Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 51


__ADS_3

Satu persatu kursi mulai terisi.


Aku dan Yusuf juga sudah duduk ditempat yang kita pilih.


Ruangan mulai redup, tapi masih mampu melihat orang-orang yang hilir mudik, entah baru masuk atau sekedar keluar sebentar lalu kembali masuk.


Posisi yang Yusuf pilih ternyata memang sangat nyaman. F15 dan Yusuf F14, itu artinya disisi kiriku hanya berbatasan dengan dinding.


Aku cukup sabar menunggu film yang Yusuf pilih dimulai, sesekali aku melirik kursi kosong disamping Yusuf, dan menapaki kursi yang hampir terisi penuh.


Ternyata penggemar XXI semakin meningkat, saat ini tidak hanya kalangan remaja tapi juga terlihat pasangan yang terlihat sudah menikah, seperti aku dan Yusuf saat ini, mungkin juga karena Film ini bertema tentang keluarga.


Dari sinopsis yang aku baca, Film yang Yusuf bergenre romantis dan pelajaran dalam berkeluarga, ku pikir pilihan Yusuf cukup bagus, mungkin bisa mengambil pelajaran dari Film ini.


Sesekali aku menyeruput ice blend merry strawberry yang Yusuf pilihkan untuk ku, detik kemudian aku melihat seorang wanita duduk dikursi sebelah Yusuf, Yusuf tampak tak terganggu dengan kehadiran wanita disampingnya.


Sampai suara seorang wanita menyebut nama Yusuf.


"Yusuf!" Pandanganku kembali kearah wanita disamping Yusuf.


"Sarah!" Yusuf tak kalah terkejut dengan wanita yang ada disampingnya.


"Hei! Tumben kesini? Biasanya selalu sibuk tiap kali kita ajak nonton!" Lanjut wanita tersebut, sembari mengubah posisi lebih menghadap Yusuf.


Oke! Masih aku pantau.


"Oh... Sama teman ya?"


Aku tersenyum, saat wanita tersebut sedikit mencondongkan tubuhnya, mengintip aku yang sedikit tertutup oleh tubuh Yusuf.


"Siapa?" Tanya wanita tersebut, wanita tersebut kembali mengarah pandangan pada Yusuf, tak lupa dengan tersenyum semanis yang ia miliki.


Baik. Masih sabar, masih aku pantau, sesekali aku melihat atraksi mereka dari sudut mataku.


"Ternyata, sudah bener-benar melupakan aku." Sontak aku menghentikan aktifitas mengunyahku. Mulai penasaran, siapa dia? Apa hubungannya dengan Yusuf.


"Tidak berniat memgenalkan nya padaku? Mungkin aku bisa berhenti berharap." Lanjut wanita tersebut.


Yusuf sekilas melirikku, mataku kembali fokus kedepan dengan mulut yang kembali mengunyah, tapi telingaku masih bisa mendengar dengan jelas ucapan wanita disamping Yusuf.


"Dia Afiifah, kamu sama sama siapa?" pandangan Yusuf kembali pada wanita disampingnya.


"Sama teman, siapa lagi yang bisa diajak nonton?"


"Hallo, salam kenal! Sarah. Mantan pacarnya Yusuf, tepatnya... Wanita yang pernah Yusuf campakan." Wanita itu mengulurkan tangan untuk berjabat denganku.


Aku memaksa diri untuk tersenyum, "Salam kenal juga, saya Afiifah." Aku menyambut uluran tangan wanita yang memperkenalkan diri dengan nama Sarah tersebut.


"Teman Yusuf? Atau pacarnya Yusuf?" walaupun sedikit lebih gelap, tapi aku bisa melihat tatapan Sarah padaku, sedikit cantik dalam balutan jilbab coklat yang ia pakai.


Aku kembali tersenyum mendengar pertanyaan Sarah, "Oh... Mantan pacar!" Kami masih berjabat tangan, "berapa lama pernah berstatus pacar Yusuf?" Tanyaku, Semoga Sarah tidak melihat senyuman sinisku.


"Cukup lama... Dua tahun tiga bulan, bahkan kita pernah berencana menikah, benarkan?" mata sarah tertuju pada Yusuf.


"Menikah?" Aku melirik Yusuf sejenak, tapi Yusuf masih merasa tak terganggu dengan ucapan Sarah.


"Iya!" Jawab Sarah dengan percaya diri.


"Saya Istrinya!"


Jedar... Aku bisa melihat ekspresi Sarah yang seketika berubah, yang tadi merasa bangga memperkenalkan diri sebagai mantan pacar, kini senyuman Sarah seketika musnah, tampak jelas raut kecewa.


"Ohhh." Sarah dengan seketika pula melepaskan jabatan tangan kami, dan tatapan Sarah berpindah ke Yusuf, seolah meminta penjelasan.


"Dia istri ku." Yusuf resmi memperkenalkan aku pada wanita yang mengaku mantan pacarnya itu.


"Oh, selamat ya atas pernikahannya."


Aku mengangguk, entah kenapa... Sekarang aku merasa iba melihat Sarah, aku merasakan kekecewaan yang amat dalam dari mata Sarah.


Entah sejauh apa dulu hubungan mereka!


"Terima kasih mbak Sarah."


Untung saja filmnya akan segera dimulai, lampu mulai dimatikan, hanya ada sinar dari layar, sehingga mengusir rasa canggung diantara kami, tapi berbeda dengan Yusuf, yang masih santai seolah dia tidak mengenal Sarah.


Sekilas aku melirik Yusuf dan mengintip Sarah dari balik tubuh Yusuf.


Entah kenapa aku merasa tidak nyaman dengan kehadiran Sarah disamping Yusuf.


"Nih!" Yusuf memberikan silver queen.


"kapan kamu beli ini?" Tanyaku. Aku segera meraih coklat yang Yusuf berikan itu.


"Tadi, sebelum masuk." Jawab Yusuf.


"Makasih ya." Aku kembali melempar senyuman pada Yusuf dan segera melahap perlahan.


Kembali pokus pada layar dan sesekali aku masih mengawasi Sarah dari sudut mataku.


Astagfirullah... Ada rasa khawatir ia duduk disamping Yusuf.


Aku bisa melihat cinta dimata Sarah untuk Yusuf, apa lagi saat aku katakan aku adalah istrinya Yusuf, walau tidak Terlalu jelas, tapi aku masih bisa melihat kekecewaan diwajahnya.


Tiga puluh menit telah berlalu, aku ingin film ini segera berakhir dan keluar dari ruangan ini, aku sama sekali tidak fokus untuk menonton.

__ADS_1


"Dari tadi aku lihat kamu selalu melihat handphone, ada apa?" Yusuf merasakan kegelisahan aku.


"Masih lama ya filmnya?" Tanyaku.


"Masih, baru juga setengah jam." Yusuf melihat arloji ditangannya, "Ada apa? Dari tadi aku ngerasa kamu gelisah!"


"Gak papa." aku kembali membenahi posisi duduk dengan sedikit melirik Sarah, jujur saja beberapa kali Sarah kepergok mencuri pandang pada Yusuf, membuat aku semakin gelisah.


"Kenapa dari tadi aku ngelihat kamu suka mgelirik dia?" Yusuf sedikit berbisik.


Aku hanya menggeleng, berusaha menyembunyikan rasa khawatirku.


"Mau pulang saja?" Yusuf kembali menggenggam tanganku, dan sedikit meremas genggamannya.


"Gak papa kalau kita pulang sekarang?" Tanyaku.


"Gak papa, kita bisa nonton lagi lain kali,"


"Kayaknya kamu juga gak bisa fokus, kita masih bisa balik lagi lain kali."


Aku mengangguk.


"Mau pulang?" tanya Yusuf lagi, mungkin memastikan keputusanku.


Aku kembali mengangguk, dan lagi-lagi mataku tidak bisa diajak kompromi untuk tidak melirik Sarah.


"Ayo kita pulang!" Ajak ku, dengan sedikit menarik tangan Yusuf.


"Eh! Mau kemana?" Sarah menahan lengan baju Yusuf, ketika Yusuf hendak berdiri.


"Mau pulang!" Jawabku dengan cepat.


"Permisi mbak Sarah." Aku melepas tangan Sarah dengan sedikit tersenyum yang ku paksa.


"Oh... Sory. Silahkan." Sarah menggeser kakinya memberi celah untuk aku dan Yusuf keluar.


"Terima kasih." Lanjutku.


Aku mengekor Yusuf keluar dari lorong kursi dengan tanganku yang masih Yusuf pegang erat.


"Permisi."


"Permisi mbak, mas." Aku dengan cepat kembali mendorong Yusuf untuk melewati sepasang kekasih - mungkin yang sedang saling merangkul, yang kini sudah menurunkan kaki nya untuk memberi celah aku dan Yusuf keluar.


Keluar ruang bioskop aku dan Yusuf menyusuri lantai satu untuk membeli buah yang akan aku jadikan buah tangan untuk orang tua Yusuf.


Dengan enteng Yusuf mengekor kemana kakiku melangkah, sesekali aku bertanya buah apa lagi yang harus aku bawa, atau buah apa yang menjadi favorit orang tua Yusuf, ternyata hampir semua buah mereka suka.


Dua parsel yang lumayan besar sudah dipacking.


"Kok pulang?" Tanyaku, saat Yusuf menarik tanganku menuju parkiran.


Detik kemudian Yusuf kembali menarikku keparkiran tanpa menjawab pertanyaan ku ataupun menjelaskan tujuannya.


"Bang!" Aku masih berusaha menahan langkahku.


"Iya, kita beli ditoko khusus bukan disini." Jelas Yusuf.


"Oh! Bilang atuh." Aku mengikuti langkah Yusuf menuju parkiran.


Jazz kuning yang Yusuf kemudian mulai meninggalkan area parkir Mall terbesar di Jambi ini, Yusuf semakin diperhatikan semakin terlihat manly dan gagah.


"Jangan terus melihatku, nanti kamu semakin jatuh cinta." Yusuf sekilas melihat aku yang memang sedari tadi suka meliriknya.


"Ada apa?" Tanya Yusuf, saat aku semakin memandangnya dalam.


"Hei! Dari tadi ngeliatin aku mulu, menung lagi, apa ada yang kamu fikirkan?" Tanya nya lagi.


"Aku mau kamu cerita tentang Sarah." Jawabku. Bola mataku masih fokus pada wajah tampan Yusuf.


"Tidak ada yang harus ceritakan, iya... Dia hanya sebatas masa laluku, itu saja." Jawab Yusuf. Sepertinya Yusuf tidak berminat membahas hubungannya dengan Sarah.


"Mau turun? Atau tetap dimobil?" Tanya Yusuf segera setelah mobil terparkir dksebuah L'occitane store.


"Ikut." Belum sempat aku membuka seatbelt tubuh Yusuf sudah terlebih dahulu melewati tubuhku, jantungku berpacu begitu kencang saat mencium manly tubuh Yusuf, membuat bulu hidungku merinding.


"Ayo."


Aku mengekor saat Yusuf memilih Barang-barang yang biasa ia pakai.


Satu-persatu ia masukan kedalaman bag paper yang bertulisan L'occitane store.


Sejujurnya aku baru pertama kali mengenal produk ini, dari informasi yang baru kebaca, l'occitane adalah produk asal Perancis.


Cukup lengkap, mulai dari parfum, body care, hand care dan ternyata juga ada parian untuk wanita.


Dari harga yang tertera... Waw! Lumayan, satu farfum yang Yusuf pilih harganya mampu membuat aku melongo.


"Hanya farfum?" tanyaku. Sesaat setelah Yusuf keluar hanya membawa bag paper kecil yang berisi farfum.


Ternyata Yusuf hanya membutuhkan farfum saja disini.


"Iya... Mungkin saat ini hanya butuh ini saja, untuk yang lain masih ada dirumah Mami, yang kurang nanti bisa ikut seleramu."


Aku hanya mengangguk, mencoba mencerna ucapan Yusuf. Ikut seleraku? Ada-ada saja! Dia kan laki-laki gimana bisa memakai aroma girly, yang hampir semua perlengkapan mandi dan Handbody wangi khas perempuan.

__ADS_1


Hampir satu jam perjalanan, akhirnya kita sampai dirumah orang tua Yusuf.


Mami Papi dengan tersenyum lebar sudah menunggu kehadiranku dan Yusuf diambamg pintu.


"Assalamualaikum... Mi, Pi."


Aku mengikuti Yusuf mencium tangan kedua suami istri itu. Sejak aku mengenal Yusuf dan keluarga nya, Aku sama sekali tidak melihat mereka seperti orang tua angkat bagi Yusuf.


Mereka begitu menyayangi Yusuf. Terbukti saat Dulu Yusuf diopname, orang tua Yusuf terdengar sangat khawatir, pasalnya mereka tidak bisa menjaga Yusuf.


"Waalaikumussalam, kok lama sih? Bunda bilang kalian sudah dari pagi berangkat." Mami merangkulku.


"Iya, Mi. Tadi kita mampir beli ini dulu." aku mengangkat parsel ditanganku sembari mengikuti Mami Tan masuk kedalaman rumah.


"Gak usah repot-repot! Mami udah gak sabar dari tadi nungguin kalian datang."


"Iya. Pusing Papi ngeliat Mami sibuk holir mudik, mentengin jam mulu."


"Begitu dengar suara mobil didepan, Mami langsung keluar."


"Nisa gak jadi ikut?"


"Gak, Pi. Kata Bunda nanti mereka nyusul." jawab Yusuf.


"Sini, biar aku tata dulu cake sama rotinya." Aku menyambar kotak yang bertulisan igor's pastry dari tangan Yusuf.


"Ya ampun! Tau benar anak Mami kalau dirumah lagi kehabisan, rencana nanti malam mau ngajakin Afiifah kesana buat beli, eh udah dibawain ternyata."


"Kamu disini saja, duduk! Pasti capek. Biar Bi Ime yang siapkan, Mami masih mau dekat-dekat sama kamu." Mami kembali menggenggam tanganku.


"Bi... Bi Ime!" Yang dipanggil nongol.


"Tolong siapin terus bawa kesini ya, Bi." Mami menyerahkan kotaknya pada bi Ime.


"Baik, Bu."


"Nginep sinikan?" Tanya Mami.


"InsyaAllah, Mi. Rencananya begitu." Aku masih sedikit kaku. Maklum... Ini pertama kali aku berbicara sedekat ini dengan orang tua Yusuf, selama ini sering bertemu, tapi tidak pernah menyangka akan menjadi mantu beliau.


Sebenarnya aku tidak perlu takut, sejauh yang ku ketahui orang tua Yusuf cukup asik dan bersahabat dengan anak-anaknya, walaupun usia mereka sudah kepala enam, jiwa muda mereka masih terlihat jelas, bahkan Mami jauh lebih terlihat muda dibanding usianya.


"Belum makan siang kan?"


"Belum, Mi." Jawabku.


"Belum juga waktu makan siang, Mi." Kini Papi angkat bicara.


"Hehe... Kali aja tadi sebelum kesini sudah mampir untuk makan dulu."


"Makasih ya udah nyamperin Mami Papi secepat ini, Mami kira minggu depan kalian baru akan berkunjung kesini." Aku bisa melihat dengan jelas kebahagiaan diwajah Mami.


"Mami tu suka kesepian dirumah,


"Nanti kalian rencananya mau tinggal dimana?"


Mungkin Mami dan Bunda mewakili sebagian besar para orang tua ketika putra-putri mereka menikah, kalian akan tinggal dimana?


Aku dan Yusuf selain adu pandang.


"Kita belum tau, Mi. Belum ada arah pembicaraan yang serius kearahku sana, lagian kita juga baru menikah beberapa hari, masih berasa letihnya." Jawab Yusuf. Aku pikir Yusuf akan katakan untuk tinggal dengan orang tuanya, seperti kemarin yang pernah aku katakan akan tinggal bersama orang tua Yusuf.


"Oh gitu! Tapi Mami berharap kalian akan tinggal disini, Mami betul-betul kesepian." Kini senyum yang sedari tadi tak pernah pudar, malah menghilang, seakan mengisyaratkan rasa kecewa dan kesedihan Mami.


"InsyaAllah..."


"Nanti kita pikirkan lagi, Mi." Yusuf memotong ucapanku. Sepertinya Yusuf mampu mengerti apa yang hendak aku katakan.


"Dimana pun kalian nanti tinggal, yang penting untuk saling menjaga, menyayangi, menghormati dan saling komunikasi yang terpenting,


"Yusuf sebagai kepala keluarga kini sudah punya tanggung jawab yang berat, baik buruknya istri kamu, itu adalah cerminan dari akhlak mu." Aku dan Yusuf mendengar semua nasihat Papi.


"InsyaAllah, Pi. Kita akan berusaha saling menjaga." Ucap Yusuf.


"Diminum sulu jus nya Mbak, pasti hauskan?" Bi Ime menyodorkan segelas juz mangga untukku.


"Terima kasih, Bi." Aku menyambut uluran jus dari bi Ime.


"Sebelumnya sudah kenal Bi Ime kan?"


"Hehe iya Mi, sudah beberapa kali ketemu, terahir ketemu waktu ambil baju Yusuf kesini. Iya kan, Bi?"


"Iya... Gak nyangka Bibi, kalau ternyata Nona yang benar-benar dipilih sama Bang Yusuf."


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Bi Ime.


Aku ingat waktu dulu Bi Ime bilang, Yusuf tidak membiarkan siapa pun menyentuh pakaian dalam Yusuf.


"Dimakan juga cake sama rotinya, Non." Bi Ime mempersilahkan.


"Jangan panggil Non, Bi. Panggil Afiifah saja gak papa." Aku merasa tidak enak hati, pasalnya aku tau Bi Ime juga sudah dianggap seperti keluarga dirumah ini.


"Suka sama cake ini?" Tanya Mami sembari memberikan satu cake yang memang menggugah selera dari bentuknya.


"Afiifah coba dulu ya, Mi." Aku mengambil satu potongan kecil.

__ADS_1


"Hmm... Enak." Setelah beberapa kunyahan, aku pikir tidak buruk juga rasanya.


"Mulai sekarang kamu harus menyukai makanan ini." Lanjut Mami, dengan ikut memakan, makanan yang aroam blueberry nya sangat jelas diindra penciuman ku.


__ADS_2