Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 44


__ADS_3

"Dek... Udah enakan? Udah kurang mualnya?" aku mencium kening Nisa, sembari mengelus kepalanya, ahh... Berasa punya adik kecil aku selama Anisa hamil, ia paling suka nempelin aku kalau lagi sama-sama dirumah.


"Hmm... Tapi kok Nisa makin gak suka sama bang Fariz ya kak?" ia mencondongkan tubuhnya kedekatku. Sedikit berbisik, tapi jelas saja masih bisa terdengar makhluk lain dimeja makan ini.


"Hahaha... Udah, cari yang baru aja lagi." Candaku.


"AKU DENGAR." Fariz mendelik.


"Hahaha... " aku dan Nisa balik tertawa.


"Abang sih, Nisa bilang ganti parfum abang gak mau, kayak parfumnya kak Afifah ini lho." Nisa mendengus kearahku. "wanginya lembut. Nisa suka."


"Ck... Itu parfumnya perempuan sayang, ya gak mau lah. Ya udah nanti kamu tidurnya sana sama kak Afiifah saja." Fariz kesal.


"Ihh ya bagus donk." Nisa meneguk susu didepannya, "bolehkan kak?" tanya Nisa padaku.


Aku mengangguk, "tapi yakin kuat? Fariz hilang sebentar saja udah sibuk nyariin...


"Kayaknya Nisa ikutan Bunda deh waktu hamil. Gak bisa ditinggal."


"Oh ya? Emang Nisa gitu?" pandangan Bunda beralih pada Nisa.


"Hehehe... "Dibalas nyengir kuda oleh Nisa," kadang sih bun, tapi ahir-ahir ini Nisa jadi gak suka liat bang Fariz, suka mual Nisa."


"Ada-ada aja kalian, ayo makan lagi, mumpung mau makan dan lagi gak mual." Bunda menggeser bubur ayam kedepan Nisa.


Suana yang paling aku rindukan saat dulu jauh dari mereka, sarapan. Iya... Dari dulu sampai sekarang waktu makan pagi adalah waktu terbanyak yang kami habiskan untuk bercerita.


Sesibuk apapun Ayah dikantor, dari dulu selalu menyempatkan diri untuk sarapan bersama keluarga, maklum saja... Untuk makan siang dan malam kami punya jam pulang masing-masing. Terutama Ayah... Kadang pulang kita sudah pada tidur.


Jika nanti aku sudah menikah lagi, aku akan menjadikan pernikahan Ayah dan Bunda contoh dalam kehidupan nyataku.


Di usia pernikahan mereka yang sudah hampir tiga puluh tahun, mereka selalu menjadi pasangan romantis, bahkan tidak segan mencium bibir didepan kita, anak-anaknya.


Bunda yang selalu sat-sit-sut dalam mengurus rumah, dari Ayah sampai ke kata-kata anaknya. Sangat telaten sebagian ibu.


Ayah yang tak pernah mandiri selama menikah dengan Bunda, yang tak pernah bisa ditinggal lama sama Bunda, katanya "dunia ayah terasa hampa tanpa bunda" gombal receh sebenarnya, tapi itu mampu membuat Bunda klepek-klepek.


"Fah... "


"Hmm..." aku menghentikan sendok yang beberapa senti menuju mukutku "Ck... Bunda senyum-senyum gak jelas deh dari tadi, apa?" aku meletakkan kembali sendok kepiringku.


"Kak... Ada tamu didepan, katanya teman-teman kakak." Bu Siti menghampiriku.


"Siapa bu? Teman Afiifah?"


Kita semua bingung... Karena selama beberapa bulan disini, aku belum berkomunikasi lagi sama teman-temanku dulu, maklum saja... Aku memang bukan tipe anak yang banyak teman, apalagi setelah kuliah kejakarta.


"Dilihat aja dulu kak." Ujar bunda.


"Suruh masuk dulu bu, aku nyusul bentar lagi."


"Sudah Bu Siti suruh masuk kok kak, bu Siti balik kedepan lagi yah."


"Astaga... Ya Allah, rindunya... " Aku menghambur kepelukan kedua wanita yang tak kusangka kehadirannya saat ini.


"Kok bisa kesini sih?


"Gak kerja?


"Ini mah suprise sekali untukku...


"Makasih sudah jenguk aku disini, rindu kali lho aku."


Aku meloncat-loncat kegirangan.


"Kamu sehat? Kok agak kurusan?"


"Ck... Kakaknya aja yang makin gendutan, aku mah makin ideal badannya."


"Belum sarapankan?" mereka mengangguk.


"Ayo kita sarapan dulu."


"Ayah dan Bunda sehat?"


"Sehat...


"Bun... Coba lihat siapa yang datang!"


"Ya Allah... Tamu jauh ternyata." Bunda menyambut kedua sahabatku dengan sangat gembira.


Tentu saja mereka jadi theletabish. Berpelukan...


"Bunda sehat?"


"Sehat? Kalian sehat?"


"Sehat Bun, puji tuhan."


"Assalamualaikum, Yah... Apa kabar? Masih ingat kita yah?" mereka gantian mencium punggung tangan Ayah.


"Hm... Temab-temannya Afiifah Jakarta?" Ayah tampak mengingat-ingat kedua sahabatku.


"Iya yah... "


"Ingat... Tapi lupa sama nama kalian, maklum udah tua, mulai pikun." Ayah nyengir.


"Ck... Ini Valen sama Ana Yah, yang sering ikut nongol kalau lagi video callan sama Afiifah." Bunda coba membuat ayah ingat.

__ADS_1


"Oh iya iya... Ingat, maklum lah nak, sudah mulai kakek-kakek. Duduk! Kita sarapan dulu."


"Ini Fariz kak, sama istrinya Nisa," Aku memperkenalkan dua makhluk yang sedari tadi senyam-senyum diangguhin.


"Valen... "


"Ana..."


Mereka saling berjabat tangan.


"Duduk kak, kok gak bilang kalau mau kesini?"


"Suprise... Kalau bilang bukan suprise donk namanya." Ujar kak Valen.


"Ih... Ini benar-benar suprise kak."


"Makan yang banyak... " Aku memasukkan nasi goreng beserta satu telor dadar dalam piring mereka, tak lupa potongan timunnya.


"Oh... Jadi ini semalam kakak minta alamat lengkap aku?" aku ingat tadi malam kak Valen berkali-kali telpon minta alamat rumah.


Ia mnegganguk, "rencana kita mau berangkat tadi malam, ehh... Kamunya lama amat angkat telpon, kita juga takut kamu lagi gak dirumah, makanya berangkat tadi habis subuh."


"Ini..." Aku menyodorkan dua gelas air hangat pada mereka, aku masih ingat kebiasaan mereka, kalau sarapan pasti selalu minum air hangat. Bapak petugas air galon dirumah sakit dulu suka kena omel gegara suka telat antar air isi ulang.


"Kak Nada gak ikut kak? Apa kabar dia?"


"Sehat... Sebenarnya mau ikut dianya, tapi masak kita cuti bertiga satu ruangan, bisa-bisa panas telingaku kena oceh sijonges." Kak Valen selalu suka emosi kalau masalah cuti, akupun dulu gitu. Cuti selalu diperlukan dari pihak manajemen. Banyak alasan mereka, padahal itu hak semua karyawan.


"Dia cuma titip salam untuk kamu, ayah sama bunda, tapi sama Fariz dan istrinya gak ada, gak kenal soalnya. Heheh... " Sambung kak Valen.


"Nada juga bilang, turut berduka atas kepergian Kia." Kupandangi kedua tamu istimewaku itu sembari tersenyum. Aku pun melihat kehilangan dimata mereka, maklum saja... Kia juga sudah kenal begitu dekat dengan mereka, mereka yang selalu Kia panggil Bunda selama hidupnya.


"Kita juga, Fah... Maaf kita baru bisa datang sekarang." Ayah, Bunda Fariz dan Nisa pun ikut tersenyum.


"Kita makan dulu, nanti kita Cerita-cerita dikamar."


Dret... Ponsel Bunda berdering.


Bunda segera menjawab panggilan, yang ntah dari siapa.


Kami pun melanjutkan makan. Tapi kita sedikit lebih sunyi, hanya dentingan sendok dan piring yang saling beradu.


"Siapa Bun?" tanyaku, setelah Bunda kembali kemeja makan.


"Kalian liburnya lama?" Bunda mengabaikan pertanyaanku, malah balik tanya sama kak Valen dan kak Ana.


"Kita cuti tujuh hari bun, rencana kita disini lima hari." Jawab kak Ana.


"Pas... Moment yang sangat tepat kalaia datang." Mata bunda berbinar, sorot mata bunda tampak ikut tersenyum.


Kita semua saling tatap. "Momen apa Bun?" tanyaku.


"Alhamdulillah... Semakin cepat, semakin baik Bun, jadi gak perlu nunggu sepuluh hari kedepan lagi, nanti kita kasih tau sama mereka." Ayah juga tampak sangat bahagia.


Aku meneguk air didepanku dengan cepat, menatralisir omongan ayah dan bunda barusan.


Semua mata tertuju padaku, ahh aku merasa terpuruk dengan tatapan penuh tanya mereka.


Aku hanya mengangkat bahu ketika Fariz mengintimidasiku dengan tatapan mendeliknya, aku hanya menggeleng kecil sebagai jawaban.


Kak Ana dan Valen seketika menghentikan kunyahan didalam mulut mereka, berbarengan meneguk air untuk mendorong masuk nasi goreng yang tak dikunyah halus.


"Bun.. Apa maksud Bun?


"Kak Afiifah mau menikah?...


"Kapan?...


"Sama siapa?..


"Kok kita gak dikasih tau sih?" Fariz melepas sendok ditangannya.


Tapi yang ditanyai malah makan semakin lahap, sengaja menggantung jawaban dari semua pertanyaan Fariz yang seolah mewakili semua pertanyaan orang-orang yang ada dimeja makan itu, yah... Kecuali ayah bunda.


"Afiifah hari ini kekantor?"


Bunda seolah tak terjadi apa-apa, mengabaikan rasa penasaran semua orang. Aku hanya pasrah.


"Iya bun, nanti kalau bunda butuh sesuatu hubungi Afiifah saja."


"Untuk fitting bajunya, nanti mau pergi sendiri atau sama bunda? Kalau mau pergi sendiri... Nanti bunda kasih alamat butiknya."


"Terserah Bunda saja." Aku mengunyah dengan cepat.


Aku tau semua mata bergantian menatapku.


"Nikah sama siapa kak Afiifah bun?"


Tanya Nisa lagi.


"Sama orang, masak sama kucing?" canda bunda.


"Hik Hik... "


"Eh... Kenapa sayang?" melihat Nisa yang menangis Fariz panik.


"Gimana dong sama abang aku yank, abang pasti kecewa, ck... Abang sih gak usaha lagi, kan jadi diambil orang lagi." Nisa meninggalkan meja makan.


"Eh... Habisin makannya, jangan lari-lari Nisa." Jerit Bunda yang panik liat Nisa sudah setengah berlari kenangan atas.

__ADS_1


"Ck... Itu anak gak sadar lagi bunting apa!" desis kesal Bunda.


"Kalian lanjut lagi makannya, butuh tenaga ekstra untuk berpikir." perintah bunda dengan tersenyum penuh kemenangan.


"kalian mau ikut aku kekantor atau dirumah saja istirahat?" Tanyaku pada dua makhluk yang tiba-tiba menjadi kaku di sebelahku.


"Kita ikut aja, lagian gak capek juga, kita juga pengen liat kota Jambi. Iyakan Na?" Kak Valen menjenggol sikat kak Ana.


"Iya... Fah." sambung kak Ana.


"Tapi jangan aneh-aneh ya dikantor, jangan lenje sama pegwai-pegawai aku." Ancamku.


"Hehehe.. " mereka nyegir serempak.


"Kalian udah punya pacar belum?" tanya ayah.


"Hehehe... Belum yah, kita gak cari pacar yah, kita mah cari suami yah, heheh." jawab kak Valen.


Aku hanya menggeleng melihat tingkah kak Valen.


"Tenang... Nanti Ayah carikan untuk kalian, bawahan Ayah banyak... Cakep-cakep lagi, olahragawan! Bah... Otot-ototnya kayak roti sobek, Mantap-mantap."


"Hahaha... " Kami tertawa melihat ayah mengangkat kedua tangannya, niat memperlihatkan otot kecilnya.


" Jadi... Suaminya Afiifah juga bawahan Ayah? Berotot roti sobek juga?" selidik kak Ana.


"Ck... " Ayah melirik," memanfaatkan kesempatan kamu, Ayah gak akan kasih tau!...


"Ayah kekantor dulu, nanti telat lagi.


"Lanjutkan aja makan kalian,


"Istirahat aja dulu bawa teman-teman kamu, agak siangan baru ke Cafe."


HEBOH... yah nama nya juga perempuan, udah lama gak ketemu lagi.


Suana rumah mendadak bak pasar senin, RAME.


"Ayo kak kekamar, mandi dulu. Nanti aku kasih gratis kalian makan di Cafe, pasti rindu oppa-pppa kalian." memandu mereka kekamar.


"Kak Butet..."Teriakku.


"Kebiasaan... Ternoda mataku."


"Alah... Macam lah pulak kau tak punya yang sama denganku ini, sama-sama ngempet kedalam. Hahaha."


Kadang-kadang logak bataknya meluncur begitu aja kalau udah dipanggil butet. Seumpama naluri seorang ibu, begitu juga naluri bataknya keluar kalau dengar panggilan butet.


"Ck... Kak ihh pake yang bagus atuh handuknya." Kebiasaan buruk kak Valen, habis mandi suka buka sembarangan, gak ada malu-malunya mempertontonkan tubuhnya didepan kita.


Bruk...


Astaga... Bisa hancur ranjang kalau lama mereka disini.


"Pokoknya... Selama kita disini, kamu gak boleh tidur sekamar sama suami kamu, harus tidur sama kita, awas aja kalau berani." Ancam kak Ana.


"Betul." Diikuti anggukan kak Valen.


"Kalau suamiku nanti diambil orang lagi gimana?" Ada-ada aja mereka.


"Gak akan. Kali ini pasti laki-laki baik dan setia." Ujar kak Ana.


"Betul." Sambung kak Valen.


"Ck... Tau dari mana kalian? Aku aja gak tau siapa calon suamiku itu." Mendorong tubuh mereka menjauh.


"Udah ah... Buruan pakai bajunya, masuk angin tau rasa kalian."


"Lu juga... Aneh-aneh, mau kawin gak tau siapa lakinya. Kalau ternyata aki-aki piye?" Bahasa amburadul kak Ana kumat.


"Tadi lu kata yang ini akan baik dan setia, kenapa sekarang doakan gua dapat laki tua."


Ahh... Kalau gila kita kumat, gigi-nih bahasa kita pun kumat gilanya.


"Kita kan gak bilang bakalan muda, siapa tau emang udah aki-aki. Hahahaha." tawa kak Valen pecah.


"Tadikan Ayah bilang cakep, aku yakin beneran cakep. Lagian kalau emang sedikit tua gak masalah kak, punya anak dua juga gak masalah. Toh aku juga kan statusnya janda." Rasa insecureku lagi-lagi kumat.


"Kamu mah janda berasa perawan, gak kayak janda. Masih cantik, segar, sehat, masih bisa ngasih dua belas anak, jauh Cantik an kamu dari selingkuhan laki lu dulu. Badannya nya kurus, bibir tebal mentor merah merona, macam pakai lipstik sekotak. Bodi?... " kak Valen membolak-balik badanku." Soal bodi... Jauh lebih MONTOK kamu. Hahha."


"Ck... Udah buruan kalian pakai baju, aku tinggal ni."


Aku turun dari tempat tidur.


"Tapi benar, kamu gak tau sapa calon laki lu?" kak Ana masih memburuku dengan rasa penasaran mereka.


Aku mengangguk, "Benar. Udah ah buruan. Simpan aja rasa penasaran kalian sampai dua hari kedepan."


Aku memperbaiki jolbabku yang sudah tidak karuan karena ulah mereka berdua.


Ahirnya... Kelar juga, Setelah hampir satu jam nungguin mereka cantik.


Kalau soalnya fashion, kak Valen paling jago. Dengan tubuhnya sedikit berisi, pipinya mulus dan tirus, hidung mancung, ditambah dengan rambut sebahu. Membuat kak Valen awet muda, gak akan ad ayang nyangka kalau sudah hampir 30 tahun.


Kak Ana, yang gak terlalu peduli soalnya makeup, masih terlihat segar untuk dipandang laki-laki. Tubuhnya yang kecil, dengan tahi lalat dihidung membuat ia terlihat sangat manis, sesuai dengan karakternya nya lembut dalam berbicara.


"Udah siap?" udah bosan liat mereka putar-putar di depan cermin.


"Bentar nya kau ini, Cantik-cantik dulunya kita, biar selalu siapa kapan aja Ayah akan memperkenalkan kita sama bawajan-bawahannya. Iya gak?" Kak valen menyenggol siku kak Ana.

__ADS_1


"Ayo buruan..."


__ADS_2