Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 16


__ADS_3

Aku mulai melangkah dengan sedikit rasa ragu.


Apa yang harus ku kata kan jika nanti ayah dan bunda bertanya tentang mas haikal?


Ya allah semoga engkau kuatkan hati ini.


Egkau bimbing hati ini.


Sejujur nya aku sangat rindu pelukan bunda. Aku ingin segera berbagi beban hati ku pada bunda.


Maaf kan aku ayah, bunda, untuk yang kesekian kali aku membuat ayah dan bunda kecewa.


Bismillah...


Aku yakin allah juga akan memberi kekuatan pada ku.


" kita sudah sampai di rumah om fariz ya bu? " kia mengikuti langkah ku dengan menyeret koper kecil di tangan nya.


" iya sayang, kia happy gak ketemu om fariz nanti? ".


" sangat happy ibu, kak kia sangat rindu om fariz nenek dan atok ". Tampak jelas rasa bahagia di wajah nya dan seketika rasa lelah nya pun tampak tegantikan dengan kebahagian.


Aku pun tersenyum pada nya.


Aku menekan Ball yang terletak di samping pagar. Sesaat aku menunggu pintu terbuka.


Tak menunggu lama aku melihat bu siti keluar dari rumah, seperti nya dia juga sangat kaget dengan kedatangan ku.


" stttt " aku memberi isyarat pada bu siti untuk diam ketika bu siti hendak balik ke dalam rumah.


Bu siti segera buka gerbang rumah setelah mengerti dengan isyarat yang ku berikan.


" ya allah... Non ifah kamu pulang nak, ibu sangat rindu ". Bu siti spontan memeluk ku.


" alhamdulillah bu, ibu sehat? " aku pun sangat bahagia bertemu wanita yang penuh kesabaran ini.


Bu siti sudah bekerja di rumah orang tua ku sejak aku umur 13 tahun. Beliau di bawa ayah ke kota setelah kematian suami beserta dua anak nya yang di sebab kan kebakaran di rumah nya.


Bu siti sudah seperti keluarga bagi kami semua. Beliau sosok perempuan yang sangat sabar dalam segala hal.


" kia.. Kia apa kabar? ". Bu siti menggendong kia menuju kedalaman rumah.


" sehat bi siti " jawab kia yang memeluk leher bu siti.


" ahh bibi sangat rindu kia juga, nanti jadi ada teman main nya dina ". Bu siti mencium pipi kia.


Aku hanya tersenyum melihat ulah mereka.


" ayah bunda sama fariz ada di rumah gak bu? " aku sudah tidak sabar ingin tau keberadaan mereka.


" ada non, mungkin di ruang atas nonton tv sambil nunggu azan magrib ". Jawab bu siti.


" afiifah ke atas dulu y bu ".


" iya non " jawab bu siti mempersilah.


Aku pum seger menyusuri satu persatu anak tangga menuju ruangan atas.


Aku mendengar gelak tawa mereka dengan jelas. Mereka pasti sedang nonton acara komedi. Itu jadi siaran favorit di rumah ini, kecuali bagi kia yang sudah pasti suka acara kartun.


Mereka masih tidak menyadari kedatangan ku dan kia. Aku dan kia berjalan perlahan-lahan. Ahh kia begitu pandai mengikuti permainan ku.


Aku dan kia ikut duduk di kursi samping mereka, tapi kenapa mereka masih tidak sadar dengan kedatangan ku dan kia. Begitu fokus nya mereka menonton tv samapi-samapi tidak sadar dengan kehadiran aku dan kia.


" assalamualaikum ayah bunda fariz ". Aku sudah tidak sabar lagi dengan reaksi mereka.


Tapi sial nya mereka mengabaikan aku dan kia.


" atok, nenek om fariz gak liat kia? ". Kia juga tidak bisa menahan emosi melihat tingkah mereka.


Tapi mereka masih diam di tempat tampa menoleh ke arah ku dan kia.


" ayah.... Ya allah, bunda.. ". Aku pu berdiri dan mematikan Tv.


Sontak mereka tertawa. Seperti nya mereka sengaja bikin aku dan kia kesal.


" apa sih kak, ganggu aja deh ". Ahir nya fariz mulai bicara.


Sumpah demi apa.. Sperti mereka sudah mengetahui kedatangan aku dan kia.


Ahh rencana mau suprise malah balik di kerjain.


" udah gak usah cemberut, sini bunda peluk". Kata bunda.


" sini atok peluk juga cucu kesayangan atok ini". Ayah pun menggendong kia.


" kita udah tau kakak mau datang, kita liat kakak di depan gerbang tadi ". Sambung fariz.

__ADS_1


Pantas saja mereka gak kaget dengan kedatangan ku dan kia.


" ahh rindu nya bunda sama kalian, kenapa pulang gak Bilang-bilang kak, bukan nya kamu masih ada kontrak kerja? " tanya bunda.


Ya allah...


Apa yang harus ku jawab.


" hmmm... Afiifah kemaren sakit bunda jadi dapat izin sakit beberapa hari, afiifah sudah gak sabar untuk balik, jadi masalah kontrak afiifah di selesai kan sama kepala ruang afiifah ".


Ku merasa jawaban ku bukan lah suatu kebohongan, karena memang semua masalah kerja ku sudah di bereskan kak Valen.


" kamu sakit apa nak? " tanya bunda.


" hmmm sakit biasa bun, " jawab ku.


Ayah bunda dan fariz saling tatap. Aku tau mereka sekarang berfikir kalau aku tidak baik-baik saja.


" kia apa kabar? Sini om fariz gendong, uluhhh om sudah sangat rindu tau ". Kia berpindah ke dalam dekapan fariz.


" kia sehat, om nanti kata ibu kia sekolah di sini sama nenek sama atok ". Kia menoleh ke arah fariz.


" bagus donk, nanti om fariz akan sering antar kia ke sekolah dan jemput kia pulang, terusss.... Kita akan jalan-jalan ke kebun binatang, gimana? Kia suka gak? " tanya fariz.


" mau mau mau...., kia mau tinggal di sini saja sama om sama nenek dan atok ". Jawab kia sambil tersenyum melihat fariz.


" kita ke kamar dulu youk, kita mandi habis itu makan baru kita main lagi ". Aku membawa kia ke kamar ku.


Berat rasa nya untuk masuk kedalam kamar ku, kamar yang menjadi saksi betapa bahagia nya malam pertama ku bersama mas haikal.


Sejenak aku melihat setiap sudut di ruangan ini tidak ada yang berubah.


Di tembok di atas tempat tidur masih terdapat fhoto pernikahan ku dengan mas haikal.


Hampir di setiap sudut dinding kamar ini di hiasi fhoto pernikahan ku dan mas haikal.


Aku melihat ada fhoto pertama kali bersama mas haikal di atas dressing table, begitu jelas dalam ingatan ku mas haikal mengatakan betapa besar rasa cinta nya pada ku.


Lama aku pandangi setiap fhoto di dinding kamar ku, aku ingin segera meyingkir kan semua kenangan ini.


Aku hempaskan tubuh ku di samping kia yang sedang berbaring di atas tempat tidur ku.


Aku akan terus belajar menata hati ku untuk mengubur setiap kenangan bersama mas haikal.


Aku tau ini tidak akan mudah, bagai mana pun aku sudah menyerahkan seluruh hati ku pada mas haikal dalam beberapa tahun ini.


" ibu... Kia mau mandi ". Kia menarik baju ku.


" oke.. Habis mandi kia ikut atok sholat oke."


" sama ibu juga? ". Tanya kia.


" hmmm gak, ibu sholat nya besok, kalau ibu sudah sehat, kakak sholat nya sama atok sama nenek dan om fariz ". Jawab ku.


" jadi kalau sakit boleh gak sholat? ". Kia kembali bertanya.


" gak boleh donk, selagi bisa kita harus terus sholat, kalau sakit kita bisa sholat sambil berbaring". aku coba menjelaskan pada kia.


" trus ibu mau sholat sambil tidur juga?, kia sholat nya sama ibu saja, biar bisa sambil berbaring ". Aku tersenyum mendengar jawaban kia.


Kalau serba pengen tau nya kia kumat, kepala ku bisa sakit untuk berfikir sebelum menjawab.


Bisa-bisa otak ku keliling dunia mencari jawaban yang tepat dan bisa di mengerti kia.


" hmmm bukan gitu maksud ibu kia ". Jawab ku terbata-bata.


" ah sudah lah.. Pokok nya kia sholat sma atok duku ya, Besok-besok kita sholat sama-sama lagi. ". Aku segera membawa kia ke kamar mandi.


Kia sudah rapi dengan perlengkapan sholat nya.


" assalamualaikum.. Kia sudah siap untuk sholat ". Kia muncul di hadapan orang tua ku dan fariz.


" masya allah cantik sekali keponakan om ini ". Sahut fariz.


" sini sholat samping nenek ". Bunda menglur kan tangan nya menyambut kia.


Aku hanya tersenyum melihat mereka.


Aku pun meninggalkan mereka di ruang sholat, aku berjalan menuju dapur untuk memeriksa makan malam.


Lidah ku tak henti berucap syukur sudah di beri orang tua yang begitu baik dan selalu menyayangi ku dan adik yang selalu siap melindungi ku bak seorang abang.


Ais andai kan saja aku punya abang, pasti hidup ku lebih seru dan bahagia.


Selesai sholat mereka segera menuju ruang makan dan segera duduk di meja makan masing-masing.


" bu siti sudah makan? ". Tnya ku saat melihat bu siti keluar dari kamar nya.

__ADS_1


" sudah non, tadi bersama dina dan bapak nya" jawab bu siti.


Dina adalah putri semata wayang bu siti dan pak saiful, suami ke dua bu siti yang juga bekerja di rumah orang tua ku.


" ohh gitu, kalau belum makan, kita makan sama-sama bu ". Jelas ku sembari tersenyum.


" tidak non, kita sudah makan, silahkan lanjut makan nya non, pak bu mas fariz, saya permisi dulu ". Bu siti berlalu meninggalkan ruang makan.


Begitu bahagia duduk dan makan bersama dengan mereka, orang-orang yang selalu memberi kan cinta nya untuk ku.


Dekat mereka membuat aku sedikit lupa dengan luka hati ini.


Melihat mereka tersenyum aku tidak sampai hati untuk bercerita masalah ku. Aku takut membuat mereka ikut terluka.


Berkali-kali aku menarik napas berat dan menghembuskan nya.


" kamu kenapa nak?, dari tadi bunda lihat kamu selalu buang napas gitu?, ada masalah? ". Mendengar pertanyaan bunda, ayah dan fariz sontak melihat ku dan sejenak berhenti mengunyah makan an mereka.


" tidak bun, afiifah mungkin hanya sedikit lelah, jadi kurang nafsu makan ". Jawab ku.


'maaf kan aku ma ' aku menundukkan pandangan, seolah-olah menghindari tahapan mata mereka yang penuh pertanyaan.


" ya sudah kamu habiskan makan nya, trus bawa kia istirahat ". Sambung bunda.


" kakak kapan pulang ke jakarta lagi? " mendengar pertanyaan fariz sontak aku terdiam, aku berpura-pura tidak mendengar nya.


" kak.. Kakak lagi mikirin apa sih? ". Fariz menyenggol tangan ku.


" hmmm kenapa dek? ".


" ya allah. Kakak kapan pulang ke jakarta lagi? " fariz mengulang pertanyaan nya.


" baru juga kakak sampai dek, kamu udah tanya kapan kakak pulang, kenapa? Udah lepas rasa kangen nya sama kakak? ". Aku menggoda nya.


" ye eleh... Aku tu kangen kia bukan kakak ". Dia nyegir kuda.


" kalau kakak gak pulang lagi gimana? " aku tersenyum lalu melihat ekspresi mereka.


Mereka terdiam mendengar ucapan ku.


" hahaha... Kok pada diam sih? ".


" di telan makanan mu dek, nanti keselek kamu". Aku melihat fariz manggap menatap ku.


" aku cuma becanda, jangan liatin aku gitu donk, mungkin aku akan lama di sini, sampai acara pernikahan kamu selesai dek". Aku memecah keheningan.


" ayo makan lagi, nanti kita sambung ngobrol nya di rumah atas ". Ayah yang sedari tadi diam dan menikmati makan nya ikut angkat bicara.


Aku merasa suasana di ruang makan ini menjadi aneh, seperti nya mereka bahwa rumah tangga ku sedang dalam masalah.


Kami pun kembali melanjutkan makan.


Setelah makan ayah, fariz dan kia kembali ke atas dan aku membantu bunda memberes kan meja makan.


" bu siti, gak usah biar afiifah saja yang bantu bunda, bu siti istirahat saja sekarang ".


Aku menyambar piring kotor di tangan bu siti.


" gak papa non, non afiifah istirahat saja, pasti capek setelah perjalanan panjang ". Bu siti kembali menyambar piring-piring kotor dari tangan ku.


" gak papa, kalau bu siti masih mau bantu, tolong bikin kan kia susu panas y bu, biar aja afiifah yang bantu bunda, lagian afiifah pengen Dekat-dekat bunda terus ". Mendengar ucapan ku, bunda menoleh ke arah ku.


" udah bu, ikutin aja mau nya afiifah, habis bikin susu untuk kia, bu siti boleh istirahat, gak usah sungkan ". Sambung bunda.


" baik bu ". Bu siti pun berlalu meninggalkan aku dan bunda.


" kamu gak capek fah?, kalau capek kamu istirahat saja dulu ". Mama menatap ku dan kemudian melanjutkan membersihkan meja makan.


" gak papa bunda, lagian afiifah juga belum ngantuk sekarang ".


" kamu punya sesuatu yang mau di sampai kan ke bunda? ". Aku terdiam mendengar pertanyaan bunda. Kemudian aku membuang napas perlahan-lahan.


Aku hanya menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan bunda.


" gak papa kalau kamu masih belum mau cerita, tapi kamu jangan lupa kalau kamu masih punya keluarga, kamu masih punya bunda untuk berbagi, jangan pendam masalah sendiri, nanti kamu jadi kurus ".


" hehe... Bunda bisa aja, gak papa kali y bun kalau kurusan, biar lebih sexi dan cantik ". Aku menipali ucapan bunda dengan candaan.


" eleh... Mending kalau bikin cantik, kalau malah bikin kamu kayak kurang gizi gimana? ". Kini aku tertawa mendengar ucapan bunda.


" bunda mah apa-apa aja, bunda jangan khawatir, insya allah apa pun masalah afiifah, afiifah akan melewati nya dengan lapang dada, kalau pun nanti afiifah butuh bahu bunda, afiifah akan datang untuk bersandar di bahu bunda, terima kasih bunda sudah selalu mengkhawatirkan kan afiifah ".


Kali ini ucapan ku terdengar serius, aku melihat tahapan kosong bunda pada ku, entah lah apa yang ada dalam fikiran bunda.


Yang pasti saat ini aku belum siap untuk bercerita.


" udah selesai, ayo kita ke atas bun ". Aku mengandeng bunda menuju ruang atas.

__ADS_1


Aku tersenyum melihat ulah kia yang berkelanjutan manja di leher ayah.


__ADS_2