
Kemudian, Whana mengeluarkan dua rumpun Rumput Awan Merah lagi dan berkata kepada Ibunya dan Rimo. "Ini masih ada dua, untuk Ibu satu dan untuk Paman Rimo satu." Lalu Whana mengeluarkan sekantong koin emas dari tas ruangnya senilai seribu koin emas dan menyerahkannya kepada Rimo. "Paman, ini untuk Paman dan keluarga, semoga bisa membantu kebutuhan Paman."
Rimo diam tercengang untuk beberapa saat. "Tuan Muda, saya tidak berani. Ini terlalu bany-... " belum selesai kalimat yang diucapkan Rimo, Whana menyela "Paman adalah keluargaku juga. Kebetulan aku mendapat hasil buruan bagus selama dua hari terakhir. Jadi, hasil yang kudapat pasti untuk keluargaku."
Rimo menoleh ke arah Wahyu, dan Wahyu mengangguk sambil tersenyum. Melihat respon ini, Rimo langsung berdiri dan hendak berlutut, namun ditahan oleh Whana.
"Paman, Anda adalah Pamanku yang selalu menemani Ayahku, Ibuku dan Adikku dalam kondisi apapun. Paman bukanlah orang lain bagiku. Status pelayan hanyalah sebuah status, tidak berarti paman harus berlutut kepada yang lebih muda sepertiku," ucap Whana dengan bijak.
Wahyu dan Ayudiah saling memandang. Mereka merasa bahwa putranya jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Bahkan dalam berucap sikapnya selalu tenang dan meyakinkan.
'Dia putraku, dia adalah putraku, Whana adalah putraku', gumam Ayudiah di dalam hatinya merasa bangga terhadap putranya. Tanpa disadari, apa yang difikirkan Ayudiah ternyata juga sama difikirkan oleh Wahyu Rahngu.
"Terima kasih, Tuan Muda," sahut Rimo dengan anggukan tulus.
"Kakak, semua mendapatkan hadiah, lalu aku?" Dira berkata dengan kesal dan menggembungkan pipinya.
"Oh, iya, Kakak lupa!" Whana menepuk dahinya sendiri seolah melupakan sesuatu. Semua orang tertawa melihat tingkah lucu Dira.
"Ini, setelah menyerap satu, konsolidasikan dulu baru berlatih. Jika kultivasimu sudah stabil, serap yang kedua, ulangi langkah pertama dan serap yang ketiga, keempat dan kelima." Bersamaan dengan ucapannya, Whana mengeluarkan lima Daun Tumpang Lawang kepada adiknya.
Wahyu, Ayudiah dan Rimo kembali terkejut dengan tanaman obat lain yang dikeluarkan Whana. Sekalipun mereka membobol, rumah harta karun distrik bahkan kerajaan liba, tidak mungkin mendapatkan tanaman obat yang dikeluarkan Whana saat ini. Keberuntungan macam apa yang telah diperoleh putranya? Itulah pertanyaan yang berputar di kepala Ayudiah dan Wahyu Rahngu.
"Ingat! Jangan beritahu siapapun tentang tanaman obat itu! Nanti akan menjadi masalah," imbuh Whana kepada semua orang.
Semua mengangguk setuju. Dira segera menyambar tanaman obat yang ada di tangan Whana, mencium pipinya lalu berlari ke kamarnya seraya berteriak. "Terima kasik Kak .... Aku sayang padamu."
Semua orang tertawa ringan sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
KELUARGA DEGE
"Terima kasih atas kerja keras Anda Patriak Dege," ucap Loro Wade tersenyum.
Yap! Loro Wade adalah seorang Tuan Muda Kedua dari salah satu keluarga kelas satu di kota Ragane.
"Oh, tidak Tuan Muda. Orang tua ini hanya tulus membantu kepentingan Tuan Muda," sahut Rakuti Dege dengan penuh senyuman menghiasi wajahnya.
"Hmm, baiklah. Mulai bulan depan, lima puluh persen supply kapas untuk Distrik Nabrajem akan kuserahkan padamu," kata Loro Wade membalas.
"Yang penting anak itu sudah lenyap dari muka bumi. Sehingga tidak ada lagi yang menggangguku untuk mendapatkan Xiaoxi," lanjut Loro Wade dengan membusungkan dadanya.
Mendengar apa yang di ucapkan Loro Wade, Rakuti Dege, sang Patriak Dege langsung tersenyum sumringah seakan melayang di udara. Bagaiman tidak, jika terus berlanjut, maka diperkirakan keluarga Dege akan melambung menjadi keluarga kelas satu di Kota Ragane dalam kurun waktu satu tahun.
Loro Wade mengangguk dengan senyum bangga di wajahnya sebagai jawaban.
Keluarga Wade merupakan keluarga kelas satu dan teratas di Kota Ragane. Bahkan keluarga ini juga merupakan keluarga terkemuka di Distrik Nabrajem. Hampir tiga puluh persen bisnis di Distrik Nabrajem dikuasai oleh keluarga Wade. Salah satunya adalah usaha pengadaan kain dan bahan baku kapas.
Sedangkan Xiaoxi juga merupakan salah satu keluarga teratas di Distrik Nabrajem. Bahkan memiliki hubungan yang baik dengan pihak kerajaan. Karena paman Xiaoxi adalah seorang pejabat menteri di Kerajaan. Jadi, Loro Wade berfikir bahwa jika berhasil memperistri Xiaoxi, maka Distrik Nabrajem akan berada di bawah kekuasaannya bahkan merambah ke Ibu Kota Kerajaan.
Namun, rencana Loro Wade mendapat batu sandungan dari Whana. Pasalnya, dua tahun yang lalu Xiaoxi sempat berkunjung ke Kota Ragane selama tiga bulan penuh untuk mempelajari tanaman obat. Kebetulan usaha keluarga Whana sesuai dengan kunjungan Xiaoxi.
Selama kunjungan itu, Xiaoxi terlihat sangat akrab dengan Whana. Bahkan memuji Whana di depan orang banyak. Hal ini membuat dada Loro Wade menjadi sesak.
Selain takut rencananya akan gagal, rasa cemburu dan iri telah mempengaruhi akal sehatnya. Oleh karena itu, Loro Wade berniat untuk menghilangkan Whana dengan cara bekerjasama dengan keluarga Dege yang merupakan pesaing bisnis bagi keluarga Rahngu.
__ADS_1
Meskipun Patriak Dege menyadari bahwa ia dimanfaatkan oleh Loro Wade, Patriak Dege tetap menerima kerjasama itu mengingat adanya kesempatan untuk meningkatkan kekayaan keluarganya. Tidak peduli apa dengan keluarga lain. Lagi pula sudah bertahun-tahun keluarga Dege tidak mampu melenyapkan keluarga Rahngu, baik dari segi bisnis maupun kekuatan.
"Patriak! Patriak! Ada berita besar ...." seorang penjaga tiba-tiba memasuki aula tamu dengan terburu-buru.
"Kurang ajar! Apa yang kamu lakukan?! Bukankah sudah aku katakan bahwa ada tamu terhormat dan tidak bisa diganggu," bentak Patriak Dege dengan wajah memerah karena marah dan siap memberi pukulan kepada penjaga itu.
"Tunggu Patriak! Kita dengarkan dulu berita apa yang dibawa penjaga ini!" ucap Loro Wade sambil memegang tangan Patriak Dege yang sudah siap untuk memukul.
"Anu Patriak, anu ..." penjaga itu tergagap karena ketakutan.
"Anu, anu apa?! Cepat katakan!" bentak Patriak Dege yang tidak sabar.
"Anu, Whana sudah kembali tadi sore," jawab penjaga dengan keringat dingin.
"Apa??? Apa aku tidak salah dengar? Coba ulangi!" teriak Patriak Dege dengan terkejut seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya barusan.
"Whana kembali ... Dia kembali tadi sore. Semua orang sedang membicarakannya. Bahkan kultivasinya juga sudah berada pada Tahap Pembentukan Tubuh tingkat Kelima," jawab penjaga itu lagi.
Mendengar apa yang diucapkan oleh penjaga itu, Loro Wade mengerutkan kening dan memandang ke arah Patriak Dege.
Mengerti dengan tatapan yang ditujukan padanya, Patriak Dege langsung berkata dengan suara bergetar. "Tuan Muda, jangan khawatir! Saya akan segera menempatkan orang untuk menyelidiki masalah ini"
"Aku tidak mau tahu. Selesaikan ini dengan cepat! Aku tidak ingin setumpuk koin emas dan kesempatan bisnis yang telah kuberikan padamu menjadi sia-sia." Tanpa menunggu jawaban dari Patriak Dege, Loro Wade langsung meninggalkan kediaman keluarga Dege.
Menanggapi situasi ini, Patriak Dege langsung memanggil seluruh tetua keluarga untuk rapat dadakan, termasuk Baimu Dege sebagai eksekutor.
__ADS_1
\*\*\*