Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 58


__ADS_3

Mori bergegas ke area bukit belakang setelah suara ledakan kedua. Ketika ia melihat asal suara ternyata dari latihan adik sepupunya, seketika itu juga Mori langsung terpana.



"Adik, kamu bisa membuat Formasi Array?" Mori keheranan melihat larik rumit yang berkedip - kedip dengan cahaya biru keunguan ketika terkena pukulan Whana.



"Sedikit." Jawab Whana santai.



Bam ...



Whana kembali memukul array pertahanan itu dengan telapak tangannya.



"Whana, kamu bisa membuat Formasi Array?" kali ini Wahyu, ayah Whana yang bertanya keheranan.



Sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, Whana tersenyum dan berkata, "Sedikit."



'Sepertinya aku salah cara latihan seperti ini. Harusnya aku membuat formasi kedap suara sebelum memulai. Bodoh, bodoh.' gumam Whana dalam hati.



"Dari mana kamu bisa membuat formasi array? Ini sangat luar biasa. Tidak satu pun anggota keluarga yang berprofesi pembuat formasi array." tanya Wahyu yang masih takjub dengan array rumit di depannya.



"Aku bertemu seseorang di Hutan Kematian tempo hari dan mengajari formasi array pertahanan ini." Whana membuat alasan yang masuk akal tentang asal muasal tehnik formasi array yang di milikinya.



Setelah Wahyu meninggalkan Whana dan Mori, Mori tetap bersama Whana untuk ikut berlatih bersama.



"Tunggu sebentar!" ucap Whana, kemudian jari - jarinya melakukan gerakan yang rumit dan seketika mengeluarkan cahaya biru keunguan. Whana melemparkan formasi arrya kedap suara ke atas.



Wussshhh



Tampak larik rumit setengah lingkaran terbentuk di mana Whana dan Mori berada di dalamnya. Tiga detik kemudian cahaya biru keunguan menghilang.



"Ayo, serang array pertahanan di depanku!" ajak Whana kepada Mori yang masih melongo menyaksikan bagaimana mudahnya Whana membuat formasi array.



"Formasi apa barusan?" Tanya Mori dengan takjub.



"Kedap suara. Tadi aku lupa memasangnya." Jawab Whana dengan tersenyum.



\[Ding! Selamat Tuan. Tehnik Array Master naik level ke level 3.\]



Seperti biasa, Whana tersenyum mendengar notifikasi system di benaknya dan melanjutkan serangan dengan tehnik telapak dewa.



Bam ...



Melihat serangan telapak tangan Whana, Mori tertegun.


__ADS_1


'Jika aku terkena serangan itu dijamin langsung modar.' Mori mendesah di dalam hatinya.



Bam ...



Bam ...



Whana terus menerus melakukan serangan hingga setengah jam lamanya yang diikuti Mori menggunakan serangan pedang. Namun yang mengejutkan Whana ketika Mori menyerang formasi array buatannya, notifikasi system berbunyi yang menunjukkan pengalaman tehnik formasi bertambah. Ia kemudian berencana untuk memanfaatkan saudara - saudara sepupunya dalam meningkatkan level tehnik formasinya sekaligus memberi mereka pelatihan.



\[Ding! Selamat Tuan. Tehnik Telapak Dewa naik level ke level 3.\]



'Mantab' gumam Whana.


.............


Keesokan harinya, Whana sedang bersiap untuk berlatih lagi. Namun adiknya mulai memegang tangannya dengan erat dan entah apa yang diinginkannya.



"Baiklah, baiklah. Tunggu sebentar! Kakak akan memberi tahu saudara yang lain bahwa latihan kali ini Kakak tidak bisa ikut sebab sedang mengantar tuan putri yang cantik jelita ini." Whana mengiyakan rengekan adiknya.



Dira, adik Whana langsung melompat gembira.



"Lawi, ayo ikut Kakak." ajak Whana kepada anak laki - laki Rimo.



"Aku dan Wina juga akan ikut menemani Dira." Moni tiba - tiba muncul dari balik pintu bersama Wina yang juga saudara sepupu Whana.




"Kakak, apakah boleh?" Tanya adiknya sambil menunjuk ke toko pakaian di seberang jalan.



Mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban Whana.



"Lawi dan kalian berdua juga boleh memilih pakaian yang kalian sukai, aku yang mentraktir." ucap Whana kepada Moni, Wina dan Lawi ketika memasuki toko.



Melihat Whana memasuki toko, pramuniaga yang bertugas langsung menyambutnya dengan hormat. Ia ingat dengan Whana yang menghabiskan lebih dari sepuluh ribu koin emas dalam sekali belanja dan karena itu juga ia mendapat banyak bonus dari manager toko.



"Selamat datang kembali, Tuan Muda." sambut praminiaga dengan ramah.



"Tolong temani adik perempuanku ini untuk memilih yang dia sukai." Whana berkata dengan tersenyum.



Ketika pramuniaga hendak menjawab keinginan Whana, suara Dira langsung terdengar.



"Kakak, aku ini, ini, ini, ini, ini dan ini. Dan yang ini juga." pinta Dira sambil menunjuk arah pakaian yang dipajang di etalase toko.


Moni dan Wina saling memandang. Mereka berdua kemudian melihat Whana yang tersenyum dan menganggukkan kepala kepada adiknya.


"Sungguh beruntung memiliki kakak yang murah hati." gumam Wina kepada Moni.



"Ayo Lawi, kamu pilih pakaian mana yang kamu sukai! Kak Moni dan Kak Wina, kalian berdua juga." Whana menyentuh bahu Lawi yang tertegun dengan banyaknya pakaian yang diinginkan Dira.

__ADS_1



"Ba, baik Tuan Muda, eh, Kakak." Lawi menjawab tergagap.



Beberapa saat kemudian, pakaian yang menarik bagi mereka masing - masing telah berada di meja kasir.



"Kalian bertiga hanya memilih satu?" Tanya Whana kepada Lawi, Moni dan Wina.



"Ayo, pilih lagi! Mumpung kita masih di sini." imbuh Whana.



Mendengar itu, pramuniaga sangat bersemangat dan langsung berinisiatif untuk mendampingi ketiganya.



"Kemana pakaian yang dipajang di sini?" Tanya seorang wanita muda yang baru saja datang.



"Sudah terjual, Nona." Jawab pramuniaga dengan hormat.



"Apa katamu? Terjual? Bukankah aku mengatakan padamu bahwa akau akan membelinya?" wanita muda berkata dengan keras seolah dia adalah pemilik toko.



Karena mendengar ada suara gaduh, manager toko keluar dari ruangannya.



"Maaf, Nona Uni. Pakaian yang Nona maksud memang telah terjual. Nona uni bisa memilih pakaian yang masih tersedia." sang manager berkata denga ramah mencoba menenangkan wanita muda itu.


"Hei, bukankah itu pakaian yang kamu cari?" teman Uni menunjuk ke arah meja kasir.


Mendengar apa yang dikatakan teman dari wanita muda itu, manager langsung menoleh ke arah pramuniaga.



"Pakaian itu di beli oleh gadis itu. Dia datang bersama Tuan Muda itu." pramuniaga langsung menunjuk ke arah Moni dan Whana yang berada di sudut toko sedang melihat - lihat pakaian yang diinginkannya.



Wanita muda yang bernama Uni langsung melangkah menuju rombongan Whana.



"Apakah kamu yang akan membeli pakaian biru itu?" Tanya Uni kepada Moni sambil menunjuk pakaian yang ada di atas meja kasir.



Moni dan yang lainnya segera menoleh ke arah Uni.



"Iya, ada apa?" Moni mengiyakan dan bertanya dengan bingung.



"Aku sudah menginginkannya sejak lima bulan yang lalu, kenapa kamu tiba - tiba membelinya?" ucap Uni dengan ketus.



"Manager, apakah pakaian itu miliknya?" Moni langsung bertanya kepada manager yang terlihat menyesali dengan kejadian ini.



"Tidak, Nona. Selama barang - barang di toko kami masih dipajang, artinya belum ada pemiliknya." Jawab manager dengan minta maaf.



"Tapi aku sudah memberitahumu, bahwa aku akan membelinya. Kenapa kamu biarkan orang lain membelinya?" Uni berkata dengan marah.



"Lagi pula, apakah kamu tahu harga pakaian itu? Lebih dari 4 ribu keping koin emas. Apakah keluargamu mampu membayarnya? Kamu dari keluarga Rahngu kan?" Uni melanjutkan kata - katanya dengan nada mengejek.

__ADS_1


__ADS_2