Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 11


__ADS_3

" abi udah gak sayang kia kak nisa" sontak aku terkejut mendengar perkataan kia.


" tapi tak apa, kata ibu kalau kak zia jadi anak baik nanti kakak di sayang allah, kalau allah sayang nanti abi akan sayang kakak lagi, iya kan bu? " kia menatap ku.


" masya allah, anak ibu emang paling pintar " aku meremas kedua pipi nya.


Mendengar ucapan kia sontak suami anisa melihat ke arah aku dan kia.


" maaf kan kia ya mbak, mungkin kia terlalu serius menanggapi ucapan ku dulu " aku merasa tidak enak hati pada mereka.


" saya yang harus minta maaf mbak, saya gak bermaksud mau tau masalah pribadi mbak afiifah "


Aku melihat anisa benar merasa bersalah.


" gak papa mbak, gak perlu merasa bersalah, mungkin kia merasa nyaman saja bercerita pada kalian " ucap ku lagi.


" semoga kia dan mbak afiifah selalu di beri kebahagiaan y mbak " anisa tersenyum pada ku.


" makasih mbak nisa, aamiin " aku mengaamin kan doa anisa.


" semoga mbak anisa dan keluarga juga selalu bahagia " aku kembali mendoakan anisa.


Yah aku benar-benar berharap mereka bahagia. Tidak merasakan apa yang aku rasakan.


" aamiin mbak " seru anisa.


" kia masih mau nambah makan nya? " tanya anisa yang duduk di samping kia.


" gak kak, kia udah kenyang " jawab kia.


" ibu ayo kita jalan lagi "


kia tanpa permisi menarik tangan ku, tentu saja aku turuti kemana saja dia hendak membawa ku.


Ahir nya kia mengajak aku duduk di pinggir kapal sembari melihat ke arah laut nan luas, benar-benar luas, seluas pandangan mata ku.


Sungguh betapa besar dan luas cipta an allah.


Aku mulai lelah tapi kia tak pernah berhenti bercerita, dia bercerita segala hal.


" kak ibu pengen ke kamar mandi ni, ibu pengen pipis, ayo kita ke kamar mandi sebentar ya " aku menarik tangan kia untuk mencari toilet.


Setelah sekian lama mencari aku menemukan toilet di pojok kapal ini.


" kak ibu ke kamar sebentar, kakak diam di sini oke,jangan pergi kemana mana, nanti kakak jatuh, oke.. "


Aku memberi perintah pada kia dan mengingat kan kia untuk diam di tempat, di kursi yang sedikit jauh dari kamar mandi.


Sebenar nya aku merasa sedikit khawatir meninggalkan kia di sini, tapi apa mau di kata. Harus ku titip pada siapa kia?


" aku titip anisa aja kali yah " aku berkata pada diri ku sendiri.


" Ahh sudah lah, lagian aku udah gak tahan " sambung ku.


" kia.. Ingat pesan ibu, jangan kemana mana, faham? "


Aku berhenti setelah beberapa langkah di depan kia.


" iya ibu " kia masih duduk manis di tempat nya.


' semoga dia aman ' batin ku.


Aku pergi dan meninggalkan kia tapi dengan hati tak tenang.


' kenapa aku mual ya? ' batin ku lagi.


Ahh...


" Hueeekkk Hueeekkk " aku muntah kan isi dalam perut ku.


' Ya allah.. Ternyata aku mabuk laut' batin ku lagi.


Maklum saja ini baru pertama aku naik kapal. Sungguh aneh rasa nya apa lagi kalau gelombang nya tinggi.


Setelah merasa enak aku keluar, dan ya allah... Aku tidak melihat kia di tempat duduk nya tadi.


Kemana kia?


Aku mulai mencari di setiap sudut lantai 2 kapal ini, tapi aku tidak melihat kia.


Jelas saja aku panik setengah mati.


Aku berlari ke lantai 3 kapal, di tempat tadi kami makan, tapi aku masih tidak menemukan kia. Aku benar-benar takut terjadi sesuatu pada kia.


Kemana aku harus minta pertolongan untuk mencari kia.


"maaf bu apa ibu melihat anak tinggi nya sepinggang, memakai baju ungu dan jilbab ungu? "


aku bertanya pada salah satu ibu di dekat tangga.


" tadi saya lihat di pojok sana bu, dengan seorang pria "


ibu itu menunjuk pojok di dekat bacaan mushola.


" makasih banyak y bu, " aku menundukkan kepala ku dan aku segera berlari ke arah yang di tunjuk ibu tersebut.


" kia... Subhanallah nak, kenapa kia pergi? Kan ibu sudah pesan kia gak boleh kemana-mana, ibu sangat kwatir nak "


Aku memeluk tubuh kecil kia, lega rasa nya setelah menemukan nya.


" kia gak papa kan nak? " tanya ku untuk memastikan bahwa kia baik-baik saja.


" iya gak papa bu, tadi kia bosan terus ketemu om itu di sana "


Kia menunjuk seorang laki-laki yang menolong di dalam mushola yang kulihat sedang sholat, lalu kia menunjuk ke arah di mana dia dan laki-laki tersebut bertemu.

__ADS_1


' seperti suami nya anisa ' batin ku, setelah ku lihat siapa yang sudah menolong kia.


Aku putuskan untuk menunggu laki-laki itu selesai sholat dan mengucapkan terima kasih nanti nya.


" lo kok ada kmsi cantik sama ibu nya ternyata " tiba-tiba anisa muncul dari dalam mushola.


" ohh mbak anisa juga di sini? " aku kaget melihat anisa keluar dari dalam mushola, dan di susul suami nya yang juga sudah selain dari sholat mereka.


" iya mbak, mbak afiifah juga mau sholat? " anisa menghampiri ku begitu juga dengan suami nya.


" saya lagi masa nifas mbak nisa " jawab ku sambil tersenyum pada anisa.


" masa nifas? " jelas saja anisa terkejut, anisa melirik suami nya dan kemudian melihat pada ku.


' mereka pasti bingung ' batin ku.


Aku menangguk sebagai jawaban.


Tapi anisa tidak kembali bertanya pada ku mungkin dia takut atau memang gak mau tau masalah rumah tangga ku.


" saya habis keguguran mbak nisa beberapa hari yang lalu " aku memberi penjelasan dari ucapan ku tadi, seolah-olah aku tau bahwa mereka ingin tau masalah ku.


" subhanallah.. Innalillahi, saya turut berduka mbak ". Ucap anisa.


Dan kami pun berlalu meninggalkan mushola tersebut.


" duduk di sana saja mbak ".


Anisa menunjuk sebuah kursi yang lumayan panjang tepat di depan kami berjalan.


" ohh iya " jawab ku.


" anisa... Terima kasih sudah menolong saja untuk menjaga kia untuk saya, tadi saya sangat khawatir waktu keluar kamar mandi udah gak liat kia di sana "


Kami pun duduk di kursi tersebut. Yah lumayan luas untuk kami duduki ber empat. Tapi aku memilih untuk pangku kia di atas paha ku.


" jaga kia? " anis adek lihat bingung.


" iya tadi abang yang nemu kia lagi main di atas, abang bawa aja dia ke mushola karena gak nemu ibu nya di sana, abang takut dia kenapa-kenapa "


Ahhh kaget sekali aku mendengar suami anisa bicara, pasal nya sejak kami bertemu beberapa jam yang lalu baru kali ini aku mendengar pria ini bicara, dan itu lumayan panjang.


' ohh bisa bicara dia ' gumam ku dalam hati, ntah kenapa aku malah sedikit tersenyum melihat dia bicara.


" ohh jadi abang yang bawa kia ke mushola? " kini anisa ngerti.


" lain kali kalau mau pergi atau butuh sesuatu dan mengharuskan kia tinggal, titip saja sama anisa kia nya, jangan di tinggal sendirian. Bahaya "


Suami anisa memberi nasihat pada ku.


Masyaa allah, kenapa hati ku begitu senang mendengar ucapan nya, aku merasa bahwa dia begitu sayang pada kia.


Astagfirullah... Apa yang aku fikirkan. Segera aku buang fikiran dan khayalan kotor ku.


" makasih bang, maaf saya sudah merepotkan suami mbak nisa "


" Hahahaha "


Pria itu menyemburkan air yang hendak di minum nya, di ikuti suara tawa mbak anisa.


Aku bingung melihat tingkah mereka.


" gak papa mbak afiifah... Suami saya ini laki-laki baik kok, sangat baik malahan, dia juga sangat suka anak kecil lho. yaaa walaupun macam pohon kayu mati, dan dingin tapi dia emang sosok suami terbaik, hahahaha "


Anisa kembali tertawa sambil menepuk-nepuk pundak suami nya.


" apa sih kamu " aku melihat wajah kesal suami anisa.


" sekali lagi makasih banyak bang ".


Aku mengucapkan terima kasih sekali lagi, walau pun sejujur nya aku masih bingung melihat ekspresi mereka.


" semoga kalian segera di karunia anak-anak yang sholeh sholihah kelak ".


Ntah kenapa doa itu keluar begitu saja dari mulut ku.


Sekali lagi anisa tertawa terbahak-bahak, dan kali ini ekspresi suami nya menunjukkan rasa tidak suka melihat anisa tertawa sedemikian kencang.


" husss gak baik anak perempuan ketawa kek gitu dek ". Pria yang berdiri di samping anisa itu menutup mulut anisa, agar anisa berhenti tertawa.


Tapi anisa malah semakin kencang tertawa.


" aamiin ya allah aamiin.... " anisa meng-aamiiin kan doa ku setelah sekian lama tertawa.


" minta minum bang ".


Pintar anisa pada suami nya.


" terima kasih suami ku sayang ".


Anisa menggoda suami nya.


Pletok....


Laki-laki itu menggetok jidat anisa dengan telunjuk nya.


Hahahaha....


Anisa kembali tertawa.


Ahh sudah lah aku semakin gak ngerti dengan tawa renyah anisa.


Tapi aku bersyukur dalam hati melihat ke mesraan mereka.


Semoga mereka selalu bahagia. Batin ku.

__ADS_1


" heeiiii... Kok senang banget sih kamu dek? " laki-laki itu seolah-olah mau gila di buat tingkah laku anisa.


" senang donk... Masih mbak fifah sudah mendoakan yang baik untuk ku "


" doakan terus kak nisa segera punya bayi cantik nan sholihah seperti kamu ya nak " anisa mengusap puncak kepala kia.


Anisa melihat suami nya lalu melihat ku. Kali ini bukan tertawa. Tapi dengan senyuman manis anisa.


Ya aku akui anisa sangat manis.


Wajah nya yang sedikit tembam, kulit nya sano matang yang menjadi khas orang Asia tapi sangat bersih, mulus.


Hidung yang sedikit mancing, mulut yang kecil serta buku mata yang lentik.


Dia sangat manis meskipun tanpa hiasan makeup di wajah nya.


Dia sangat natural.


" mgomong-ngomong berapa usia mbak nisa? Kalau saya boleh tau ".


'Aku kok jadi penasaran dengan kehidupan mereka yah. Astagfirullah.... ' batin ku.


" 25 tahun mbak nisa, dan insya allah saya baru akan segera menikah "


' Ohh tuhan.. Ternyata mereka belum menikah ' batin ku. Jelas aku kaget dan sekarang aku merasa tidak enak hati dan malu dengan perbuatan ku tadi yang menganggap mereka pasangan suami istri.


" jadi kalian belum menikah? " aku tidak bisa mengendalikan rasa ingin tau ku.


Anisa kembali tersenyum sembari menahan tawa.


" bahkan kami tidak akan menikah mbak "


Ahhh aku makin bingung dengan jawaban anisa.


" dia bukan suami ku mbak atau pun calon suami ku mbak " anisa memberi jawaban atas pertanyaan hati ku. Seolah dia mengetahui isi hati ku.


" dia ini abang ku. Abang sepupu, kebetulan dia sudah lama tinggal bersama anisa dan orang tua anisa mbak, udah seperti saudara kandung "


Ahir nya anisa benar-benar memberi ku jawaban yang memuaskan hati ku.


" ohh gitu, maaf saya salah faham, saya kira kalian pasangan suami istri, ahh jadi malu saya "


Sumpah demi apa pun, aku benar-benar malu. Ingin rasa nya mengembalikan waktu dan melupakan pernyataan bodoh ku tadi.


" gak papa mbak, toh itu tidak menyadari kita, iya kan bang? " ucapan anisa.


" nama nya bang yusuf mbak, dia sengaja ikut anisa pakai bus pulang ke Jambi biar bisa jagain anisa "


" ohhh gitu, tapi itu bagus mbak nisa, lagian gak baik anak gadis bepergian sendiri tanpa muhrim nya " sambung ku.


" iya mbak.. Nah anisa pulang ke Jambi kali ini insya allah baru akan menikah "


" masya allah... Alhamdulillah, semoga di lancar kan y mbak " aku sungguh bahagia mendengar ucapan anisa.


" kalau boleh tau berapa usia mbak afiifah? Seperti juga masih muda "


Kini anisa yang penasaran dengan usia ku.


" udah tua mbak nisa, udah punya anak dua lagi, tapi allah kasih kepercayaan satu untuk di besar kan " jawab ku.


" saya sudah 28 tahun, udah tua " aku memberi tau usia ku.


" ahh itu mah masih muda mbak, abang yusuf juga baru 28 kan bg? "


Anisa menoleh ke arah laki-laki yang masih berdiri di samping nya tersebut, yang sekarang aku tau, laki-laki ini bernama yusuf.


Mendengar anisa bertanya pada nya, yusuf hanya diam tanpa menjawab pertanyaan anisa.


" abang subhanallah... Di tanya juga " sperti nya anisa kesal di acuhkan begitu saja oleh yusuf.


" apa sih dek?... Iya abang juga 28 tahun kurang 1 bulan, puas? " jawab yusuf kesal.


" nah udah 28 umur abang, kapan lagi mau nikah? " tanya anisa.


" tunggu kamu punya anak 3 " jawab yusuf lalu meninggalkan kami.


" astagfirullah... Manusia tanpa hati kamu bang"


Kesal anisa.


" kia ayo ikut oom beli makanan, repot dengarin mak mak ngomeh "


Bang yusuf mengulurkan tangan dan di sambut kia, mereka pun berlalu meninggalkan aku dan anisa yang masih asik bercerita.


Ahh bang yusuf?


Aneh sekali rasa nya ikut memanggil nya dengan sebutan abang, toh usia ku juga ternyata sedikit lebih tua di atas nya.


Apa aku panggil yusuf saja?


Mungkin ini lebih baik,


Terlalu sok akrab rasa nya kalau dengan panggilan abang.


Lagian dia kayak nya gak suka kalau ada orang yang sok akrab pada nya.


" abang mu udah lama tinggal di jakarta nis? " ahh mulut ku emang gak bisa di ajak kompromi, kenapa malah pengen tau bangat kehidupan anisa dan yusuf, biasa nya aku bukan tepikal yang suka ikut campur urusan orang.


" gak sih mbak, dia lebih suka di Jambi, ke jakarta sangat jarang, dia pun dulu pendidikan nya selalu di Jambi, bang yusuf pun punya usaha di Jambi mbak "


Jelas anisa..


" ohh gitu "


Aku hnya tersenyum..

__ADS_1


' ah mungkin perasaan ku saja kalau pernah bertemu dengan nya ' batin ku.


__ADS_2