Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 58


__ADS_3

Apa yang sebenarnya aku fikirkan? aku mulai tidak nyaman dengan keberadaan Mbak Sarah disekitar Yusuf, Bisa-bisanya aku malah memohon pada Yusuf untuk membawa Mbak Sarah pulang bersama.


Astagfirullah... Semoga tidak Allah butakan hati ini karena rasa cemburuku.


"Mbak Sarah rumahnya dimana?" setelah beberapa menit tanpa suara, suasana dimobil menjadi sunyi.


"Hm... Di Jln Garuda Blok D No 9, tapi tidak perlu antar sampai kerumah, aku benaran tidak masalah dan bisa pulang sendiri, malahan aku merasa tidak enak kalau harus merepotkan kalian anterin aku pulang." Aku melirik Mbak Sarah lewat rearview miror.


"Gak papa Mbak, tapi kita ke Cafe dulu ya, Mbak"


"Mbak Sarah nya udah pernah mampir ke Cafenya Yusuf belum?" Aku membalik setengah badan ke belakang.


"Belum." Jawabnya singkat diikuti gelengan pelan.


"Wah kebetulan donk, ikut kita ke Cafe dulu ya, Mbak. Siapa tau nanti Mbak Sarah bisa datang bareng teman-temannya. Hehehe."


"Kalau nanti bawa teman, bawanya yang banyak Mbak, siapa tau jadi tempat nongkrong favorit."


"Kamu mah sekalian promosi yah?" dibalas senyuman kecil Mbak Sarah.


"Oke, nanti aku ajakin teman-teman aku, tapi harus ada free untuk aku yah,"


"Hahah. Gak mau rugi Mbaknya!"


"Aman! Bisa diatur kalau untuk Mbak."


"Lagian makanannya enak-enak kok mbak, chef kita handal dalam masalah rasa, dijamin gak mengecewakan." Aku mengubah posisi duduk kesemula.


"Abang dari tadi diam aja! Kenapa? Lagi gak enak badan?" Aku menyentuh dahi Yusuf.


"Tidak."


"Abang lagi nyetir, harus konsentrasi." Jawabnya tanpa menoleh kearahku.


Jam sekarang memang harus konsentrasi dalam mengemudi kendaraan, jamnya orang-orang pulang kantor, jadi jalanan memang sedikit lebih padat dari jam biasanya.


"Tunggu disini saja! Abang gak lama." Sesaat sebelum Yusuf membuka seatbeltnya dan turun.


"Hm... Kita masuk aja, Kan mbak Sarah mau mampir!" Aku melihat Mbak Sarah kekursi belakang.


"Gak usah! Udah sore, dia bisa datang kesini lain kali. Yang penting sudah tau tempatnya kan!"


"Gak papa Fah, Yusuf benar! Yang penting aku sudah tau tempat ini, aku bisa kembali kesini kapan aja, bahkan mungkin akan sering datang kesini." Mendengar ucapan Mbak Sarah, Yusuf menatapnya dengan tatapan tidak suka, lalu pergi tanpa berkata-kata.


"Maaf ya, Mbak! Kayaknya dia benaran buru-buru, kayaknya harus menyelesaikan laporan ahir bulannya." aku merasa tidak enak hati, sebenarnya, aku tau Yusuf juga tidak nyaman dengan keberadaan Mbak Sarah.


"Gak papa, Fah. Santai aja."


"Dia emang gitu, kadang gampang emosion, mood nya suka berubah-ubah kapan aja, aku udah biasa dengan sikap dia seperti itu, jadi... Ya santai aja." Entah kenapa mendengar jawaban Mbak Sarah hati aku bergetar, sejauh apa dulu hubungan mereka? Sebenarnya tidak masalah dengan kisah masa lalu mereka seandainya saja Mbak Sarah bisa merelakan Yusuf bersama ku saat ini, tapi... Sepertinya Mbak Sarah masih ingin mengambil hati Yusuf, terbukti dengan berterus terangnya Mbak Sarah akan perasaannya pada Yusuf, dengan tanpa ragu-ragu mengungkapkan perasaan terhadap Yusuf.


"Aku ketoilet sebentar ya, kamu mau tetap disini?" atau mau ikut masuk juga?" Mbak Sarah bersiap keluar.


"Aku tunggu disini saja Mbak, Mbak Sarah bisa ke toilet dikantor aku, tanya saja sama penjaga resepsionis didepan." Aku mengantar kepergian Mbak Sarah dengan senyuman.


Sepeninggalan Mbak Sarah, seketika pula hatiku tak karuan. Ada perasaan yang mendorong aku untuk ikut masuk.


Ada rasa cemburu yang seketika menyelinap dihatiku dan kembali tak percaya diri. Seketika pula kenangan masa laluku terlintas.


Astagfirullah... Semoga hati ini Allah jauhkan dari prasangka buruk.


"Mbak! Tadi ada seorang wanita tanya kamar kecil gak atau tanya kantornya aku? Pakai plaid shirt." Tanya ku pada penjaga resepsionis, ahir nya aku putuskan menyusul Mbak Sarah dan Yusuf.


"Oh... Ada Bu, eh... Mbak. Ada, Ke atas Mbak, tadi nanyain kantornya Mas Yusuf sama Mbak Afi! Katanya temannya Mbak Afi!" Jawab Mbak Titi.


"Oh! Iya Mbak memang temannya saya. Makasih ya Mbak." Dengan hati bergetar aku menuju ruangan yang bertulisan Manajer.


"Jangan lancang Sarah!" Deg. Mendengar suara Yusuf yang sedikit menggema membuat aku mengurungkan niat untuk masuk. Pintu sedikit renggang, sehingga bisa mendengar pembicaraan mereka dengan sedikit jelas.


"Toiletnya disana, silahkan! Lalu segera tinggalkan ruangan ini."


"Yusuf, aku sudah berubah, benar-benar sudah berubah. Aku ingin minta maaf. Tolong! Maafkan aku."


"Aku sudah memaafkan kamu! Dan kita sudah tidak punya masalah lagi, jadi... Tidak perlu merasa bersalah padaku."


"Kalau begitu kenapa kamu menghindar dariku?"


"Aku menyesal. Aku ingin kembali seperti dulu. Aku ingin kita sama-sama lagi."


"Aku tidak menghindari, tapi kita memang tidak ada kepentingan hanya untuk sekedar bertemu, pekerjaan ku Terlalu banyak."


"Tapi aku benaran ingin kita sama-sama lagi kayak dulu."


"Kamu gila!" Suara Yusuf makin terdengar kencang.

__ADS_1


"Aku sudah menikah, dan mustahil bagi aku untuk kembali sama kamu."


"Kamu harus membuka mata, lihat aku yang sekarang, aku sudah memiliki Afiifah, aku sudah menikah."


"Aku tidak peduli! Aku siap untuk menjadi istri kedua kamu."


Ucapan Mbak Sarah bak belati yang menancap kedalaman dada ku.


Apa yang Mbak Sarah fikirkan? Bisa-bisanya dia mengatakan untuk hal yang tidak masuk akal itu.


"Tidak! Aku tidak bisa, aku tidak mungkin berpoligami, aku tidak bisa."


"Jangan bikin masalah disini! Ini kantorku Sarah, lebih baik kamu segera keluar."


Sesaat senyap, tanganku kembali terhenti saat ingin mendorong pintu.


"Yusuf! Kau tidak bisa lari dari tanggung jawab begitu saja."


Bertanggung jawab? Apa yang Mbak Sarah maksud bertanggung jawab?


Apa yang mereka katakan sebenarnya?


Apa yang sudah terjadi dimasa lalu?


Sejauh apa hubungan mereka dulu?


"Kamu tidak bisa lari dariku begitu saja, Suf. Kamu harus bertanggung jawab." Kini intonasi Mbak Sarah yang sedikit lebih keras dan emosi.


"CUKUP." Brak, suara pukulan meja terdengar jelas, aku segera menutup rapat pintu perlahan. Aku tidak ingin ada yang mendengar pertengkaran Yusuf dan Mbak Sarah yang akan menjadi gosip penghuni Cafe ini, perlahan aku mundur, "Keluar Sarah. Berhenti bersikap gila setelah ini." Perlahan aku mendengar Yusuf berkata mAsih dengan nada tinggi. Perlahan pula aku melangkah menjauhi pintu dan kembali kemobil, aku belum siap mengetahui kebenaran apa pun.


Air mataku hampir saja jatuh, terasa sesak berkali-kali mengatur napas agar terasa longgar didada.


"Astagfirullah..." Lagi-lagi aku harus berusaha mengontrol emosi.


Pernikahanku baru seumur jagung. Haruskah masalah datang secepat ini?


Apa yang sebenarnya mereka lakukan dimasa lalu?


Kenapa pikiran kotor kini menyerangku?


"Astagfirullah..." berkali-kali aku mengucap istighfar, dan menghembuskan napas dengan berat. Walaupun sebenarnya aku masih ingin mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi hati kecilkku menolak.


"Bu! Gak jadi masuk?" Sapaan Helen sang waittress Cafe membuat lamunanku buyar.


"Oh! Eh... I... Iya Bu."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam, Bu."


"Bang!" Hampir lima belas menit berlalu, Yusuf datang tanpa tersenyum. Kalut terlihat jelas dan rasa kesal juga tampak begitu nyata.


"Brak" pintu mobil dibanting kasar, tanpa sepatah kata dari Yusuf.


"Astagfirullah... Abang kenapa?" Aku sedikit kaget dengan sikap Yusuf.


"Mbak Sarah masih didalam Bang." Berusaha mencegah, Saat Yusuf segera melajukan mobil, masih tanpa suara.


"Bang!" Aku memegang erat tangan Yusuf.


"Astagfirullah... Tunggu Mbak Sarah sebentar. Tidak baik meninggalkan beliau begitu saja." Yusuf masih tak bergeming dan mobil juga melesit dengan kencang.


"Jika terjadi sesuatu padanya gimana? Kita yang membawa serta Mbak Sarah kesini."


"Diam! Dan jangan lagi sebut nama wanita itu." Lembut tapi terkesan tegas.


"Ada apa sebenarnya? Abang gak mau cerita?"


"Tadi baik-baik saja! Kenapa Abang tiba-tiba marah gini?"


"Mbak Sarah jadi kasian harus pulang mutar jauh gitu dari Cafe kerumahnya." Entah kenapa ada rasa kasihan yang tulus dari hatiku.


"Dia sudah cukup dewasa untuk bisa pulang sendiri, dia bisa memakai jasa taxi, dia tidak selemah yang kamu lihat. Tenang saja! Jangan khawatirkan dia." pandangan Yusuf masih fokus kedepan.


"Tapi... "


"Afiifah! Jangan keras kepala! Abang gak suka kamu dekat-dekat sama dia." Kini tatapan Yusuf bak elang siap memangsa.


"Baiklah." Aku merebahkan tubuhku pada kursi. Melihat Yusuf yang emosinya semakin tak terkendali, Ku urungkan niat untuk mencari tau masalah mereka sebenarnya.


Matanya tampak memerah menahan marah.


Kini aku dan Yusuf hanya bermain dan berkata dengan fikiran masing-masing, diikuti alunan sholawat sebagai pelebur kesunyian, berharap lebih bisa mengontrol emosi.

__ADS_1


"Maafkan Abang, Sayang. Maaf kalau tadi sedikit membuat kamu tidak nyaman dan berkata sedikit membentak." Sesaat sebelum memasuki apartemen.


"Tidak masalah. Mungkin Abang Terlalu lelah hari ini. Ditambah akunya yang ngotot pingin anterin Mbak Sarah pulang tanpa memikirkan kamu yang capek." Sembari tersenyum aku mengusap lembut pipi Yusuf.


"Ya sudah, Abang ganti baju dulu. Biar Aku siapkan air panas."


"Tidak perlu." Yusuf segera menarik tanganku yang hendak menuju kamar mandi.


"Abang bisa sendiri. Kamu juga siap-siap mandi, bukannya tadi masih sakit? Nanti habis mandi Abang siapkan kompres hangat lagi, tidak perlu menyiapkan makan malam, nanti kita bisa pesan makan siap saji saja." Satu kecupan mendarat penuh kehangatan dikeningku, seketika melebur rasa sakit dihatiku.


Yusuf POV


Bayangan Sarah yang tanpa diundang masuk kedalam kantorku tadi membuat segala kenangan pahit itu kembali melintas dibenakku.


Seketika senyumku menghilang saat mendapatkan Sarah berjalan menuju mejaku, yang tadinya aku fikir Afiifah yang menyusul.


"Sarah! Kenapa kesini?"


"Hm. Aku ingin ketoilet. Afiifah bilang toilet dikantornya saja." Sarah semakin mendekat.


"SARAH!"


"Jangan lancang Sarah." Spontan jemari ku menggepal saat Sarah dengan berani mencium pipiku.


"Toilet nya disana! Dan segera pergi." Rasa amarahku rasanya tak mampu aku redam, bisa saja Afiifah datang tiba-tiba dan melihat kelakuan Sarah.


Apa yang sebenarnya dipikirkan wanita ini, dia yang dulu memilih pergi dari kehidupanku dan kembali untuk menghancurkan pernikahanku dengan Afiifah.


Bisa-bisanya dia kembali dan mengatakan siap menjadi istri keduaku. Wanita gila.


Bertanggung jawab?


Apa yang sudah aku lakukan padanya sehingga aku harus bertanggung jawab? Benar-benar gila.


Setelah berulang kali aku berusaha menjauh darinya, Bisa-bisanya dia malah ikut mengajar di kampus yang sama denganku.


Aku tidak ingin berurusan dengan Sarah. Aku tidak ingin dia membuat Afiifah ikut gila dan mempengaruhi Afiifah dengan ucapan-ucapannya yang tidak masuk akal dan bahkan tidak segan menyakiti perasaan Afiifah dengan ucapannya.


Aku takut menyakiti perasaan Afiifah. Aku tau orang seperti apa Sarah. Dia bisa melakukan apapun agar tujuannya berhasil, tidak disangka ia menggunakan kecerdasannya untuk hal-hal yang tidak beretika.


Kehadiran Sarah benar-benar bisa mengancam rumah tanggaku, kecuali Afiifah adalah wanita yang tenang, dan itu bisa membuat aku sedikit lega. Apa lagi Afiifah memang punya kisah dihianati dimasa lalu, itu akan membuat Afiifah mudah untuk tidak percaya.


"Aku sudah memberi tau Afiifah, bahwa aku sangat mencintai kamu dan siap menjadi istri kedua kamu." ucapan Sarah begitu mengganggu pikiranku.


"Dan Afiifah akan memikirkan itu."


Astagfirullah... Mengingat ucapan Sarah yang Seolah-olah mempertimbangkan aku untuk menikah lagi rasanya amarahku semakin memuncak.


Sampai dimobil mendengar Afiifah yang lagi-lagi mengkhawatirkan Sarah semakin membuat aku marah. Jika ucapan Sarah benar, sudah jelas Sarah akan menjadi biang masalah dalam pernikahan kami, kenapa Afiifah tidak bersikap tegas menolak keinginan Sarah? Atau setidaknya Afiifah juga berusaha menjauh dari Sarah! Apa dia benar-benar siap dipoligami? Seandainya pun benar, jelas aku akan menolak.


"Ting"


"Sarah lagi! Kenapa Dion bisa memberikan nomor ponselku pada Sarah? Ck... Menyebalkan." Monologku, Bukan salah Dion seutuhnya ketika ia memberikan nomor ponselku pada Sarah, dengan alasan Sarah untuk meminta materi perkuliahan.


Aku segera mendeleta pesan masuk Sarah tanpa membaca.


"Ting..."


Lagi-lagi pesan Dari Sarah.


Membuat aku semakin gerah.


Sudah setahun menghilang malah datang membawa masalah, aku masih tidak percaya Sarah bisa berubah sejauh ini.


Sarah yang dikagumi semua orang, cerdas, bijaksana dalam bertindak dan mengambil keputusan, lembut dalam bertutur kata bahkan memiliki akhlak yang baik, kenapa semakin kesini emosi nya semakin tidak terkontrol? Bahkan dia berbanding terbalik dengan Sarah yang pernah aku kagumi.


Aku tau saat ini Afiifah pasti ingin tau masalah antara Aku dan Sarah.


Tapi aku fikir... Belum saatnya aku bercerita, tepatnya... Aku tidak ingin Sarah menjadi duri dalam pikiran Afiifah.


Aku ingin fokus pada kenyamanan Afiifah, dan sampai Sarah bertindak tidak sewajarnya.


"Siapa?"


"Oh... Hm. Teman kampus!" Aku segera mematikan ponselku seketika setelah Afiifah keluar dari kamar mandi.


"Sini Abang kompres lagi." Aku menarik lembut tubuh wanita yang paling ingin aku jaga saat ini, dialah istriku. Khoiratul Afiifah.


"Terima kasih." Ia mencoba tersenyum tanpa beban, tapi aku bisa melihat dari sudut matanya ada pancaran rasa kecewa.


"Tapi, aku benaran sudah tidak apa-apa kok, Bang. Abang segera bersiap untuk sholat magrib saja, biar aku yang pesan makan malamnya."


"Abang masuk dipesankan apa?"

__ADS_1


MasyaAllah... Betapa baik Allah sudah mengirimkan wanita selembut Afiifah dalam kehidupan aku, tidak ada yang paling membahagiakan selain dari memiliki seorang istri yang sholihah, yang membuat aku semakin dekat dengan Allah.


__ADS_2