
"Kalian bajingan! Sudah berbulan - bulan kalian memeras kami dan sekarang kalian ingin meminta lebih," seorang pria paruh baya berteriak dan langsung menyerang dengan kayu yang dia ambil di sebelahnya.
Jleb, jleb
Salah seorang anak buah pria botak itu langsung menusukkan pedangnya, tepat di dada pria paruh baya yang hendak menyerang. Pria paruh baya itu jatuh tersungkur bersimbah darah tewas seketika.
Melihat rekannya tewas, seorang pria paruh baya lainnya langsung mengayunkan tinjunya ke arah orang yang menusukkan pedang. Namun naas, yang dia lawan adalah seorang kultivator, bukan orang biasa seperti dirinya. Pedang panjang dari bawahan pria berkepala botak itu menebas ke belakang dan memenggal kepala pria paruh baya yang sedang melayangkan pukulan.
Istri dari dua orang pria paruh baya itu berteriak histeris dan menangis melihat suaminya tewas mengenaskan di depan matanya.
Mata Rimo langsung memerah yang tanpa sadar telah meneteskan air mata, namun ia tidak memiliki tenaga sedikit pun untuk melawan.
Tiba - tiba ....
Celepuk
Sebuah kepala terjatuh dan menggelinding di tanah. Lima belas orang lainnya yang masih berdiri di kerumunan terkejut. Pandangan mereka tertuju pada kepala yang masih belum berhenti menggelinding.
Buk
Tubuh pria berkepala botak yang menginjakkan kakinya di dada Rimo jatuh ke tanah. Sontak para kawanan bandit tersadar dan langsung bersiaga dengan menghunus pedang.
"Siapa? Cepat tunjukkan dirimu!" pekik seorang bandit seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Dari sudut jalan setapak, muncul seorang pemuda belia berkulit sawo matang yang cenderung kuning langsat, berpakaian putih dengan rambut panjangnya yang diikat rapi di bagian belakang kepalanya.
Pemuda itu melangkahkan kakinya perlahan ke arah kerumunan bandit dengan tangan di belakang punggung. Di belakangnya, seorang pemuda yang lebih dewasa mengikutinya dengan mantab. Ya! Kedua pemuda itu adalah Whana dan Mori yang mengikuti di belakangnya.
"Siapa kalian? Berani sekali kalian ikut campur dengan kelompok macan kumbang," teriak marah seorang bandit yang sepertinya adalah pimpinan dari kelompok itu.
"Aku? Aku bukan bandit," sahut Whana tersenyum dingin.
__ADS_1
Cling
Whana langsung menghilang dan di detik berikutnya, muncul di belakang kerumunan bandit.
Celepuk, celepuk, celepuk
Tiga kepala bandit jatuh ke tanah, terlepas dari tubuhnya.
Tidak berhenti di situ, Whana menghilang lagi, dan muncul di belakang bandit yang lainnya, meninju punggung para bandit tanpa menahan sedikit pun kekuatan, tepat mengenai tulang belakang.
Aarrgghh ... Aarrgghh ... Aarrgghh ...
Buk, buk, buk ....
Empat orang bandit di kirim terbang terbalik ke segala arah. Ada yang menabrak pohon, menghantam batu bahkan terlempar pada rumah yang ada di tempat itu.
Mori yang melihat ini juga tidak tinggal diam, dia segera bereaksi, mengeluarkan pedangnya dari cincin penyimpanan dan menebas ke arah para bandit yang tersisa. Meskipun serangannya tergolong berhasil, namun hanya menyebabkan luka.
Melihat Mori juga ikut menyerang, Whana tersenyum puas. Ia memang berharap bahwa keluarga Rahngu tidak hanya kuat dalam kultivasi tetapi juga memiliki daya tempur yang mematikan.
Whana bergerak dengan cepat seolah berkedip - kedip yang menghilang dan muncul kembali. Setiap kemunculannya, akan ada bandit yang di terbangkan ke berbagai arah dengan teriakan yang menyedihkan.
Lima atau enam menit kemudian, hanya tersisa satu bandit yang masih hidup dan sedang bertarung melawan Mori.
Whana sengaja tidak membantu Mori dan berjalan ke arah Rimo untuk memberikan Pil Pemulihan.
"Terima kasih, Tuan Muda," sebelum Rimo dapat mengucapkan sesuatu, bocah lelaki sekitar dua belas tahun telah bersujud di depan Whana.
Whana langsung mengangkat bahu bocah itu dan berkata dengan senyum hangat. "Dilarang berlutut di depanku apalagi bersujud!"
"Paman Rimo, pulihkan kondisimu dan bantu yang lainnya! Aku akan membereskan mayat - mayat mereka," pinta Whana kemudian.
"Baik, Tuan Muda," jawab Rimo dan segera menelan Pil Pemulihan pemberian Whana.
__ADS_1
Bersamaan dengan ucapan Rimo, Mori juga telah membunuh bandit yang menjadi lawannya. Mori langsung jatuh terduduk di tanah, napasnya terengah - engah. Namun begitu dia menoleh ke kanan, ia melihat mayat para bandit berserakan di tanah.
"Adik, kamu membunuh semuanya?" tanya Mori dengan terkejut.
"Jika tidak dibasmi lalu untuk apa? Dipelihara?!" jawab Whana yang masih tersenyum santai.
Mori tidak lagi bertanya atau mengatakan apa pun lagi. Dia benar - benar kagum dengan adik sepupunya yang bisa membunuh kawanan bandit begitu banyak tanpa menunjukkan kelelahan sama sekali.
'Andai itu aku, sudah dipastikan aku akan mampus,' gumam Mori di dalam hati.
"Ayo! Kumpulkan mayat para bajingan ini!" seru Whana kepada Mori dan bocah laki - laki di dekatnya.
Whana melucuti tas ruang para bandit dan ada satu bandit yang menggunakan cincin penyimpanan. Setelah memusnahkan mayat para bandit menjadi abu, Whana berbalik ke arah Rimo dan yang lainnya.
"Tuan Muda. Kami sudah tidak memiliki siapa pun. Bawalah kami bersamamu untuk menjadi pelayanmu," tangis seorang wanita paruh baya yang sudah berlutut di sebelah mayat suaminya.
Whana tersenyum dan mendekati dua wanita paruh baya yang sedang berlutut di depannya. Ia berjongkok di depan keduanya, lalu berkata dengan ramah. "Aku memang berniat untuk membawa Anda berdua, bibi. Tapi mulai hari ini aku punya dua syarat. Pertama, dilarang berlutut atau bersujud di depanku. Kedua, jika bibi berdua membutuhkan sesuatu, bibi harus memberi tahuku. Bagaimana? Apakah bibi bersedia dengan persyaratanku?"
'Ini bukan persyaratan, tapi hadiah. Adikku ini membuatku semakin malu. Meskipun usianya jauh lebih muda dariku tapi langkahnya patut aku tiru,' pikir Mori yang saat ini sedang memandangi kedua wanita paruh baya di dekatnya.
"Terima kasih, Tuan Muda. Saya akan mengikuti perintah Tuan Muda," kedua wanita paruh baya itu menangis dengan penuh terima kasih.
"Paman Rimo, mulai sekarang keluargamu tinggal di tempatku bersama kedua Bibi ini. Tidak perlu menolak!" Whana berkata kepada Rimo dan tidak memberinya kesempatan untuk menjawab.
\*\*\*
-----PENGINAPAN MAKMUR-----
"Guru, bagaimana? Apakah ada sesuatu?" Melihat Jendral Pon yang baru saja tiba, Dayu langsung mengajukan pertanyaan.
"Bocah ini semakin membuatku kagum dan penasaran. Apakah kamu ingat kultivasinya terakhir kali?" ucap Jendral Pon yang baru saja memasuki pintu kamar penginapan.
"Tingkat Keempat Tahap Transformasi," jawab Dayu cepat.
"Sekarang sudah tingkat Kedua Penyempurnaan Qi. Mungkin kamu akan melihatnya pada tingkat Keenam Tahap Transformasi," sahut Jendral Pon.
__ADS_1
"Apa? Bukankan ini baru saja sebulan yang lalu? Bagaimana bisa menerobos bertubi - tubi?" mata besar Dayu membelalak tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jendral Pon.