ganggu Ibu, dan terima kasih sudah mau mendengar cerita saya."


Aku hanya tersenyum dan meng-angguk melihat Morin hendak keluar dari ruangan ku.


Belum sampai Morin di luar ruangan ku, tiba-tiba Yusuf muncul di depan pintu.


"Pak Yusuf!" Morin tampak terkejut dan sesaat Morin melihat ke arah ku.


Aku tau morin pasti cemas Kalau-kalau Yusuf mendengar percakapan Aku dengan nya.


Yusuf hanya berlalu melewati morin tanpa peduli dengan dengan keberadaan morin di yang mematung depan pintu.


"Silahkan lanjutkan pekerjaan Mu Mor." Aku membuyar kan lamunan Morin yang masih berdiri di depan pintu.


"Ba-baik Bu." Jawab Morin terbata-bata.


"Gak jadi ke kampus Suf?" Aku berusaha mencairkan suasana.

__ADS_1


Pasal nya sejak tiba tadi wajah Yusuf terlihat masam, seperti di tekuk.


Tapi Yusuf meng-abaikan pertanyaan ku.


"Kamu cari apa Suf?" Aku mendekati Yusuf dan membantu nya mencari sesuatu, padahal Aku pun tidak tau apa yang sedang di cari nya. Aku hanya berusaha mencairkan suasana hati nya.


"Yusuf...Kamu cari apa?" Kali ini nada suara sedikit naik, siapa tau tadi Dia tidak mendengar pertanyaan ku.


"Handphone ku." Jawab Yusuf singkat.


"Ohh... Biar Aku bantu ya." Aku menawarkan diri untuk membantu nya. Meskipun Aku harus di kacanagin nya lagi.


Hampir ke seluruh sudut ruangan Kami mencari tapi tidak berhasil menemukan handphone Yusuf.


"Mungkin ketinggalan di mobil Mu Suf." Aku mencoba membantu yusuf untuk meng-ingat letak handphone nya.


"Atau mungkin tinggal di rumah." Aku masih mencoba menebak - nebak letak handphone tersebut.


Tapi Yusuf masih tanpa respon, Dia lagi-lagi mencari di seluruh sudut meja kerja nya.


Hasil nya masih nihil.


"Yusuf, Aku tidak melihat handphone dari tadi di meja Kamu, coba Kamu fikir lagi, dimana kemungkinan Kamu meninggalkan nya."


Aku juga membantu nya meng-obrak abrik meja kerja nya dan seisi nya.


"Aku lagi gak bisa mikir." Jawab Yusuf.


"Mungkin di mobil, sini aku bantu cari di mobil kamu." Aku meminta kunci mobil Yusuf untuk memeriksa siapa tau benar handphone nya ketinggalan di mobil.


"Aku gak bawa mobil." Jawab Yusuf lagi.


"Terus Kamu kesini pakai apa? taxi? atau mungkin handphone Kamu ketinggalan di taxi Suf, kamu masih ingat nomor plat taxi nya? Kalau iya ketinggalan di dalam taxi gimana donk? di dalam nya pasti banyak hal-hal penting." Malah aku yang berubah jadi panik.


Mendengar ocehan ku yang panjang Yusuf berhenti sejenak.


"Khoiratul Afiifah binti Muhammad Zain, Kamu bisa bantu Aku cari handphone ku tanpa tanya gak? Atau setidaknya berhenti mengoceh, Aku malah makin gak bisa mikir Fah." Yusuf membalikan badan nya ke arah ku.


"Aku makin pusing Fah dengar kamu ngomel ". Sambung Nya.


"Kamu kenapa sih? Kenapa malah jutekin Aku sih?" Aku sedikit kesal dengan siapa Yusuf.


Aku kembali duduk di tempat duduk ku tanpa berniat membantu Yusuf mencari handphone nya lagi.


"Sini handphone kamu!" Kini yusuf menghampiri ku ke tempat duduk ku.


"Mau ngapain?" Tanyaku dengan nada yang tidak bersahabat.


"Mau pinjam, bukan mau ku jual, sini buruan!"


Tanpa ba bi bu Aku pun memberikan handphone ku pada Yusuf.


"Mana nomor handphone ku?" Tanya Yusuf setelah beberapa saat mengscrol handphone ku.


"Ohh jadi Kamu mau telpon nomor kamu? Bilang donk dari tadi."


"Buruan kasih tau, mana nomor handphone ku?" Wajah Yusuf tampak semakin tak bersahabat.


"Teman Fariz." Jawab ku singkat.


Yusuf pun segera menelepon handphone nya.


Ada suara getaran, tapi entah dari mana asal nya, Yusuf masih mencari sekeliling meja nya dan meja ku.


Tapi seperti nya Aku mendengar getaran handphone itu berasal dari ruangan sholat.


Aku pun segera memeriksa ruangan kecil itu, dan betul saja... Handphone Yusuf ada di atas meja kecil tempat peralatan sholat.


"Ini handphone Kamu, lain kali jangan lupa lagi, dan harus sabar lagi." Aku meyodor kan handphone itu pada Yusuf.


"Hmmm, makasih." Dia berterima kasih tapi seperti tidak ikhlas. Dasar Yusuf.


Setelah menemukan handphone nya Yusuf pun segera pergi tanpa mengucapkan salam.


Setelah kepergian Yusuf, Aku pun kembali melanjutkan pekerjaan ku.


Aku kembali fokus pada berkas laporan bulanan di meja ku, sayang nya Aku tidak bisa fokus, mood ku hancur ulah sifat Yusuf.


Ahir nya Aku menyender kan kepala ku pada kursi dengan mata terpejam sambil memijit kepala ku yang tidak sakit.


Dret Dret..


Aku mendengar getaran handphone ku, dengan malas Aku membuka mata, melihat siapa yang memanggil ku.


"Calon imam?" Ucap ku lirih. "Nomor siapa ini?"


***bersambung....

__ADS_1


__ADS_2