
Dua minggu sudah berlalu, sejak Yusuf memutuskan membebaskan aku dari khitbah nya.
Dan Aku tidak pernah bertemu Yusuf lagi sejak itu, sejak aku mendengar semua pembicaraan Yusuf dan Fariz.
Tidak pernah bertemu atau pun berkomunikasi, hanya saja telinga ku tak pernah berhenti mendengar seisi rumah ini menceritakan kondisi Yusuf. Bagiku... Yusuf baik-baik saja itu sudah cukup.
Aku pun tau, sudah jika hari ini Yusuf pulang kerumah, kondisi semakin membaik, hanya perlu rawat jalan saja.
Aku bersyukur Ayah, Bunda dan Fariz tidak pernah menghujam aku dengan pertanyaan tentang Yusuf, hanya Nisa yang sesekali bertanya ada masalah apa antar aku dan Yusuf.
Mungkin hanya Nisa pula yang tidak tau apa yang terjadi antar aku dan Yusuf.
Seperti sore ini.
"Kak Afiifah gak jenguk bang Yusuf? Bang Fariz bilang kemarin bang Yusuf sudah boleh pulang lho."
Semenjak hamil, Nisa memang lebih banyak dirumah, kondisinga sangat lemah, bahkan selama Yusuf sakit hanya dua kali menjenguk Yusuf dirumah sakit, mereka lebih banyak vidio call-an.
"Hmm? Gak dek, Kakak agak sibuk ahir-ahir ini, banyak laporan kantor yang harus kakak urus." Aku mencoba mencari jawaban yang aman.
"Oh iya... Nisa lupa kalau sekarang Kakak kerja sendiri. Pasti capek ya kak? Harus ngurusin kerjaan Bang Yusuf juga?" Nisa membenahi posisi tangannya yang kini terpasang cairan infus. Iya... Selama hamil Nisa sudah beberapa kali diinfus dirumah, efek terlalu lemah dan kekurangan cairan.
"Iya dek, Kakak juga belum terlalu bisa sama laporan-laporan yang begituan, jadi pusing kakak." Aku membantu Nisa membenahi tangannya yang terpasang infus.
"Semoga bang Yusuf cepat pulih dan bisa bekerja lagi ya kak, biar ada yang bantu kakak."
"Aamiin." Aku tersenyum. Sejujurnya aku malah khawatir jika Yusuf kembali bekerja. Itu artinya akan membuat kami lebih mudah bertemu.
"Kak..." Aku menoleh Nisa, yang mengubah posisi tidurnya, "kenapa kakak gak nikah saja sama bang Yusuf? Dia baik kok kak. Dia itu sangat sayang keluarga. Kakak pasti akan bahagia kak."
"Kamu suka kalau Kakak jadi kakak ipar kamu? Hmm?" Aku melihat Nisa dan tersenyum.
"Suka... Tapi sekarang kak Afiifah kan memang kakak iparnya Nisa! Nisa tu akan lebih bahagia kalau kakak jadi istrinya bang Yusuf."
"Hahaha..." Aku tertawa melihat kening Nisa yang berkerut, "Iya. Lupa kakak kalau udah jadi kakak iparnya kamu."
"Nisa serius lho kak! Kalau kakak mau, nanti Nisa kasih tau bang Yusuf." Nisa memegang tanganku.
Aku mengelus punggung tangan Nisa, "Coba Nisa tanya bang Yusuf, mau gak jadi suami kakak?" Walaupun terdengar bercanda, tapi sungguh aku ingin tau jawaban Yusuf.
"Kakak serius? Nisa telpon bang Yusuf ya?"
"Ehh, jangan sekarang! Yusuf baru saja pulang dari rumah sakit." Tapi telat. Panggilan Nisa sudah tersambung.
"Abang sudah sampai rumah?"
"Hehehe wa'alikumussalam, maaf bang, Nisa lupa."
"Ohhh... Suaminya Nisa masih ada disana?"
"Gak cuma tanya, Nisa juga mau tanya sama abang, boleh?" Nisa melirik kearahku.
Dan mengubah panggilan menjadi video call.
"Tanya apa?" Terdengar suara Yusuf.
"Abang mau gak jadi suaminya kak Afiifah?" Nisa tanpa basa basi.
"Sayang..." Terdengar suara Fariz, seperti nada terkejut.
"Ihhh, apa sih? Nisa serius sayang. Kasih Ponselnya ke bang Yusuf."
"Bang Yusuf baru juga sampai rumah, harus istirahat. Kamu malah nanya yang Gak-gak. Kamu sudah lebih baik?"
"Males ah." Nisa mengabaikan pertanyaan Fariz.
"Kamu lagi sama siapa?" Nisa memasang wajah kesal, dengan bibir maju kedepan, "sayang... Kamu lagi sama siapa?"
"Ini." Nisa mengarahkan layar Ponselnya padaku.
"Assalamualaikum." Aku tersenyum menyapa mereka yang terlihat jelas dibalik layar ponsel Nisa.
Hanya jawaban salam dari Fariz, sekilas Yusuf melihat kearah ponsel, segera membuang pandangannya setelah melihatku.
"Apa kabar Suf." Ketika ponsel dipegang Fariz diarahkan pada Yusuf.
__ADS_1
"Baik alhamdulillah." Yusuf seperti memaksa diri untuk tersenyum.
"Bang pegang!" Fariz memberikan ponselnya pada Yusuf. "aku mau ambil minum bang." setelah beberapa saat Yusuf tidak mengambil ponsel dari tangannya.
"Kamu apa kabar?"
"Siapa?" Aku mencoba membuang rasa canggung kami.
"Kamu" Yusuf melihat kearahku.
"Ohh aku, habisnya kamu ngomong sama aku tapi pandanganmu ke mana-mana." tidak ada yang berubah pada Yusuf. Ekspresi masih tampak dingin. "aku baik, insyaAllah."
"Syukurlah. Aku mau sholat zuhur dulu." Aku tau Yusuf hanya ingin menghindar diriku.
"Hm. Jangan lupakan sertakan aku dalam doamu. Aku bahagia kamu sudah pulih, sudah lebih baik sekarang."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam." Yusuf memutuskan sambungan video call kami tanpa melihat aku sedikitpun.
Sedih? Tentu saja. Tapi aku tau, aku ngerti. Yusuf masih butuh waktu. Setidaknya aku mengetahui perasaan Yusuf padaku.
"Nih." Aku memberikan ponsel Nisa.
"Maaf ya kak, Nisa gak ada maksud apa-apa, tapi sungguh Nisa berharap kakak dan bang Yusuf bisa sama-sama." Nisa menatapku. Lucu, Nisa malah yang tampak kecewa karena tidak mendapatkan jawaban yang sesuai keinginannya dari Yusuf.
"Kamu doakan saja, semoga bang Yusuf dapat jodoh terbaik,siapa pun itu, mungkin saja itu bukan kakak." Aku membantu Nisa duduk, dan memberi segelas air putih padanya.
"Aamiin. Tapi Sejujurnya Nisa suka berdoa, semoga bang Yusuf bisa berjodoh sama kakak." Nisa memelukku. Kalau sudah seperti ini, Nisa lupa kalau ia sekarang calon ibu, sifat manjanya sudah tidak bisa dihentikan.
Aku hanya mampu tersenyum, "ya sudah, kamu istirahat lagi, kakak balik kekamar lagi, sebentar lagi Fariz akan pulang, kakak mau sholat dulu."
"Makasih kak."
"Jangan lasak lagi, ingat kalo lagi hamil, nanti macet lagi infusnya."
"Hehehe... Siap Bu perawat." Nisa bak memberi hormat pada sangsaka merah putih, "dulu selama kakak jadi perawat juga galak ya kak? Suka marahin pasien?"
"Iya kalau pasien nya bandel kayak kamu, masak sehari kakak bisa ngabisin selusin spuit hanya untuk bagusin infus kamu yang macet." Aku mengusap kepala Nisa, dan segera meninggalkan Nisa. Serasa punya adik bayi lagi aku.
***
"Astagfirullah..." Aku baru ingat belum sholat zuhur.
Segwra bangkit dan segera berwudu lalu mengerjakan sholat zuhur.
"Ya Allah, aku ridho dengan segala keputusan-MU untuk hidupku. Beri aku kekuatan untuk menerima segala ketetapan yang sudah engkau takdirkan untukku, ketika apa yang aku harapkan berbanding terbalik dengan keputusan-MU. Biarkan aku melepaskan Kia bersama-MU dan biarkan aku melepaskan Yusuf dengan rasa bahagia. Tapi jika Yusuf adalah laki-laki yang engkau utus untukku, maka beri jalan agar kami bisa bersatu. Yakini hati ini bahwa Yusuf adalah laki-laki terbaik yang engkau kirimkan. Tapi jika engkau tidak mengizinkan kami bersatu, atau kami tidak berjodoh, biarkan kami saling menjauh. Tolong buang harapan ku padanya. Aamiin."
Kurapiakan dan kusimpan kembali perlengkapan sholatku dalam lemari.
Aku membuka album yang berisi foto aku dan Kia. Hanya ini yang bisa mengobati sedikit rasa rinduku.
Aku masih belajar untuk menerima kenyataan bahwa Kia benar-benar sudah tidak bersamaku.
Ngantuk. Rasa mengantuk datang tanpa ku minta, mungkin ahir-ahir ini aku terlalu lelah. Dan aku memang tidak pernah tidur lebih dari empat jam sehari ahir-ahir ini.
Aku mulai memejam kan mata, dengan membiarkan album besar diatas badanku. Aku ingin bermimpi bertemu Kia.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumussalam." Tampak seorang laki-laki menghampiriku. Wajahnya tidak terlihat jelas terhalang cahaya putih yang datang entah dari mana.
"Maaf, kamu siapa?" Aku menatap laki-laki dihadapanku, "aku tidak bisa melihatmu dengan jelas, cahaya putih ini menghalangi pandangan ku dan menutup wajahmu. Apa kita saling kenal?" pandangan ku masih pada titik pokus laki-laki dihadapanku.
"Saya Yusuf, Muhammad satria Yusuf." Iya... Aku tidak asing dengan suara ini, sama persis dengan. Aku suara Yusuf yang aku kenal.
"kenapa wajahmu bercahaya?"
"Ntahlah. Saya tersesat, hanya berjalan mengikuti arah kaki saya melangkah. Ternyata bertemu denganmu. Tolong bawa saya pulang." Yusuf mengulurkan tangannya.
"Silahkan." Aku mempersilahkan laki-laki itu berjalan didepanku. "saya akan bawa kamu pulang kerumah orangtuamu."
" Terimakasih, saya butuh penuntun dalam hidup saya."
"Kak... Kakak..." Samar-samar aku mendengar suara lain memanggilku, tubuhku bak tergoncang.
__ADS_1
"Kak... Bangun." Aku membuka mata saat kedua pipiku terasa dipukul perlahan.
"Astagfirullah..." aku mengusap mukaku dengan kedua tanganku. "Ada apa dek?" aku melihat Fariz duduk disampingku, dengan tatapan heran, kening ya berkerut.
"Kakak tadi mimpi?"
"Ha?" aku mencoba mengingat apa yang terjadi. "sepertinya iya, kenapa?" aki balik menatap Fariz.
Apa aku menyebut nama Yusuf didepan Fariz? Mimpi apa ini?
"Kak..." Fariz kembali menggoyang tubuhku. Membuyarkan lamunanku. "Kakak mimpi apa? Muka kakak tegang gitu."
"Gak mimpi apa-apa. Kapan kamu pulang?" aku mengalihkan pembicaraan kami.
"Dari tadi, udah dari kamar aku, jenguk Nisa." Fariz mengubah posisi duduknya,sedikit miring, dan lebih menghadap didepan ku.
"Fariz udah mgetok-ngetok pintu kakak dari tadi, tapi gak ada jawaban, Fariz takut kakak Kenapa-kenapa jadi langsung masuk saja, ternyata kakak tidur."
"Iya... Tadi habis sholat kakak ngantuk bangat, jadi ketiduran." Aku meletakkan album yang berada dipangkuanku ke meja samping ranjangku.
"Sempat ragu mau bangunin kakak, tapi pas aku lihat wajah kakak tegang bangat, ku fikir kakak mimpi buruk, makanya aku bangunin. Mimpi apa sih? Sampai berkerut gitu tadi keningnya?"
Ahh ini anak cerewetnya kumat.
"Gak mimpi apa-apa, cuma mimpi ketemu orang sholeh." Aku menyingkirkan selimut dari tubuhku, "ngapain kamu nyari kakak?" aku bangun dari ranjang dan meraih air putih dari atas meja disamping ranjang.
"Hmmm! Kakak gak mau jenguk bang Yusuf? Kakak gak pernah lagi jenguk bang Yusuf dirumah sakit, kasian bang Yusuf kak, tiap hari hanya ngelamun."
"Kan ada kamu yang ngehibur dia, apa hubungannya ngelamun sama kakak yang jenguk?" aku meneguk habis air putih dari dalam gelas. Lalu kembali duduk dipinggir ranjang.
Yusuf membenahi posisi duduknya lagi, menghadap kearahku. "mungkin saja kakak bisa jadi penyemangat untuk bang Yusuf."
"Memang nya kakak ini siapa ya Yusuf?" aku memancing Fariz untuk bercerita. Cerita apa saja tentang Yusuf.
"Sebenarnya aku tau, tau kalau bang Yuuusuf... Pernah ngelamar kakak!" Fariz tampak ragu.
"Terus?" Aku melirik Yusuf.
"Iya... Aku juga tau bang Yusuf sudah membatalkan lamarannya untuk kakak." Kali ini suara Yusuf terdengar pelan. Ia meremas kedua tangannya bergantian.
"Iya, terus kenapa kamu masih berfikir kakak bisa menghibur dia? Dia sudah membebaskan kakak dari khitbahnya, itu artinya... Ia mau kakak menjauh, ia tidak benar-benar menginginkan kakak dalam hidupnya." aku berdiri dan berjalan menuju balkon kamarku.
Yusuf mengekor dibelakangku. "gak kak, bang Yusuf bukan sudah tidak menginginkan kakak, bang Yusuf hanya merasa bersalah tidak bisa menjaga Kia, bang Yusuf sungguh terpukul dan merasa bersalah atas kepergian Kia." Fariz berdiri didepanku. "tapi asal kakak tau, bang Yusuf sungguh mencintai kakak, bahkan ia sanggup menunggu kakak bertahun-tahun." Yusuf membuang pandangannya diriku. Seolah-olah sedang melihat wajah sedih Yusuf diusung sana.
"Bertahun-tahun? Lucu kamu! Kita aja baru kenal beberapa bulan lalu." aku berpura-pura tidak tau, aku ingin mengetahui lebih banyak tentang Yusuf. Tentang perasaannya padaku.
"Hmmm huh... Sebenarnya bang Yusuf sudah mengenal kakak jauh sebelum ini. Bahkan dulu bang Yusuf pernah meminta izin Ayah dan Bunda untuk meminang kakak." aku mendengarkan ucapan Yusuf seksama. Sungguh aku ingin tau kisah yang dulu itu.
"Kakak gak ngerti dek, sebaiknya kamu jelasin secara cepat ringkas dan padat. Otak kakakmu ini sudah bermasalah." Aku memukul-mukul pelan kepala ku.
"Tapi setelah bang Yusuf datang, ayah bilang baru tiga hari yang lalu keluarga mantan suami kakak itu datang melamar. Dan kakak meng-iyakan lamaran itu." Aku hanya sedikit tersenyum. Aku tidak percaya dengan apa yang Fariz ceritakan.
"Kenapa malah senyum? Aku serius kak. Bang Satria dari dulu suka memperhatikan kakak kalau dirumah. Bahkan setelah kakak menikah dan memiliki Kia, bang Satria pernah cerita dan curhat masih mengharapkan kakak tiap kali ditanya menikah oleh Papi ataupun Mami."
"Jadi, yang pernah Yusuf ceritakan di eja makan waktu sama Ayah Bunda dulu itu kakak?" aku ingat Yusuf pernah mengatakan juga sudah menunggu seorang wanita selama enak tahun ini. Terkejut. Inilah yang namanya jodoh?
"Iya."
"Orang tuanya tau kalau kakak orang yang selama ini ia tunggu?"
"Sepertinya tidak."
"Ya udahlah dek, toh sekarang Yusuf lebih memilih untuk menjauh dari kakak. Kakak gak mau maksa ia harus terus menunggu kakak." Aku menyambut handuk dari gantungan dibelakang pintu.
"Iiiiihhh, ck!" Fariz berdecak kesal sembari mengusap tengukuk nya. "Ayolah kak, usaha untuk dapatkan bang Satria lagi! Tolong hiburan bang Satria kak!"
"Hei! Apa maksud kamu?" Aku membalik badan. "apa kakak harus Mohon-mohon sama Yusuf? Gak lah dek, harusnya kakak yang butuh dihibur, kakak yang baru saja kehilangan anak."
"Tapi, nyatanya bang Satria memang lebih membutuhkan dukungan kak."
"Hmmmhuuh." Aku menghempas kan kedua pundakku ke bawah, "Yusuf harus belajar menerima segala takdir Allah, kakak butuh sosok laki-laki yang kuat, kuat hatinya! Kuat pula imannya. Yusuf harus tau, hidup ini memang milik Allah." Aku menepuk pundak Fariz.
"Ya sudah! Kakak mandi dulu. Bantu doa yang terbaik untuk Yusuf, untuk kakak dan untuk kami berdua." Aku berlalu meninggalkan Fariz.
"hmmm oke. Fariz akan jadi adik yang baik untk bang Satria."
__ADS_1
"Jangan lupa, jadi adik yang baik juga untuk kakak." kepalaku setengah keluar pintu kamar mandi.
"Oke." Dengan tangan Fariz membentuk huruf O.