
Hari ke tujuh pasca pernikahan, atau satu minggu sudah berlalu.
Setiap hari selalu dilewati dengan bahagia dan rasa syukur, makin kesini aku, sedikit makin mengerti dan tau sifat Yusuf, masih suka bersikap dingin seperti tak peduli, ia memang tipe laki-laki yang irit dalam berkata-kata, tapi aku bisa merasakan cinta Yusuf yang begitu besar.
Hati manusia memang gampang berubah-ubah, yang awalnya berniat untuk tinggal bersama orang tua Yusuf, malah berubah untuk tinggal terpisah dari orang tua ku dan orang tua Yusuf.
Setelah diskusi panjang selama dua hari,-sejak pulang dari rumah orang tua Yusuf - akhirnya kita putuskan untuk pindah ke apartemen hari ini.
Sebenarnya Yusuf yang milih untuk tinggal di apartemen, katanya... Biar mandiri.
Ah! Ku pikir itu hanya satu dari sekian alasannya saja, alasannya lainnya, Yusuf agar kita lebih leluasa menjalin cinta tanpa harus ditempat yang khusus, seperti kamar contohnya, menjalin cinta yang wajar maksudnya, bukan smackdown,iya kali yang kayak gituan sembarangan tempat.
Menurut ku... Ada baiknya kita tinggal di apartemen, biar aku lebih banyak belajar bertanggung jawab dengan kewajibanku, terutama dalam urusan perut suami, yang mana dulu ini pernah jadi pemicu protes mas Haikal dalam pernikahan ku dulu.
"Capek?" Yusuf membimbingku duduk disofa yang sudah ia tata sebelum kita pindah keapaetemen ini.
"Lumayan." Aku bergelayut manja dilengan Yusuf.
"Tapi Abang pasti lebih lelah dari ku, yang dari kemarin sudah bolak balik untuk menata apartemen ini, agar aku tidak terlalu kelelahan." Aku menatap Yusuf penuh cinta.
"Tidak apa, yang penting kamu nya tidak Terlalau lelah, aku sudah terbiasa bekerja keras." Yusuf mengusap lembut kepala ku.
"Makasih." Aku membalas dengan kecupan didagukan Yusuf, dagu adalah tempat paling tersangka saat ini untuk mendaratkan ciuman singkat.
"Jangan selalu berterima kasih, semua ini adalah kewajibanku, memastikan kamu mendapat tempat tinggal yang layak dan nyaman salah satunya." Tanpa berkata-kata aku makin mengeratkan pelukanku.
"Terkadang perbuatan sederhana bisa mengeratkan suatu hubungan, Bang. Termasuk ucapan terima kasih, jadi mungkin saja dengan ucapan terima kasih itu membuat kita lebih saling menghargai."
"Jadi... Biarkan aku mengekspresikan rasa syukur dan bahagia ini dengan ucapan terima kasih."
"Malam ini akan menjadi awal baru untuk kita, aku akan semakin belajar menjalankan kewajibanku sebagai istri."
"Apa kewajibanmu?"
"Apa perlu aku jabarkan? Sepertinya Terllau banyak, pokoknya semua yang Abang butuhkan aku akan memenuhinya, selagi aku sanggup. InsyaAllah aku akan berusaha." Aku berkata dengan penuh percaya diri, bahwa aku akan mampu menjalankan semua kewajiban ku.
"Cukup jalankan kewajiban utama sebagai istri, patuhi Abang, jaga nama baik Abang, dan jadilah pelindung dari syahwat birahi yang Abang takut membuat Abang tersesat berbuat dosa, jadilah pelindung Abang."
"Abang yakin, Afi adalah wanita baik yang Allah pilihkan untuk Abang, jadi... Abang menikahi Afi bukan untuk menjadikan Afi asisten rumah tangga, yang selalu berkewajiban mengurus rumah,"
"Jika suatu saat Afi, lelah dari pekerjaan, silahkan istirahat, karena tugas utama Afi bukanlah mencari nafkah, mencari nafkah dan bekerja itu adalah tugas Abang." Yusuf masih membelai puncak kepalaku yang terhalang jilbab, masyaAllah... Damai sekali hati ini.
Benar... Allah akan selalu memberikan yang terbaik untuk umatnya, untuk aku khususnya.
"InsyaAllah... Afiifah berusaha, seiring berjalannya waktu, Afiifah yakin kita akan lebih saling mengenal dan menghargai,"
"Untuk yang kesekian kalinya... Makasih sayang."
Dret...
"Siapa?" Saat ponsel Yusuf berdering, aku mulai sering Kepo.
"Dari kampus."
"Pesan whatshap."
"Dari teman dikampus, kita meminta dia ngasih materi untuk minggu depan, untuk tiga kelas." Sesaat setelah Yusuf selesai membaca dan membalas pesan whatshap yang katanya dari temannya itu.
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?" sedikit kerutan didahi Yusuf.
"Kenapa minta teman Abang yang ngasih materi?" Dahiku juga ikut berkerut.
"Pasti lupa,"
"Minggu depan bukannya kita mau pulang kampung? Mau ziarah kemakam Ayah sama Ibu?" Yusuf memandangku dengan tersenyum.
"Astagfirullah... Hehee. Iya lupa, efek capek mungkin." Aku memijat tengkuk ku yang memang terasa sedikit berat.
"Hehe... Makasih sayang," Seketika pula Yusuf memijat tengkuk ku, "tapi gak usah! Abang juga pasti capek, nanti kalau sudah tidur sudah istirahat insyaAllah enak-an kok." Aku berusaha menahan tangan Yusuf.
"Gak papa, nanti kalau Abang capek, kan sudah ada kamu yang mijitin."
"Terus kalau Akunya capek lagi? Abang balik mijitin lagi? Mau?"
"Iya gak papa, terus kalau Abang capek lagi, kamu mijitin balik lagi."
"Hahaha... Gitu-gitu aja mulu, sampai pagi, gak kelar-kelar saling mijitin." Aku tertawa lepas, ada-ada saja.
"Hus... Anak perempuan ketawanya difilter. Aurat."
"Hehe... Abang sih yang bikin ketawa."
"Bang!" Aku membalik badan dan menghentikan pijitan enak Yusuf.
"Hmm."
"Aku mau tau tentang orang tua Abang boleh?" Aku bertanya dengan ragu. Walaupun aku sedikit banyak tau tentang Yusuf kecil dari Mami, aku hanya ingin melihat perasaan Yusuf saat bercerita.
__ADS_1
"Abang gak punya banyak ingatan tentang mereka, Abang masih terlalu kecil saat berpisah dari mereka." Aku tau saat ini Yusuf sedang memaksa untuk tersenyum.
"Tapi Abang punya tempat kenangan yang sedikit banyak Abang ingat, besok ditampung Abang kasih tau."
Aku mengangguk.
"Kalau tentang masa lalu Abang?"
"Masa lalu yang mana?" Tanyanya heran.
"Yang mana saja."
"Abang capek, gak ada tenaga buat cerita hal yang gak penting, "Abang butuh amunisi."
"Ck... Amunisi apaan?" Aku mengikuti Yusuf berdiri dan menuju kamar.
"Jangan aneh-aneh, katanya capek!" Saat melihat senyum licik Yusuf aku bisa mengerti maksudnya saat ini.
Kata orang...
Pengantin baru selalu merasa dimabuk asmara, benar adanya.
Yusuf yang setiap saat selalu nempel didekatku, yang selalu bertanya aku dimana, sedang apa saat ia diluar rumah.
Bahagia rasanya selalu dirindukan.
Sikapnya yang seperti ini membuat aku penasaran, bagaimana kisah cinta dimasa lalunya, pasalnya... Selama Mami bercerita kisah masa kecil Yusuf, Mami tidak pernah cerita tentang kisah cinta Yusuf.
Apa lagi setelah menikah, melihat tingkah Yusuf yang seperti baru merasakan cinta, membuat aku semakin ingin tau.
"Makasih sayang." Satu kecupan penutup dibibir. Hampir setiap malam olahraga, Yusuf seolah membuktikan akan kecanduan nya terhadapku.
Bersyukurnya... Yusuf selalu bertanya akan kesediaanku melayaninya sebelum memulai, membuat aku melakukannya tanpa merasa terpaksa dan merasa dihargai.
Walaupun kadang lelah... Aku merasa tidak tega harus menolak, apa lagi kalau melihat sinar mata penuh harapnya. Bisa saja aku menolak tanpa takut dosa karena keridhoannya, tapi... Iya itu tadi, aku tau selama dua puluh delapan tahun, Yusuf baru bisa merasakan hal ini.
"Maaf kalau Abang kadang egois selalu minta dilayani seperti ini." Pelukan Yusuf benar-benar mampu membuat aku tenang.
"Gak papa sayang, aku ridho. Aku ikhlas. Terima kasih sudah memperlakukan aku dengan baik." Kalau sudah dicharger gini, akan mudah ajak Yusuf cerita.
"Bang, tadi aku lihat ada panggilan tak terjaga dari Sarah." Aku mengeratkan pelukan tangan Yusuf.
"Kamu ngintipin ponsel Abang?"
"Kok ngintip sih? Kalau iya kenapa? Gak boleh? Abang gerasa terganggu?"
"Ya Allah... Satu-satunya nanyanya, lagian jangan marah dan emosi gitu, nanti cantiknya hilang." Yusuf mengangkat sedikit tubuhnya, menempatkan wajahnya diatas wajahku.
"Kayak lagi datang bulan aja." Yusuf kembali berbaring disampingku.
"Iya, besok jadwal tamu bulananku datang."
"Alhamdulillah... Sudah ngecas dulu selama seminggu." Yusuf kembali merebahkan diri.
"Kamu tu yah...!" Satu cubitan mendarat dipinggang Yusuf, lupa sudah kisah si Sarah, keburu ngantuk menghampiri.
***
Suara azan subuh terdengar jelas, sebab... apartemen ini berada dilantai Empat, dan gedung apartemen ini sangat dekat dengan masjid.
Kata Yusuf sengaja cari yang dekat masjid, biar sesekali bisa menyempatkan diri sholat berjama'ah, karena sebenarnya laki-laki itu wajib sholat dimasjid, setidaknya ingat akhirat sesekali.
Perlahan sinar matahari mulai terasa menyilaukan, perlahan pula aku memaksa membuka mata.
"Sudah bangun?" Yusuf yang masih duduk disajadahnya, yang sedari tadi aku dengar sibuk memuroja'ah hafalannya melirikku.
"Hmm." Jawabku diiringi anggukan kecil.
"Mau tidur lagi? Biar Abang tutup saja tirainya." Yusuf masih diam ditempat.
"Gak papa, Abang lanjut saja muroja'ahnya. Afiifah siapkan sarapan untuk Abang." Aku mencoba bangkit.
"Gak usah!" Secepatnya Yusuf menangkap tubuhku yang terasa masih lemah.
"Gak usah, Fi. Nanti Abang beli sarapan diluar saja hari ini, kamu istirahat saja."
"Tapi, Bang... Ini hari pertama kita sarapan berdua, hari pertama aku memulai menjalankan kewajiban aku sebagi istri."
"Fi! Tugas kamu sebagai istri bukan untuk selalu melayani aku seperti majikan, ada tugas yang lebih berat dari sekedar bikin sarapan untuk Abang." Ia menuntun ku kembali berbaring diranjang.
"Kamu wajib menjaga kesehatan, biar bisa terus menemani Abang, Abang tau sakitnya datang bulan seperti apa." Ia menatapku lekat.
"Kayak apa coba?" Aku mengulum bibir menahan senyum, lucu sekali Yusuf kalau lagi serius gini.
"Ya sakit." Yusuf mengelus lembut perutku.
"Kayak pernah ngerasain aja kamu."
"Walaupun gak pernah ngerasain, tapi Abang tau. Dulu waktu remaja Nisa suka ngeluh sakit kalau lagi datang bulan, bahkan bisa sampai pingsan."
__ADS_1
"Masak sih! Aku kok ngerasa gak percaya ya! Hehehe."
"Tapi, benaran gak papa Bang. InsyaAllah nanti enak an. Alhamdulillah... Sakit kali ini ada yang jagain, ada yang ngengompresin, ada yang suka ciumin pas lagi tidur." Aku tersenyum semanis mungkin.
"Kok tau kalau suka ciumin kalau lagi tidur? Kayak punya telapati aja! Atau kamu pura-pura tidur? Biar bisa diciumin terus ya?" selidik nya.
"Hehe...
"Tapi, gak papa donk! Bermanja-manja sama suami sendiri."
"Kamu tu ya! Abang udah panik liat kamu kesakitan kayak semalam, udah pucat gitu."
"emang segitu sakitnya ya?"
Aku mengangguk, "tapi sekarang sudah lumayan enak an Bang."
"Udah jam berapa?" Aku mencari beker dinakas samping ranjang.
"Mana bekerku ya? Rasanya semalam aku letakan disini!" Monologku, tanpa menoleh Yusuf dihadapanku.
"Abang simpan! Alarmnya kencang kali, Abang takut kamu kebangun. Jadi Abang simpan dalam lemari." Yusuf kembali menuntunku berbaring.
"Lagian dijaman sekarang masih aja pake jam beker, kan udah ada alarm dari ponsel."
"Beda Bang, lagian kalau ponsel ada resiko kalau dibawa tidur, gak baik untuk kesehatan. Kalau beker kan gak ada ngaruh untuk kesehatan,"
"Lagian itu beker spesial, dari orang spesial." Jawabku antusias.
"Mau ngegombalin Abang?"
"Heheh... Gak gak." Aku mendorong tubuh Yusuf.
"Jam berapa Bang? Ponsel Afiifah kembali lagi ini? Rasanya disini." Aku membalik bantal.
"Katanya ponsel gak sehat, tapi masih dibawa tidur juga," Yusuf berkata sambil berdiri.
"Nih! Jangan suka simpen fhoto laki-laki diponsel kamu, walaupun cuma pacar khayalan, tetap saja bisa jadi dosa, bisa jadi zina."
Ku raih ponsel dari tangannya,
"Hehe... Siap pak bos, nanti tak hapusin semua. Tapi sesekali boleh donk nonton drakor?" Tanyaku penuh harap dengan menyunyingkan senyum manis.
"Abang kenapa dulu, kamu diam disini saja."
"Ikut!" Aku segera menghampur dalam dukungan nya.
"Astagfirullah... Ya Allah. Berat sayang. Kecil-kecil tapi berat banget ternyata kamu." Ia berusaha memperbaiki letak badanku dipunggungnya.
"Baru juga 53 kg Yank..." aku semakin melingkarkan erat tangan dilehernya.
"Kok berat ya? Jangan-jangan tulang kamu gedek-gedek ya?"
Awal yang indah, pagi yang sangat membahagiakan.
Duduk manis bak seorang chef juri, yang mengawasi peserta master chef Indonesia, sungguh diluar dugaan ku.
Melihat Yusuf sibuk seperti ini, dan dengan cara ia memperlakukan ku penuh kasih sayang dan kelembutan, muat aku yang awalnya takut untuk kembali membina rumah tangga, kini merasa bersyukur.
Benar kata Mami, terkadang pernikahan kedua lebih membuat kita dihargai, aku juga sudah semakin matang dalam berfikir, sehingga... Mn di fikir, aku pasti sangat bisa menjaga pernikahanku ki ini.
Menikah dengan orang yang tepat betul ada adanya membuat kita bak seorang ratu dan bahagia.
Tapi, aku tidak pernah menyesali pernikahan ku dan mas Haikal. Bagai mana pun... Pernikahan itu lah yang sudah membentuk peibadiku saat ini, menjadi pembelajaran yang tak ternilai.
Bagai mana pun juga, aku dan mas Haikal pernah saling mencintai, dan pernah ada Kia dalam pernikahan kami.
"Jangan liatin Abang mulu,
"Nih! Kompres lagi perutnya." Ia kembali mengganti air hangat dalam buli-buli yang sedari semalam dijadikan Kompres untuk perutku.
Ntah kenapa datang bulan kali ini benar-benar terasa lebih nyeri dari biasanya.
"Abang dulu sering masak ya?"
"Lumayan, dulu Abang sempat kuliah dijakarta, ikut Nisa, biar bisa jagain Nisa. tapi pindah ke sini lagi, gak enak dijakarta, terlalu sering macet." Jawabnya memasukkan kuah soto kedalaman mangkuk.
"Jagain Nisa?"
"Iya! Nisa dulu yang minta Abang ikut dia kuliah dijakarta. Maklum dari kecil Nisa lebih sering tinggal sama Abang kalau Mami Papi bolak balik Jambi-Jakarta." Lanjutnya, semangkuk soto lengkap beserta nasi, kerupuk dan sambal dihadapku.
"Spesial Abang bikin untuk istri tercinta." Satu sendokan soto Yusuf berikan untukku.
"Enak?"
"Hm." Aku mengangguk, sembari menikmati rasa yang hampir sempurna dilidah.
"Enak... Abang ternyata pintar masaknya." Aku memberikan dua jempol pada Yusuf,
Dan... Suapan demi Suapan soto yang masih terasa hangat mampu membuat rasa nyeri diperut perlahan membaik.
__ADS_1
"Ning nong."