
Angin malam menerobos masuk, melewati jejeran jendela yang bergaya Eropa. Rasa dingin menusuk hingga ketulang. Sepertinya akan turun hujan.
Perlahan Yusuf menutup jendela yang sesekali tertutup tirai abu-abu yang bergoyang terhembus tiupan angin.
Malam yang sempurna untuk sepasang pasangan yang baru menikah bukan? Hehe.
Sepuluh malam.
Selesai sholat isya aku sudah ingin segera berbaring, entah bisa segera tidur atau tidak yang pasti aku ingin meluruskan tulang belulangku.
"Apa?" Aku kaget seketika Yusuf mendekap tubuhku dari belakang.
"Apa?" Aku kembali bertanya dan mencoba menahan tangan Yusuf yang sudah mulai nakal menyibak rambutku yang menghalangi leher jenjangku. Menurutku sih jenjang. Hee
"Aku punya sesuatu untukmu." Aku mengubah posisi keduduk, mengikuti Yusuf yang sudah duduk disampingku.
"Hadiah lagi?" Aku menatap mata Yusuf dengan kerutan didahiku.
"Lagi? Aku baru saja akan kasih ini." Jawab Yusuf yang dahinya ikut berkerut, "kok lagi? Memangnya sebelum ini kau pernah kasih hadiah?"
"Ini!" Aku menunjuk cincin bertahta permata ungu muda dijari manisku.
"Itu hadiah dari Ibu." Lanjut Yusuf sembari tersenyum.
"Yang ini... Khusus diriku, hadiah pertama untuk istri tercinta." Melihat Yusuf yang sengaja menggoda, aku menyembunyikan senyumku dalam.
"MasyaAllah...!" Aku terkesima saat melihat kalung yang juga bertahta permata ungu muda ditengahnya.
"Serius ini punyaku?"
"Pasti harganya mahalkan?"
"Ini pasti sangat berharga." Aku memegang kalung yang sudah melingkar dileherku.
"Masih kalah berharga dari kamu dan masih kalah mahal dibandingkan dirimu." Satu kecupan kembali mendarat diupuk kepalaku yang mampu membuat aku kembali terpejam, menikmati cinta yang yang bertubi-tubi Yusuf berikan.
"Bang!" Aku kembali memberanikan diri menatap mata tajam Yusuf.
"Aku tidak butuh semua ini, uang mahar yang Bang berikan kemarin saja rasanya sudah lebih dari cukup."
"Aku tidak membutuhkan harta yang melimpah, atau kesenangan dunia semata." Mataku mulai berkaca-kaca.
"Aku hanya butuh Abang dalam setiap langkahku."
"Abang tau!" dua hari bersama, satu hal yang baru aku mengerti, saat aku memanggil Yusuf Abang, ia juga akan manggil dirinya dengan Abang, tapi ketika aku manggilnya dengan Yusuf, ia juga akan ikut memanggil aku atau Yusuf untuk dirinya.
__ADS_1
"Abang tau, abang juga yakin sayang bukanlah tipe perempuan yang menganggungkan harta dan kesenangan dunia,
"Abang tau, wanita yang paling besar berkahnya, ialah wanita yang paling murah maharnya. Tapi... Memberikan mahar yang sedikit banyak rasanya juga bukan masalah karena abang tidak merasa diberatkan olehnya."
"Abang ngerasa sayang begitu berharga, jadi mahar yang abang berikan rasanya tidak lah sepadan untuk wanita sebaik kamu, mahar itu menunjukan rasa syukur Abang sudah bisa menjadi bagian dalam hidup sayang."
"Jadi... Hadiah ini bukanlah bagian dari kewajiban dari mahar yang Abng berikan. Tidak ada salahnya kan memberi kebahagian kepada perempuan yang juga sudah membuat hidup Abang paling bahagia."
Sudah lah... Air mata ku sudah tak mampu aku tahan, ucapan Yusuf benar-benar membuat aku merasa bahagia.
"Sudah jangan nangis, Pokoknya! Mulai saat ini aku akan selalu membuat kamu bahagia, jika suatu hari nanti aku berbuat salah, tolong ingatkan aku juga, tegur aku juga, bukankah tugas suami istri itu saling mengingatkan?" Yusuf merangkul tubuhku dan hanya aku balas dengan anggukan.
"Kamu mau aku ajak ziarah kemakam Ayah Ibu?" Aku kembali mengangguk.
"Sekalian nanti kita ziarah kemakam Kia, dan minggu depan kita bisa pulang kampung sekalian honeymoon." Aku mendongak mataku menapaki wajah Yusuf, semakin tampak tampan.
"Cincin ini dulu Ibu titipkan ke Mami, ketika Ibu dan Ayah meninggal aku benar-benar tidak bisa mengingat, karena saat itu usia ku masih sangat kecil." Aku melepaskan pelukan dari Yusuf untuk lebih mendengar cerita Yusuf. Aku ingin menjadi bagian dari kisah Pilu Yusuf.
"Aku hanya ingat tangisan orang-orang dan ucapan bela sungkawa, serta tatapan iba orang-orang padaku."
"Bahkan aku tidak punya kenangan dengan orang tuaku, aku hanya bisa mengingat mereka lewat Fhoto ini." Dengan mengusap bingkai fhoto yang sudah bisa aku pastikan itu fhoto orang tua Yusuf.
Aku bisa melihat kerinduan dimata Yusuf, kerinduan yang luar biasa.
"Aku sangat merindukan mereka." Kini aku rasa Yusuf tidak berniat menyembunyikan rasa sedihnya dariku. Aku melihat sisi lemah Yusuf malam ini.
"Aku sangat merindukan mereka, Fah! Selama ini walaupun Mami dan Papi begitu menyayangiku tetap saja aku sering rindu mereka yang sudah Allah panggil."
"Jadi tolong! Setelah ini tetap lah terus disisi ku, bantu aku melewati setiap kehidupanku, jadilah pelipur lara dalam setiap duka ku, jangan pernah tinggalkan aku."
Melihat tatapan Yusuf padaku, dengan air mata yang mulai mengalir, menampakkan kesedihan yang tak bisa ia sembunyikan lagi, membuat hatiku ikut sakit dan sedih.
"Iya, insyaAllah aku akan selalu ada dan selalu menemani kamu dalam keadaan apapun, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu." Aku menggenggam erat kedua tangan Yusuf dan menyeka sisa air matanya.
Tidak! Ini bukan kali pertama aku melihat Yusuf menjadi lemah, dulu saat mengetahui apa yang terjadi pada Kia.
"Mulai saat ini jangan takut untuk menangis, aku akan selalu ada, kita akan melalui semuanya bersama."
"Sekali lagi! Mksh untuk kado pernikahan ini, aku suka, suka banget malahan." aku memegang kalung yang kini melingkar dileherku.
"Maafkan aku belum kepikiran untuk kasih kado apa ke kamu, aku bingung." Aku sedikit kecewa pada diriku sendiri.
"Tak apa, kamu itu sudah menjadi kado paling indah dan paling istimewa dalam hidup aku."
"Udah tengah malam, kamu pasti ngantuk kan? Istirahat aja." Yusuf merebahkan kepalaku diatas tangannya.
__ADS_1
"Oh ya! Mulai sekarang belajar untuk selalu memanggil aku Abang, jangan kadang Abang kadang Yusuf kadang kamu."
"Kalau aku panggil sayang terus, boleh?" Nyengir kuda, dan menampakkan deretan gigiku.
"Hm." Yusuf menutup matanya dengan tetap memelukku.
"Boleh gak?" Aku berusaha mengangkat wajahnya.
"Hm."
"Boleh gak?" Aku masih berusaha.
"Jangan mancing! Butuh charger ni." Melihat tatapan Yusuf seolah siap menerkam ku, aku segera mengubah posisi dengan membelakangi nya.
"Kau tau? Aku pernah baca, posisi seperti ini semakin mempermudah aku menjelajahi tubuhmu." Yusuf makin mengeratkan pelukannya.
"Tangan aku makin leluasa menggapainya." Kini tangan Yusuf sudah memenuhi kedua gundukan didadaku.
"Katanya aku disuruh istirahat!" Aku menghentikan gerakan nakal tangan Yusuf.
"Haha. Makanya lain kali jangan suka menggoda aku, tanpa digoda saja aku merasa selalu tergoda dengan tubuhmu."
"Ya sudah tidur." Aku merasa sangat lelah, kalau bisa biarkan malam ini aku beristirahat dengan tenang.
"Oh ya!" Aku mengubah posisi menghadap Yusuf.
"Apa lagi?" Mata Yusuf menetapku.
"Kapan kita akan pindah kesini?"
"Ah!" Sepertinya Yusuf sedang tidak berminat untuk melanjutkan obrolan ini, mungkin ia juga merasa lelah.
"Bang." Aku menggoyang lengannya.
"Sayang..." Oke! Aku yang memulai, satu kecupan dibibir sebagai rayuan, entah kenapa aku masih belum ingin tidur dan masih betah berlama-lama bercerita dengannya.
"Aku gak berniat untuk pindah kesini, Fah" Mata Yusuf masih terpejam, Bisa-bisanya ia mengabaikan rasa strawberry dari bibirku.
"Kenapa?"
"Karena sekarang aku butuh daya, biar bisa berfikir."
Melihat mata Yusuf yang seperti singa lapar seketika pula rasa takut menyelimuti hatiku.
"Ck. Alasan." Aku menutup mata, menangani
__ADS_1