Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 40


__ADS_3

Selesai makan malam dan sholat isya, aku, ayah dan bunda berkumpul diruangan atas, ini tidak setiap malam kami lakukan. Hanya sesekali saja. Apa lagi sejak Kia sudah tidak ada, ini baru pertama kali kami berkumpul bersama lagi.


Sepi. Walau sedang bersama... Rasanya ada yang kurang. Keceriaan dan suara bising seorang anak.


"Kakak gak mau nonton ini, Film spongbob atok." Itu suara protes Kia paling sering terdengar kalau lagi rebutan remote TV sama ayah.


"Teh hangat Fah." Bunda menyodorkan segelas teh hangat lengkap dengan roti roma disampingnya.


"Makasih Bun, Afiifah diet Hehe." aku menampakkan gigi putihku yang sedikit tidak rapi.


"Udah kerempeng, gak usah diet-diet. Kasian tulang kamu gak ada lemak pelindungnya." Celoteh bunda.


"Hahaha... Masak sih Bun? Perasaan Afiifah masih gendut deh. Masih 50 BB Afiifah." Aku melihat tubuhku sendiri.


"Orang yang lihat, gak bagus kalau terlalu kurus."


"Hehehe. Iya deh, sini Afiifah minum."


Bunda menuangkan teh kedalam gelasku. "jangan Banyak-banyak Bun, gak baik minum manis malam-malam, nanti diabet." Protesku, saat melihat bunda dengan semangat menuangkan teh itu kedalaman gelas milikku.


"Berita Palestina lagi, Yah?"


"Iya... Konflik kembali terjadi." Ayah tampak serius menyimak berita.


"Iya ya, yah... Kadang gak tega melihat mereka terus saja diserang, Seolah-olah nyawa manusia tidak ada lagi artinya. Mulai dari bayi sampai lanjut usia jadi korban kekejaman Israel." Aku menipali ucapan Ayah.


"Sungguh kasihan. Kalau bisa Bunda mau adopsi 10 anak-anak Palestina itu." Bunda yang sedari tadi asik dengan teh hangat nya ikut menyimak berita.


"Ikut donasi saja Bun, sekarang banyak kok relawan yang menerima donasi untuk Palestina."


"Donasi apa? "


" Apa aja. Boleh baju pakaian lain, ataupun uang. Banyak juga yang donasi seperti makanan bahkan ada juga yang memberikan al-quran." Aku menjawab dengan penuh semangat.


"Kakak pernah? Yakin donasinya bisa sampai kepada mereka dinegara Palestina sana? Yakin gak penipuan?"


"Cari donk bun yang bisa dipercaya. Misalnya memang sudah ada bukti kalau donasi mereka sudah sampai ke sana." Sambung ayah.


"Iya deh, besok bunda mau donasi uang saja. Biar gampang." Bunda kembali menyeruput tehnya.


Aku hanya tersenyum melihat tingkah bunda.


"Fariz udah pulang?" Ayah ikut menyeruput teh hangatnya.


"Sudah, paling lagi dikamar." Bunda menoleh kekamar Fariz. "gimana Nisa, Fah? Udah baikan?"


"Gitu-gitu aja Bun, yang penting Nisa nya mau makan, bakalan K.O itu anak diinfus terus."


"Kasian juga ya Fah."


Aku sedikit tersenyum. "dulu waktu hamil Afiifah atau Fariz bunda juga sampai parah gitu gak?" jadi pingin tau apa yang bunda rasa waktu hamil aku dan Fariz dulu.


"Hmmm... Gak juga sih, malahan bunda hamil Afiifah aktif banget ya yah! Suka ikut kegiatan Ibu-ibu bhayangkari lagi, iya kan yah?"


"Iya gak sampai lemas kayak Nisa, tapi ayah pusing kalau lagi dinas atau lagi gak dirumah, sehari handphone ayah bisa bunyi ratusan kali, ditelponin mulu." Ayah melihat Bunda sinis.


"Hahaha... Apa sih yah, itu kan bawaan." Tawa bunda.


"Masa sih Bunda dulu gitu?" Aku mengubah posisi menghadap bunda dengan boneka dipangkuan ku.


"Iya. Kalau gak ketemu ayah bentar aja atau gak dengar suara ayah, bunda suka mual-mual. Pusing... aja bawaan nya hahaha."


"Kalau pas hamil Fariz bunda gitu juga?"


"Gak. Waktu Fariz bunda suka capek, tapi gak sampai muntah yang parah juga. Mungkin faktor umur kali ya." bunda tersenyum. "tapi bunda bahagia, apa lagi tau hamil yang kedua cowok."


"Waktu sudah tau anaknya cowok, bunda hampir tiba bulan mau USG, hehehe... Sampai di bilangin dokter gak perlu tiga bulan datangnya." Bunda masih antusias.


"Jadi rindu Kia." Uacapku lirih.


Ayah dan Bunda menarik nafas panjang. "ikhlasin ya sayang. InsyaAllah Kia akan jadi tabungan kamu kelak disurga, kalau nanti kamu nikah lagi, semoga dikaruniai anak-anak yang sholeh sholihah."


"Aamiin." aku memeluk bunda. "Makasih bun."


Tenang sekali rasanya dalam pelukan bunda. Aku masih bersyukur Allah masih memberi Ayah dan Bunda kehidupan sampai saat ini. Masih bisa menemaniku saat aku berada pada pake terendah kehidupanku. Perpisahan dengan mas Haikal ditambah lagi harus kehilangan Kia dan tiba-tiba Yusuf memutuskan untuk membatalkan lamarannya.


Semoga Allah segera mengganti duka dan lukaku ini dengan kebahagiaan.


"Amin kan untuk dapat suami dulu, baru aminkan dapat anak." ucapan ayah membuat aku melepaskan pelukan dari bunda.


"Ayah ah, doakan saja anak perempuan ayah ini mendapat suami yang sholeh, suami untuk dunia ahirat. Yang bisa bikin anak ayah ini menjadi wanita yang semakin beriman dan bertaqwa."


"Ya sudah. Afiifah kekamar dulu. Assalamualaikum."


***

__ADS_1


Selalu ada dirindu dihati ini. Dari kelam kemalam.


Aku hanya seorang manusia. Aku tau... Selagi ada nafas, selama itu pula ujian tuhan silih berganti.


Yah... Aku hanya seorang manusia yang tertatih dalam kehidupan.


Menunggu hari esok yang tak pasti apa yang terjadi, hanya berdoa untuk cobaan yang kian hari kian terasa besar.


Kata Bunda...


Syurga itu terlalu mahal untuk di masuki wanita biasa, Allah pilih aku menjadi wanita yang luar biasa, agar bertambah rasa keimanan.


Di sini, dihati ini hampir menyerah. Tapi tidak... Aku tidak boleh menyerah, bukankah harusnya aku bersyukur dengan ujian ini?


Entah sampai kapan Malamku selalu terasa panjang!


Menunggu esok mentari bersinar, lalu menunggu kembali mentari berpamit, diganti kembali rembulan.


Aku hanya ingin setiap hariku berlalu dengan cepat. Setidaknya mengikis sedikit luka dihati ini.


Aku harus bekerja lebih keras lagi, untuk menata hati kembali.


Temani ibu selalu nak, teruslah hidup dihati ibu, sampai nanti Allah berkata, bertemu dikehidupan lain.


Selamat malam dunia. Selamat malam hati yang rapuh.


Aku hanya ingin sedikit terpejam, sembari menunggu esok hari, lalu menjalankan takdir Tuhan yang baru.


Pagi menyapa.


Sejak setelah subuh, aku mencari ketenangan dibalkon kamar sembari melantunkan asma Allah dengan lirih. Memulai hari ini denah penuh harap, Allah kiki sedikit luka dihati ini.


Malam yang membawa sunyi beserta dingin telah menyingkir.


Kini... Terimakasih mentari, sudah menemani awal hariku dengan indah dan hangat.


"Hmmmhuuah... Baiklah, berbahagia wahai hati, kita akan melewati hari ini dengan gembira dan syukur, hanya dengan gembira dan syukur, boleh merindu tapi tidak untuk melemah." Aku memberi semangat pada diri sendiri.


Setelah mandi, lalu sarapan.


Aku akan memulai hari ini dengan bekerja.


"Bun, Afiifah kekantor dulu ya. Assalamualaikum." Aku mencium punggung tangan bunda.


"Gak sarapan kamu?" Bunda menahan tanganku.


"Alah... Lupa bunda kalau senin, ya udah... Hati-hati." Bunda mengusap pundak ku.


Aku mengangguk. "Assalamualaikum..."


" Wa'alaikumussalam." Bunda melambaikan tangan padaku.


Biasa nya Kia juga akan mengantar aku berangkat bekerja. Ahh lagi-lagi aku merindukan Kia.


Mobil yang kukendarai perlahan mulai meninggalkan halaman rumah.


Masih pagi... Tapi jalanan sudah tampak padat dan berkali-kali macet, apa lagi ini hari senin, orang-orang akan mulai bekerja dengan penuh semangat selalu libur satu dua hari.


Aku menghalau kesunyian ku dengan memutar sholawat dari grup gambus kesukaan ku. Gambus Sabiyan. Suara vocalis nya yang sangat enak didengar.


Perjalanan yang bisa ditempuh tiga puluh menit, bisa sampai satu jam, kalau udah jam kerja atau balik kerja.


Lima puluh tiga menit waktu yang aku butuh kan untuk sampai kantor. Aku memarkirkan mobil ditempat biasa parkir, udah kayak milik pribadi. Padahal siapa saja boleh parkir ditempat ini, tapi mungkin memang mobil aku, mobil bunda tepatnya tapi aku yang pinjam, yang biasa parkir disini, jadi parkiran ini selalu kosong. Ntah apa alasannya.


"Assalamualaikum, pagi bu."


"Wa'alaikumussalam. Pagi juga."


"Pagi bu,"


"Pagi.. "


Menyapa lebih awal atau membalas sapaan mereka, itu lah yang terjadi sampai aku memasuki ruanganku.


"Astagfirullah..." Aku mengusap dadaku, kaget. Melihat ada orang lain diruanganku.


Yusuf. Canggung sekali rasanya bertemu Yusuf setelah beberapa minggu tidak pernah bertemu.


"Assalamualaikum... "Aku mencoba menyapa Yusuf, membuang rasa gugupku.


" Wa'alaikumussalam... "Yusuf tanpa menoleh.


Dengan langkah yang lambat, bahkan nyaris tak bersuara, aku menuju meja. Yusuf tampak tak terganggu dengan kehadiranku. Ia bahkan tak melirikku sama sekali.


Aku merapikan meja, meletakkan tas dalam laci dan siap memulai bekerja.

__ADS_1


Sunyi. Aku dan Yusuf sibuk dengan pekerjaan masing-masing, kami tampak seperti orang asing. Dan jujur... Itu sungguh membuat aku tak nyaman. Walau pun selama ini Yusuf juga bersikap dingin padaku, kali ini ia lebih dingin.


Sudah lah. Lebih baik aku fokus pada laporan-laporan yang membuat kepalaku sudah pusing.


Pukul delapan.


Aku beranjak menuju kamar mandi, sekilas aku melirik Yusuf, "Hmmm saja sholat bentar." sapaku ragu.


"Hmm." Jawaban singkat dan amggukan pelan dari Yusuf.


"Kamu... Mau sholat juga?" ah ntah lah. Aku seperti orang bodoh.


"Duluan saja." Yusuf masih fokus pada alamat komputernya.


"Oke." jawabku lirih, lalu segera menuju kamar mandi untuk berwudu' dan sholat dhuha.


Empat raka'at sudah selesai, aku kembali melanjutkan pekerjaan ku.


"Au." Aku mengelus kepalaku. "duh sori, maaf maaf. Aku gak sengaja." Ya Allah tak sengaja aku menyundul perut Yusuf dengan kepalaku, "sakit ya?" bukan basa-basi aku sungguh khawatir mengingat Yusuf baru sehari keluar dari rumah sakit.


"Maaf yah, tadi asik benarin sepatu sambil jalan jadi gak liat kamu didepan."


"Gak papa." Melihat tatapan mata Yusuf, membuat rasa gugupku bertambah, "aku sholat dulu." Yusuf berlalu.


Aku hanya menghela dan membuang nafas berulang kali dengan kasar.


"Semoga benar, dia baik-baik saja." aku menoleh Yusuf yang baru saja memasuki ruangan kecil yang sangat sederhana itu, tapi tempat ternyaman diruangan ini.


Sunyi lagi. Hanya terdengar suara ketikan dari keyboard. Kami benar-benar seperti orang asing.


"Sudah sarapan?"


"Eh... Be-belum, ohh maksud ku, lagi gak sarapan." aku terbata-bata.


"Ohh... Puasa?"


"I... Iya. InsyaAllah."


"Oke. Aku pesan sarapan dulu." Yusuf meminta salah satu karyawannya untuk mengantarkan bubur ayam. Setauku tidak ada makanan itu yang masuk daftar menu dilestoran ini.


Setelah menunggu beberapa saat, salah Cici, salah satu karyawan disini, masuk dan membawa semangkuk bubur ayam.


"Ini pak." Cici tersenyum ramah.


"Letakan disitu saja, terima kasih." Yusuf masih fokus pada komputernya tanpa melihat ke arah Cici. Sungguh tidak sopan. Rutukku dalam hati.


"Saya permisi pak, Bu... Saya permisi. Assalamualaikum." Cici juga mengangguk padaku, mungkin sebagai rasa segannya.


"Apa bubur ayam termasuk dalam daftar menu disini sekarang?" berfikir keras. Ucapkku lirih. Ntah pada siapa pertanyaan itu aku lontarkan.


"Tidak. Aku yang memintanya khusus, karena masih harus makan makanan yang lunak." Eh ternyata Yusuf mendengar ucapanku.


"Ohh gitu. Dimakan dulu buburnya, nanti keburu dingin gak enak." ia masih fokus sama komputer.


"Nanti kalau dingin gak dihabiskan, udah gak enak, capek si Cici bikin khusus lagi buta kamu, pakai bumbu cinta dia bikinnya, jangankan dimakan, di lirik aja gak." Ahh kenapa aku jadi kesal melihat sikap cuek Yusuf.


Lima menit... Sepuluh menit, Yusuf mulai menyantap bubur yang sedari tadi sudah bosan diangguhin sama sipemilik.


Hanya beberapa sendok, "Ck... Kok aneh rasanya? Udah dingin." Yusuf mendorong mangkok yang berisi bubur menjauh.


"Gak dihabiskan? Mubazir. Kan udah aku bilang nanti kalau dingin gak enak. Tu diluar sana banyak orang-orang yang dapat makanan, kamu dikasih rezeki untuk bisa makan tanpa bersusah payah malah disia-siakan."


"Dalam Al-Quran juga disebutkan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan harta mu secara boros. Dan sesungguhnya pemboros-pemboros itu saudara syaitan. (QS. Al Isro' :26-27) "


"Membuang makan sama hal seperti mencuri makanan dari orang miskin, banyak orang diluar sana kelaparan dan kekurangan gizi. Bahkan ada yang sampai meninggal karena tidak mendapat makanan."


"Ya Allah panjang amat ceramah kamu," Yusuf kembali mendekat kan mangkok bubur ayam itu dan mulai memakannya lagi, "baiklah ustazah yang cantik dan Biak hati, ni... Aku habiskan buburnya." Yusuf melirikku kesal.


"Gitu dong... Banyak-banyak bersyukur diberi Allah rejeki untuk bisa makan tiap hari, kalau waktunya makan, iya harus makan. Jangan asik dengan layar komputer aja, gak akan bikin kenyang melototi layar komputer itu."


"Astagfirullah... Iya iya. Panjang amat ceramahnya, untung belum hidup serumah, bisa panas kuping aku dio ecehin terus."


"Aku dengar." melirik Yusuf. Ia balik ngomel sambil memasukkan sendok bubur kedalaman mulutnya. "lagian juga gak akan mungkin hidup serumah." sekarang aku yang berkata pelan, sembari membuang nafas.


Kembali melirik Yusuf yang dengan malas dengan terpaksa harus menghabiskan buburnya.


Ku pandangi... Yusuf tampak semakin dingin, ntah cuma perasaan saja, atau memang Yusuf masih bersedih kehilangan Kia. Aku tau Yusuf masih merasa bersalah atas kepergian Kia.


"Kamu sudah benar-benar sehat Suf? Kamu baru sehari keluar rumah sakit, harusnya istirahat saja dulu, aku masih bisa menghandel pekerjaan kamu, nanti kalau ada yang perlu di tanda tangan aku bisa antar kerumah kamu." Aku melihat Yusuf meminum obat yang ia simpan dalam tas nya.


"Gak papa, aku juga udah lama istirahat dirumah sakit, aku udah bosan Tidur-tiduran terus."


"Tapi setidaknya istirahat dulu satu dua hari, biar bisa observasi dirumah." Aku masih mengkhawatirkan Yusuf.


"Kamu merasa terganggu dengan kehadiran aku dikantor? Kalau memang terganggu, oke... Aku balik. Nanti kita atur saja jam kantor kita, biar gak saling ketemu." Yusuf menhentakan sedikit keras gelas yang berisi airputih kemeja.

__ADS_1


"Bu... Bukan gitu maksud aku, aku hanya mengkhawatirkan kamu saja, itu saja." Sedih rasanya, baru kali ini aku dibentak Yusuf, ah bukan dibentak, aku saja yang berlebihan. "Maaf." Aku membuang pandangan dari Yusuf, menengadah... Menahan air mataku untuk tidak jatuh.


"Assalamualaikum..."


__ADS_2