
"Benar - benar jenius. Dengan tingkat energi alam yang tipis di daratan Liba dan sedikitnya sumber daya di Kota ini, rasanya sangat sulit untuk percaya," Wanita dewasa yang sedari awal diam di sebelah Wandira ikut angkat bicara.
"Jendral, bocah ini dapat mengetahui tingkat kultivasiku dan Iyon ketika menyelamatkan kami dari pengepungan. Itu yang membuatku heran sekaligus bingung. Tapi bocah ini juga menjawab dengan santai. Katanya ia tahu kultivasiku karena napasku," ujar tetua Bagata kemudian.
Jendral Banyu dan Wanita dewasa itu tertegun lama, tidak tahu harus berkomentar apa. Mereka tidak memiliki penjelasan apa pun untuk menanggapi apa yang disampaikan tetua Bagata barusan.
\*\*\*
Hassyim! Hassyim! Hassyim!
'Siapa yang membicarakanku?' gumam Whana di dalam hati ketika mengalami bersin beberapa kali.
Di dalam kamarnya Whana duduk bersandar di tempat tidur dan mengeluarkan buah jiwa.
'Rasanya manis,' pikir Whana di benak dan terus mengunyah buah jiwa sampai tak tersisa.
[Ding! Selamat Tuan. Energi Mental bertambah 1 poin.]
"System, berapa lama untuk upgrate ke versi 2?" tanya Whana.
\[Ding! Tujuh hari, Tuan. Dan selama proses upgrate, maka system akan dinonaktifkan. Hanya ruang penyimpanan system yang berjalan seperti biasa.\]
Whana berfikir sejenak melihat ke panel system, di mana sembilan puluh persen iconnya masih berwarna abu - abu.
Melihat panelnya, Whana menghela napas, lalu memberi intruksi kepada system di dalam pikirannya. 'System, tukarkan lima ratus ribu Batu Roh!'
\[Ding! Selamat Tuan. Penukaran berhasil. Poin System saat ini : 500.080 Pts.\]
Dengan pikirannya, Whana menekan tombol (\+) pada panel Tubuh Naga Kuno beberapa kali hingga tombol itu berubah dari warna hijau menjadi warna merah.
\[Ding! Selamat Tuan. Tubuh Naga Kuno mencapai 85/30.000. Poin System yang tersisa saat ini adalah 700 Pts.\]
Melihat kecilnya peningkatan, Whana menukar sepuluh ribu Batu Roh tingkat Tinggi menjadi Poin System, dengan harapan mendapat nilai Poin System yang lebih besar.
__ADS_1
\[Ding! Selamat Tuan. Penukaran berhasil. Poin System bertambah menjadi 10.000.000 Pts dan Poin System saat ini adalah 10.000.700 Pts.\]
Whana kembali menambah level Tubuh Naga Kuno hingga 50 level dan sisa Poin Systemnya masih pada kisaran empat juta Poin System.
'Semakin tinggi levelnya semakin mahal,' desah Whana tidak berdaya.
'System, berapa Poin System untuk meningkatkan ruang penyimpanan menjadi seribu meter kubik?' tanya Whana di dalam pikirannya.
\[Ding! 2.500.000 Pts.\]
'Ah, uang masih banyak. Tingkatkan ke seribu meter kubik!' pinta Whana kemudian.
\[Ding! Peningkatan ruang penyimpanan menjadi seribu meter kubik berhasil. Poin System dikurangi 2.500.000 Pts. Poin System saat ini adalah 1.500.000 Pts.\]
'System, serap Pohon Jiwa!' seru Whana selanjutnya.
\[Ding! Proses penyerapan akan dilakukan dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam dimulai. 1%.....\]
KEDIAMAN TUAN KOTA RAGANE
Dayu dan seorang Jendral yang bersamanya tiba di kediaman Tuan Kota. Tuan Kota hendak berlutut namun dilarang oleh Dayu karena dapat membocorkan identitasnya dan tentu saja akan membahayakan keselamatan maupun misi yang sedang dijalani oleh Dayu dan kelompoknya.
"Tuan Putri, kenapa tidak memberitahu kami sehingga kami sehingga kami dapat menyambut kedatangan Tuan Putri?" tanya Tuan Kota dengan hormat.
"Tidak apa - apa. Aku sedang menyelidiki sesuatu dan kebetulan mampir ke kotamu. Oya, jangan sampai penduduk kota tahu tentangku!" Dayu segera memberi intruksi untuk merahasiakan identitasnya.
"Baik, Tuan Putri," Tuan Kota menjawab dengan hormat.
"Di dalam ruang aula ada sahabat kecil Tuan Putri bersama beberapa orang, apakah Tuan Putri ingin bertemu dengannya?" Tuan Kota segera menyampaikan kehadiran Wandira yang merupakan sahabat karib Dayu di masa kecil.
"Oya? Siapa?" tanya Dayu seolah - olah dia tidak tahu menahu bahwa ada kehadiran orang penting di kediaman Tuan Kota.
__ADS_1
"Putri Kerajaan Hipajama dari daratan Waja Timur," jawab Tuan Kota dengan hormat.
Dayu dan sang Jendral yang bersamanya bergegas menuju ruang aula dan melihat lima orang sedang berbicara serius.
"Hei ... Dira. Kenapa kau tidak mengunjungiku?" tanya Dayu yang mengagetkan Wandira dan kelompoknya. Seketika Wandira dan kelompoknya menoleh ke arah sumber suara.
"Dayu? Kenapa kamu disini?" melihat Dayu, Wandira langsung berdiri dan melangkah menuju Dayu. Kedua sahabat kecil itu saling berpelukan.
"Harusnya aku yang bertanya padamu," balas Dayu dengan senyum hangat.
Jendral Banyu dan yang lain juga langsung berdiri, membungkuk sebagai bentuk penghormatan.
Mengapa tidak berlutut seperti halnya Tuan Kota? Hal ini karena berbeda kerajaan. Di dunia kultivator, kerajaan adalah sebuah negara yang memiliki cakupan wilayah tertentu. Berlutut adalah cara penghormatan pejabat yang lebih rendah kepada pejabat yang lebih tinggi dalam satu kerajaan.
Sedangkan antar kerajaan, maka sikap penghormatan adalah dengan membungkukkan badan selayaknya sapaan kepada sesama. Dalam hal status dari setiap kerajaan, Keluarga Raja adalah yang memiliki status tertinggi.
"Jendral Banyu dan Nyonya perisa, lama tidak bertemu," sapa Jendral yang bersama Dayu kepada dua orang pejabat tinggi Kerajaan Hipajama.
"Jendral Pon, mari kita duduk!" sambut Jendral Banyu mempersilahkan untuk bergabung di meja aula tamu.
"Tuan Putri kami sedang menghadapi masalah dan posisi terdekat adalah kota ini. Jadi kami datang untuk menjemputnya," sebelum pihak Dayu mengajukan pertanyaan, Jendral Banyu segera menjelaskan kehadirannya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Masalah? Ada masalah apa, Dira? Kenapa tidak pergi ke Istana untuk mencariku atau ayahku?" Dayu terkejut bahwa seorang sahabatnya yang juga seorang Putri dari kerajaan lain sedang menghadapi masalah di wilayah kerajaannya.
"Bukannya aku tidak mau mencarimu, tapi situasinya di luar kendali dan tidak terduga," sahut Wandira menanggapi pertanyaan Dayu.
Wandira kemudian menjelaskan duduk persoalan yang dihadapinya selama satu minggu terakhir. Ia dikejar dan dihadang kemana pun dia pergi, seolah seperti seorang buronan kelas kakap. Sampai pada cerita ketika dia dan kelompoknya diselamatkan oleh Whana.
Mendengar nama Whana dan juga sebagai penyelamat sahabatnya, baik Dayu dan Jendral Pon saling memandang. Mereka merasa tidak percaya bahwa seorang Whana yang kultivasinya cukup rendah bisa menyelamatkan orang lain yang kultivasinya jauh lebih tinggi. Apalagi menyelamatkan dari kepungan yang didominasi Tahap Prajurit Alam hingga Kaisar Alam adalah mustahil bagi siapa pun yang mendengarnya.
Karena alasan inilah Dayu menanyakan ciri - ciri pemuda yang bernama Whana untuk memastikan bahwa nama itu berasal dari orang yang sama atau berbeda.
Tapi, begitu mendengar bahwa pemuda itu bermarga Rahngu dari kota Ragane, otak Dayu dan Jendral Pon seolah berhenti bekerja. Mereka tertegun cukup lama dan diam seribu bahasa.
__ADS_1
"Hei, kenapa kamu begitu bersemangat setelah mendengar nama Whana? Apakah kamu mengenalnya?" Wandira berkata curiga dengan sikap aneh yang ditunjukkan Dayu.