
"Mau jalan-jalan atau kita pulang?" setelah meninggalkan lingkungan TPU, masih ada rasa kesedihan, entah apa aku pikirkan. Walau aku tau beradai-andai sesuatu yang salah, tiba-tiba saja terbesit jika saja Ayah dan Ibu Bang Yusuf masih ada aku yakin mereka juga akan mencintai aku seperti Bang Yusuf dan keluarga saat ini, Papi... Mami dan Nissa.
Semoga saja Allah izinkan aku berjumpa dengan mereka dalam mimpi.
"Terserah Abang!"
"Kenapa mukanya sedih gitu?"
"Gak papa, gak sedih juga."
"Capek? Kita pulang saja ya?"
"Lho tadi katanya mau silaturahmi kerumah keluarga Abang yang lain, kok pulang sih?"
"Aku mau jalan-jalan."
"Makanya tadi Abang tanya sayang! Abang takut kamu capek."
"Ya udah, Abang bawa kesuatu tempat. Tapi lumayan jauh, kamu benar gak capek kan?"
"Iya, gak papa."
Tinggal dilingkungan pedesaan bukanlah hal yang memalukan, malah sepertinya aku suka. Selain dari udara yang lebih segar, disini ternyata juga masih banyak sawah, jadi ingat dulu... Ketika masih kecil sering di ajak Ayah pulang kedesa, keempat asal Ayah, mayoritas penduduknya memiliki *umo.
Umo adalah hampir sama dengan sawah, memanfaatkan lahan hutan, kemudian beramai-ramai keUmo, berkumpul dan gotong royong dalam menanam padi.
Jika sawah hanya ada padi, dilahan Umo selain menanam padi, di Umo juga bisa bercocok tanam yang lain, seperti cabai, ketemuan, kesek dll*.
Tapi sayangnya... Sekarang pedesaan Ayah sudah sangat sulit menemukan Umo.
Menurut perkataan Ayah, sekarang semua hutan sudah hampir habis digantikan dengan lahan perkebunan kelapa sawit.
Jadi, untuk mendapatkan padi yang dari hasil Umo benar-benar sudah sulit. Padahal padi dari hasil Umo luar biasa rasanya, bau nya yang wangi dan tekstur yang lembut, serta rasanya yang sangat enak. Sayang sekali mungkin aku sudah tidak akan pernah merasakannya lagi.
"Sayang!"
"Eh! Ya Allah, kaget Bang." Saat tangan Bang Yusuf meremas pelan punggung tanganku.
"Kamu kenapa dari tadi Abang tanya diam saja? Lagi mikirin apa?"
"Tanya apa Bang?"
"Tu kan gak dengar. Abang tanya istri Abang mau makan siang apa? Nanti disana gak ada jualan makanan biasanya, jadi kita bawa makan dari sini saja."
"Oh... Hehe maaf sayang."
"Aku gak tau makanan apa yang ada disini, Hm... Terserah Abang saja. Makan apapun gak masalah, asal sama Abang."
"Sudah mulai pintar ngegombalin Abang sekarang ya?"
"Abang tu suka banget sih coel-coel hidung aku?"
"Terlalu mancung soalnya."
"Iya mancung kedalaman. Kiasan banget sih ngomongnya!"
"Hahaha..."
"Mikirin apa sih, Abang panggil-panggil gak dengar?" terdengar serius.
"Gak mikirin apa-apa, cuma keingat waktu kecil, waktu masih tinggal didesa," Aku sedikit tersenyum seolah melihat pemandangan didesa dulu.
"Dulu waktu kecil aku suka ikut nenek ke ladang, kalau didesa aku namanya Umo."
"Umo?" Dahi Bang Yusuf sedikit berkerut.
"Apa itu?"
"Hampir sama dengan sawah ini, ditanam padi juga, bedanya... Kalau Umo ditanamnya didaratan, dan bisa menanam bermacam sayuran lain, Cabai misalnya."
"Oh ya?"
"Memangnya bisa menanam padi tanpa air, maksudnya Abang selain disawah?"
"Bisa dong! Nasi hasil ladangnya juga enak sekali, sayangnya sekarang kata Ayah sudah sangat sulit menemukan Umo didesa."
"Kenapa?" Bang Yusuf lagi-lagi tampak penasaran. Ia bertanya dengan raut penuh semangat.
"Soalnya sekarang sudah tidak ada lagi lahan yang bisa dibuat Umo, sudah hampir 90% desa kita dulu ditanami kelapa sawit."
"Kalau sekarang kata Ayah, dimana-mana kebun kelapa sawit." Ada rasa kecewa dihati ini, pasalnya Ayah bilang hampir sudah tidak ad alami hutan rimba yang tersisa, dimana-mana yang dijumpai kelapa sawit.
"Sayang sekali dong, apa kelapa sawit bisa merusak lingkungan dan hutan?"
"Hm... Kurang tau sih akunya. Tapi kayaknya yang sudah ditanam kelapa sawit tanahnya sudah gak lagi subur."
"Nanti insyaAllah jika ada waktu kita ajak Ayah kedesa. Masih ada juga beberapa kerabat kita yang tinggal didesa." Aku tersenyum melirik Bang Yusuf. Membayangkan pulang kedesa saja sudah membuat aku cukup bahagia.
"Tunggu sebentar ya, Abang beli makan dulu."
Selang beberapa waktu Bang Yusuf menentang dua plastik nasi bungkus, lengkap dengan air minumnya.
Tak banyak bicara, aku hanya terkesima melihat pedesaan ini, warga yang masih cukup banyak hilir mudik dengan berjalan kaki. Kalau dipikir-pikir desa ini bukanlah termasuk desa yang warganya Kurang mampu, tapi sepanjang perjalanan hari ini warga disini masih terlihat suka berjalan kaki. MasyaAllah...
"Disini warganya masih banyak yang berjalan kaki ya Bang, tidak menjadikan kendaraan sebagai pilihan dalam beraktivitas."
"Iya lumayan banyak, tapi ini hanya sebagian kecil, ya Paling-paling orang-orang yang cukup berumur saja yang berjalan kaki, itu pun jika kesawah dekat perkampungan."
"Kalau anak-anak remaja dan anak-anak muda sudah gak, bahkan sekarang semakin banyak yang sudah memiliki mobil pribadi."
"Oh ya?"
"Tapi kok dari tadi aku lihat banyak yang masih jalan kaki ya?"
"Tapi benar juga sih, yang aku lihat kebanyakan yang cukup berumur."
"Masih jauh Bang?"
"Lumayan."
"Tempatnya benaran bagus ya?"
"Nanti kamu akan lihat sendiri."
Mendengar jawaban Bang Yusuf aku sudah tidak sabar, semoga saja benar-benar bagus.
__ADS_1
"Jalannya cukup jelek ya Bang! Padahal ini tempat wisata."
"Dari mana kamu tau ini tempat wisata?" senyuman Bang Yusuf sangat tak enak dilihat.
"Hm... Abang bilang mau ajak aku ketempat wisata? Mau ajak jalan-jalan."
"Hehehe... Iya nanti lihat saja ya. Sabar sayang."
"Jalannya memang cukup jelek, karena sudah hancur dan tidak diperbaiki dan dirawat lagi, tapi sebentar kok, paling cuma 50 meter, nanti bagus lagi."
"Nah tu udah mulai bagus lagi." Bang Yusuf menunjuk ujung jalan. Benar saja... Dari kejauhan sudah tidak terlihat ada genangan air dalam lubang ditengah jalan.
"Kok berhenti?" Setelah tiba diujung jalan, yang kondisinha terlihat sudah lebih baik.
"Ayo turun."
Tanpa banyak bertanya lagi, aku segera mengikuti Bang Yusuf turun.
"Ini pegang."
"Kok dibawa Bang?" Aku menatap heran pada kantong plastik yang tadi Bang Yusuf bawa.
"Kita mau makan disini?" Tanpa menjawab Bang Yusuf mengambil kembali kedua kantong plastik yang lumayan besar, ada nasi bungkus, air minum dan snak sidalamnya.
"Ini belum jam makan siang Bang." Masih tanpa jawaban, aku juga terus mengikuti langkah Bang Yusuf.
"Abang... Ih, dari tadi ditanya diam aja. Gak berubah-ubah. Cuek nya dikurangin atuh." Dengan sedikit mempercepat langkah aku meraih lengannya.
"Kita sudah sampai ditempat tujuan, tapi... Kita harus jalan lagi, mobilnya gak bisa dibawa sampai tempat yang kita tuju."
"Nah gitu kan enak kalau dijawab." Mendengar protesku, Bang Yusuf hanya tersenyum.
"Berapa lama jalannya?"
"Masih jauh tempatnya?"
"Abang rasa makin kesini kamu tu makin cerewet ya!"
"Cuma tanya Bang, kan aku gak tau."
"Masih lumayan, jalannya kurang lebih tiga puluh menit."
"APA? 30 MENIT?" sontak aku menghentikan langkah ku, Bisa-bisanya Bang Yusuf bilang tiga puluh menit untuk jalan kaki tanpa merasa kasihan padaku.
"Ngapain berhenti disitu?"
"Udah gak kuat?"
"Mau Abang gendong?" Dengan senyuman tanpa dosanya Bang Yusuf malah menggodaku.
"Abang tega ya!"
"Kok gak bilang sih?"
"Nih lihat... " Aku mengangkat kaki kananku.
"Aku loh pakai sendal sedikit tinggi. Mana jalannya bebatuan lagi."
" Hahaha... " Bang Yusuf balik kebelakang dan menarik tanganku.
"Mau Abang gendong?"
"Ayo ah... Buruan, sebagus apa sih tempatnya, sampai-sampai tega buat aku jalan jauh-jauh."
"Sini Abang pegangin!"
" Aduh... Terharu dedek Bang, sini plastiknya satu biar adek bantu." Aku meraih satu kantong plastik dari tangan Bang Yusuf, jelas saja aku tau kantong plastik itu satunya berat karena berisi beberapa botol air mineral.
"MasyaAllah... Suka Abang kalau bilang adek gitu, makin GEMES Abang."
"MasyaAllah... Terima kasih Abang! Semoga hidung aku mancung kedepan kayak Abang kalau tiap hari ditarik terus."
"Jangan ngarep... Udah kadaluarsa. Gak bisa nambah lagi, Ayo buruan." MasyaAllah... Hilang rasa lelah ini.
Benar saja... Setengah jam perjalanan Aku mendengar gemercik air.
"Kayak suara air ya Bang?" yang ditanya hanya diam sembari tersenyum.
"MasyaAllah... Ini indah Bang." MasyaAllah... Ini benar indah, dari sini juga bisa melihat hamparan sawah yang mulai menguning ada juga yang masih hijau yang terbentang luas, ditambah memang suasana yang dingin, dan suara gemercik pancuran air.
"Jadi lapar aku nya." Setelah perjalanan yang cukup melelahkan aku benar merasa lapar, tapi rasa lelah aku terbayarkan dengan pemandangan yang indah ini.
"Makan aja dulu. Nanti kita turun kebawah."
"Makannnya satu berdua ya Bang." Aku segera duduk dihadapi Bang Yusuf.
"Iya."
"Abang gak bilang mau kesini, coba tadi tau, aku bisa bawa baju ganti. Bisa mandi disini."
"Mandi apa-an?"
"Ngaco kamu." Dengan perlahan Bang Yusuf mulai mengunyah.
"Berasa camping ya Bang." Aku ikut menyantap nasi bungkus, rasanya alhamdulillah... Enak.
"Kata Mami... Waktu dulu awal kehilangan Orang tua Abang, Abang paling suka diajak main kesini, sebelum di bawa pindah ke Kota." Mata Bang Yusuf tampak memandang jauh menerawang.
"Pantas saja, dalam ingatan Abang kayaknya Abang suka main kesini."
"Kata Mami kalau Abang nangis mau ketemu Ibu, Mami selalu bawa Abang kesini, Abang jadi happy lagi."
"Sampai sekarang kalau pulang kesini, Hampir tak pernah lupa Abang selalu kesini. Alhamdulillah... Sekarang kesini udah ada teman, wanita cantik. MasyaAllah."
"Dari tadi Abang juga ngegombal mulu. Makin terasa indah tempat ini." Dengan perlahan aku meneguk air mineral didepanku.
"Hehehe..."
"Abang kok makannya udahan?"
"Gak papa, kamu makan yang banyak. Kamu yang butuh tenaga ekstra biar bisa nemenin Abang terus."
"Nanti aku jadi gendut lagi." Satu bungkus berdua lebih terasa nikmat.
"Disini ada mushola Bang?"
__ADS_1
"Gak ada, nanti kita sholat dirumah saja. Gak papa telat sedikit."
"Kita sholat disini juga bisa kok, aku bawa peralatan sholat, aku mau sampai sore disini."
"Katanya mau diajak silaturahmi?"
"Besok aja."
"Nanti jam satu kita pulang. Sore Abang ajak jalan lagi."
"Iya udah deh."
"Disini enak ya Bang. Tenang... Gak kayak dikota." Aku duduk disamping Bang Yusuf dengan kaki terjuntai, dinginnya air sungai ini semakin membuat aku rileks.
"Dimana pun kita tinggal harus disyukuri, dimana pun tinggal insyaAllah disanalah segala kebaikan yang Allah rencanakan untuk kita."
"Kalau kamu merasa ini indah, jangan hanya menikmati keindahan saja, tapi ambil hikmah dan pelajarannya."
"Maksudnya?"
"Dengan segala keindahan yang ada ini, ini membuktikan bahwa Allah suka sesuatu yang indah, segala yang terlihat ini milik Allah,"
"Banyak pelajaran yang bisa kita ambil, contohnya lagi... Kita harus semakin yakin kalau Allah itu benar-benar ada, mengimani rukun iman."
"MasyaAllah... Satu hal lagi yang membuat aku semakin yakin Allah itu baik,"
"Apa?"
"Allah kirimkan laki-laki yang juga baik untuk aku, yang sholeh, baik, ganteng... Paket komplit."
"Bisa aja kamu." Bang Yusuf semakin mengeratkan pelukannya tak lupa satu kecupan pastinya.
MasyaAllah... Menikah itu benar-benar indah, apa lagi menikah dengan orang yang tepat.
"Kalau waktu libur dan seperti hari-hari besar disini cumup ramai, dari desa-desa sebelah juga pada datang kesini."
"Oh ya?" Aku mengakat wajahku dan menatap wajah tampan suamiku itu. Ya Allah... Benar-benar tampan.
"Jangan liatin Abang gitu,"
"Gak masalah dong, menikmati keindahan ciptaan Allah yang lain." Aku menatap Bang Yusuf semakin lekat.
"Makin kesini makin pintar ngegombal kamu mah."
"Cuma sama Abang lho, biasanya aku suka malu-malu sama orang."
"Eh... Sama orang? Orang siapa?"
"Iya sama orang! Laki-laki terutama."
"Maksud kamu Abang buka orang? Bukan laki-laki juga?"
"Hehe... "
" Bang! Ih... Basah, jangan siram-siram atuh."
"Biar aja basah."
"Gak bawa baju ganti aku nya." Aku berusaha menghindar dari percikan air yang bang Yusuf percikan kearahku.
"MasyaAllah... Pengantin baru ya Neng?"
"Mesra amat."
"Eh... Bapak!"
"Maaf Pak, ikutan jadi basah suami saya gak ngeliat ada Bapak kayaknya." Bang Yusuf segera berhenti dan mengampiri aku dan Bapak yang tiba-tiba nongol dibelakang aku.
"Assalamualaikum... Pak Cik, Apa kabar?"
"Wa'alaikumussalam... Pak cik kira tadi siapa."
"Ini istrinya?"
"Iya Pak Cik, Alhamdulillah Allah kasih cantik, cantik luar dalam alhamdulillah." Mendengar pujian Bang Yusuf aku hanya mampu tersenyum kecut menahan malu, Pak Cik? Dahiku tiba-tiba berkerut, Bang Yusuf pasti kenal.
"Ini Pak Cik, yang sawahnya disebrang sana, orang desa tempatnya Pak Ngah juga."
"Assalamualaikum, Pak Cik." Aku melipat kedua tanganku sebagai ucapan salam dan sopan santun.
"Iya Wa'alaikumussalam."
"Dilanjutkan saja, maaf Pak Cik sudah mengganggu keromantisan kalian."
"Assalamualaikum." Laki-laki yang kura-kura berusia lebih setengah baya itu melangkah pergi dengan cangkul dibahunya.
"Kasian ya Bang, udah tua tapi masih kerja keras." Pandanganku mengantar kepergian laki-laki tersebut dengan rasa iba.
"Kerja kesawah bawa cangkul, bukan berarti bekerja keras dan tidak mampu, Fah."
"Maksud Abang?" Aku mengikuti Bang Yusuf duduk dibantu besar pinggir sungai.
"Ya... Maksudnya Abang, tidak semua orang yang terlihat bekerja keras, adalah orang yang tidak mampu. Apalagi sampai menghina."
"Ya Allah... Na'uzubillah! Aku gak ada niat menghina sedikitpun, kok Abang bilang gitu?"
"Kok cemberut? Jangan cemberut! Nanti cepat tua, lagian Abang gak bilang kamu yang menghina. Abang percaya, kamu itu wanita lembut dan pandai menjaga perasaan orang."
"Abang cuma kasih contoh saja."
"Kirain bilangin Aku."
"Tau tidak?"
"Gak tau. Hehehe."
"Abang belum selesai ngomong."
"Abng tu yah, lagi-lagi suka narik hidung aku."
"GEMES Abang sama hidung kamu yang mancung itu."
"Lanjut ya..." Aku mengangguk, "pak cik tadi termasuk orang berada, beliau pensiunan TNI, karena beliau biasa bekerja... Jadi setelah pensiun beliau rutin kesawah, bukan karena kekurangan, tapi memang hobi. Beliau juga sangat baik, suka berbagi. Anak-anaknya juga pada sukses."
" Oh... MasyaAllah, pantas saja beliau masih terlihat kuat dan sehat ya Bang." Aku tanpa sadar menoleh kearah Bapak tadi menghilang.
__ADS_1