
Melihat Whana dan para saudaranya ikut bekerja, sang mandor pun keheranan. Pasalnya ini adalah kali pertama dirinya melihat keluarga pemberi kerja juga ikut bekerja. Bahkan tanpa mengurangi biaya kontrak kerja.
'Keluarga yang patut ditiru,' gumam sang mandor di dalam hatinya.
"Saudara Whana, sebenarnya rumah ini untuk siapa? Besar sekali!" tanya seorang sepupu.
"Nanti kamu dan kita semua akan tahu," jawab Whana dengan tersenyum.
"Ayo, waktunya istirahat! Aku telah membuat kue yang nikmat," teriak Dira yang berada di gubuk bambu tidak jauh dari tempat Whana bekerja.
Whana dan yang lainnya menuju gubuk bambu tempat Dira meletakkan banyak kue.
"Kakak ... Hmmm ...," panggil Dira sambil memutar - mutar jari tanggannya yang kecil.
"Jalan - jalan, kan?" Whana langsung menerka apa yang sedang diinginkan adik perempuannya itu.
"Kenapa Kakak tahu?" mata Dira yang besar dan cantik berkedip - kedip heran begitu kakaknya langsung menebak apa yang dipikirkannya.
"Besok, ya! Hari ini Kakak ada urusan," sahut Whana sambil mencubit pipi adiknya.
Sang adik tidak menanggapi, hanya menggembungkan pipinya dengan kesal.
"Ayo, dengan Kak Moni!" Moni dari dapur rumah Whana melangkah ke arah Dira.
"Benarkah?" tanya Dira dengan gembira.
Mereka berdua bergegas menuju taman kota yang kebetulan hanya berjarak tiga kilo meter dari kediaman keluarga Rahngu.
\*
"Kak Mori, ikut aku ke rumah Paman Rimo sebentar! Sudah satu minggu tidak ada kabar dari Paman Rimo," ajak Whana kepada Mori.
Setelah mengganti pakaian, mereka segera berangkat menuju Rumah Rimo, pelayan setia Wahyu Rahngu, Ayah Whana. Jarak rumah Rimo dan keluarga Rahngu sekitar sepuluh kilo meter.
__ADS_1
"Apakah Rimo pindah rumah? Bukankah ini ke arah Kota?" tanya Mori yang kebingungan dengan arah jalan yang diambil Whana.
"Kita mampir sebentar ke suatu tempat," jawab Whana dengan santai.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sebuah kios yang lumayan besar.
'Bukankah ini tempat jual beli kebutuhan kultivasi dan obat? Apakah Whana akan membeli Pil?' tanda tanya muncul dibenak Mori, tetapi ia tidak mengatakan apapun dan hanya mengikuti langkah adik sepupunya itu.
"Selamat siang Tuan Muda, kita bertemu lagi," sapa seorang pria paruh baya yang sebelumnya pernah memberi Whana kartu pelanggan.
"Aku ingin menjual bahan dari monster, apakah aku harus mengeluarkannya disini, paman?" Whana menanggapi sambil tersenyum penuh canda.
"Jangan! Jangan! Jangan! Ayo masuk!" pria paruh baya itu segera merespon agar kejadian sebelumnya tidak terulang kembali.
Mori yang di sebelah Whana tertegun sejenak. 'Kenapa tiba - tiba orang ini menjadi begitu gugup setelah Whana mengucapkan itu?'
Sesampainya di ruang bagian dalam, Whana langsung mengeluarkan barang - barang hasil buruannya.
Seketika pria paruh baya dan Mori tercengang melihat hasil buruan di depan matanya. Keduanya menoleh ke arah Whana dan hasil buruan yang menumpuk mengenai langit - langit rumah secara bergantian tanpa mengeluarkan suara.
Pria paruh baya itu langsung tersadar. "Harap tunggu, Tuan Muda. Aku membutuhkan bantuan pegawaiku dan waktu untuk menghitung."
"Oh, baiklah. Aku akan menunggu di luar sambil melihat - lihat," jawab Whana seraya menganggukkan kepalanya.
Whana menoleh ke arah Mori yang ternyata masih memandang hasil buruan di depannya dengan mulut ternganga.
"Ayo, kita tunggu di luar!" ajak Whana sambil menyentuh bahu kanan Mori.
Tersadar dari keterkejutannya, Mori mengikuti Whana ke ruang penjualan senjata.
"Adik, apakah kamu berburu semua itu?" Mori benar - benar keheranan dengan adik sepupunya itu. Ini adalah pertama kalinya dia keluar bersama Whana dan sudah membuat jantungnya hampir berhenti berdetak.
Dengan santai Whana mengiyakan pertanyaan Mori. Mendengar jawaban tenang dari Whana, Mori menelan ludah.
__ADS_1
'Sekuat apa Whana ini? Bukankah hasil buruan tadi berada pada level yang gila? Bagaimana cara dia berburu?' Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Mori.
"Dengan hasil berburu inilah aku membeli Pil untuk keluarga kita," Whana berucap pelan pada Mori. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sepupunya itu.
Mori langsung tertunduk malu. Apa yang dikatakan kakeknya tentang adik sepupunya ini memang benar adanya, yakni menjadikan keluarga Rahngu semakin kuat agar tidak dipandang rendah oleh orang lain.
"Adik, jika kelak kamu akan berburu lagi, beri tahu aku! Aku juga ingin berkontribusi sepertimu sekaligus mencari pengalaman," pinta Mori dengan bersungguh - sungguh.
"Kedengarannya bagus. Aku biasa berburu di Hutan Kematian. Setelah acara kompetisi keluarga, kita berburu bersama. Bagaimana?" sahut Whana dan meminta pendapat.
"Setuju!" Mori mengacungkan jempol kanannya dengan semangat.
'Semua senjata yang dipajang di sini berada pada kelas Fana. Bahkan yang tertinggi hanya kualitas Menengah. Jika aku menjual satu kelas Bumi, apa yang akan terjadi di sini? Ah, kenapa pikiran konyolku kambuh lagi?!' ucap Whana di dalam hati ketika memandang ke arah beberapa senjata yang dipajang di dinding toko.
Sekitar dua puluh lima menit kemudian, pria paruh baya keluar dari ruang bagian dalam toko begitu selesai menghitung bahan - bahan dari monster.
"Tuan Muda, jumlah semuanya tiga ratus dua puluh empat ribu koin emas. Namun, koin emas yang tersedia hanya dua ratus ribu dan perlu mengambil koin emas dari cabang kami yang berada di Kota Distrik. Jika Tuan Muda bersedia menunggu tiga hari lagi, kami akan melunasi sisanya dan mengantarkannya ke kediaman Tuan Muda. Tapi jika Tuan Muda tidak bersedia ...."
"Baiklah, tidak masalah," belum selesai pria paruh baya itu mengucapkan kalimatnya, Whana langsung setuju.
"Terima kasih, Tuan Muda," pria paruh baya itu segera membungkuk sedikit, kemudian berkata lagi dengan pertanyaan. "Kemana kami akan mengantar sisa koin emasnya, Tuan Muda?"
Whana berpikir sejenak kemudian bertanya. "Bisakah di antar di dua tempat yang berbeda?"
"Sangat bisa, Tuan Muda," jawab pria itu dengan cepat dan semangat.
"Petama, antar dua puluh empat ribu koin emas ke Rumah Asuh dan sisanya tolong antar ke keluarga Rahngu. Berikan kepada Wahyu Rahngu atau Ayudiah. Mereka adalah suami istri," pinta Whana kemudian.
"Baik. Kami akan mencatatnya dan saya sendiri yang akan mengantarnya," jawab pria paruh baya itu dengan hormat.
Dalam perjalanan, Whana memberi dua ratus koin emas kepada Mori seraya berkata. "Ini untukmu, dan setengahnya lagi berikan untuk Kak Moni!"
Belum selesai terkejut dengan tumpukan buruan Whana, Mori sudah terkejut lagi dengan nilai koin emas yang didapatkan. Dan saat ini, dengan santai sepupunya itu mengeluarkan dua ratus koin emas untuk dirinya dan kakak perempuannya.
__ADS_1
"Adik, ini terlalu banyak," dengan suara bergetar dan tangan sedikit gemetar menerima koin emas dalam jumlah besar. Baginya ini adalah untuk pertama kalinya.