Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 18.


__ADS_3

Cinta seorang bunda benar-benar memberi ketenangan karena ia selalu meyakinkan aku semua akan baik-baik saja, sungguh aku bersyukur masih memiliki bunda di sisi ku.


Cinta seorang ayah mampu membuat ku kuat, ayah yang selalu memberi ku kekuatan untuk terus melangkah, ayah yang membuat aku yakin, aku bisa menghadapi segala persoalan hidup ku.


Terima kasih ayah, bunda.. Sudah membuat aku selalu merasa kan begitu berharga.


Terima kasih fariz, sudah menjadi adik yang yang siap berdiri di depan untuk melindungi ku.


Nikmat allah yang mana lagi yang aku dusta kan?.


Dan aku tau Kebahagiaan bukan sesuatu yang tercipta dengan sendiri, kebahagiaan itu berasal dari diriku sendiri. Aku yang memilih nya.


Setelah memberi tau ayah bunda dan fariz aku merasa lega tapi sejujur nya ada beban lain di hati ku.


Dari mana aku harus memulai hidup ku?.


Dari mana aku harus mulai bangkit?


Aku meyandarkan tubuh ku di sisi ranjang ku.


Aku mencari nama fariz di layar handphone ku, segera aku menghubungi fariz.


Tak menunggu lama ahir nya fariz menjawab panggilan ku.


" assalamualaikum, ada apa kak?? " jawab fariz dari sebrang sana.


" waalaikumussalam, hmmm lagi di kantor y dek? " jawab ku.


" iya, kenapa? ".


" masih lama pulang nya? Kalau kakak ke kantor kamu boleh gak? " tanya ku lagi.


" gak usah ini sudah malam, kalau ada perlu atau mau cerita tunggu aku pulang, atau besok pagi saja ".


" kakak mau lihat Cafe kamu ". Aku masih berusaha di izinkan untuk ke Cafe.


" besok saja, aku dan bang satria juga udah siap-siap mau pulang ".


" hmmm ya udah deh, assalamualaikum ". Aku pun mengakhiri panggilan ku.


***


Fariz dan satria POV.


Di Cafe.


Setelah panggilan terputus, fariz nampak memikirkan sesuatu.


" bang, hmmm kamu masih ingat kakak ku gak? ".


Fariz mendekati satria dan Fariz berbicara pada satria dengan sedikit ragu.


" memang nya kenapa? ". Satria membuka berkas-berkas kerja yang ada di meja nya tanpa melihat ke arah fariz.


" abang masih ingat atau tidak? ". Fariz mengulang pertanyaan sambil menggeser kursi dan duduk di hadapan fariz.


" iya, memang nya kalau aku ingat kenapa? Kalau gak ingat kenapa?. " setria masih membaca berkas-berkas tersebut.


" hmmm dia sudah pulang ke sini lho bang ". Jawab fariz ragu-ragu.


" terus? ". Setria melirik fariz sekilas.


" ya gak terus-terus, aku cuma ngasih tau saja, siapa tau abang masih ingat sama kakak ku ". Fariz kecewa dengan sikap satria.


Entah dapat fikiran dan ide dari mana fariz berniat menjodohkan satria dengan sang kakak, afiifah..


Melihat satria yang tersenyum tanpa arti fariz jadi bingung.


" kenapa abang tersenyum? ". Tanya fariz.


Tapi satria masih saja tersenyum.


" abang gak ada niat mau main kerumah aku? " tanya fariz lagi.


" ayah sama bunda juga sudah lama tidak bertemu abang, kalau ada waktu main lah ke rumah bang ".


Melihat satria yang masih diam ahir nya fariz menawarkan satria untuk bisa main kerumah nya, sebenar nya alasan nya saja ayah dan bunda nya ingin bertemu, tapi niat sesungguhnya fariz ingin mempertemukan satria dan sang kakak kandung nya.


" insya allah, nanti abang kerumah ". Satria tersenyum melihat fariz yang lebih dulu tersenyum pada nya.


" abang beneran mau pindah ke sini gak balik ke jakarta lagi? ". Fariz berdiri dari hadapan satria dan duduk di sofa.


" iya, abang sudah ngurus surat pindah ke sini ". Kini satria juga berpindah tempat ke sofa.


" alhamdulillah.. Aku jadi lebih tenang ada abang di sini, sejujur nya aku gak terlalu ngerti ngurus karyawan di sini bang ".


" kamu nya saja yang masih suka main-main dan gak serius bekerja ".


" gimana persiapan lamaran kalian? ". Kata setria.

__ADS_1


" gak ada persiapan apa-apa sih bang, besok minggu aku sama filen rencana mau cari Barang-barang untuk hantaran ". Jawab fariz.


" bang, abang serius udah gak minat sama kakak aku lagi? ".fariz masih berusaha mendekatkan satria denah kakak nya, afiifah.


Setria tertawa mendengar pertanyaan fariz.


" aku serius lho bang, kak afiifah sudah berpisah dari suami nya, jujur saja aku sedikit bahagia dan bersyukur mereka pisah ". Lanjut Fariz.


" kamu itu, bukan nya sedih malah senang liat kakak nya pisah ". Satria menyeruput kopi yang ada di hadapan nya.


" ntah lah bang, aku merasa kak afiifah gak pernah bahagia selama ini ". Fariz kembali melirik Satria.


" hhhmhaah.. " Satria menghempas kan napas nya.


" abang tau afiifah sudah pulang, dan abang sudah bertemu dengan nya, bahkan dengan anak nya, kia juga ". Satria tersenyum sembari melihat ke arah fariz yang merasa bingung dengan jawaban Satria.


" abang ketemu kak afiifah di mana bang? " fariz menatap satria tajam den penuh rasa penasaran.


" hahaha... Ada lah, ya udah kita pulang saja, ini sudah malam, Cafe juga sudah tutup ". Setria berdiri hendak pulang.


" bang.. Jawab dulu, abang ketemu kakak aku di mana? " fariz setengah berlari menyusuri satu persatu anak tangga segera menyusul satrai di depan nya.


" kemaren waktu di bus ". Jawab Satria singkat.


" ya sudah, abang pulang dulu ya, titip salam sama ayah sama bunda, dan jangan lupa titip salam untuk afiifah dan kia ". Satria masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan fariz yang masih berdiam diri melihat mobil satria melaju cukup kencang.


" di bus?, kapan kakak keluar rumah ya? Apa lagi naik bus? Sama kia lagi, ahh entah lah ". Fariz bergumam dengan diri nya sendiri sembari menggaruk-garuk pundak nya yang tidak gatal.


" atau jangan jangan..., ahh tidak mungkin ". Fariz merasa tidak yakin dengan apa yang di fikirkan nya saat ini.


" lebih baik aku segera pulang dan bertanya sama kak afiifah ". Fariz pun juga meninggalkan area Cafe nya menuju rumah nya.


Di perjalanan fariz sangat penasaran di mana rekan kerja nya itu yang hendak dia jadikan abang ipar nya bertemu dengan sang kakak, fariz sudah tidak sabar untuk sampai di rumah dan memburu sang kakak dengan pertanyaan - pertanyaan yang amat sangat penting menurut nya.


***


Di rumah.


" assalamualaikum, kak, kak afiifah ". Fariz masuk kedalaman rumah dan segera mencari afiifah di ruangan bawah, siapa tau dia bisa menemukan afiifah di dapur atau di ruang tamu bawah, walaupun itu sedikit mustahil, karena mereka memang sangat jarang berkumpul di ruangan bawah.


" waalaikumussalam, kamu kenapa dek pulang kok teriak-teriak ". Tiba-tiba bunda keluar dari dapur dengan segelas susu hangat.


Langkah fariz pun terhenti mendengar suara wanita yang Sangat dia kenali.


Fariz turun dari tangga yang tadi hendak mencari afiifah ke ruangan atas, dia menghampiri sang bunda yang masih berdiri di tempat semula.


" bukan, ini untuk suami bunda tercinta, kamu itu kebiasaan jerit-jerit, coba lihat udah jam berapa sekarang " bunda menunjuk arah jam di dinding.


" heee, jam 11 malam " jawab fariz sambil nyinyir kuda.


" udah tau hampir tengah malam masih saja jerit-jerit ganggu orang tidur kamu ". Bunda mencubit lengan fariz.


" ya allah bunda, sakit.. Bunda kebiasaan deh cubit-cubit ". Fariz mengusap-usap lengan nya.


" lagian cuma bunda yang dengar, jadi yang lain pasti gak ke ganggu, bunda kenapa belum tidur? Mana bikin susu tengah malam lagi?, mau bikin ayah kuat untuk kasih fariz adik lagi ". Fariz ngomel panjang.


" elehh.. Sudah tua bunda mah, ngurus kalian ber dua saja bunda bisa stress, apalagi nambah anak, bunda cukup nambah cucu saja dari kalian ". Bunda melangkah menuju ruangan atas di ikuti oleh fariz.


" kamu kenapa jerit-jerit tengah malam? " bunda kembali bertanya.


" ada hal penting yang mau aku tanya ke kakak " jawab fariz.


" kakak kamu sudah tidur, sudah mimpi suami baru mungkin hehehe ".


Fariz tertawa sangat keras mendengar ucapan bunda.


" aaamin ". Fariz mengaamiin kan ucapan bunda sembari mengusap ke dua tangan nya ke wajah.


" hahaha... Kamu malah serius dek " bunda ikut tertawa dengan reaksi fariz.


" gak papa lah bun, siapa tau kak afiifah makin bahagia, ya udah lah fariz mau istirahat dulu, selamat malam bun ". Fariz mencium pipi bunda sebelum berlalu meninggalkan bunda.


***


* Kembali ke afiifah. *


Pagi ini entah kenapa aku bangun sedikit malas, mungkin karena masih mengantuk karena semalam tidur sedikit lebih lama dari biasa nya.


Setelah pulang ke rumah ini aku memang sedikit kurang tidur malam hari, mungkin tanpa alasan, aku lagi berusaha dan belajar untuk selalu sholat malam.


Aku ingin menjadi kan sholat malam sebagai kebutuhan bagi ku.


Perlahan-lahan aku semakin ingin menjadi lebih baik, selain itu aku pernah baca di sebuah artikel bahwa doa di saat tahajud atau sholat malam itu umpama panah yang tepat mengenai sasaran.


Aku merasakan ketenangan saat aku dekat pada robb ku.


Aku akan selalu berusaha menjadi insan yang bertaqwa. Biar lah waktu yang mengobati dan menyembuhkan luka dan kesedihan ini, semoga aku selalu berlapang hati menerima nya.


Sama seperti pagi ini, selesai sholat malam aku membaca berbagai macam buku-buku islami untuk menambah wawasan dan ilmu ku tentang islam, atau kadang aku membaca ayat suci alquran agar hatiku semakin tenang, sembari menunggu azan subuh.

__ADS_1


Selesai sholat subuh kadang aku kedapur membantu bu siti menyiapkan sarapan untuk kami semua. Tapi kadang aku juga lanjut tidur, maklum saja aku masih belajar untuk benar-benar baik.


Tepat pukul 07.00 Wib.


Waktu ini lah kami semua sudah wajib kumpul di ruang makan, tanpa harus di panggil. Karena ini sudah menjadi tradisi di keluarga ku sadari aku kecil.


Aku mulai melihat orang-orang menuju dapur Untuk sarapan.


" kak, aku ada pertanyaan penting ". Fariz tiba-tiba mengagetkan aku dari belakang.


" masih pagi dek, perut kakak lagi kosong, jadi kakak belum terima pertanyaan apa pun sekarang ". Aku menolak sembari sebelum fariz benar-benar bertanya. Walau pun sebenarnya aku tidak tau apa yang mau dia tanyakan.


" oke habis makan aku akan tanya kakak ". Fariz duduk di kursi samping ku.


" selamat pagi dan selamat menikmati makanan ponakan om fariz yang super cantik ". Fariz mengusap kepala kia sehingga membuat rambut keriting nya sedikit berantakan.


" om fariz oh.. Berantakan rambut kia jadi nya " kia kesal melihat tingkah fariz.


" heheh.. Maaf kan om fariz yah, hari ini kia mau ikut om fariz jalan-jalan sama tante filen gak? " fariz melirik kia sambil mengedip kan mata kiri nya.


" siapa tante filen? " tanya kia.


" hmmm tante yang akan jadi teman kia dan om fariz nanti nya ". Jawab fariz.


" ohhh... , kia mau ikut jalan-jalan nya om " kia tersenyum.


" kata nya besok minggu kamu baru mau pergi sama filen riz ". Bunda angkat bicara.


" iya bunda, tapi tadi malam filen berubah fikiran kata nya hari ini saja, dia juga sudah tidak sabar ingin bertemu ayah sama bunda ". Ucap fariz lagi.


" mau ajak mbak juga gak? ". Aku berharap fariz mau ngajak aku jalan-jalan, karena aku mulai bosan di rumah.


Fariz melirik ku" tapi jawab dulu pertanyaan fariz ".


" kan sudah kakak bilang, kakak belum menerima pertanyaan apa pun, kakak gak bisa jawab dalam ke apaan lapar ". Aku melihat ke arah fariz.


" mau tanya apa sih dek,? Dari malam tadi heboh banget ". Bunda ikut bicara.


" ahh sudah lah, pokok nya jawab, ini sangat penting, fariz udah gak sabar nunggu kakak selesai makan ". Fariz meletakkan sendok yang di pegang nya, kemudian melihat aku dengan tatapan penuh selidik.


" apa sih dek ngeliatin kayak gitu? Ya udah mbak akan jawab, emang nya mau tanya apa? " aku pun ikut meletakkan sendok di piring ku.


" kakak masih ingat gak sama fatner kerja aku di Cafe?, bang satria ". Fariz menatap ku semakin aneh.


" ingat, emang nya kenapa? ". Jawab ku cuek.


" kapan kakak pernah bertemu dengan nya? " fariz masih menatap ku.


" hmmm, bertemu? Kayak nya gak pernah ketemu deh, lagian kakak udah gak ingat sama wajah nya, kakak ketemu juga cuma satu kali doank, waktu ayah sakit ". Aku terus melanjutkan makan ku.


" jujur kak ". Fariz masih menatap ku aneh.


" ihh kamu apa-apaan sih dek ngeliatin kakak sampe segitu nya ". Aku mulai kesal dengan tatapan fariz.


" maka nya jujur ". Fariz masih memaksa ku.


" memang nya kenapa sih dek? ". Ayah yang sedari tadi diam sperti nya mulai terganggu dengan pertanyaan fariz.


" tau ni anak, aneh ". Timpalku.


" kakak udah jujur, kakak gak pernah ketemu dia lagi, tampang nya saja kakak udah lupa ". Sambung ku.


" oh ya, kakak pulang ke sini pakai apa? ". Ahh mendengar pertanyaan fariz kali ini aku langsung terdiam.


Aku memang tidak bilang kalau aku pulang ke Jambi menggunakan jasa bus, karena ayah dan bunda memang tidak pernah memberi izin, ntah apa alasan mereka.


Aku mengabaikan pertanyaan fariz, lalu kembali melanjutkan makan.


" kak, ayo jawab, kakak pakai bus ya pulang ke sini? ". Mendengar ucapan fariz ayah dan bunda melihat ke arah ku.


" kia, sayang.. Om fariz mau tanya kemaren ke sini dari jakarta kia pakai apa? Pakai bus atau pesawat? ". Fariz memilih untuk bertanya pada kia setelah tidak mendapatkan jawaban dari ku.


" pakai bus om, kia saaaangat suka, ada kapal ada laut, terus ada kakak nisa yang baik, dan om yusuf yang ganteng ". Kia bercerita dengan antusias.


Mendengar jawaban kia, fariz pun tersenyum. Berkali-kali fariz tampak menahan senyuman nya.


" benar kamu pakai bus fah? ". Ayah menatap ku, kemudian menatap bunda.


Aku menjawab dengan anggukan kepala.


" maaf yah, afiifah tau ayah sama bunda gak kalau afiifah jujur, lagian afiifah juga udah sampai ke rumah dengan selamat bersama kia ". Aku mencoba membela diri.


" Ning nong..


" Ning nong..


Tiba-tiba mendengar suara Bell rumah berbunyi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2