Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 22


__ADS_3

"Kakak!" Dira langsung menggembungkan pipinya dengan kesal dan menghentakkan kakinya di tanah beberapa kali.


"Hahaha ... Ayo! Kita jalan - jalan!" goda Whana melihat adiknya yang sedang marah.


"Asssyyykk, Kakak memang Kakakku yang paling tampan sedunia." Dira langsung berlari dan menggandeng lengan kakaknya.


***


TOKO PAKAIAN


Setelah berjalan dua puluh menit, Whana dan Dira sampai di pusat Kota Ragane dan masuk ke salah satu toko pakaian.


"Jika ada yang kamu suka, ambil saja! Kali ini Kakak akan mentraktirmu," ucap Whana sambil mengelus kepala adiknya.


"Benarkah? Apa Kakak punya uang?" tanya Dira dengan penasaran.


Whana tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.


"Kakak cantik, setelan ini berapa harganya?" Dira bertanya kepada pelayan toko yang ada di sebelahnya.


"Ini 2.700 koin emas, apakah Adik Kecil menyukainya?" sahut pelayan toko itu dengan ramah.


"Waaahhh, mahal sekali!" dia menoleh ke arah Whana untuk mengetahui respon Kakaknya.


Tepat sebelum Dira akan mengucapkan sesuatu, seorang gadis seusia Whana dan seorang wanita dewasa sekitar dua puluh lima tahun berkata dengan keras. "Pelayan! Aku akan membeli setelan itu."


"Maaf Nona setelan ini sudah dibeli Adik Kecil ini," sahut pelayan dengan ramah.


"Apa dia mampu membelinya?" balas gadis muda itu dengan ketus. Dengan melihat pakaian Dira yang biasa saja, ia yakin bahwa Dira tidak akan mampu membayarnya.


"Pakaian yang aku beli ini harganya sudah dua ratus koin emas. Jika ditambah dengan setelan itu berapa koin emas yang harus ku bayarkan?" lanjut gadis muda itu sambil membusungkan dadanya berlagak orang kaya.


Sebelum pelayan toko itu menjawab, Whana berkata kepada Dira. "Adik, mana lagi yang kamu suka? Mumpung kita disini, pilih saja yang kanu inginkan?"


Kekesalan Dira langsung menghilang nendengar perkataan Kakaknya. Dengan secepat kilat ia mengarah ke tempat pakaian yang di gantung di dinding etalase toko.


"Yang ini bagus dan yang ini juga menarik. Tapi yang itu tidak kalah bagusnya." Dira langsung mengambil tiga setelan termahal.


Melihat adiknya yang cekatan dalam menghabiskan uang, Whana tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Hei! Berapa koin emas yang harus kukeluarkan?" bentak gadis muda itu ke pelayan toko.


Pelayan itu memandang Whana yang tersenyum mengangguk kepadanya.


"Jika dengan setelan ini jadi semuanya 2.900 koin emas, Nona," jawab pelayan toko dengan senyum memaksa.


"Apa? Kenapa begitu mahal? Apakah setelan ini seharga 2.700 koin emas?" teriak wanita dewasa yang menemani gadis muda itu.


"Apa Nyonya dan Nona jadi membeli setelan ini?" tanya pelayan toko sambil mengerutkan kening.


"Kamu pelayan baru ya? Kami adalah pelanggan di toko ini dan setiap bulan kami selalu menghabiskan seribu koin emas di toko ini," bentak wanita dewasa itu dengan marah dan bangga.


"Maaf Nyonya, harga yang kami berikan sudah sesuai dengan kualitas produk," balas pelayan toko dengan tetap ramah.


"Panggil manager toko kesini! Katakan bahwa keluarga Nylon sedang berbelanja!" perintah wanita itu dengan ketus.


Pelayan toko segera bergegas ke dalam toko, tidak lama berselang seorang wanita paruh baya diikuti pelayan toko berjalan keluar ruangan.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya wanita paruh baya kepada wanita dewasa yang mengaku dari keluarga Nylon.


"Aku dari keluarga Nylon yang sudah berlangganan di toko ini. Kenapa harga setelan ini begitu mahal untuk pelanggannya?" pungkas wanita itu dengan ketus.


"Oh, setelan ini harganya 2.700 koin emas. Karena keluarga Nylon adalah pelanggan toko kami jadi kami berikan diskon sepuluh persen, bagaimana?" ujar manager toko kepada wanita dewasa itu seraya menawarkan.


"Apa? Hanya diskon sepuluh persen? Kenapa pakaian ini begitu mahal?" seru wanita itu dengan terkejut.


"Jika Nyonya keberatan, maka kami tidak bisa memberikan diskon lebih," tandas manager toki dengan nada tidak senang.


Melihat situasi ini, Whana angkat bicara. "Setelan ini tadinya akan dibeli adikku, tapi orang kaya ini merebutnya. Apa kalian tidak punya cukup uang?"


"Keluarga Nylon kami adalah keluarga kelas dua terkemuka di Kota Ragane. Hanya 2.700 koin emas itu uang kecil," sahut gadis muda dengan nada sombong.


"Jika itu uang kecil, kenapa harus menawar dan melotot setelah mengetahui harganya?" tanya Whana dengan senyum mengejek.


Baik si wanita dewasa dan gadis muda itu tidak menjawab dan hanya mendengus kesal.


"Adik, serahkan pakaian nya Kakak sudah lapar." Whana tersenyum dan mengarahkan adiknya untuk menyerahkan pakaian yang dipilihnya kepada petugas kasir.


Setelah menghitung, pelayan toko itu berbicara. "Adik Kecil, tiga setelan ini 9.000 koin emas, jika dengan setelan putih itu maka totalnya 11.700 koin emas.

__ADS_1


Mendengar apa yang dikatakan pelayan toko, gadis muda dan wanita dewasa itu terkejut dengan jumlah harganya. Bagi mereka, harga itu adalah uang satu tahun belanja bahkan lebih.


RESTAURANT


Di perjalanan, dira sangat gembira dengan senyum merekah di wajahnya.


"Kakakku yang tampan, apakah besok kita akan belanja lagi?" tanya Dira dengan riang gembira.


Whana mengerutkan kening. Belanja lag? Kakak akan pelatihan tertutup selama satu tahun."


"Kakak, kenapa kamu begitu tega dengan adikmu yang manis dan imut ini!" Dira berkata dengan melas sekaligus kesal.


Sesampainya di restaurant, whana dan adiknya memilih duduk di pojok ruangan.


"Tuan Muda, anda ingin memesan sesuatu?" tanya seorang pelayan kepada Whana.


"Sediakan kami daging dua porsi!" jawab Whana.


Ketika menunggu makanan yang dipesan, Whana melihat seorang lelaki tua berkisar tujuh puluh tahun sedang duduk dengan seorang gadis yang setidaknya berusia sekitar enam belas tahun.


Ketika lelaki tua itu melihat Whana menatap ke arahnya, lelaki tua itu tersenyum dan menganggukkan kepala.


Melihat sikap ini, Whana juga membalas mengangguk dan tersenyum.


"Guru, siapa dia?" tanya gadis di sebelah lelaki tua itu.


"Aku tidak tahu, pemuda ini tidak sesederhana kelihatannya," jawab lelaki tua itu.


"Kenapa begitu, Guru?" si gadis kembali bertanya dengan penasaran.


"Usia tulangnya baru berusia lima belas tahun, tapi kultivasinya sudah mencapai Tahap Transformasi tingkat Ketujuh. Dan dia mampu menyembunyikan kultivasinya hingga lima tingkat," lanjut sang lelaki tua dengan mata berbinar penuh minat melihat Whana.


Mendengar apa yang di ucapkan gurunya, gadis itu ternganga dan menatap ke arah Whana dengan penuh kekaguman. Pasalnya, dia sendiri telah berusia enam belas tahun dan baru mencapai Tahap Transformasi tingkat Pertama.


*


Tidak lama kemudian, makanan yang di pesan sudah disajikan oleh pelayan di meja Whana dan adiknya.


"Apa kalian sudah dengar kalau Keluarga Dege disusupi pencuri?" kata seorang pria muda di meja lainnya.

__ADS_1


__ADS_2