
Mendengar teriakan Mila, sontak anak - anak lainnya keluar rumah. Melihat Whana dan yang lainnya, anak - anak itu berlari ke arah Whana dan bersorak dengan gembira.
"Sebelum kalian bertanya macam - macam, ayo kita makan dulu! Kakak membawa banyak makanan," ucap Whana kepada anak - anak yang mengerumuninya.
Mereka semua bergerak ke ruang makan dengan meja panjang.
"Tuan Muda, Anda datang," sapa Wiji, seorang pria paruh baya yang merawat anak - anak terlantar ini.
"Lama tidak bertemu, Paman," sahut Whana dengan tersenyum.
"Siapa gadis cantik ini?" tanya istri Paman Wiji kepada Whana.
"Ini adikku Bibi. Dia sangat cerewet," bisik Whana kepada Bibi Wiji.
"Kakak! Apa yang kamu bicarakan? Bibi sendiri bilang aku cantik. Mana mungkin gadis cantik cerewet!" Dira protes dengan pertanyaan Whana dan menggembungkan pipinya.
"Hahaha ...," suami istri itu tertawa melihat tingkah Dira yang lucu.
"Paman, Bibi, berikan makanan ini kepada adik - adikku disana! Jangan biarkan mereka menunggu!" kata Whana sambil menyerahkan bungkusan makanan.
"Kakak, biarkan aku membantu membagikan makanannya," pinta Dira dengan semangat.
Whana dan paman - bibi Wiji bergegas masuk ke ruang tamu.
"Paman, bibi. Maaf akhir - akhir ini banyak kesibukan. Jadi belum sempat berkunjung. Bagaimana keadaan adik - adikku selama ini?" ucap dan tanya Whana membuka pembicaraan.
"Anak - anak baik-baik saja. Hanya saja beberapa bulan ini kami agak kesulitan memenuhi kebutuhan karena dermawan kami telah pindah ke Ibu Kota Kerajaan," desah paman Wiji, terdapat kesedihan dalam nada suaranya.
"Selain itu, kami hanya memiliki waktu satu tahun tinggal dirumah ini. Setelah itu kami harus pindah jika kami tidak bisa membayar sewanya," imbuh Bibi Wiji menimpali.
"Penghasilan kami berlima tidak mencukupi, Tuan Muda." Paman Wiji berkata sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Whana tersenyum mendengarnya, kemudian ia mengeluarkan sekantong koin emas dan menyerahkannya kepada Paman Wiji. "Paman, mungkin ini bisa membantu adik - adikku untuk sementara. Selanjutnya aku akan mencari solusi terbaik untuk adik - adikku dan Paman sekeluarga."
Melihat tumpukan koin emas yang belum pernah dilihatnya, kedua orang paruh baya itu gemetar dan tanpa sadar berkata secara bersamaan. "Ini terlalu banyak, Tuan Muda."
"Sewa rumah ini hanya tiga ratus koin emas setahun, tapi ini ...," lanjut Paman Wiji yang masih terkejut menerima ribuan koin emas di tangannya.
"Ini tidak seberapa dibandingkan Paman sekeluarga yang rela merawat anak - anak ini. Terimalah! Berikan beberapa pakaian untuk mereka dan ajari mereka berkultivasi bagi yang usianya sudah cukup. Kemudian, untuk sewa rumah ini cukup bayar untuk dua tahun kedepan," kata Whana dengan santai.
"Tuan Muda, ini sangat banyak, sepuluh ribu koin emas. Jangankan bermimpi, membayangkannya pun kami tidak pernah," jawab Paman Wiji yang merasa tidak enak dan membuat jantungnya berdebar.
"Hahaha ... Paman dan Bibi memang tidak boleh memimpikannya atau pun membayangkannya, tapi langsung mendapatkannya," kata Whana dengan tertawa hangat melihat raut wajah mereka.
Mata kedua orang paruh baya itu segera memerah terutama Bibi Wiji yang tanpa sadar sudah meneteskan airmata karena haru dengan tindakan Whana. Seorang pemuda belia bertindak bagaikan dewa di mata mereka.
Mereka hendak berdiri, namun dihentikan oleh Whana. Whana tau mereka akan berlutut, jadi dengan cepat Whana memegang tangan keduanya dan berkata sambil tersenyum. "Kalian berdua dilarang berlutut di depan siapa pun. Karena apa yang kalian lakukan tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Bahkan oleh orang yang kuat."
"Kakak, apa Kakak punya koin perak? Aku membutuhkannya." Tiba - tiba Dira muncul dari balik pintu di belakang ruang tamu.
"Cepatlah! Aku membutuhkannya, empat puluh koin perak," pinta Dira sambil mengadahkan tangan kecilnya.
Untuk menghidari adiknya mengomel lebih banyak, segera Whana memberikan apa yang diminta adiknya.
"Terima kasih Kakakku yang tampan sedunia." Dira langsung berlari ke ruang makan kembali.
Karena penasaran apa yang akan dilakukan adinya, Whana dan kedua orang paruh baya itu bergegas mengikuti, namun tidak langsung masuk ke ruang makan. Mereka berdiri di pintu yang tertutup kain khorden.
Ketika mereka melihat apa yang dilakukan Dira, Whana saling memandang dengan Paman - Bibi Wiji dan langsung tertawa terbahak - bahak. Meskipun sedikit konyol, Whana bahagia dengan adiknya yang peduli dengan anak - anak di Rumah Asuh ini.
\*
"Nah, karena aku adalah adik dari Kakak Whana, maka kalian harus memanggilku Kakak Senior. Sebagai Kakak Senior yang baik dan cantik, aku akan memberi kalian hadiah. Tiap orang akan mendapat dua koin perak," ucap Dira dengan tangan di belakang punggung seolah ia adalah master dari anak - anak itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Kakak Senior," kata anak - anak itu dengan serempak dan gembira karena akan mendapatkan koin perak.
Beberapa saat berbincang dan bermain bersama anak - anak Whana dan Dira meninggalkan Rumah Asuh.
Melihat Whana dan seorang gadis kecil keluar dari Rumah Asuh dan pergi, dua orang dari kejauhan mendekat ke Rumah Asuh itu.
"Hallo Adik - adik ... Selamat sore Paman, apakah ini Rumah Asuh?" sapa seorang gadis muda berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun dan seorang lelaki tua menyapa Paman Wiji dan kelompoknya.
"Benar Nona Muda, apakah Nona dan Tetua ada keperluan?" sambut paman Wiji dengan ramah.
"Oh, tidak. Kami hanya ingin berbagi untuk adik - adik kecil ini, jawab gadis muda itu mengeluarkan seratus koin emas dan menyerahkannya kepada paman Wiji.
"Terim kasih, Nona Muda. Terima kasih, Tetua atas kebaikan hati Anda berdua," ucap paman Wiji dengan penuh syukur.
"Oh, iya. Jika boleh tahu, siapa pemuda dan gadis kecil barusan?" tanya gadis muda menunjuk arah Whana yang telah meninggalkan Rumah Asuh.
Mendengar pertanyaan gadis itu, paman Wiji segera tahu siapa yang dimaksudkan. "Pemuda itu Tuan Muda Whana dari keluarga Rahngu dan gadis kecil itu adalah adiknya."
"Kakak Whana adalah orang yang baik, jika aku besar nanti, aku ingin menjadi istrinya," sela mila, anak perempuan berusia lima atau enam tahun.
Semua orang tertawa ringan mendengar apa yang diucapkan mila.
"Maafkan kelancangan anak kami, Nona Muda. Dia masih kecil dan belum mengerti," ucap paman Wiji dengan ekspresi menyesal.
"Tidak apa - apa, Paman," sahut gadis muda itu dengan ramah.
"Siapa namamu, gadis kecil?" tanya hangat gadis muda itu berjongkok dan memegang tangan Mila.
"Kakak cantik, namaku mila. Apakah kau menyukai Kakak Whana?" jawab dan tanya mila dengan wajah polosnya.
Gadis muda itu hanya tersenyum dan berkata. "Anak yang baik. Kakak punya sesuatu untukmu. Pakailah! Itu akan menjagamu." mengatakan itu, si gadis muda mengeluarkan sebuah gelang giok indah berwarna kehijauan dan menyerahkannya kepada Mila.
"Kakak cantik, ini untukku? Indah sekali. Kalau begitu, Kakak boleh menyukai Kakak Whana." Dengan senyum bahagia Mila menerima gelang giok pemberian gadis muda itu.
__ADS_1