Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 57


__ADS_3

"Pesan apa?" Saat waittress memberikan daftar menu.


"Strip steak dengan saus chimichurri pedas, Hm... Sama cranberry satu."


"Saya pesan yang sama." sembari tersenyum Yusuf melirik waitress sekilas, pesan menu yang sama.


"Baik, ditunggu ya, Pak, Bu." Sesaat sebelum wanita yang berseragam dengan rambut tertata rapi yang bertugas sebagai waittress tersebut beranjak meninggalkan aku dan Yusuf.


"Abang sering makan disini?"


"Lumayan sering,"


"Sendirian? Atau sama teman? Hmmm... Atau juga sama pasangan?"


"Kadang sendirian, kadang juga sama teman."


"Kalau sama pasangan? Pernah gak?"


"Hmm..." Ia mengangguk pasti, "Pernah, beberapa kali dan itu juga sudah lumayan lama."


"Disini nyaman, juga gak terlalu ramai, terlebih lagi rasanya yang enak."


"Kamu sering kesini juga?"


Aku menggeleng pelan.


"Dulu sewaktu muda restoran ini kayaknya belum ada, tempat nongkrong kita, ya... Cuma mall saja, sama restoran dalam mall."


"Hebat ya, dalam beberapa tahun saja kota ini ni sudah banyak perubahan. Sayangnya... Aku mah gak terlalu banyak menghabiskan waktu disini."


"Dulu selesai SMA aku malah milih lanjutkan pendidikan di Ibukota."


"Beberapa tahun? Sembilan tahun itu bukan waktu sebentar."


"Hehe... Iya sih Bang, ternyata sudah selama itu aku tunggal di Ibukota."


"Suka tinggal Di Jakarta?"


"Hm... Biasa aja sih, tapi masih sedikit sedih meninggalkannya."


"Meninggalkan Jakartanya? Atau orang yang


ada di Jakartanya?"


"Semuanya... Bagai mana pun, aku punya orang-orang yang begitu baik ama Aku disana."


"Besok kapan-kapan kita liburan lagi ke jakarta, lagian... Kita juga belum ziarah ke makam kakek kan?"


Aku mengangguk.


"Yusuf!" Suara deru langkah menuju arah duduk aku dan Yusuf.


"Eh... Sama istri?" Wanita itu melirik aku sekilas.


"Mbak Sarah!" Aku terkejut melihat perempuan yang berdiri dibelakangku, ternyata perempuan yang pernah memperkenalkan diri sebagai mantan dari suamiku.


"Assalamualaikum, Mbak!" Aku menyapanya tanpa ragu, sekilas melirik Yusuf yang seolah tanpa ekspresi.


"Wa'alaikumussalam."


"Boleh aku gabung?" Tanyanya pada Yusuf.


"Hm... Maaf Mbak, tapi kursinya ada dua." Beberapa saat tak ada jawaban dari Yusuf, "Sayang... Kita pindah kemeja itu saja." Aku menunjuk kursi sofa yang tak jauh dari tempat tempat duduk kita saat ini.


"Disini saja! Silahkan cari kursi yang lain, masih banyak yang kosong." Jawab Yusuf tanpa memandang Mbak Sarah.


"Ohh... Ya udah, maaf aku mengganggu."


"Eh, Mbak!" Aku berdiri mencoba mengenhentikan Mbak Sarah yang sudah membalik badan hendak pergi.


"Gak papa Mbak, gabung saja!


"Yank..." Aku menatap Yusuf penuh harap. Lagian gak tega juga melihat Mbak Sarah pergi dengan rasa kecewa atau mungkin dia dengan rasa sedih karena ucapan Yusuf.


"Kita pindah ya, lagian kasian Mbak Sarah nya. Gak enak tau makan sendirian." Aku mengeluarkan senyum termanis versiku, berharap Yusuf luluh.


"Gak papa, Fah. Saya pulang saja. Nanti bisa makan dirumah."


"Ini sudah jam dua lewat Mbak, kasian kalau harus tunggu sampai rumah, nanti bisa sakit kalau telat makan." Aku masih berusaha mengehentikan Mbak Sarah.


"Yank... Please!" Kali ini aku memasang wajah melas, dengan kedua tangan didepan.


"Ck." Yusuf berdiri, "Sekali ini saja ya, Abang gak mau kalau besok ada yang ngacau moment kita berdua."


" Hehehe... Siap, Pak." Aku mengangguk dan mendorong tubuh Yusuf menuju meja yang tadi ku maksud.


"Mbak Sarah! Sini." Aku memberi isyarat agar Mbak Sarah duduk bersama Aku dan Yusuf.


Dengan tersenyum penuh bahagia, Mbak Sarah menuju aku dan Yusuf.


"Terima kasih." Ia mengambil posisi tepat dihadapan Yusuf.


Aku mengangguk.


"Mbak Sarah mau pesan apa?" Tanya ku sembari memanggil waitress.


"Aku Strip steak dengan saus chimichurri pedas, Sama cranberry satu."


"Wah... Hebat. Ternyata sama!"


"Mbak Sarah juga suka makanan ini?" Tanya ku antusias, pasalnya aku memang kaget mengetahui pesanan Mbak Sarah. Mustahil rasanya kan kalau hanya kebetulan saja.

__ADS_1


"Suka. Apa lagi seseorang yang aku suka dari dulu juga makanan ini, jadi bisa keingat momen dulu."


"Ini juga salah satu restoran yang banyak kenangan bagi aku." Ada sedikit rasa kecewa tang terlihat diraut wajah Mbak Sarah.


"Ohh... Gitu." Aku hanya tersenyum menanggapi cerita Mbak Sarah. Entah kenapa aku tidak begitu tertarik dengan kisah cinta Mbak Sarah.


"Masih suka datang kesini?" Mbak Sarah tanpa segan mantap Yusuf, tapi yang ditatap dan ditanya masih seperti bongkahan Es dingin tanpa ekspresi, malah semakin sibuk dengan ponselnya.


"Gak Mbak, setelah menikah ini kali pertama kita kesini," Jawabku, setelah kembali menunggu beberapa saat tanpa jawaban dari Yusuf.


"Oh... Padahal dulu Yusuf hampir setiap hari datang kesini." Pandangan Mbak Sarah terarah padaku.


Kenapa aku merasa orang yang Mbak Sarah maksud dalam kenangan nya itu adalah Yusuf ya?


Melihat tingkah Yusuf yang tanpa respon, membuat aku canggung.


"Mbak Sarah, sudah menikah?"


"Terima kasih." Saat waittress memberikan pesanan kami.


Dijawab dengan gelengan.


"Oh... Kirain sudah! Gak papa Mbak, Mbak Sarah juga masih muda, masih cantik lagi." Aku merasa tidak enak hati dengan pertanyaan ku tadi, "Maaf Mbak saya gak bermaksud apa-apa."


"Gak papa, santai aja."


"Pernah dulu punya impian untuk segera menikah, tapi salah saya juga sih, pergi tanpa kabar dan meninggalkan pasangan saya, setelah beberapa bulan kembali kesini ternyata saya sudah tidak diharapkan." Mbak Sarah mulai memotong steaknya, "Bahkan ternyata dia sudah menikah." Mbak Sarah kembali memasukkan sepotong steak kedalam mulut.


"Berarti gak jodoh, Mbak." Melihat pandangan Mbak Sarah yang hampir tidak teralihkan dari Yusuf, membuat aku sedikit tidak suka.


"Saya sih pinginnya jodoh, hehehe. Saya siap jadi istri kedua kalau dia bersedia menerima saya kembali." Sontak saja aku menghentikan aktivitas mengunyahku.


"Mbak Sarah serius? Mau jadi yang kedua?"


Aku menyeruput cranberry yang tadi kupesan.


"Mbak... Mineralnya satu ya." Pesanku pada waittress yang kebetulan lewat disampingku.


"Saya satu juga Mbak." Mbak Sarah ikut memesan.


"Saya serius." Mbak Sarah menatapku lekat membuat aku memgerutkan dahiku.


"Kenapa? Mbak Sarah masih muda. Masih cantik lagi, pasti banyak yang mau sama Mbak." Aku balik menatap Mbak Sarah.


"Ya... Karena akunya cinta sama dia." Seolah tanpa dosa Mbak Sarah berkat sambil tersenyum.


"Astagfirullah..." Aku menggeleng. Kenapa harus bertemu orang seperti. Bak Sarah sih? Berkali-kali aku mengucap istighfar dalam hati, ampuni hamba Ya Allah yang sudah berprasangka buruk, yang menggap Mbak Sarah calon pelakor.


"Kamu siap kalau suami kamu berpoligami?" pertanyaan macam apa ini? Ck ck... Mbak Sarah apa-apa saja. Tapi... It's oke! Orang seperti Mbak Sarah kudu dihadapi dengan hati dingin.


"Tidak. Saya menolak jika suami saya ingin berpoligami. Tapi... Aku lebih menghargai poligami dari pada menikah secara diam-diam. Jadi, kalau suatu saat Bang Yusuf memang ingin miliki istri lagi, akan aku pertimbangan. Dari pada dia menikah diam-diam." Aku menatap lekat Yusuf yang dibalas tatapan sisnisnya.


"Jadi... Sebelum suamiku mengutarakan keinginan untuk menikah lagi, harus menyakini hati, apakah bisa bersikap adil atau tidak." Aku masih menatap Yusuf, dan Yusuf masih diam dan menikmati makanannya.


"Saya tidak meminta dia bersikap adil, saya hanya butuh status sebagai istri sah. Itu saja, itu sudah cukup untuk saya."


"Hahaha...bak Sarah apa-apa saja."


"Jangan gitu dong Mbak, itu namanya egois. Suaminya Mbak Sarah nanti yang dosa. Bagai mana pun suaminya Mbak Sarah harus bersikap adil, lagian Mbak Sarah belum ngalamin, jadi bisa bilang gak papa, sakit Mbak. Membayangkan nya saja sakit." Aku kembali meneguk air mineral yang tadi aku pesan. Rasanya ingin rasa yang bergejolak ini luntur bersama air yang mengalir ditenggorkan ku.


"Pesan saya... Mbak Sarah jangan lagi terobsesi dengan mantannya Mbak Sarah itu, apa lagi dia sudah menikah, kasian istrinya, kasian juga Mbak Sarah. Harus move on Mbak. Masih banyak laki-laki baik diluaran sana."


"Mungkin banyak, tapi yang kayak dia cuma satu." Lagi-lagi Mbak Sarah ikut meneguk air mineral seperti yang aku lakukan.


"Kita memang punya keinginan, tapi percayalah! Allah tau mana yang terbaik untuk kita. Kita tuh ya Mbak hanya perlu ikutin alurnya saja. Menantangnya hanya akan membuat kita semakin lelah. Jadi... Apapun yang sekarang terjadi Mbak Sarah kudu belajar menerima dan memahami kalau kalian memang tidak berjodoh. Belajar untuk kembali menata hati, Mbak Sarah mah pasti bisa mendapat suami terbaik, yang jauh lebih baik dari Bang Yusuf." Kini ucapanku sukses membuat Mbak Sarah terperanjah.


"Hahaha... Kok muka nya pada tegang?" Ternyata Yusuf pun juga menghentikan makannya sejenak, dan melirikku semakin tajam.


"Aku hanya becanda, lagian gak mungkinkan orang yang Mbak Sarah maksud itu kamu." Aku masukan sepotong steak kedalam mulut Yusuf.


"Buruan makannya, kita ke Cafe dulu. Aku mau ngecek Cafe." Yusuf menyeka mulutnya dengan tissu.


"Abang udahan? Kok gak habis? Mubazir! Tadi katanya lapar."


"Udah kenyang! Buruan makannya. Abang ketoilet sebentar." Yusuf beranjak menuju toilet.


"Mbak Sarah dihabiskan makannya, kasian mubazir. Diluaran sana banyak yang gak bisa makan, jadi kita harus bersyukur masih diberi Allah rejeki bisa makan enak kayak gini." Mbak Sarah hanya sedikit tersenyum dan kembali memasukan potongan steak kedalam mulut.


"Mbak Sarah kenapa? Kok jadi diam? Udah kenyang? atau lagi gak enak badan?"


"Aku gak papa." Mbak Sarah menepis tanganku dari dahinya.


"Kirain tiba-tiba sakit! Kalau betul sakit kita bisa antar kerumah sakit kok Mbak."


"Aku gak papa, mungkin ke capekan aja, lagian dari tadi ngoceh mulu." Mbak Sarah kembali tersenyum.


"Oh... Gitu!


"Mbak Sarah kerja dimana?"


"Di Universitas Jambi." Jawabnya. Kali ini tanpa melihatku.


"Unja?"


"He'eh... Dosen juga, sama kayak Yusuf."


"Dosen manajemen bisnis juga?"


"Iya."


"Oh... Hehe tolong jagain suami aku ya Mbak." Aku berusaha mencairkan suasana yang mulai kerasa canggung, yang dimintai tolong hanya tersenyum.

__ADS_1


"Kenal Bang Yusuf dari mana?" Aku jadi ingin tau sejauh apa hubungan mereka dulu.


"Dari Sma." Jawabnya singkat.


"Hm..." Aku celingak celinguk melihat sekitar.


"Sedekat apa dulu Mbak Sarah sama Bang Yusuf?"


"Waktu Sma gak terlalu dekat, aku sekretarisnya dulu, sewaktu menjabat jadi ketua osis."


"Terus dekatnya waktu kapan?" sesekali aku masih melahap steak yang tinggal beberapa potongan lagi.


"Waktu kuliah, kita satu kelas sampai selesai."


"Bukannya dulu bambang Yusuf sempat pindah kejakarta ya!"


"Iya. Aku juga. Intinya kita selalu satu kelas." jawabnya sembari tersenyum.


"Afiifah!"


"Hm." Melihat tatapan tajam Mbak Sarah membuat jantungku berdegup kencang, aku ngerasa tidak nyaman dengan tatapan itu.


"Afiifah... Aku ingin bicara serius." Mbak Sarah berkata dengan sedikit ragu, sembari melirik kiri kanan.


"Hm... Katakan saja Mbak."


"Aku ingin minta tolong."


"Iya, Mbak Sarah katakan saja. InsyaAllah selagi mampu aku akan bantu."


"Hm...


"Maafkan aku, Afiifah."


"Maaf untuk apa Mbak?" ucapan Mbak Sarah mampu membuat dahiku berkerut.


Maaf untuk apa? Rasanya tidak ada masalah antara aku dan Mbak Sarah.


"Katakan, Mbak! Atau Mbak Sarah ingin aku carikan suami? Hehe." Aku mencoba mencairkan suasana hatiku yang tak menentu.


"Aku mencintai Yusuf! Dan aku ingin menjadi istri keduanya."


"Uhuk... Uhuk, Uhuk..." Berkali-kali aku meneguk air mineral dihadpanku.


"Uhuk..."


"Kamu gak papa?". Bak Sarah menepuk punggjngku.


"Sayang!" Aku melihat Yusuf yang setengah berlari menghampiriku, dan menepis tangan Mbak Sarah dari punggungku, menggantikan posisi tangan Mbak Sarah dengan tangannya.


"Fah! Kamu gak papa."


"Uhuk... Uhuk." Aku menggeleng, "Gak papa. Uhuk Uhuk..."


"Kamu kenapa? Gak biasanya makan sampai tersedak gini! Lain kali hati-hati, pesan-pelan makannya." Yusuf memberikan cranberry nya padaku.


"Gak papa. Tadi memang kurang hati-hati." Aku mencoba tersenyum, tapi jujur saja hatiku gelisah memikirkan ucapan Mbak Sarah yang berani berterus terang padaku.


Gak mungkin rasanya Mbak Sarah bercanda dengan ucapannya barusan. Astagfirullah... Ujian apa lagi ini.


"Kita pulang ya, udahkan makannya?" Yusuf masih menepuk-nepuk punggungku sesekali.


Aku mengangguk.


"Mas!"


"Biar aku bayar sendiri saja." cegah Mbak Sarah, Saat waittress hendak memberikan bon pada Yusuf.


"Dua ini saja." Yusuf tidak menolak saat Mak Sarah ingin membayar makanannya sendiri.


"Semuanya saja, Mas." Aku merasa tidak enak hati membiarkan Mbak Sarah membayar sendiri.


"Gak papa, Fah, Aku... "


"Ini." Aku memberikan kartu kreditku pada petugas restoran ini.


"Terima kasih, Fah." Saat ini aku bisa melihat rasa canggung diwajah Mbak Sarah. Mungkinkah ia menyesal sudah berkata jujur padaku? Ah... Entahlah.


"Sama-sama, Mbak."


"Mbak Sarah pulang sama siapa? Bawa mobil? Atau dijemput?" sesaat setelah kau melihat Mbak Sarah berbeda arah denganku dan Yusuf.


Ia sepertinya menuju jalan raya.


"Saya pakai taxi saja, Hm... Tadi kebetulan gak bawa mobil, kesini bareng teman, tapi ia gak jadi lunc. Ada urusan mendadak." sesaat Mbak Sarah berhenti.


"Pulang bareng kita saja Mbak!"


"Sayang!" Yusuf sepertinya keberatan harus mengantar Mbak Sarah pulang.


"Gak papa, boleh ya! Kasian. Kalau jam segini biasanya taxi agak sulit." Alasanku.


"Noh... Didepan banyak." Yusuf menunjuk taxi yang berjejer disebrang jalan.


"Hehe... Tapi kasian yank. Gak papa lah, sesekali."


"Mbak Sarah! Ayo! Kita anterin pulang."


"Hm... Gak usah, Aku benaran bisa pakai Taxi kok, Fah."


"Udah.. Gak usah gak enakan gitu." Aku menghampiri Mbak Sarah dan memperkenalkan dan menariknya masuk kedalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2