Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 12


__ADS_3

Yusuf P O V


" bisa gila lama-lama dekat mereka " Yusuf segera meninggalkan afiifah dan anisa.


Yusuf dan kia menuju lantai 3 kapal untuk membeli beberapa cemilan untuk di perjalanan nanti.


" kia mau beli apa? " tanya Yusuf.


" kia mau beli susu saja om, boleh? " kia menunjuk deretan susu di dalam kulkas penjual.


" boleh, mbak tolong susu nya satu " ujar nya lagi.


" kalau beli dua boleh gak om?, mau strawberry 1 sama yang coklat 1 "


Kia mengedip kan mata nya, yahh semacam merayu ala anak kecil.


" boleh donk, tapi nanti minum nya satu-satu ya" jelas Yusuf sembari membayar belanjaan mereka.


" ayo kita turun, kapal kita akan segera sampai, kita harus kembali ke bus "


kini Yusuf memilih menggendong kia.


Kia hanya diam dalam pelukan Yusuf.


" dasar cewek, kalau udah ngobrol gak ada habis-habis nya " Yusuf berkata sendiri.


***


Kembali ke afiifah.


" kia kenapa minta gendong? "


aku segera menghampiri Yusuf dan kia dan aku spontan mengambil alih kia dari gendong Yusuf.


" om Yusuf sendiri yang mau gendong bu, bukan kakak yang minta gendong "


Sperti nya kia kesal dengan tuduhan ku.


" udah gak usah cemberut gitu, emang oom kok yang mau gendong kia sendiri, ini makanan kia " mas Yusuf mencoba buat kia kembali ceria.


" kalian masih mau tetap di sini? "


Yusuf mulai meninggalkan aku dan nisa juga kia.


" emang abang mau kemana? " tanya nisa.


" mau pulang, kalau kalian masihau di sini ya silahkan "


Dia masih mematung menatap ke arah kami.


" emang dasar perempuan kalau udah ngerumpi ngegosip gak ingat waktu, noh gak liat sudah hampir sampai, mau ketinggalan bus kalian? "


' Subhanallah... Abang macam apa dia ' batin ku.


" cih dasar. Kan abang bisa bilang ' dek youk ke bus kita udah hampir sampai ', biar ada manis-manis nya gitu "


Anisa memajukan bibir layak nya orang yang sedang mengejek.


" ahh lebay "


Yusuf lagi-lagi mengetok jidat anisa.


" sakit bang... " kesal anisa sembari mengusap jidat nya yang di getok Yusuf dengan telunjuk nya.


Kami pun langsung menuju bus yang di basement.


Aku hanya tersenyum melihat tingkah kakak beradik itu.


Ahh aku jadi rindu fariz.


Dret Dret... Tiba-tiba handphone ku bergetar.


Ahh panjang umur, yang ku rindukan malah menelepon.


" assalamualaikum adek kakak yang paling ganteng " aku mulai bicara setelah menggeser tombol blue di layar Ponsel ku.


" ahh waalaikumussalam kakak adek yang paling cantik " suara fariz terdengar jelas.


" panjang umur kamu, baru saja kakak merindukanmu " sambung ku.


" aku kan memang selalu bikin rindu " jawab nya dengan penuh percaya diri.


" kenapa telpon kakak?, kamu rindu kakak? " tanya ku penasaran kenapa ana ini menelepon.


" iya enggak lah kak, aku tu cuma selalu rindu kia " jawab nya jujur.


" ahh kamu mah " aku sedikit kesal.


" mana kia?, kakak kapan pulang kesini? Jangan sampai gak datang lho ya acara lamaran ku nanti, awas kalau gak pulang" ancam nya.


" iya iya... Kakak pasti datang, kakak akan kasih kejutan untuk kamu "


aku sudah bayangkan gimana terkejut nya mereka melihat aku datang jauh lebih awal dari perkiraan mereka.


Pasti nya nanti juga akan bawa kejutan yang tidak menyenangkan masalah rumah tangga ku.


" ibu ayooo " kia menunggu ku bersama yusuf. Yusuf kembali menggendong kia.


" udah dulu ya, kakak mau pergi ni, " aku berencana memutuskan sambungan telpon kami.


" tunggu kak.. " aku mendengar jelas teriakan fariz dari sebrang sana.


" apa lagi? Kakak buru-buru ni, nanti juga bakalan lepas kangen nya " aku mulai melangkah menuju kia dan yusuf.


" aku mau video callan sama kia kak, sebentar saja "


" iss kamu ini, nanti saja lah " kini aku sudah berada di depan yusuf dan kia.


" kalau gak di kasih ke kia aku gangguin terus ni " yusuf masih ngotot mau bicara sama kia.


" telponan biasa gini aja ya, gak usah video call, disini sinyal nya jelek ". Tolak ku.


Kalau aku izin kan video callan fariz nanti fariz tau kalau aku udah di jalan mau pulang ke sana. Enggak suprise lagi.

__ADS_1


Yusuf menatap ku dan entah apa arti dari tatalan nya itu, seolah-olah gak suka.


" nah.. Om fariz mau ngomong, jangan kasih tau ya kalau kita mau pulang ke rumah om fariz".


Aku kasih handphone ku ke kia.


Drama rindu-rinduan nan lebay antar kia dan fariz pun selesai.


" jalan saja kia, itu bus nya udah dekat " aku mengambil kia dari gendongan yusuf.


" kamu aja asik telponan lupa kalau anak nya udah ngeluyur duluan " yusuf memberikan kia pada ku.


" dia tu capek, maka nya minta gendong tadi " sambung yusuf lagi.


" maaf ya udah nyusahin kamu ". Aku merasa gak nyaman dengan ucapan yusuf.


" pacar baru kamu yang telpon? "tanya yusuf. Dia tersenyum tipis. Hanya dia yang tau arti dari senyuman nya itu.


jelas saja aku kaget mendengar pertanyaan yusuf.


Kini giliran ku menatap nya penuh rasa tidak suka. Tapi dia menatap ku biasa saja. Seolah-olah pertanyaan itu sebuah kebenaran.


" kamu gila yah?, kamu fikir aku wanita apa an, aku baru di thalak suami ku kemaren, trus sekarang aku udah punya pacar lagi, memang nya selama ini aku yang selingkuh dari suami ku "


aku menatap yusuf sinis.


" siapa yang tau ya kan, lagian aku gak tau kalau kamu baru di buang suami kamu "


" satu lagi, gak usah sebut suami, dia cuma mantan suami " dia memutar badan menghadap ku yang ada di belakang nya.


Subhanallah... Kata-kata nya ," di buang? " pantes saja dia belum dapat jodoh, mulut pedas. Ucap ku dalam hati.


" pedas nya omongan mu suf ". Ahir nya keluhan hati ku keluar juga dari mulut ku.


dia hanya merespon dengan senyum sinis sembari duduk di kursi nya, tepat nya di belakang kursi aku dan kia duduk.


Ya allah... Kenapa mood ku jadi sangat buruk sekarang?


Berkali-kali aku buang nafas ku dengan paksa.


" santai aja.. Gak usah di masukan ke hati " yusuf mencondongkan sedikit badan nya ke depan, di sela kursi ku dan kia.


Aku hanya diam tanpa merespon ucapan nya.


" kenapa bang? Abang bikin mbak afiifah kesal? Abang gangguin kak afiifah yah, jangan suka gangguin orang, nanti kamu jatuh cinta sama mbak afiifah tau rasa kamu ".


Aku mendengar ucapan anisa di kursi belakang dengan suara yang pelan, tapi masih mampu aku dengar dengan jelas.


Pletok....


Suara pukulan kembali terdengar oleh ku.


' pasti jidat anisa jadi korban lagi ' batin ku aneh nya aku malah sedikit tersenyum bayangkan pertengkaran mereka di kursi belakang.


" kalau ngomong di fikir dulu " aku masih mendengar suara mereka setengah berbisik.


Kini bus yang kami tumpangi suda keluar dari dalam kapal bahkan sudah lumayan lama berjalan.


Aku melihat kia yang mula mengantuk, ahh aku pun jadi ngantuk juga.


***


Aku melihat ke luar jendela bus.


Ya tuhan... Ternyata sudah gelap.


Aku melirik arloji yang berwarna fink di tangan ku.


" udah lewat isya ternyata " ucap ku lirih. Tanpa ku sadari sudah hampir 4 jam aku tertidur, seperti nya aku sangat lelah.


Bus pun berhenti, mungkin mau makan malam dan sholat dulu.


" mbak ayo turun, kita makan malam dulu dan sholat " anisa berhenti di samping kursi ku.


Enak saja dugaan ku.


" duluan aja nis, mbak nunggu kia bangun dulu" jawab ku sopan.


"oke.. Nisa duluan y mbak ".


Aku mengubah panggilan ku untuk nisa, yang awal nya aku awali dengan panggilan mbak, sekarang cukup dengan sebutan nisa saja, karena aku sudah tau kalau aku lebih tua dari se nya.


30 menit sudah aku dan kia di dalam bus. Akhirnya kia pun bangun juga.


Aku menuntun kia turun dari mobil, dengan 1 tas yang lumayan besar di tangan ku.


Aku melihat kesetiap sudut mencari anisa, aku tidak menemukan nya. Tapi aku melihat sosok pria yang awal nya sangka ku sebagai suami anisa. Ahh malu nya aku kalau ingat ucapan ku kemaren.


Aku pun menghampiri yusuf.


" assalamualaikum.. Bang yusuf " aku menyapa sedikit ragu.


Dia menoleh ke arah ku. Aku melihat kening nya bekerut, mungkin dia kaget mendengar panggilan abang dari ku. Jujur saja aku khilaf dengan panggilan abang itu.


Mana mungkin aku berani sok akrab pada manusia tanpa ekspresi ini.


" hmmm waalaikumussalam.. " dia menjawab salam ku setelah meneguk minuman di depan nya. Mungkin dia menetral kan pikiran nya sebab panggilan ku tadi.


Ahh lucu nya melihat wajah nya yang tiba-tiba jadi gugup.


" maaf ganggu yusuf, aku mau minta tolong boleh? " sekarang aku merasa semakin ragu melihat ekspresi nya yang datar.


" apa? " tanya nya singkat.


" aku mau ke kamar mandi, tadi nya aku mau nitip kia sama anisa, tapi aku gak liat nisa suf, jadi boleh aku titip kia sama kamu? " aku ragu-ragu.


" ohh nisa juga lagi di kamar mandi, iya tinggal aja kia sama aku, biar aku jagain "


" makasih yah, " aku sedikit tersenyum.


" Kia tinggal sm om yusuf sebentar ya, ibu mau mandi " aku bicara pada nisa.


" iya bu, " jawab kia. Seperti dia masih belum sadar penuh dari tidur nya.

__ADS_1


" sini sama oom, kia mau makan atau minum sesuatu? " tanya yusuf ramah.


Mungkin benar yang di katakan anisa sebenar nya yusuf itu sangat perhatian dan penyayang. Bukti nya sama kia dia selalu bersikap hangat.


Aku pun meninggalkan kia pada yusuf dengan tenang.


Aku segera membersihkan seluruh tubuh ku mengganti pakaian ku.


Setelah hampir 30 menit aku pun selesai.


Dari kejauhan aku melihat yusuf anisa dan kia sedang menikmati makanan mereka.


" eh mbak afiifah, udah selesai bersih-bersih nya? " tanya anisa yang kaget dengan kedatangan ku?


" udah nis, udah lumayan segar sekarang " jawab ku.


" duduk mbak " anisa menggeser posisi duduk nya dan memperlsilah kan aku duduk di samping nya, tapi sial nya posisi ini tepat di depan yusuf.


Aku menatap yusuf di depan ku, aku ragu untuk duduk, tapi melihat yusuf tanpa reaksi aku pun memutuskan untuk duduk.


Aku mencoba bersikap bodo amat.


" om yusuf, kita masih lama sampai kerumah ya? " kia memegang tangan yusuf yang duduk di samping nya.


" kenapa? Kia udah capek? " yusuf mengabaikan pertanyaan kia tapi malah balik bertanya.


" iya... Punggung yusuf sakit tidur di bus om, besok-besok yusuf gak mau naik bus lagi, kia mau pakai pesawat saja " celoteh kia.


" tapi kia suka kan bisa naik kapal? " tanya yusuf.


" suka om, tapi gak suka naik bus nya, perut kia mau muntah rasa nya " sambung kia.


" kia mabuk darat? " kini yusuf bertanya pada ku. Kenapa yusuf terlihat agak cemas? Ahh mungkin hanya perasaan ku saja.


" kayak nya sih engak " jawab ku.


" atau kia mabuk laut? " tanya yusuf lagi.


" hmmm enggak tau, karena baru kali ini dia naik kapal " jawab ku bingung.


" gimana sih, masak ibu nya gak tau " ucapa yusuf. Pedas terdengar di telinga.


Sontak mata ku terbelalak mendengar ucapan yusuf.


" sekarang masih mau muntah? " tanya yusuf pada kia.


" sedikit om " jawab kia.


Hueekk Hueekk...


Astaga.. Tiba-tiba kia muntah beneran.


Aku mulai cemas melihat kia yang tiba-tiba tampak pucat. Pantas saja dari tadi kia tampak tidak bersemangat, ku kira karena kia masih kurang tidur.


Aku melihat keringat bercucuran di wajah nya, membasahi kerudung yang di pakai nya.


Aku segera menghampiri kia, aku bingung apa yang harus ku lakukan.


" kamu ngapain? " teguran yusuf membuyarkan lamunan ku.


" aku bingung " jawab ku.


" astaga.... Anisa mana minyak telon kamu? " anisa pun sama seperti aku, tampak bingung tidak tau apa yang harus di lakukan.


Hueekk Hueekk...


Kia masih memuntahkan isi perut nya.


" hei.. Duduk disini, buka kerudung kia "


Ahhh bentakan yusuf membuat aku semakin panik, aku makin bingung apa yang harus aku lakukan.


Selain aku bingung liat kia yang muntah-muntah, aku juga bingung karena yusuf memenuhi seluruh tubuh kia.


Mungkin tepat nya aku gugup.


" kamu itu perawat, nanganin muntah aja kamu bingung, ngerawat anak sendiri saja kamu takut, gak becus " dari nada bicara nya seperti nya yusuf kesal.


Jleb.....


Behhh, apa-apaan ini?


Gak becus kata nya?


Dia merendahkan kan aku?


Tunggu... Dari mana dia tau aku perawat?


Ahhh masak bodo tau dari mana dia. Tapi dia gak pantas merendahkan aku.


Dia juga gak pantas ngecap aku sebagai ibu yang tidak becus?


Ingin marah rasa nya.


Tapi apa lah daya aku tidak punya kekuatan untuk bertengkar.


Setelah kia berhenti muntah, aku menggendong kia.


" kamu bersihkan tubuh kia sana, belajar lagi jadi ibu yang baik "


Yusuf pun berlalu menuju kamar mandi, seperti celana yusuf juga kecipratan muntah kia.


Yusuf menatap ku dengan wajah yang di tekuk.


" bang... Bisa gak sih di kontrol dikit mulut abang? " anisa pasti kesal dengan perbuatan abang nya.


Tapi seperti nya manusia ciptaan allah satu ini memang di Takdir kan tidak memiliki rasa empati.


Tak terasa air mata ku menetes. Segera aku usap.


" kamu itu kebiasaan bang, mbak afiifah tu bingung mau gimana, wong kamu dari tadi pelukin kia terus, kamu gak kasih kesempatan mbak afiifah nyentuh kia, astagfirullah... Kesal juga lama-lama nisa sama sifat abang yang sok keren itu "


Gumam anisa. Seperti nya anisa benar-benar kesal.

__ADS_1


Anisa pun menuntun aku dak kia ke kamar mandi untuk membersihkan badan kia. Lalu aku mengganti kia dengan baju yang bersih dan nyaman.


__ADS_2