
Setelah selesai aku dan kia menyusuri satu demi satu anak tangga, sungguh aku bahagia melihat kia selalu tersenyum.
" kak nisa, apakah kia sudah cantik? ". Kia menghampiri anisa di ruang tengah, mereka pasti menunggu aku dan kia.
" cantik sekali ". Anisa memegang kedua pipi kia dengan kedua tangan nya.
" kita pergi dulu bun ". Fariz mencium tangan ayah dan bunda, dan di ikuti oleh kami semua.
" hati-hati ya, jaga kia dengan baik ". Bunda mengantar kami ke depan pintu.
Kami pun melambai kan tangan pada ayah dandane bunda.
Mobil yang kami kendarai pun mulai melaju dengan kecepatan sedang.
Entah apa yang bergejolak di hati ini, sehingga membuat nya tak pernah tenang, hati ku berdegup kencang.
Sungguh kau merasa jenuh.
Aku merasa tidak nyaman.
Astagfirullah... Berkali-kali aku mengucap istighfar berharap aku bisa tenang.
Berada di antar mereka membuat aku seolah-olah tidak terlihat.
Anisa dan kia begitu asik bercerita dan bersenda gurau.
Fariz dan yusuf terlalu fokus membicarakan pekerjaan mereka.
Sedangkan aku hanya bermain dengan fikiran ku sendiri.
Aku menghampaskan kepala ku pada headrest.
Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya mobil kami parkir di sebuah mall terbesar di kota ini.
Aku pun mengikuti fariz dan yusuf keluar dari mobil, begitu juga dengan anisa dan kia.
Tujuan pertama kami adalah toko perhiasan,
Aku tersenyum melihat fariz dan nisa yang asik memilih perhiasan cincin.
" ini bagus gak mbak? ". Tanya nisa pada ku sembari memperlihatkan cincin yang ada di jemari tengah nya.
" bagus ". Aku merespon pertanyaan nisa dengan tersenyum.
" om kia mau minum ". Aku menoleh ke arah kia dan yusuf yang duduk di kursi tunggu samping ku.
Dengan senyum penuh kelembutan yusuf membuka tutup bottle yang ada di tangan nya. Aku berfikir yusuf seperti seorang ayah yang lagi mengasuh putri nya.
Tanpa di sadari yusuf melihat ke arah ku yang sedang tersenyum melihat tingkah nya dan kia.
" kenapa kamu senyum-senyum?, sedang berfikir kalau aku pantas menjadi ayah kia ". Ucapan yusuf membuat senyum ku menghilang, aku pun membuang pandangan ku dari mereka tanpa merespon ucapan yusuf.
Setelah membeli beberapa perhiasan kami pun meninggalkan toko perhiasan itu dan melanjutkan mencari perlengkapan yang lain.
***
8 jam sudah kami mondar- mandiri dan bolak-balik, naik-turun menyusuri hampir semua ruangan di mall ini.
" kita sholat dulu ya, udah jam 15.05 sekarang, nanti waktu zuhur nya habis, setelah itu kita lanjut lagi ".
Aku menoleh ke arah mereka satu persatu.
" oke. " jawab mereka hampir berbarengan.
Kami pun menuju mushola di lantai bawah untuk sholat, begitu pun dengan kia yang juga ikut sholat bersama.
Masya allah begitu teduh wajah yusuf yang di basahi air whudu'.
Tanpa permisi hati ku menginginkan yusuf menjadi ayah untuk kia.
Astagfirullah.. Aku segera menghalau keinginan gila ku ini.
Mana mungkin aku boleh berharap pada hal yang hampir mustahil, aku hanya lah seorang janda, seorang wanita yang gagal menjaga suami ku dari godaan wanita lain.
Kami pun sholat secara sendiri-sendiri.
Selesai sholat kami kembali melanjutkan pencarian kami, kali ini perlengkapan untuk sholat.
Di sebuah toko yang lumayan besar dengan perlengkapan yang cukup lengkap, kami mulai memilih barang yang akan kami beli.
Aku pun berniat membeli sebuah mukena baru, untuk ku dan kia.
" biar aku yang bayarin ". Tiba-tiba yusuf mengeluarkan Black card dari dompet nya dan memberikan nya pada ku.
" gak usah yusuf, biar aku bayar sendiri saja " aku mendorong Black card yusuf dari hadapan ku.
Tapi yusuf malah memberikan Black card nya pada petugas Kasir.
" bayar pakai ini saja mbak".
" baik pak ". Jawab si petugas Kasir nya.
" ini ambil ". Yusuf memberikan paper bag nya pada ku.
" aku benar-benar gak enak yusuf, aku ganti saja uang kamu ya? ". Aku ragu untuk mengambil paper bag tersebut.
__ADS_1
" gak papa, ambil aja, anggap ini hadiah dari ku, sebagai kado ulang tahun mu dan kia ". Aku balik menatap yusuf di samping ku dengan kebingungan.
" siapa yang ulang tahun? " aku bertanya pada yusuf.
" kamu hmmm atau mungkin kia ". Jawab nya singkat.
"tapi ulang tahun ku masih sangat lama bahkan aku baru ulang tahun 2 bulan yang lalu kia juga masih lama". Aku masih menatap nya heran.
" ya gak papa, jadi anggap saja itu hadiah dari ku yang telat, yang jelas kamu pasti punya hari ulang tahu kan? ". Tanya yusuf.
" hahaha... Iya pasti lah, gak mungkin kan aku datang ke dunia langsung sebesar ini ". Aku merasa geli mendengar ucapan yusuf.
Yusuf hanya tersenyum getir melihat aku tertawa.
" ibu.. Kia mau main di sana boleh gak? ". Kaki kia terhenti saat melihat sebuah wahana permainan.
" kalau ibu gak boleh gimana?, kita harus pulang, emang nya kakak gak capek udah jalan hampir setengah hari? ". Aku pun ikut berhenti si samping kia.
" baik lah, kita pulang saja ". Rasa nya aku tidak tega melihat wajah kia yang kecewa.
" sini om yusuf gendong ". Yusuf menjulurkan tangan nya untuk menggendong kia.
" gak boleh sedih, besok om janji, om yusuf akan temenin kia jalan-jalan dan bermain, seeeepuas nya, gimana? Tapi sekarang kita pulang dulu " yusuf mencoba membujuk kia.
" om yusuf janji? ". Kia memberikan jari telunjuk nya di depan wajah yusuf.
" insya allah om yusuf janji ". Yusuf menaut kan jari kelingking milik nya dan kia.
" sekarang kita pulang dulu, kasian juga kak nisa pasti capek ". Aku mengelus kepala kia yang tertutup kerudung.
" tapi kalau makan dulu boleh gak?". Kia memasang wajah memelas pada ku dan yusuf.
" iya mbak, kita makan saja dulu, kasian kia, mungkin dia lapar ini juga sudah waktu nya makan siang, udah telat malahan". Anisa menyetujui permintaan kia.
" iya.. Kia lapar, ni perut kia udah gak gendut lagi ". Kia menunjuk perut nya.
" memang nya biasa nya perut kia segedut siapa? ". Kini fariz angkat bicara.
" segedut perut nya om fariz lah ". Jawab kia.
Kami pun tertawa melihat tingkah polos kia.
" tuh dengar, kia aja bilang perut kamu buncit riz, besok mulai diet deh ". Nisa berkata sambil tersenyum.
" trus kalau aku buncit, kamu gak mau lagi jadi istri aku? "
" hahahaha bisa jadi ". Jawab nisa lagi.
" udah udah, ayo buruan kia udah lapar ". Aku menghentikan pertengkaran calon pengantin itu.
" becanda aku mah, aku masih tetap bucin sama kamu ". Nisa ngegombalin fariz.
Sungguh aku sangat bahagia melihat mereka selalu tersenyum.
Begitu nyata betapa bahagia nya mereka.
Semoga kebahagiaan mereka akan terus menemani hari-hari mereka.
***
" kia capek, bisa gak om yusuf suapin kia makan? ". Rengek kia. Kia menatap makanan yang ada di depan nya, lalu kia melihat yusuf berharap yusuf bersedia memenuhi permintaan nya.
" kia.. Gak boleh gitu donk, biasa nya kia juga bisa makan sendiri, atau ibu saja yang suapin kia ya nak ". Aku merasa tidak enak dengan permintaan kia.
Jelas saja aku takut yusuf merasa risih dengan sikap kia.
Dan aku takut kia menjadi lebih dekat dengan yusuf.
" boleh donk ". Yusuf kembali tersenyum melihat kia dan mengabaikan ucapan ku.
" gak usah yusuf, biar kia makan sendiri saja, atau biar aku saja yang nyuapin kia suf ". Tapi Yusuf tanpa respon.
" yusuf, maaf ya sudah ngerepotin kamu ". Lanjut ku.yusuf masih mengabaikan ucapan ku.
Sungguh aku semakin merasa tidak enak hati.
Dengan yusuf yang terlalu amat sering mengabaikan semua ucapan ku, membuat aku merasa Sikap nya sangat berbeda terhadap aku dan kia. Yusuf sering kali acuh terhadap ku, bahkan mungkin dia lebih sering menganggap kehadiran ku tidak terlihat, seolah-olah aku tidak ada.
Tapi terhadap kia, dia sangat lembut bahkan selalu tersenyum, sikap nya penuh cinta dan perhatian, aku tau yusuf pasti merasa kasihan pada kia yang sudah tidak merasa kehangatan dan cinta seorang ayah.
" gak papa mbak, bang yusuf memang gitu, sifat nya suka berubah-ubah tak menentu, dia akan bertindak sesuai keinginan hati nya, dia gak akan bisa berpura-pura baik, termasuk sama kia".
Anisa mencoba membuat aku mengerti akan sifat sang abang.
Tapi fariz malah tersenyum mendengar ucapan nisa.
" udah kak, gak usah di ambil hati omongan bang satria, nanti lama-lama kakak juga akan ngerti sifat buruk dia yang sok keren itu ". Mendengar ucapan fariz, yusuf hanya menoleh tanpa merespon atau pun membalas ucapan fariz.
" kamu urus saja makanan kamu, habis kan makanan kamu itu, gak usah urus aku dan kia ". Yusuf menatap ku sedikit sinis, yahh menurut ku sedikit sinis, tapi mungkin itu hal biasa bagi nya.
Aku hanya tertunduk mendengar ucapan yusuf. Entah kenapa ucapan nya itu terdengar menyakitkan bagi ku.
" bang... Bisa sedikit lembut gak sih sama mbak fifah?, jangan terlalu jutek sama wanita, apa lagi sama mbak fifah, nanti kamu jatuh cinta baru tau rasa kamu bang ". Seperti nya anisa kesal dengan sifat yusuf barusan, tapi lagi-lagi yusuf diam tanpa merespon ucapan nisa.
" hahaha..., jangan di tahan bang ". Fariz tertawa.
__ADS_1
Entah apa maksud dari ucapan fariz tadi, hanya dia dan mungkin yusuf yang mengerti, mereka seperti mempunyai telepati.
Ahh kenapa aku serasa ingin menangis?.
Kenapa aku terlalu baper sih dengan sifat yusuf?.
Nafsu makan ku jadi hilang, rasa lapar ku pun ikut hilang.
Kalau dia selalu begini dengan perempuan, pantas saja dia belum menikah sampai sekarang. Aku benar-benar merasa kesal dan sedih dengan sikap yusuf barusan.
" gak papa nisa, mbak gak papa ". Aku mencoba menenangkan nisa.
" mbak ke toilet sebentar ya ". Lanjut ku.
Aku pun meninggalkan mereka di meja makan.
Aku tidak mengerti kenapa aku masih suka menangis?
Apa sebenarnya yang membuat hati ku sakit?
Kenapa aku merasa terganggu dengan sikap yusuf yang tidak peduli pada ku?
Mustahil rasa nya aku menangis karena ucapan orang yang tidak penting seperti yusuf.
Mungkin aku hanya sedih melihat kia yang haus akan perhatian semua orang, tanpa terkecuali perhatian dari yusuf.
Segera aku tumpahkan semua rasa yang meneyesakwdi di dada ku, air mata ku tanpa terasa mengalir tanpa henti.
Ya allah...
Ada apa dengan hati ini?
Setelah perasaan ku sedikit lega aku kembali ke tempat makan. Aku melihat kia masih menikmati makan nya sambil sesekali yusuf memberi nya minum.
' Maafkan ibu kia, karena ketidak sabaran ibu membuat kia harus kehilangan kasih sayang dari seorang ayah.' batin ku.
" kenapa gak di makan lagi? ". Tanya yusuf pada aku setelah kembali duduk bersama mereka, masih dengan nada bicara yang tidak enak di dengar telinga.
Aku masih menatap makanan di hadapan ku tapi selera makan ku sudah benar-benar hilang.
" aku udah gak lapar lagi ". Jawab ku dengan nada yang juga lumayan cuek menurut ku.
Setelah selesai makan, yusuf membayar tagihan, aku fariz nisa dan kia memutuskan untuk menuju mobil duluan.
" kia capek? ". Aku melihat kia yang mulai enggan untuk jalan.
" kia capek nak? " fariz kembali bertanya.
Kia hanya menjawab dengan anggukan kepala.
" sini ibu gendong ya ".
" biar fariz saja kak, nanti kakak susah gendong kia ". Fariz lebih dulu berjongkok untuk menggendong kia.
Aku mencoba mencari tau keberadaan yusuf yang tadi ketinggalan di belakang kami.
Ternyata yusuf sudah berada di belakang ku.
Setibanya di depan pintu mobil aku mendekati fariz dan ingin menggedong kia.
" sini kia abang yang gendong, kamu bawa mobil saja ". Tiba-tiba yusuf mengambil alih kia dari tangan fariz, fariz pun memberikan kia pada yusuf.
" biar aku aja yang gendong kia suf ". Aku merasa tidak enak hati merepotkan yusuf untuk kesekian kali nya.
Tapi sama saja, yusuf hanya memandang ku kemudian dia masuk kedalaman mobil dan mendekap kan kia ke dada nya sembari 1 tangan nya melindungi kepala kia.
Ternyata kia sudah tertidur.
Kami pun mulai keluar meninggal gedung berlantai 5 itu.
" pasti terjebak macet lagi ni ". Aku berkata pada diri ku sendiri setelah melihat arloji ku menunjukan pukul 4 sore.
" biasa kak jam-jam segini macet, jam nya orang - orang pulang kantor ". Sambung nisa,
Tak ku sangka nisa mendengar keluhan ku.
" tidur aja kalau ngantuk, bisa lama kita di perjalanan ini ". Yusuf berkata ta pa menoleh ke belakang. Tapi entah siapa yang dia perintah untuk tidur.
" kalau macet gini Bisa - bisa habis waktu sholat asar ". Sesal ku pelan.
" baru jam 4 kan?, gak papa telat dikit nanti sholat, paling juga kurang lebih 1 jam kita di jalan, masih bisa nanti sholat di rumah ".
Aku mencibir mendengar ucapan yusuf.
Tanpa di duga aku merasa sedikit lelah dan mengantuk, aku membuka handphone ku berharap mampu menghalau rasa kantuk ku.
Aku menscroll halaman instagram, ntah apa yang ingin aku lihat.
Hati ku bergetar saat melihat fhoto mantan suami ku bersama wanita yang sangat aku kenal.
bayangan malam ketika mas haikal mengucap thalak pada ku kembali memenuhi ruang alam sadar ku dan menyesak kan dada.
Aku masih belum mampu bersikap baik-baik saja. Aku masih merasa sakit dan sulit menerima semua kenyataan itu, meski aku sudah berusaha dengan segenap jiwa.
Sudah lah, aku matikan handphone ku,
__ADS_1
Ku pejamkan mata, mencoba menghalau wajah mas haikal dan felli dari pikiran ku.
Aku berusaha menahan tangis ku.