
Merasa ada seseorang di depan pintu, Rimo langsung menatap ke arah pintu. Kebetulan posisi Rimo tepat menghadap pintu. "Nyonya, Tuan Muda Wha ..." sebelum kalimat Rimo selesai, ibu dan adik Whana semakin menangis sedih.
"Ibu! Dira!"
Mendengar suara seseorang yang akrab memanggilnya, ibu dan gadis kecil itu terdiam dari tangisnya, dan serentak menoleh ke arah pintu. Langsung saja sang ibu berlari ke arah Whana dan memeluknya erat-erat. "Kam- Kam- Kamu hidup! Kamu hidup, nak!" isak sang ibu dengan terbata-bata. Di samping, si gadis kecil juga memeluk pinggang Whana dengan erat. "Kami mengkhawatirkanmu, kak!" sambung Dira sambil menempelkan kepalanya di tubuh Whana.
"Ibu ... Dira ... Aku sudah kembali dan sehat. Tidak ada yang terjadi padaku," Whana menanggapi sambil tersenyum dan memeluk ibu dan adiknya.
Ada perasaan hangat di hati Whana. Bahkan, ia semakin bertekad untuk menaklukkan dunia di bawah kaki ibunya.
"Ibu, dimana ayah?" tanya Whana mengganti topik agar tidak berlanjut dalam kesedihan.
Ayudiah segera menggandeng lengan Whana ke kamar ayahnya dan berkata dengan sedikit terisak. "Ayahmu masih terbaring. Ibu sudah memberinya obat yang sesuai, tapi belum ada hasil."
"Ibu membelinya?" tanya Whana kepada ibunya.
"Kakekmu memberi ibu sepuluh koin emas untuk membeli obat," sahut Ayudiah kepada putranya.
"Dari mana saja kau? Masih ingat pulang?" ayah Whana berteriak dengan marah, tapi air matanya mengalir deras. Ia berusaha bersikap tegas tapi hatinya tidak mampu menutupi kekhawatirannya selama dua hari terakhir.
Melihat airmata di wajah ayahnya, Whana tersenyum namun matanya sudah memerah. Ia merasa memiliki keluarga kembali. Tidak seperti di kehidupan sebelumnya dengan kasih sayang keluarga yang sangat singkat.
"Ayah, aku mendapatkan Rumput Awan Merah di Hutan Kematian. Gunakan ini untuk menyembuhkan cedera ayah!" Whana mengeluarkan satu Rumput Awan Merah dan menyerahkannya kepada ibunya.
"Kamu mendapatkan tanaman obat ini? Tanaman ini sangat langka. Bahkan di daratan Liba sangat sulit menemukan tanaman obat ini. Ini bukan tanaman obat biasa." Wahyu berseru melihat tanaman obat yang dikeluarkan Whana.
Bukan hanya Wahyu Rahngu yang terkejut, begitu juga dengan Ayudiah dan Rimo yang terkesima dengan tanaman obat di depan matanya.
__ADS_1
"Ayo, Bu! Cepat jadikan sup dan berikan kepada ayah!" pinta Whana kepada ibunya. Ibunya terbangun dari keterkejutannya dan mengambil Rumput Awan Merah yang di berikan Whana.
Beberapa saat kemudian, Ayudiah kembali dengan semangkuk sup di tangannya. "Ayo! Minum selagi hangat!" ucap Ayudiah kepada suaminya.
Dengan dibantu Whana, Wahyu Rahngu meminum semangkuk sup dari Ayudiah. Seketika muncul cahaya keemasan dari seluruh pori-pori tubuh Wahyu Rahngu.
Wahyu kemudian menumpahkan darah berwarna hitam. Tepat setelahnya, Wahyu langsung duduk tegak tanpa bantuan dari Whana atau orang di sekitarnya. Menarik nafas dalam-dalam, Wahyu membuka matanya, dan menoleh ke arah Whana tanpa mengucapkan apa pun. Seketika Wahyu langsung memeluk putranya dan berucap pelan. "Terima kasih, nak. Terima kasih"
Suasana haru menjadi kesan tersendiri di keluarga kecil itu. Ayudiah, Dira bahkan Rimo juga meneteskan airmata melihat adegan di depan matanya.
Whana tersenyum dan berkata. "Ayah, tidak pelu mengucapkan terima kasih. Ini sudah menjadi kewajiban seorang anak untuk kedua orang tuanya"
Wahyu Rahngu menatap putranya dengan penuh perhatian selang beberapa saat matanya kembali membelalak dan berseru. "Whana! Kultivasimu? Bagaimana bisa dalam dua hari kamu sudah menembus Pembentukan Tubuh tingkat Kelima? Bukankah sebelumnya berada pada Tahap Kelahiran tingkat Kedelapan?"
"Hahaha ... Itu karena Rumput Awan Merah. Kekuatanku kembali pada Tahap Pembentukan Tubuh tingkat Kedua dan tanpa sengaja menerobos ke tingkat Kelima." Whana memberikan jawaban yang dapat meyakinkan.
"Ayah, Ibu, aku juga berburu beberapa binatang buas. Bahan-bahan yang berharga sudah ku jual dan dagingnya sebagian aku bawa pulang untuk persediaan di keluarga. Ayo! Hari ini kita makan daging. Kebetulan aku mendapatkan daging rusa yang istimewa," ucap Whana dengan semangat.
"Benarkah? Hore ... Kita makan daging ...," teriak Dira dengan gembira.
Whana langsung mengeluarkan daging rusa tanduk tunggal. Daging rusa ini mengandung energi alam yang melimpah. Dapat memperkuat tubuh dan memperlancar peredaran darah.
"Kamu mendapatkan daging tanduk rusa tunggal sebanyak ini?" seru Wahyu dengan takjub. "Tuan Muda, apakah Tuan Muda masuk ke area Pinggiran Perbatasan?" tanya Rimo dengan penasaran. Pasalnya, binatang buas rusa tanduk tunggal tidak ditemukan keberadaannya di area Pinggiran Dalam.
Whana hanya mengangguk sebagai tanggapan dan melanjutkan. "Hanya kebetulan masuk sedikit."
__ADS_1
Rimo tercengang dengan jawaban Whana.
Segera semua orang sibuk dengan kegiatan mempersiapkan makan malam.
Whana beranjak menuju dapur dimana ibunya sibuk menyiapkan bumbu yang dibutuhkan. "Bu, mulai sekarang Ibu tidak boleh lagi bekerja keliling seperti sebelumnya. Aku berburu banyak binatang buas dan mendapatkan beberapa koin emas yang cukup untul kebutuhan Ibu dan Dira," ujar Whana sambil mengeluarkan sekantong koin emas dari tas ruang senilai sepuluh ribu koin emas.
"Hei! Banyak sekali!" seru Ayudiah dengan takjub sambil menatap koin emas dan wajah Whana secara bergantian.
"Lumayan, aku punya beberapa cara untuk menjebak binatang buas sehingga hasil buruannya cukup memuaskan," jelas Whana sambil menyerahkan koin emas kepada ibunya.
"Tapi ..." sebelum Ayudiah melanjutkan kalimatnya, Whana langsung menyela. "Tidak ada tapi! Ibu adalah ibuku, bukan Ibu orang lain. Tidak ada yang boleh merendahkan Ibu mulai hari ini. Ibu percaya padaku?"
Melihat tatapan tegas Whana tanpa sadar airmata mengalir ke pipi Ayudiah. Ia langsung memeluk Whana dengan erat. "Ibu percaya! Ibu percaya! Terima kasih, nak! Terima kasih."
Setelah berbicara beberapa hal dengan ibunya, Whana kembali ke tempat pemanggangan daging. Dira langsung menarik tangan Whana dan berceloteh bak burung yang berkicau di sore hari.
Semua hidangan siap di meja makan dan mereka berempat duduk di meja yang sama. Rimo, meskipun ia seorang pelayan, ia sudah dianggap keluarga sendiri oleh Wahyu sekeluarga. Tidak ada perbedaan perlakuan terhadap Rimo.
Seusai makan, Whana berkata kepada Wahyu Rahngu. "Ayah, aku masih memiliki Rumput Awan Merah, dua rumpun ini untukmu. Mungkin Ayah bisa menerobos ke Penyempurnaan Qi tingkat Ketujuh." Mengatakan itu Whana mengeluarkan dua rumpun Rumput Awan Merah dan menyerahkan kepada Ayahnya.
"Whana, kamu benar-benar menemukan harta karun. Jika dijual, ini harganya bisa ribuan koin emas." Wahyu memandang takjub kepada putranya.
"Ayah, jangan menjualnya! Serap elixir untuk kultivasi Ayah! Aku sudah memberi Ibu koin emas untuk kebutuhan kita," sanggah Whana atas ucapan Ayahnya.
Wahyu hanya menoleh ke arah Ayudiah dan Ayudiah hanya mengangguk sebagai konfirmasi atas apa yang dikatakan Whana.
Kemudian, Whana mengeluarkan dua rumpun Rumput Awan Merah lagi dan berkata kepada Ibunya dan Rimo. "Ini masih ada dua, untuk Ibu satu dan untuk Paman Rimo satu." Lalu Whana mengeluarkan sekantong koin emas dari tas ruangnya senilai seribu koin emas dan menyerahkannya kepada Rimo. "Paman, ini untuk Paman dan keluarga, semoga bisa membantu kebutuhan Paman."
__ADS_1