
-GERBANG TIMUR DARATAN WAJA--
Daratan Waja terletak di sebelah barat daratan Liba. Lautan luas dan berbahaya memisahkan kedua daratan ini. Daratan Waja sebelas kali lebih besar dari daratan Liba dan terbagi menjadi tiga bagian yang masing - masing merupakan wilayah Kerajaan. Waja timur, Waja tengah dan Waja barat. Daerah Waja timur dikuasi oleh Kerajaan Hipajama dan memiliki wilayah terluas dari pada dua kerajaan lainnya.
Menyeberangi lautan yang memisahkan kedua daratan ini memerlukan waktu satu hingga dua minggu dengan tunggangan terbang dan harus mengambil jalur khusus. Hal ini disebabkan banyak angin tornado di sepanjang lautan dan monster terbang yang cukup mematikan.
Wandira dan kelompoknya telah tiba di gerbang Timur dan merupakan batas daratan paling timur di daratan Waja.
"Apakah keponakanku sedang memikirkan seseorang." ucap bibi Perisa yang menghampiri Wandira yang duduk di sudut istana.
Wandira tidak menjawab maupun melihat ke arah Perisa seolah ia tidak mendengarnya. Perisa kemudian mengambil inisiatif untuk memastikan kecurigaannya tentang perubahan dari keponakannya.
"Whana? Kamu mengikuti kami?" teriak Perisa yang sengaja berbohong.
"Whana? Dimana? Kapan dia datang?" mendengar kata Whana, Wandira langsung merespon.
Melihat ini Perisa hanya terkekeh dan terkonfirmasi bahwa keponakannya sedang jatuh cinta.
"Bibi, apa yang kamu lakukan?" Wandiri melotot sambil mengembungkan pipinya dan tampak rona merah di wajahnya yang cantik menunjukkan rasa malu.
"Hahaha, jangan berbohong pada Bibi. Apa kamu menyukai Whana?" tanya Perisa sambil tertawa.
"Siapa bilang aku menyukainya? Bibi jangan bicara omong kosong!" Wandira menjawab dengan cepat tetapi wajahnya semakin merah karena malu.
"Hahaha, lalu bagaimana dengan pangeran Waja Tengah dan pangeran Waja Barat? Apakah tidak ada yang membuatmu tertarik?" Perisa bertanya dan sengaja menggoda.
"Iiihhh, najis." jawab Wandira sambil menunjukkan ekspresi jijik.
"Oke, oke. Besok kita berangkat ke istana Kerajaan. Perjalanan cukup jauh, jadi persiapkan diri dengan baik!" Perisa memberi tahu keponakannya untuk bersiap.
------------
Whana menyusuri jalan utama menuju arah utara dengan santai berjalan kaki. Ia ingin melihat sudut kota Yalame yang belum pernah ia kunjungi. Di tengah perjalanan rombongan kereta kuda mewah terdengar di belakangnya. Meskipun masih lima ratus meter darinya, suara riuh tapal kuda cukup keras.
__ADS_1
"Cepat menyingkir dari jalan! Hei, kamu cepat menyingkir!" teriak seorang pengawal dengan tubuh kekar kepada seorang pejalan kaki.
Sekitar dua ratus pengawal lainnya segera berbaris di kedua tepi jalan agar rombongan kereta kuda dapat dengan leluasa lewat. Kekuatan para pengawal juga tergolong tinggi. Yang terlemah berada di Penyempurnaan Qi tingkat Kelima dan yang tertinggi berada di Penyempurnaan Roh tingkat Kesembilan.
"Ini rombongan Tuan Muda Rustam, sepertinya mereka akan ke kota Yalame." ucap seorang pejalan kaki kepada rekannya.
"Keluarga Rustam, keluarga mana itu? Kenapa aku belum pernah mendengarnya?" rekan pejalan kaki itu bertanya dengan bingung.
"Jelas kamu belum mendengarnya. Keluarga Rustam adalah keluarga kelas satu di kota Distrik." pejalan kaki lainnya menjawab.
"Mereka sangat arogan, bahkan tidak segan - segan membunuh hanya karena kesal." sahut pejalan kaki pertama.
"Hus, pelankan suaramu!" rekan pejalan kaki itu memperingatkan.
Whana yang tidak jauh dari para pejalan kaki yang membicarakan keluarga Rustam sedikit mengernyit.
'Keluarga Rustam, keluarga kelas satu. Sepertinya cukup kaya.' Whana berpikir di dalam hati dan sudut mulutnya sedikit terangkat.
Tiba di dekat perbatasan wilayah Ragane, hari sudah mulai gelap. Pepohonan dengan dedaunan yang lebat di sisi jalan menambah suasana agak suram.
'Bandit?' Whana memperhatikan ada ratusan bandit yang bersembunyi di kiri dan kanan jalan. Sebagian dari mereka berada di atas pohon tinggi dengan busur yang siap dengan anak panah.
"Berhenti! Serahkan harta yang kalian miliki! Jika tidak kami tidak akan bersikap sopan." teriak seorang bandit yang berdiri tepat di tengah jalan.
Melihat bahwa orang yang menghadang hanya seorang diri, para pengawal rombongan tertawa.
"Hanya kamu sendiri? Apa kau mencari mati? Berani sekali memprovokasi Tuan Muda Rustam." kata pimpinan pengawal bertubuh kekar.
Namun setelah kalimatnya selesai diucapkan, ada ratusan orang lagi yang muncul di belakang bandit yang awalnya berbicara menyuruhnya berhenti. Di sisi kiri dan kanan, bandit dengan mengarahkan anak panah ke rombongan juga telah bersiaga siap menyerang.
"Bagaimana? Apa kalian masih ingin tertawa?" ucap pimpinan bandit dengan senyum mengejek.
__ADS_1
Pimpinan bandit itu lalu melemparkan tas ruang ke pimpinan rombongan dan berkata, "Semua orang di dalam gerbang, keluar!"
"Masukkan semua cincin penyimpanan kalian ke dalam tas itu! Cepat, jangan menguji kesabaranku!" pimpinan bandit melanjutkan perintahnya ke pimpinan rombongan.
Tuan Muda Rustam yang berada di dalam gerbang kereta sudah gemetar ketakutan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Tuan Muda Rustam dan pengawalnya memasukkan cincin penyimpanan mereka tanpa terkecuali.
"Serahkan padaku cepat!" teriak pimpinan bandit.
Pimpinan pengawal rombongan segera melemparkan tas ruang kepada pimpinan bandit itu. Namun, ketika tas ruang yang dilemparkan baru mencapai setengah jarak, semua orang menjadi tercengang.
Cling
Whana muncul menangkap tas ruang dan tentu saja ia telah mengubah penampilannya. Whana menoleh ke kiri dan menatap rombongan Tuan Muda Rustam dan tersenyum, "terima kasih." Kemudian ia menoleh ke kanan menatap pimpinan bandit dan mengucapkan kalimat yang sama. Segera ia melompat ke atas dan langsung mengaktifkan sayap angin terbang menuju wilayah Yalame.
"Cepat, kejar bajingan itu!" teriak pimpinan bandit yang tersadar bahwa harta rampasannya telah diambil orang lain.
Sontak para bandit melompat dari pohon ke pohon mengejar Whana.
Menoleh ke belakang dan melihat bahwa ia sedang dikejar banyak bandit, Whana langsung menghilang dari posisinya.
Cling
"Kemana dia pergi?" pimpinan bandit terheran karena tidak bisa melihat arah gerakan Whana. Melihat ke kanan dan ke kiri seperti orang linglung.
"Menyebar ketiga arah. Cepat! Jangan biarkan dia lolos!" Pimpinan bandit segera berteriak kepada anak buahnya.
Whana yang muncul di atas pohon tersenyum dan terus terbang ke arah Barat sampai pada perkebunan tanaman obat yang luas. Ia berhenti pada pohon beringin yang sangat besar di sisi ladang tanaman obat.
'Kebun obat siapa ini? Sangat luas?' gumam Whana dalam hati.
Sesaat kemudian, ada sepuluh orang sedang berjalan ke sisi kebun yang sepertinya menjaga keamanan kebut obat.
"Siapa kalian? Cepat pergi dari sini! Ini milik keluarga Dege. Jika tidak kami tidak akan segan untuk membunuh kalian." teriak salah satu dari sepuluh orang yang sedang menjaga kebun obat ketika melihat tiga orang sedang melompat ke arah perkebunan.
__ADS_1