
Whana yang melihat situasi saudara sepupunya sudah tidak memungkinkan, langsung melompat dari atas pohon. Dengan satu pukulan telapak tangan, 3 Srigala Api langsung terlempar dan mati seketika. Whana beralih dengan cepat ke arah Mori dan memukul ke arah gerombolan Srigala Api yang menyerang.
'Tinju Bumi'
Bam, bam, bam, bam, bam
Satu kepalah tangan Whana mengeluarkan cahaya kehijauan dan melesat menjadi 5 kepalan tangan menghantam kepala Srigala Api.
Pyak, pyak, pyak, pyak, pyak
Buk, buk, buk, buk, buk
Suara pecah yang diikuti jatuhnya tubuh Srigala Api terdengar tanpa hambatan. Whana kembali berkedip ke arah Srigala Api lainnya dan memukul mereka semua dengan satu persatu dengan kecepatan yang sangat cepat.
Kurang dari satu menit, 19 Srigala Api mati terbunuh di tangan Whana. Bahkan ada yang kepalanya pecah seperti semangka.
Kecuali Mori, 4 saudara sepupu Whana melongo melihat aksi Whana yang memukau. Bahkan mereka menahan nafas ketika Whana membantai habis Srigala Api yang mereka anggap sangat kuat.
"Adik, kamu sangat kuat." Noya mengacungkan jempol kanannya dengan wajah penuh kekaguman.
"Aku tidak menyangka, adik sepupuku lebih kuat dariku. Padahal aku berada di tingkat 9." Diman berkata dengan kagum dan mendesah.
"Ayo, istirahat. Ambil Pil Pemulihan dan ambil sikap meditasi." Whana mengabaikan tatapan mereka dan meminta mereka untuk memulihkan diri.
"Moni, dia memang sekuat itu?" Wina berbisik di sebelah Moni.
"Lebih kuat dari itu." sebelum Moni menjawab, Mori berbisi di sebelahnya.
"Bagaiman kamu tahu?" Wina penasaran dan menatap ke arah Mori.
"Aku pernah melihatnya sendiri membantai 15 orang kawanan bandit Tahap Penyempurnaan Qi hanya dalam beberapa tarikan nafas." Jawab Mori pelan.
"Apa?" baik Wina maupun Moni berseru serempak.
Whana yang berada di atas pohon besar jelas mendengar apa yang dibicarakan Mori. Dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Semangat mereka layak untuk di perhatikan. Kalian harus menjadi elit keluarga Rahngu." batin Whana siap membantu saudara sepupunya menjadi lebih kuat.
Setelah memulihkan diri, mereka kembali melangkah ke arah selatan.
"Hei, itu tanaman obat. Apa kalian akan melewatkannya?" Whana yang berada di belakang mereka mengingatkan.
__ADS_1
"Benarkah? Aku tidak tahu jika ini tanaman obat." Wina berseru gembira mendengar ucapan Whana dan kebetulan tanaman obat berdaun lebar berada di dekatnya.
Tentu saja Whana mengetahuinya. Berkat Mata Dewa, semua tanaman yang merupakan tanaman obat atau elixir akan menampilkan visualisasi yang berbeda sesuai tingkatan warna. Semakin gelap maka semakin tinggi tingkatan dan kualitas tanaman obat.
"Adik, kami sedikit buta tentang tanaman obat. Jika kamu menemukannya, beri tahu aku." Wina kembali berkata kepada Whana.
"Kami? Aku tidak buta tanaman obat sepertimu." Noya protes dengan ucapan Wina.
"Lalu mengapa bukan kamu yang mengatakan pertama kali bahwa ini adalah tanaman obat?" Wina segera bertanya dengan cepat.
"Ah, itu karena aku lupa." Jawab Noya tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya.
Wina tidak menjawab atau bertanya lagi, dia hanya mendengus kesal.
Beberapa saat kemudian ...
"Bersiaplah! Ada 3 binatang buas level 4 segera muncul." Whana memberi peringatan.
Mendengar itu, semua segera mengeluarkan senjata mereka. Dan benar saja, 3 ekor beruang sedang berlari ke arah mereka dan langsung menyerang. Pertarungan antara 3 binatang buas dan 5 orang Tahap Transformasi berlangsung dengan sengit.
"Kak Diman, jangan menyerah! Kerahkan semua potensimu. Kamu akan mendapat hadiah setelah itu." Whana memberi semangat Diman melalui energi mental.
Mendengar suara di benaknya, Diman terkejut dan langsung menoleh ke arah Whana dan menganggukkan kepalanya.
Diman terpental dan menabrak sebongkah kayu dan memuntahkan seteguk darah. Ia bangkit dan kembali menyerang binatang buas di depannya sekuat tenaga. Diman menghindari beberapa serangan cakar dan berhasil menusukkan pedangnya ke dada beruang besar itu. Hampir pada saat yang bersamaan, dua binatang buas yang lainnya juga berhasil terbunuh oleh Mori dan yang lainnya.
Merasakan dorongan energi di tubuhnya, Diman segera duduk bersila dan mengambil nafas. Whana yang melihat ini langsung turun dari pohon.
"Lindungi Kak Diman, dia akan menerobos." ucap Whana kepada yang lain.
"Menerobos?" Mori terkejut mendengar ucapan Whana.
Namun, baru saja mereka hendak bergerak, 8 orang muncul sekitar 100 meter di depan mereka.
"Serahkan binatang buas itu maka kami akan membiarkan kalian pulang dengan selamat." ucap salah satu orang di antara mereka.
"Kenapa kami harus menyerahkannya kepada kalian? Apa kalian tidak memiliki kemampuan berburu?" Wina menjawab dengan ekspresi jijik di wajahnya.
"Hei, hei. Gadis udik, lidahmu cukup tajam. Apakah hutan ini akan menyenangkan jika kamu menemaniku untuk semalam?" seorang lagi maju selangkah dan berkata.
'Penyempurnaan Qi tingkat rendah? Poin Pengalaman.' Whana berkata di dalam hati.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian tidak mengganggu kami, silahkan pergi!" ucap Whana dengan dingin.
Hahaha
8 orang itu tertawa terbahak - bahak.
"Apa yang akan kamu lakukan jika kami tetap ingin mengganggu?" orang yang maju selangkah sebelumnya bertanya dengan senyum mengejek.
Cling
Dalam sekejap, Whana langsung muncul di belakang mereka dan memukul punggung 3 di antaranya.
Bam, bam, bam
Aaarrrggghhh, Aaarrrggghhh, Aaarrrggghhh
Suara pukulan, patah tulang dan suara teriakan segera bergema di tepi jurang. 3 orang terbang terbalik dan menghantam pohon di sekitar.
5 orang lainnya terkejut karena sama sekali tidak menyangka bahwa lawan akan menyerang secara langsung dan sangat mematikan. Dalam keadaan linglung 4 orang lagi menjerit kesakitan dan di terbangkan ke atas. Namun sepersekian detik, Whana telah muncul di atas mereka memukul mereka secara bergantian. Tidak ada kesempatan menjerit atau menangkis apalagi membalas. Mereka langsung di luncurkan ke bawah seperti roket.
Bum, bum, bum, bum
Suara letupan terdengar dan tanah bergetar yang kemudian terlihat 4 lubang berbentuk manusia tercipta di tanah.
Melihat semua temannya tewas, orang yang tersisa ketakutan. Namun sebelum mengucapkan apa pun, Whana langsung melempar bilah energi mental dan memotong lehernya.
Celepuk
Suara kepala jatuh ke tanah.
4 saudara sepupunya tercengang melihat pembantaian sepihak yang di lakukan adiknya. Bukan hanya cepat namun juga kejam dan tidak mengenal ampun.
"Adik, kamu keren." Wina segera berlari ke arah Whana dan memeluk lengan Whana.
"Luar biasa. Pertarungan yang luar biasa. Bukan, bukan, ini pembantaian." gumam Noya yang suaranya masih bisa di dengar semua orang.
"Ayo, lindungi Kak Diman. Aku akan memanen para bajingang itu." Whana mengalihkan keterkejutan mereka kepada terobosan Diman.
Whana memeriksa cincin penyimpanan dari kawanan orang yang hendak merampas buruannya.
'Cukup kaya dan sepertinya bukan dari Ragane.' gumam Whana dalam benaknya.
__ADS_1
"Adik, bagaimana kamu bisa bergerak secepat itu?" Noya bertanya dengan penasaran.