Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 45


__ADS_3

"Adik, ini terlalu banyak," dengan suara bergetar dan tangan sedikit gemetar menerima koin emas dalam jumlah besar. Baginya ini adalah untuk pertama kalinya.



Whana langsung melambaikan tangannya sebagai tanda agar Mori tidak perlu menolak.



"Ini juga untukmu dan Kak Moni. Kapasitas tas ruang terlalu kecil," mengatakan itu, Whana mengeluarkan dua cincin penyimpanan dan memberikannya kepada Mori.



Mori kembali tercengang melihat dua cincin penyimpanan di telapak tangannya. Bagaimana dia tidak terkejut, di Kota Ragane hanya keluarga kelas satu yang menggunakan cinci penyimpanan. Ini karena selain harganya yang mahal, keberadaan barangnya juga sulit didapat.



Penggunaan cincin penyimpanan sebagai tempat penyimpanan memang lebih menguntungkan dari pada tas ruang. Selain lebih praktis dan kapasitas lebih besar, barang yang mudah membusuk atau basi akan selalu dalam keadaan seperti awalnya tanpa ada batasan waktu seperti tas ruang yang hanya bertahan selama tiga puluh hari.



"Adik, terima kasih. Terima kasih," ucap Mori dengan tulus bahkan ada kecenderungan mengidolakan adik sepupunya itu yang kini berada di sampingnya.



"Ayo, ke rumah Rimo!" ajak Whana yang kemudian bergegas melanjutkan perjalanan.



Setengah jam perjalanan, Whana tiba - tiba berhenti dan menyatukan kedua alisnya.



"Adik, ada apa?" tanya Mori pelan dan mengambil sikap waspada begitu melihat Whana yang bersikap aneh.



"Bersiaplah! Ada yang mengikuti kita," bisik Whana.



Mori mengernyit, menoleh untuk melihat arah di belakangnya dan tidak mengatakan apa pun.



Sampai di area yang sepi, Whana dan Mori menyusuri jalan setapak. Di sisi kiri jalan setapak terdapat banyak semak belukar yang merupakan bagian dari pinggiran hutan, sedangkan di sisi kanan adalah perkebunan penduduk.



Tanpa memberi peringatan kepada Mori, Whana tiba - tiba membalikkan badan, bergeser sedikit, tepat di belakang punggung Mori sehingga mereka saling memunggungi.



Dentang, dentang



Terdengar suara tabrakan logam, menciptakan percikan bunga api kecil. Tampak dua bilah pisau pendek patah menjadi beberapa bagian, jatuh tiga sampai empat meter di depan Whana.



Dengan pergantian peristiwa yang begitu tiba - tiba, seketika Mori mencabut pedangnya. Ia tidak menyangka adik sepupunya memiliki respon dan gerakan yang sangat cepat atas serangan menyelinap, bahkan dirinya sendiri tidak menyadarinya sama sekali. Jika tidak, maka dirinya sudah menjadi korban tanpa perlawanan.


__ADS_1


Selain itu, Mori tidak melihat atau pun merasakan adanya energi alam yang mematahkan serangan. Seolah ada dinding transparan setelah lambaian tangan sepupunya itu.



"Hahaha ... Tidak aku sangka kau memiliki respon yang begitu cepat. Lumayan, tapi hari ini adalah hari kematianmu," suara tawa mengejek terdengar diikuti dua sosok muncul dari balik bayang - bayang setelahnya.



"Benarkah? Siapa yang mengutusmu?" tanya Whana dengan santai, tidak terlihat adanya kepanikan atau pun ketakutan dari raut wajahnya.



"Hahaha ... Aku rasa tidak apa - apa memberi tahu bocah ini, toh dia akan mati," ucap salah seorang dan keduanya yang kemudian tertawa terbahak - bahak. ,



Di sisi lain, Mori sudah gemetar panik dan ketakutan di belakang Whana. Bagaimana tidak kedua orang yang baru saja muncul dan ingin membunuhnya sama sekali tidak menahan auranya.



"Adik, mereka terlalu kuat. Setidaknya berada pada Tahap Penyempurnaan Qi tingkat Ketiga atau tingkat Keempat," Mori berbisik kepada Whana dengan suara bergetar.



Whana tidak menanggapi bisikan Mori, namun berkata kepada dua orang di depannya dengan tatapan dingin. "Karena aku akan mati, lalu siapa yang menyuruhmu? Kenapa ingin membunuhku?"



"Hei, bocah! Tuan Dege menginginkan hidupmu," setelah mengatakan itu, pedang besar dan melengkung siap di ayunkan ke arah Whana.



Cling




Sedangkan Mori juga bingung dan semakin ketakutan. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan adik sepupunya yang tiba - tiba menghilang begitu saja tepat di sampingnya. Namun, kecemasan dan ketakutan Mori segera digantikan dengan keheranan yang luar biasa. Ia melihat Whana sudah berada di belakang kedua orang penyerang itu.



'Tinju Bumi!'



Whana mengalirkan perpaduan energi alam dan energi mental di dua kepalan tangannya.



"Terima kasih telah memberi tahu siapa yang ingin membunuhku," seraya mengucapkan kalimat itu, Whana meninju punggung kedua orang penyerang dengan cepat.



Mendengar ada suara di belakangnya, kedua orang itu hendak membalikkan tubuhnya, tetapi belum sempat untuk membalikkan badan, hanya sebuah batu baja besar yang mereka rasakan mengenai tulang punggung mereka.



Bam, bam



Aarrgghh ... Aarrgghh ...

__ADS_1



Kedua orang penyerang itu dikirim terbang terbalik sejauh seratus meter, jatuh berguling - guling di tanah hingga berhenti menabrak sebuah batang pohon yang besar.



Buk, buk



Mulut Mori terbuka lebar menyaksikan kedua penyerang itu di terbangkan oleh pukulan Whana hingga melintas di atas kepalanya, dan menabrak sebatang pohon.



Detik berikutnya, Mori melihat kedua orang itu memuntahkan darah berulang - ulang dan tewas tewas saat itu juga.



"Adik, bukankah itu Tehnik Tinju Bumi keluarga kita? Kenapa begitu dasyat?" tanya Mori yang masih keheranan dengan apa yang baru saja ia saksikan.


Whana tersenyum dan mengangkat bahunya. Memeriksa tubuh kedua penyerang itu dan mengambil tas ruang mereka.


'Miskin sekali,' gumam Whana dalam hati.



"Ini untukmu. Dan sisihkan untuk Kak Moni setengahnya!" pinta Whana santai seraya memberikan dua tas ruang kepada Mori.



"Adik, ini harta rampasanmu. Aku tidak melakukan apapun," Mori hendak menolak, namun Whana hanya melambaikan tangannya dan melanjutkan perjalanan.



\*\*\*



"Kamu ingin menjadi pahlawan, ha?" teriak seorang pria kekar dengan kepala botak, tampak ada bekas luka di pipi kirinya yang membuat wajahnya lebih garang dan menyeramkan.



Rimo hanya bisa menggertakkan giginya, ia sudah tidak memiliki kekuatan untuk melawan tekanan kaki pria botak itu yang menginjak dadanya.



"Tuan, tolong berbelas kasihlah ... Jangan bunuh ayahku!" pekik seorang bocah yang berlutut sambil menangis dan memohon.



"Baik! Aku akan mengampuni hidup ayahmu tapi mulai bulan depan, uang keamanan menjadi empat keping koin perak," sahut pria berkepala botak itu.



Mendengar pria botak itu ingin melipatgandakan uang setoran, dua orang pria paruh baya menjadi geram. Mereka adalah penduduk miskin yang pendapatannya tidak lebih dari sepuluh keping koin perak setiap bulannya. Rimo adalah orang yang sering membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari - hari.



Keluarga Rimo tinggal di pinggiran hutan karena tidak mampu membeli lahan. Hanya ada tiga rumah dan tiga keluarga di tempat itu. Dua orang pria paruh baya yang seusia dengan Rimo adalah sahabat Rimo sejak kecil. Mereka bekerja di perkebunan yang berbatasan dengan pinggiran hutan tempat mereka tinggal saat ini.



"Kalian bajingan! Sudah berbulan - bulan kalian memeras kami dan sekarang kalian ingin meminta lebih," seorang pria paruh baya berteriak dan langsung menyerang dengan kayu yang dia ambil di sebelahnya.

__ADS_1


__ADS_2