Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 59


__ADS_3

"Lagi pula, apakah kamu tahu harga pakaian itu? Lebih dari 4 ribu keping koin emas. Apakah keluargamu mampu membayarnya? Kamu dari keluarga Rahngu kan?" Uni melanjutkan kata - katanya dengan nada mengejek.



"Baiklah. Jika kamu ingin membelinya. Kamu bisa mendapatkannya." ucap Moni dengan dingin.



"Moni?" Wina yang berada di sebelah Moni menunjukkan protes atas keputusan Moni.



"Tidak apa - apa, masih ada pakaian lain. Mengalah saja." Jawab Moni sambil tersenyum.



"Mari ke meja kasir untuk pembayarannya, Nona Uni." Kali ini manager yang berkata.



"Oh, aku akan membayarnya tiga bulan lagi." Jawab Uni dengan pelan.



"Apakah kamu tidak punya uang? Apa kamu tau berapa harga pakaian itu? Lebih dari 4 ribu keping koin emas." Whana berkata dengan santai dan mengulangi perkataan wanita muda bernama Uni itu.



"Kamu?" Uni menunjuk Whana dengan kesal.



"Manager, apakah toko ini menerima hal seperti ini untuk setiap barang yang Anda pajang?" Whana menatap manager toko dengan serius.



"Maaf, Tuan Muda. Siapa saja dapat membeli barang di toko kami sepanjang mampu membayarnya." Jawab sang manager toko.



"Nona, anda mendengar sendiri kan? Jika kamu ingin memilikinya, maka segera lakukan pembayaran. Jika tidak maka Kakakku akan membayarnya. Cuma 4 ribu, tidak cukup berada di sela gigiku." Whana berkata dengan membusungkan dada dan menunjukkan kesombongan orang kaya.



Moni dan Wina yang melihat gaya Whana menunjukkan kesombongan orang kaya, tidak bisa menahan tawa dan segera menutup mulut mereka dengan tangan putihnya. Bagaimana mereka tidak merasa geli, pasalnya ini adalah pertama kalinya mereka melihat Whana bergaya sombong dan jelas terlihat kaku dan aneh.



"Tunggu aku, aku akan memanggil tunanganku untuk membayarnya hari ini." ucap Uni dengan ketus dan melangkah keluar.



"Jika 10 menit kamu belum datang, Kakakku akan membayar pakaian itu bahkan mungkin dengan etalase toko." Whana berkata tanpa menoleh.



Mendengar apa yang diucapkan Whana, manager toko tersenyum geli.



Tidak sampai lima menit, Uni datang kembali bersama seorang pria dewasa berusia sekitar 25 tahun.



"Siapa yang merebut pakaian yang disukai tunanganku?" teriak pemuda itu melangkah masuk ke dalam toko.



"Tuan Muda, harap tidak membuat gaduh di dalam toko kami." sang manager toko langsung memperingatkan pemuda yang berkata keras barusan.



"Oh, kamu tunangannya?" Whana melangkah maju sambil menunjuk ke arah wanita di samping pemuda itu.

__ADS_1



"Kakakku akan membeli pakaian itu, tetapi tunanganmu menyukainya dan berharap kamu segera membayar pakaian yang diinginkannya. Tidak ada yang merebutnya dari tunanganmu." ucap Whana dengan santai dan menunjuk arah pakaian yang berada di meja kasir.



"Pelayan, berapa harganya? Segera bungkus untuk tunanganku!" seru pemuda itu dengan sombong.



"4.750 koin emas." pramuniaga menjawab dan belum beranjak dari tempatnya.



"Apa? 4 ribu lebih koin emas? Apakah kau bercanda?" pemuda itu berseru dan melotot mendengar harga yang diucapkan pramuniaga.



"Apakah kamu akan membelinya? Jika tidak, maka akau yang akan membelinya." kali ini Whana langsung berkata.



"Hah, tidak perlu omong kosong. Apa kamu punya kemampuan untuk membayarnya? Uni berkata ketus dan cemberut.



"Tuan Muda, semuanya 175 ribu koin emas." sang pramuniaga segera menyampaikan hasil perhitungannya.



Mata pemuda dan wanita itu langsung membelalak mendengar jumlah harga yang harus di bayar oleh Whana.



"Huh, coba kita lihat. Apa dia bisa membayarnya?" gumam pelan Uni yang masih kesal.



"Apakah, kartu ini masih berlaku?" Whana menunjukkan kartu pelanggan kepada manager toko.




Whana mengeluarkan setumpuk koin emas dan berkata, "Silahkan dihitung, dan sisanya untuk tips kalian."



"Terima kasih, Tuan Muda. Senang berbisnis dengan Anda." sang manager dan pramuniaga membungkuk sedikit ke arah Whana.



Whana dan kelompoknya langsung meninggalkan toko pakaian.



"Manager, siapa pemuda itu? Bukankah gadis yang disebut kakaknya itu dari keluarga Rahngu?" Tanya uni kepada manager dengan penasaran.



"Maaf, kami tidak tahu. Yang jelas, Tuan Muda itu sering berbelanja di toko kami. Sekali belanja minimal 10 ribu koin emas." Jawab sang manager tidak menjawab pertanyaan Uni tentang asal usul Whana.



"Beruntung sekali para gadis itu? Kamu kenapa tidak membelikanku pakaian itu?" ucap Uni kepada pemuda yang menjadi tunangannya.



"Itu lebih dari 4 ribu keping koin emas yang sama dengan uang jajanku selama lebih dari 4 tahun." sang pemuda berkata dengan keras dan langsung meninggalkan toko.



"Kakak, aku lapar." Dira yang memegang tangan Whana berkata dengan wajah memelas.

__ADS_1



"Itu ada restaurant." Moni berkata sambil menunjuk arah restaurant yang berada di ujung jalan.



Ketika Whana dan kelompoknya sampai di meja receptionist, mereka melihat lantai satu penuh sesak.



"Apakah tidak ada tempat lagi?" Whana bertanya kepada receptionist yang berjaga.



"Maaf, Tuan Muda. Lantai satu sudah penuh. Kami masih memiliki lantai dua dan tiga. Namun untuk dapat memasuki lantai dua, tiap orang dikenakan 50 koin perak dan 1 koin emas untuk lantai tiga." receptionist yang berparas cantik itu menjelaskan kepada Whana dengan ramah.



"Baiklah, aku memesan tempat di lantai dua untuk lima orang." ucap Whana sambil mengeluarkan tiga koin emas.



"Ini kembaliannya, Tuan Muda." wanita receptionist berkata.



"Untukmu saja." Jawab Whana dan langsung melangkah ke tangga lantai dua.



"Terima kasih, Tuan Muda." sang receptionist segera membungkuk dengan wajah sumringah.



Memasuki ruang di lantai dua, Whana melihat sudah ada dua meja yang terisi pengunjung. Whana dan kelompoknya mengambil meja yang berada di dekat jendela. Whana memperhatikan bahwa semua sedang sibuk melihat kertas menu untuk memesan makanan yang disukai. Hanya Lawi yang duduk diam tanpa melakukan apapun.



"Lawi, kenapa diam, ayo pilih makanan yang kamu inginkan!" Whana berkata pada lawi.



"Tuan Muda, eh, Kakak. Ini pertama kalinya aku makan di restaurant. Aku tidak tahu harus memesan apa." Jawab Lawi dengan wajah polosnya.



"Aku suka bakmi daging, apakah kau juga menyukainya?" Dira kemudian menawarkan makanan yang akan dipesannya.



Lawi menganggukkan kepalanya tanda setuju.



"Lawi, jangan sungkan untuk menyampaikan apa yang kamu inginkan. Aku adalah Kakakmu dan kamu sudah menjadi bagian dari keluargaku." ucap Whana sambil tersenyum menatap Lawi.



"Terima kasih, Kakak. Aku akan mengingatnya." Jawab Lawi dengan tulus.



'Terima kasih Dewa, sudah mempertemukan keluargaku dengan Tuan Muda.' Lawi berkata di dalam hatinya.


.............


----- KELUARGA RAHNGU -----



Patriak dan kedua saudara sepupunya yaitu panatua pertama dan panatua kedua sedang duduk di ruang aula.


__ADS_1


"Aku benar - benar tidak menyangka, bocah nakal itu akan merampok habis kebun obat keluarga Dege." ucap patriak dengan senyum ceria.


__ADS_2