Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 37


__ADS_3

"Ini adalah kunci sekaligus peta ruang hartaku. Semua harta adalah harta rampasan perang dan entah berapa kali aku telah berperang. Bawa ini sebagai jaminan bahwa aku tidak akan membohongimu," selesai mengatakan itu, si lelaki tua melemparkan kunci berbentuk bintang kepada Whana.



\[Ding! Benda ini mengandung tanda jiwa pemilik, Tuan. Seberapa pun jauhnya, pemilik dapat mengetahui lokasi benda ini. Tanpa jiwa dapat di hapus atau dengan membunuh pemilik.\]



Mendengar notifikasi system, Whana tertawa di dalam hati.



"Ini penawarmu! Sebelum meminumnya, tarik nafas dalam dan panjang. Ulangi sebanyak dua puluh satu kali," sambil masih memandangi kunci berbentuk bintang, Whana melemparkan botol giok yang berisi sebutir pil.



Di dalam hati, Whana sudah tertawa terbahak - bahak ketika meminta lelaki tua itu untuk menarik nafas panjang sebanyak dua puluh satu kali. Tidak ada aturan yang menyebutkan bahwa seseorang harus melakukan itu hanya untuk meminum sebutir pil penawar atau pil jenis lainnya.



"Aku juga butuh penawar! Ini kunci ruang hartaku dan petanya," kata seorang Jendral yang juga memohon obat penawar.



Mendengar penawaran yang menggiurkan dari sang Jendral, Whana berpura - pura mengerutkan kening dan berkata dengan sedikit heran. "Apakah ruang harta kalian berpindah - pindah? Kenapa harus dipetakan?"



"Ini untuk generasi kami, jika kami tidak sempat memberi tahu lokasi tepatnya," Jawab sang Jendral dengan jujur. Bagaimana tidak jujur, kematian sedang di depan mata.



"Baiklah, sini kunci dan petanya!" pinta Whana pura - pura tidak peduli dengan harta.


Setelah menerima barang jaminan, Whana memberikan botol giok yang sama seperti sebelumnya.


"Lakukan hal yang sama seperti yang aku katakan padanya," ucap Whana sambil menunjuk ke arah lelaki tua yang masih menarik nafas panjang berulang kali.



Seolah tanpa peduli lagi, Whana berjalan ke arah mayat yang berserakan dan melucuti semua hal yang berharga dari tubuh mereka.



'Panen besar coy ...,' Whana bersorak di dalam hati. Kemudian dia berjalan menuju empat orang yang msh berguling di tanah. Tampak keempat orang itu masih mengerang menahan sakit yang luar biasa di dalam tubuh dan tulang mereka.



Tanpa banyak bicara, Whana langsung memenggal keempatnya dan melucuti tubuh mereka dari harta benda.


__ADS_1


"Kau kurang ajar! Pil macam apa yang kau berikan padaku?" sambil memegang dadanya, lelaki tua itu berteriak dan menunjuk ke arah Whana dengan satu tangan.



"Hahaha ... Jujur, aku tidak suka penghianat. Yang paling aku sukai adalah berbohong," ucap Whana dengan tersenyum, lalu bersiul santai seolah sedang menikmati udara malam yang menyegarkan.



Hanya selisih beberapa detik dengan lelaki tua itu, san Jendral berteriak dengan ucapan dan kutukan yang sama.



Mereka merasakan ada ribuan jarum yang menusuk di jantungnya. Meridian mereka retak dan yang paling megerikan adalah buah \*\*\*\*\* mereka serasa seperti di pencet dengan keras.


Kedua orang itu lalu memuntahkan darah dan tewas seketika.


\[Ding! Selamat Tuan. Berhasil membunuh kultivator Tahap Kaisar Alam tingkat Keempat, Poin Pengalaman ....\]



\[Ding! Selamat Tuan. Berhasil membunuh kultivator Tahap Kaisar Alam tingkat Kedua, Poin Pengalaman ....\]



Sekali lagi Whana melucuti kedua orang itu dengan bersih. Kemudian ia memasukkan kedua mayat itu ke dalam tas ruang. Sedangkan mayat yang lain dimusnahkannya menjadi abu.




\[Ding! Selamat Tuan. Tehnik Teleportasi telah naik level. Level saat ini adalah 1/10 : dapat menjangkau jarak tempuh satu kilo meter. Syarat ketentuan berlaku.\]



Sambil terbang ke arah jurang, Whana berkata di dalam hati dengan senyum lucu. 'System ini ... Kenapa mirip provider kartu seluler di Bumi?' mengabaikan pikiran konyolnya, ia tersenyum bahagia dengan terobosan tehniknya. 'Ah, sekarang aku bisa teleportasi 1,6 kilo meter.'



Sesaat kemudian, empat orang yang mengejar Whana dan Wandira sebelumnya ke arah kedalaman hutan, telah kembali ke tempat pertempuran. Mereka berempat tampak seperti orang gila yang kacau. Pakaian hitam yang mereka kenakan compang - camping, rambut mereka berantakan dan banyak terdapat bekas luka di sekujur tubuh mereka. Sungguh sangat menyedihkan.



Jika Whana ada disini dan melihat keadaan mereka berempat, dijamin Whana akan tertawa terbahak - bahak. Jelas mereka telah bertarung dengan Monster Gorila Hijau atau bahkan Monster yang lebih kuat.



"Kenapa tidak ada siapa pun di sini?" tanya seorang pria berkepala botak yang tampaknya adalah yang terkuat dari keempatnya. Masih ada bekas cakaran di kepalanya dengan darah yang belum mengering.



"Jika melihat medan pertempuran sudah bersih seperti ini, dipastikan mereka telah menangkap Iyon dan yang lainnya," sahut pria lainnya yang keadaannya tidak kalah mengenaskan dari pria berkepala botak. Ada dua benjolan besar di dekat dahinya seperti sebuah tanduk. Sudah dapat dipastikan benjolan itu akibat benturan benda tumpul.

__ADS_1



"Oya, kita kembali sekarang! Sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan di daratan yang mengerikan ini," Perintah pria berkepala botak dengan nada trauma atas apa yang dialaminya.



\*\*\*



Sementara itu, di dalam ruang pohon....



"Sungguh harta karun dewa. Luka dalamku sembuh total," seru lelaki tua yang namanya dikenal dengan Bagata.


"Tetua, benar! Selain sembuh total, vitalitas kehidupan di dalam tubuhku meningkat drastis. Bahkan selangkah lagi menuju Tahap Penyempurnaan Roh," gadis cantik yang bernama Wandira juga mengamini apa yang dikatakan tetua Bagata.


"Jangankan luka, aku yang sedang sekarat menunggu ajal menjemput dapat terselamatkan. Aku berhutang nyawa pada pemuda ini," Iyon juga menambahkan ucapan kedua orang didekatnya yang merasakan manfaat dari air kehidupan yang diberikan oleh Whana.



"Hmm ... Tidak kusangka luka dalamku yang sudah aku idap hampir seratus lima puluh tahun sembuh di tangan pemuda ini. Andai cicit perempuan keluargaku sudah dewasa, aku ingin ada hubungan darah dengan pemuda ini," dengan mengucapkan kalimat terakhir, tetua Bagata melirik ke arah Wandira.



Tampak Wandira terlihat sedikit kesal dengan ucapan tetua Bagata dan dia hanya mendengus kecil.



Perilaku ini tentu tidak luput dari pandangan kedua pria kuat di sebelahnya dan mereka langsung tertawa terbahak - bahak.



"Ruangan ini sangat unik, dan ... Apa itu? Itu, itu Api Chaos!" seru tetua Bagata dengan takjub dan terkagum - kagum.



Iyon dan Wandira juga melihat ke arah tatapan tetua Bagata yang membuatnya berseru takjub.



Iyon langsung ternganga, tampak rahangnya terjatuh dan mulutnya terbuka lebar melihat sumber cahaya yang selama ini menerangi mereka di ruangan ini tanpa mereka sadari.



Hanya Wandira yang tidak mengerti dan dia merasa heran dengan dua pria di depannya. Bagi wandira, ini adalah pertama kalinya Wandira melihat ekspresi mereka berdua seolah bertemu hantu.



"Cahaya itu dikeluarkan pemuda itu ketika membawaku kesini. Memangnya ada apa dengan cahaya itu?" tanya Wandira dengan bingung.

__ADS_1


__ADS_2