Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 33


__ADS_3

Rington sholawat terdengar begitu merdu sebagai Pengingat dari handphoneku. Sudah beberapa kali memberi peringatan.


Aku raih. Ahh, sudah pukul 03.00 malam. Kulafazkan doa sembari menutup mata. Sudah waktunya rutinas Malamku.


Dengan bersemangat, melangkah untuk berwudu'. Dinginnya air mampu membuka mataku semakin melebar. Membuat kantukku benar-benar menghilang. Lalu kemudian sholat malam.


Waktu ini yang selalu aku tunggu.


Waktu terbaik bagiku bercerita segala keluh kesahku.


"Ya Allah yang maha pemilik hati. Tolong jaga hati ini untuk tidak mencintai seseorang yang tidak baik menurut-Mu. Engkau maha tau getaran hatiku saat bersama Yusuf. Jika dia yang terbaik untuk hadir dalam hidupku dan Kia, tolong izinkan kami bersama dalam ikatan yang suci. Beri keyakinan pada hatiku untuk menerima hibbah dari Yusuf. Aku hanya hamba yang lemah. Masih sering berbuat salah dan khilaf. Ampunilah aku yang penuh dosa ini Ya Allah. Dan terimakasih untuk segala nikmatmu."


Untuk pertama kali aku menyebut seseorang dalam lantunan doaku. Setelah dulu nama mas Haikal yang selalu aku sebut dalam doaku.


Saat ini aku meminta Yusuf diseper-tiga malamku.


Selesai sholat aku kembali membaca ayat suci Al-Quran. Aku raih Al-Quran yang berukuran sedang dari rak lemariku. Diantara buku-buku yang berjejer.


Ayat-demi ayat aku lantunkan, cukup merdu bagiku. Hatiku sungguh merasa lebih baik. Tenang.


Aku melirik jam pemberian Yusuf. Masih lama menunggu waktu subuh.


Tenggorokanku terasa kering.


Kutelusuri anak tangga menuju dapur. Sinar lampu yang remang, tapi masih bisa untukku melihat sisi kiri-kanan tatanan rumah ini.


"Astagfirullah... " Aku mengusap dadaku. Terkejut. Tubuhku hampir menabrak Yusuf yang baru saja berbalik badan didepan kulkas.


"Maaf Suf, aku tidak melihatku," Sesaat setelah Yusuf biasa saja, tidak merasa terkejut dengan kedatanganku, "sedang apa kamu Suf?" Yusuf seperti kebingungan mencari sesuatu.


"Mencari selai, biasanya begitu banyak selai didalam kulkas." Yusuf kembali membuka kulkas yang tadi sudah ditutupnya.


"Ohh," Aku melangkah menuju lemari samping kulkas. "ini..." Aku menyodorkan selai yang baru kuambil.


"Terimakasih." Yusuf mengambil selai yang ku letakan diatas meja makan, didepan Yusuf. "Sudah selesai mengaji nya?" tanya Yusuf. Tetap tanpa melihat kearahku.


"Sudah, sini aku bantu." Aku menawarkan diri melihat Yusuf kesusahan membuka tutup selainya.


"Terimakasih." Yusuf melirikku sekilas.


"Hmm." Jawabku singkat. Meninggalkan Yusuf untuk mengambil air minum. Aku tidak banyak bicara, sesekali aku melirik Yusuf yang memakai sarung berwarna biru dipadukan dengan baju kaos hitam yang menempel sempurna ditubuhnya.


"Kenapa mencari makan tengah malam begini?" Aku yang berada dibelakang Yusuf, dengan leluasa memandang punggungnya yang begitu menikmati makanan nya.


"Karena lapar." Dia masih mengunyah makanannya.


Sunyi. Yusuf yang menikmati makanannya dan aku pun sibuk dengan urusanku. Sesekali kami seakan seperti orang asing. Tanpa berbicara.


Di dekat Yusuf membuat detak jantungku kembali tak beraturan. Sikap dinginnya mampu mumembuat dadaku naik-turun dengan cepat.


"Masih ada yang bisa kubantu." Tanyaku sebelum berlalu meninggalkan Yusuf.


"Tidak." Jawabnya.


Aku pun berlalu meninggalkan Yusuf.


Aku atur napas. Sesekali aku hembuskan.


***


Mentari berselimut mendung.


Gerimis menyambut pagi. Mentari tak mau kalah. Perlahan, tapi pasti mulai menampakkan diri diufuk Timur.


Perlahan ku buka jendela, dengan debur rasa didada.


Ku biarkan sepoi angin menyapu wajahku. Terasa dingin. Tapi mampu memberi harapanan untuk hari ini.


Malam berganti. Kejora menghilang, begitu pula sinar rambutan. Pagi menyapa untuk memulai tugasnya.


Aku nikmati kesunyian ini. Sepertinya Kia sudah berada dibawah.


Saat runititas bulananku hadir, sesekali aku sengaja bermalas-malasan. Seperti pagi ini.


"Assalamualaikum... Afiifah sudah bangun?" Aku mendengar suara Bunda dibalik pintu. Yang mengusik lamunan ku. Segera berlalu, sembari tersenyum. Sunyiku akan segera berakhir.


"Waalaikumussalam bunda." Kulihat bunda masih dengan daster rumahnya, panjang menjuntai. Menutup sempurna seluruh tubuhnya.


"Sarapan sudah siap." Bunda berjalan disampingku menuju ruangan makan dibawah.


"Fariz dan Nisa jadi pulang hari ini Bun?" pandangan ku fokus pada anak tangga.

__ADS_1


"Gak jadi, karena Yusuf sudah pulang. Lagian jadwal pulang merekakan memang 3 hari lagi." Jelas Bunda.


"Ohhh, Mereka pasti sangat bahagia ya Bun." Ada rasa sedikit kesedihan saat mengingat takdir pernikahanku.


"Kau pun juga bisa bahagia bahagia Fah, belajar membuka diri. Siapa tau ketemu jodoh yang Terbaik." Aku hanya tersenyum mendengar nasihat bunda.


"Insya Allah Bun." Aku tersenyum. Ingin aku cerita bahwa diri ini sudah dihibbah, tapi aku saja belum tau jawaban atas hatiku. Bagaimana bisa aku bercerita pada Bunda. Seandainya pun aku bercerita, bunda pasti akan langsung menerima Yusuf.


"Assalamualaikum..." Sapaku pada setiap penghuni meja. Tentu mereka semua menjawab salam dariku.


"Sayang Ibu sudah pergi kebawah ternyata. Ninggalin Ibu sendirian." Aku mengecup pucuk kepala Kia.


"Tadi Kia turun sama Om yusuf, Habisnya Ibu masih tidur." Aku menatap Yusuf, menunggu penjelasan dari Yusuf. Gak mungkinkan Dia masuk kedalaman kamarku?


"Jangan su'uzon...! Tadi ketemu Kia didepan kamarku, jadi kita turun bareng." Dia berkata tanpa melihatku. Tapi pandangan Bunda dan Ayah tertuju padaku. Aku segera mengalihkan perhatian dari Yusuf.


Melihat sikap Yusuf yang begitu dingin dan acuh, membuat aku ragu dengan perasaan Yusuf, apa lagi semenjak malam itu, Yusuf tidak pernah bertanya lagi padaku.


"Tumben kamu tidur pagi-pagi Fah?" Tanya Ayah yang mengakat piringnya untuk diisi nasi dan Kawan-kawannya oleh Bunda.


"Paling Dia lagi datang bulan Yah, Udah minum obat kamu? Jangan sampai pingsan lagi!" Jawab Bunda tanpa persetujuan dariku dan Aku hanya bisa tersenyum malu. "Belum Bun, nanti Afiifah beli dulu." Aku menyantap makananku dengan pandangan kebawah.Aku melihat Yusuf sekilas melirikku.


Bisa-bisanya Bunda bicara seperti itu didepan Yusuf. Sungguh aku malu.


"Yusuf hari ini mau kemana?" Tanya Ayah, sambil mengisi mulutnya dengan makanan.


"Mau kekantor sebentar Yah, lalu kekampus." Yusuf tersenyum lembut pada Ayah.


"Aneh... Denganku saja hampir tidak pernah tersenyum." Aku bermonolog dalam hati dengan bibir maju kedepan.


"Biar nanti diantar Afiifah, Afiifah bisakan?" Ayah menunggu persetujuan dariku. Kunyahanku terhenti sejenak.


"Ck... Bisa-bisanya Ayah memintaku." Aku kembali bermonolog dalam hati.


"Afiifah! Bisakan nak?" Kali ini aku mendongak melihat tahapan tajam Ayah.


"Bi-bisa Yah." Ya sudahlah. Apapun alasanku Ayah tetap akan memaksaku jadi sopir Yusuf seharian ini.


"Jangan lupa nanti Yusufnya dijemput lagi." Kali ini aku cukup kaget. Masak aku harus bolak-balik, antar jemput Yusuf sih!


"Ba-baik Yah." Lagi-lagi aku hanya bisa menyanggupi.


"Gak apa-apa Yah, Yusuf bisa naik taxi saja, kasian Afiifah nanti. " Entah Dia hanya basa-basi atau memang tidak mau merepotkanku! Atau juga Dia tidak suka aku temani. Hanya Dia dan Allah yang tau.


"Iya nak Yusuf. Baik ada yang jagain Yusuf juga." Bunda ikut menipali perintah Ayah.


"Sungguh Saya gak papa Bun, yah. Lagian seharusnya saya yang jagain Afiifah. Bukan sebaliknya." Mendengar ucapan Yusuf, Ayah hanya tersenyum. Begitu pula dengan Bunda.


Mereka kompak melirik kearahku. Apa yang sebenarnya mereka pikirkan? Bisa-bisanya malah mengizinkan Anak perempuannya pergi dengan yang bukan mahromku.


"Ya sudah lanjutkan makannya." Bunda memecah kecanggungan.


"Kia boleh ikut?" Kia yang sedari tadi diam mulai berbicara, "Kia boleh ikut gak Om?" Kia memegang pinggiran kaos Yusuf.


"Untuk hari ini, Kia dirumah saja nak, Om Yusuf dia Ibu cuma pergi sebentar. Nanti Om Yusuf juga akan balik kesini lagi kok!" Bunda berusaha membujuk Kia untuk tidak ikut. "Iya kan Om?" Bunda bertanya pada Yusuf, setelah Kia terdiam.


"I-iya... Nanti om Yusuf akan kesini lagi." Aku sedikit tersenyum melihat tingkah Yusuf yang gugup. Pertanyaan Bunda seolah menjebak Yusuf. Kalau udah gini mau gak mau ya, Yusuf harus balik kesini lagi.


Drama dimeja makanpun usai. Aku sudah dengan segala persiapanku. Dengan gamis hitam dilengkapi kerudung yang menjulur panjang sampai paha. Tak lupa bagmini violet kesukaanku sebagai pelengkap penampilanku.


Yusuf terlihat lebih santai dengan kemeja berkerah abunya, dipadukan celana hitam. Bukan seperti mau ngajar. Dia malah terlihat ingin berkencan.


Aku dan Yusuf berpamitan. Syukurnya Kia tak butuh bujukan aneh untuk bisa ditinggal.


"Kita kemana dulu?" Aku membuka obrolan setelah mobil hitamku meninggalkan pekarangan rumah.


"Kekantor saja dulu." Yusuf menatap layar handphonenya dengan serius.


Mobil yang kukendarai pun melaju menuju Wink Cafe & Resto yang kini kami kelola bersama.


Sunyi. Lagi-lagi hanya lantunan merdu pembacaan Al-Quran yang terdengar. Cukup membuatku tenang.


"Kamu gak jadi beli obat?" Yusuf bertanya setelah kami melewati satu apotek.


"Nanti saja." Jawabku singkat. Sebenarnya aku hanya tidak nyaman membicarakan masalah wanita dengan Yusuf.


"Bukannya tadi malam kau sholat malam dan mengaji?" Aku tau arah pertanyaan Yusuf.


"Darimana Kau tau?" Tanyaku. Tanpa menjawab pertanyaannya.


"Aku tak sengaja mendengar. Lagian gak mungkinkan aku ngintip kamu didalam kamar?" Mendengar ucapan Yusuf, entah kenapa aku malah tersenyum?

__ADS_1


Setelah sampai didepan basement kantor. "Turunlah. Dan ambil semua berkas laporanmu didalam!" Yusuf melirikku sekilas.


"Yusuf tidak masuk?" Aku jadi bingung dengan sikap Yusuf yang masih nyaman duduk dikursinya.


"Gak, kamu aja yang masuk, untuk beberapa hari aku ingin istirahat dirumah, ambil semua berkas laporanmu, biar aku periksa dirumah!" Tanpa ba-bi-bu, aku segera berlalu menuju ruangan kerjaku. Sesekali aku tersenyum menjawab sapaan karyawan.


Aku periksa laporan yang hendak kubawa, setelah kurasa cukup lengkap, aku segera kembali kemobil.


Aku menyerahkan laporan itu segera pada Yusuf. Yusuf mulai membuka lembar-perlembar isi laporannya. Tak ada protes. Itu artinya laporan yang sudah dibaca sempurna.


Mungkin seperti iniah Yusuf saat bekerja. Serius dan fokus.


"Nanti kau tetap didalam mobil gak usah keluar kalau sudah sampai kampus!" Yusuf berbicara dengan pandangannya masih fokus pada laporannya.


Aku hanya diam. Kenapa Yusuf melarangku keluar?


"Dan... Kamu tunggu aku pulang saja. Gak perlu balik kantor lagi." Kali ini Yusuf menutup laporannya. Gedung yang hendak kami tujupun sudah terlihat jelas.


"Jadi aku harus nunggu kamu didalam mobil?" Tanyaku. Lebih terdengar seperti protes.


"Aku hanya satu jam." Yusuf mulai melepas seatbelt dari tubuhnya.


"Tapi kenapa? Aku bisa mati karena bosan Suf." Aku berdengus kesal. Lagian siapa dia ngelarang aku.


"Terserah kau saja lah." Yusuf sudah keluar mobil. Dan aku pun ikut keluar tanpa menghiraukan larangan Yusuf.


"Cieeee Bapak, sudah berani bawa pasangan kekampus! Sudah bosen ngejomblo ya Pak." Astaga... Betapa terkejut aku mendengar godaan para mahasiswi itu. Ada 4 orang mahasiswi dihadapanku. Cantik dan fahsionable.


Aku menatap kearah Yusuf seolah-olah minta penjelasan. Tak sengaja kami beradu pandang.


"Assalamualaikum Bu, hebat." salah satu dari mahasiswi menyapaku dan mengacungkan jempol padaku.


Aku hanya terdiam. Begitupun Yusuf. Dia seperti tidak peduli.


"Aku masuk dulu! Kamu jangan kemana-mana. Mahasiswi disini pada jahil." Yusuf mendekatiku, sedikit mencondongkan badannya padaku dan berbicara lirih. Balasanku hanya tersenyum. Aku masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Cieeee Bapak! Hahaha." Mereka tertawa.


"Kenalin dong Pak!" Timpal mahasiswi berbaju coklat dengan ransel dipunggungnya.


"Kalian mau saya kasih nila E?" Yusuf menatap anak yang tadi bicara.


"Ya Allah Bapak! Jangan kejam-kejam nanti pacar Bapak kabur. Dapat Janda tau rasa Bapak." Sambung salah satu dari mereka.


"Aamiin." Yusuf meng-aamiinkan sambil merapikan bajunya.


"Ha! Bapak serius? Ya Allah... Masak Kau harus jadi Janda dulh Vin baru bisa deketin Pak Yusuf! Hahaha." Lagi-lagi mereka tertawa, tapi satu mahasiswi di ujung Yusuf hanya tersenyum saat disengol temannya dengan siku. Anak itu cantik, putih dan lebih terlihat kalem dibandingkan teman-temannya.


"Iya, Saya nanti saya akan menikah dengan Janda, itu lebih baik dari pada sama kalian yang labil." Yusuf menjentikan jemarinya pada kening muridnya itu.


"Ahh, pupus sudah harapanmu Vina!" Vina yang mereka panggil hanya tertipu malu.


"Kanalin Bu, kita mahasiswinya Bapak hampir ngejomblo seumur hidup." Anak yang disampingku mengulurkan tangan.


"Saya Afiifah, temennya Yusuf." Aku menyambut uluran tangannya.


"Saya masuk dulu." Yusuf dan ke Empat mahasiswi itu segera berlalu meninggalkan aku.


"Sini Pak saya bantu!" Salah satu dari mereka menawarkan diri memberi bantuan untuk membawa laptop Yusuf. Tanpa menolak Yusuf memberikan Laptop itu padanya.


Untuk sesaat aku memandangi Yusuf yang semakin menjauh. Ada rasa tidak suka melihat Yusuf bersama mereka. Apa aku cemburu? Astagfirullah...


Bagaimana pun aku pernah menjadi mahasiswi. Aku juga pernah mengagumi dosenku. Jika memang anak yang mereka panggil Vina memiliki rasa pada Yusuf, ada rasa tidak rela.


Astagfirullah... Perasaan apa ini?


Aku segera membuang segala prasangka dari hatiku.


Kembali masuk kedalaman mobil, sembari mendengarkan tausiah dari youtube.


Tin...


"Jangan ambil hati ucapan mahasiswiku tadi, mereka memang jahil." Aku membaca whatshap dari Yusuf.


"Seperti yang mereka panggil Vina betul-betul punya rasa untukmu! Kenapa gak dicoba? Dia masih gadis, cantik lagi." Aku mengirim balasan pada Yusuf.


"Kau benar-benar ingin aku bersama Vina?" Balasan dari Yusuf.


Bergetar hatiku membaca balasan Yusuf. Apa ini? Apa dia juga punya rasa untuk mahasiswi nya itu?


"Kanapa kau malah meminta aku untuk jadi pendampingmu? Terserah... Kau bisa memilih dengan siapa kau akan menghabiskan hidupmu." Aku membalas pesan Yusuf lagi. Ya allah... Astagfirullah.

__ADS_1


"Kau cemburu?" balasan Yusuf dengan emo Wink. Ahh sudahlah lah, Aku abaikan Yusuf.


Sampai akhirnya tak terasa satu jam berakhir. aku dan Yusuf meninggalkan kampus untuk balik kerumah.


__ADS_2