Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 49


__ADS_3

"Nona, aku sungguh-sungguh minta maaf," Whana mengulangi permohonan maafnya sambil membungkuk sedikit.



"Sudahlah! Tidak apa-apa. Tapi kamu harus mentraktirku hari ini. Aku lapar sekali!" balas Dayu sambil menyentuh perutnya.



"Baiklah," sahut Whana mengangguk.



-----\*-----



Sampai di restaurant, mereka segera duduk di salah satu meja pengunjung.



Tetua apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Whana karena ia merasa pernah melihat lelaki tua dengan rambut yang seluruhnya telah memutih ini.



"Teman Kecil, kita memang pernah bertemu sebelumnya dan di restaurant ini juga. Seingatku kamu bersama gadis kecil yang cantik." jawab Jendral Pon sambil tersenyum.



"Oh, aku ingat. Saat itu aku sedang bersama dengan adikku."



"Tetua memang berasal dari kota Ragane? Kebetulan aku belum pernah melihat Tetu dan Nona ini di kota ini?" imbuh Whana.



"Tidak, kami berasal dari ibu kota Sarpaden, kami sedang mencari obat di sini." Dayu menjawab pertanyaan Whana.



"Hmm aku belum pernah ke ibu kota Sarpaden. Jangankan ibu kota kerajaan, ke kota Distrik saja jarang," desah Whana sambil menggelengkan kepalanya.



"Kami bisa mengantarmu jika Teman Kecil ingin berkunjung ke ibu kota Sarpaden." Jendral Pon mengusulkan.



"Terima kasih, Tetua. Oya, obat apa yang Nona cari di kota Ragane?" tanya Whana penasaran.



"Penawar racun jiwa. Tiga tahun lalu ayahku terkena racun itu dan menurut beberapa tabib yang kami temui, ayahku hanya bisa bertahan 12 bulan lagi sejak sekarang. Entah berapa tabib yang mencoba mengobati, namun tidak satupun yang berhasil." jelas Dayu dengan ekspresi sedih.



"Teman Kecil, namaku Pon. Dan gadis di sebelahku ini Dayu. Bolehkah kami tahu namamu?" Jendral Pon langsung menyela.



"Panggil aku Whana." jawab Whana sambil tersenyum.



"Jika aku ke ibu kota, aku akan mampir ke kotamu untuk melihat kondisi ayahmu. Siapa tahu aku bisa membantu." imbuh Whana kepada Dayu.


__ADS_1


"Kamu seorang Tabib?" tanya Dayu sedikit terkejut.



"Ah, bukan. Aku tidak mengerti apapun tentang ilmu pengobatan. Hanya mencoba, tapi jika kamu mengijinkan, jika tidak aku tidak memiliki pendapat." sahut Whana sambil mengangkat bahu di akhir kalimatnya.



Mendengar ini, Dayu dan Jendral Pon saling memandang.



"Kapan kamu berencana ke ibu kota?" Tanya Dayu penuh harap.



"Mungkin setelah pendaftaran akademi. Keluargaku berharap aku masuk akademi meskipun aku tidak tertarik sama sekali." Whana menjawab sambil mendesah.



"Kamu ingin masuk akademi Seribu Langit?" Tanya Dayu lagi.



"Aku tidak tahu. Tergantung hasil uji pendaftaran kan? Lagi pula, menurut berita yang tersebar ada enam akademi yang membuka pendaftarannya mulai tahun ini." jawab Whana dengan santai.



"Kenapa kamu tidak tertarik masuk akademi? Bukankah itu akan mendukung kekuatanmu?" Dayu merasa aneh deng ketidaktertarikannya masuk akademi.



"Aku punya cara pandang sendiri. Kebanyakan, baik itu akademi maupun kelompok lainnya memiliki tujuan yang sama, yaitu menjadi yang terkuat. Tapi mereka melupakan esensi dari tujuan itu sendiri. Semakin kuat, maka semakin besar tanggung jawabnya." jawab Whana menjelaskan.



Mendengar apa yang diucapkan Whana, Jendral Pon sangat terkejut di dalam hatinya.




"Lalu, dari enam akademi adakah yang membuat cara pandangmu dapat terwujud?" Dayu mencoba mencari tahu seperti apa pemuda di depannya meskipun telah berulang kembali membuatnya kagum.



"Hahaha, aku tidak tahu. Dari enam akademi, tidak satu pun yang aku tahu apalagi letaknya." Whana tertawa mendengar perkataan Dayu.



"Lalu, kenapa kamu memiliki cara pandang itu?" Dayu kembali bertanya.



"Apakah kamu pernah melihat dan bertemu banyaknya kawanan bandit dengan nama berbeda? Apakah kamu pernah melihat manusia yang jelas-jelas bentuknya sama dengan kita dijadikan budak oleh keluarga tertentu yang memiliki pengaruh? Apakah kamu pernah melihat orang biasa ditindas oleh orang lain? Jika kamu pernah melihat, lalu apa fungsi kekuatan akademi itu?" Whana balik bertanya.



Baik Dayu maupun Jendral Pon saling memandang. Hati mereka berdebar mendengar ucapan Whana. Ini adalah pertama kalinya bagi mereka mendengar pertanyaan yang menurut mereka berdua sangat mengagumkan dan langsung pada pokok permasalahan, terutama Jendral Pon yang sudah bertemu ribuan cendikiawan.



"Akademiku sudah berusaha dengan maksimal, tapi tidak mungkin bisa menangani semuanya." desah Dayu yang merasa ikut bersalah atas ucapan Whana.



"Itu bagus. Setidaknya, sudah berusaha. Tidak mungkin kita bisa membuat semua orang tersenyum di saat yang sama." sahut Whana.

__ADS_1



'Kenapa kalimat pemuda ini begitu bagus dan masuk akal?!!' Dayu berkata di dalam hati.


"Oh, kamu murid sebuah akademi?" imbuh Whana bertanya.


Dayu mengangguk dan menjawab, "ya, aku dari akademi Buana Raya. Jika kamu tertarik, aku bisa merekomendasikanmu."



"Apakah ini bisa disebut lewat pintu belakang?" Tanya Whana sambil mengernyit.



"Jangan salah paham. Akademi Buana Raya tidak pernah membuka pendaftaran murid sebelumnya. Pendaftaran kali ini pun hanya untuk ikut berpartisipasi sesuai kesepakatan bersama antar Master akademi." jawab Dayu dengan cepat.



"Lalu, bagaimana cara mendapatkan murid jika tidak membuka pendaftaran?" tanya Whana dengan heran.



"Pendaftaran selalu dibuka setiap hari. Namun ada kualifikasi dan persyaratan yang harus dipenuhi agar bisa menjadi murid resmi. Murid yang berasal dari rekomendasi juga dibenarkan di akademi Buana Raya sepanjang memenuhi persyaratan. Kebetulan aku adalah salah satu tetua di akademi itu." kali ini Jendrap Pon yang menjawab.



Mendengar bahwa tetua itu adalah tetua dari salah satu akademi, Whana langsung berdiri dan membungkuk sedikit lalu berkata, "Tetua, maaf jika ada kalimat yang kurang berkenan sebelumnya."



"Teman Kecil, apa yang kamu katakan sebelumnya memang benar adanya dan telah membuka wawasan orang tua ini." jawab Jendral Pon sambil tersenyum.



"Keluarga Nylon akan menjadi keluarga teratas dalam beberapa waktu." kata seorang pengunjung yang duduk tak jauh dari meja Whana.



"Omong kosong. Bagaimana bisa tiba-tiba akan menjadi keluarga teratas?!" jawab rekan pengunjung itu.



"Kamu ketinggalan berita ya? Lahan keluarga Nylon di Pegunungan Embuh telah ditemukan tambang Batu Gudig. Sekarang sudah dijaga ketat oleh banyak Ahli. Bahkan sekitar 100 murid dari akademi Surgawi juga ikut menjaga." pengunjung yang pertama berbicara menjelaskan.



"Benarkah? Seberapa luas yang akan ditambang hingga begitu banyak Ahli yang menjaga?" tanya pengunjung lain penasaran.



"Menurut berita yang kudengar, sudah hampir setengah gunung." pengunjung pertama menjawab.


Whana yang mendengar perbincangan pengunjung di dekatnya tersenyum di dalam hatinya.


'Aku juga akan berkunjung membantu keluarga Nylon, hahaha.'



Sebelum selesai dengan hidangan di mejanya, Whana memesan 25 porsi makanan dan dibungkus.



"Untuk apa memesan makanan begitu banyak?" Tanya Dayu sedikit heran.



"Oh, untuk anak-anak di Rumah Asuh." Jawab Whana santai.

__ADS_1



"Aku dan tetua juga akan ke Rumah Asuh." ucap Dayu bersemangat.


__ADS_2